
Ketika Nyonya Anjani sudah mulai membuka suaranya, hati Dewi bernapas lega. Setidaknya Nyonya Anjani memiliki perkembangan kesehatannya. Jujur Dewi sedih melihat kondisi Nyonya Anjani yang begitu memprihatinkan.
Apalagi Nyonya Anjani belum mengetahui sama sekali kalau suami keduanya sudah meninggal dunia, akibat kecelakaan yang menimpa mereka beberapa minggu yang lalu.
"Ya Allah bagaimana caranya aku memberitahu kepada Mami Anjani kalau suaminya sudah meninggal dunia?" gumam Dewi dalam hati sembari terus memperhatikan interaksi Nyonya Anjani dan
juga Carlos.
Dewi memilih untuk tidak memberitahu kalau suami Nyonya Anjani yang kedua sudah meninggal dunia. Karena Ia khawatir kondisi kesehatan Nyonya Anjani, semakin drop jika mereka memberitahu kejadian yang sebenarnya.
Di tempat lain terlihat Bisma sudah bangun dari tidurnya, setelah permainan panas yang mereka lakukan pagi itu. Bisma meraih ponselnya, untuk sekedar mengetahui kabar terbaru tentang perusahaan miliknya.
Tetapi ketika Bisma melihat di layar ponselnya, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Carlos. Kemudian Bisma melihat pesan Whatsapp yang dikirim oleh Carlos. Membuat Bisma terhenyak ketika membaca kalau Carlos dan Dewi saat ini sedang di rumah sakit.
"Memangnya siapa yang sakit ? kok Carlos tidak memberitahu kalau Dewi entah Om yang sakit? Bisma bermonolog sendiri.
"Kenapa sayang? Mengapa wajahmu seperti ditekuk gitu setelah melihat pesan Whatsapp di layar ponselmu? tanya Calista yang baru keluar dari kamar mandi.
Carlos dan Dewi mengirimkan pesan Whatsapp, kalau mereka saat ini berada di rumah sakit. Tetapi mereka tidak memberitahu siapa yang sakit sehingga mereka berada di rumah sakit.
Calista menghela nafas, lebih baik Mas hubungi mereka daripada Mas terus bertanya-tanya." ujar Calista sambil langsung mengalunkan tangannya di leher jenjang suaminya yang begitu menggemaskan menurutnya.
Entah karena bayi yang ada di dalam kandungan Calista, sehingga Calista seolah tidak ingin berpisah dari Bisma. Ia benar-benar tidak ingin berjauhan dari suaminya. Sepertinya bayi yang ada di dalam kandungan Calista ingin sekali dekat kepada Bisma. Apalagi di usia kandungannya yang menginjak tiga bulan, Calista ingin sekali dekat dengan Suaminya.
Sesuai dengan perintah istrinya, Bisma menghubungi nomor Carlos melalui sambungan telepon selulernya
Tut...
Tut...
Tut....suara ponsel Bisma. Beberapa kali Bisma menghubungi nomor ponsel Carlos. Tetapi tak kunjung diangkat membuat Bisma semakin khawatir.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, kini giliran Calista yang menghubungi nomor ponsel Dewi.
Tut...
Tut...
Tut....
suara itu terdengar jelas di telinga Calista ketika menyambungkan sambungan telepon selulernya kepada Dewi. Dewi mendengar suara ponselnya berdering langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
Hello selamat siang! sapa Dewi dan Carlos dalam sambungan telepon selulernya? Kamu di mana dan Rumah Sakit mana? siapa yang sakit? Mengapa kamu tidak memberitahuku Dari awal? kan bisa kita berangkat bareng ke rumah sakit!" pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan calista kepada Dewi.
Kalau nanya satu satu dong Besty Ku,supaya mudah jawabnya.
" Ceritanya panjang nanti Kalian juga akan mengetahuinya. Yang pasti bukan mas Carlos atau Dewi yang sakit." sahut Dewi di dalam sambungan telepon selulernya.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau menjelaskan dalam sambungan telepon seluler. Tetapi yang pasti kalian baik-baik saja kan? "Alhamdulillah kami baik-baik saja. Nanti akan kami jelaskan segalanya." sahut Dewi sambil langsung mematikan sambungan telepon selulernya setelah selesai berbicara dengan Calista.
Bisma menghampiri Calista, karena ia mendengar sambungan telepon saluran Calista tersambung kepada Dewi. Apa katanya sayang? Siapa yang sakit l? tanya Bisma penasaran. Calista manggardikan bahunya membuat Bisma semakin bingung. "Apaan sih sayang? Langsung aja cerita kepada mas." Bisma sudah tidak sabaran lagi mengetahui apa yang dibicarakan Dewi dan Calista dalam sambungan telepon seluler.
Mereka ke rumah sakit bukan karena Dewi atau Carlos yang sakit. Tetapi ada seorang yang penting yang harus mereka temui di sana sepertinya. Dewi enggan menjelaskannya di dalam sambungan telepon seluler. Dewi mengatakan nanti akan mereka jelaskan jika mereka sudah pulang dan singgah di rumah utama." membuat suaminya semakin penasaran.
"Apa-apaan sih main rahasia-rahasia segala si Carlos?" gerutu Bisma. "Sudah Mas, tidak perlu dipikirkan yang penting sekarang lebih baik kita bersiap dan langsung pulang. mungkin Papi membutuhkan kita saat ini." ujar Calista sambil bersiap untuk segera pulang ke rumah utama keluarga Zulkarnain.
Tuan Baskoro sangat gelisah. Seolah dirinya ingin langsung pergi ke rumah sakit, untuk melihat kondisi kesehatan Nyonya Anjani. Tetapi Tuan Baskoro terus berusaha untuk tetap tenang dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
Apalagi ia tahu kalau saat ini nyonya Anjani sah menjadi istri orang lain walaupun sudah menjadi almarhum. Ia tidak ingin menimbulkan fitnah jika Tuan Baskoro pergi mengunjungi Nyonya Anjani.
"Ya Allah mudah-mudahan Anjani baik-baik saja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada Anjani. Karena bagaimanapun dia itu merupakan ibu kandung Putraku." Tuan Baskoro bermonolog sendiri. Walaupun luka yang digoreskan oleh Nyonya Anjani begitu perih di dalam hati Tuan Baskoro.
Tuan Baskoro sama sekali tidak menaruh dendam kepada Nyonya Anjani. Sehingga ia meminta Carlos untuk segera menemui Nyonya Anjani di rumah sakit.
"Ya Allah begitu baiknya hati Tuan Baskoro walaupun sudah dikhianati Nyonya tetapi Tuan Baskoro tetap mengkhawatirkan nyonya." gumam salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah tuan Baskoro semenjak Carlos masih bayi
Dan asisten rumah tangga itulah yang tahu persis bagaimana kehidupan Carlos dan Tuan Baskoro setelah ditinggal oleh Nyonya Anjani. Awalnya terasa berat dijalani oleh Tuan Baskoro. Tetapi seiring berjalannya waktu, Tuan Baskoro dapat menjalani hari-harinya dan mengembangkan usaha miliknya.
Entah setan apa yang merasuki Nyonya Anjani, sehingga Nyonya Anjani tega meninggalkan Carlos saat Carlos masih membutuhkan kasih sayang darinya.
Baskoro berniat menghubungi nomor Carlos. untuk menanyakan kabar terbaru tentang Nyonya Anjani. Ketika Tuan Baskoro menghubungi nomor ponsel Carlos, Carlos langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada tuan Baskoro.
"Hallo Assalamualaikum Pi." sahut Carlos di dalam sambungan telepon seluler tepatnya di rumah sakit tempat Nyonya Anjani dirawat.
"Kamu sudah di rumah sakit?
"Iya Carlos dan Dewi saat ini sedang di rumah sakit dan mengobrol dengan mami.
"Kamu bisa menjauh tidak dari situ? ada sesuatu yang ingin Papi bicarakan hal penting kepada kamu." sahut Tuan Baskoro membuat Carlos merasa penasaran hal penting apa yang ingin dibicarakan Tuan Baskoro kepadanya.
Nanti setelah kami pulang dari rumah sakit, kita bicarakan pi. Papi Tenang saja." sahut Carlos. Lalu langsung mematikan sambungan telepon selulernya setelah selesai berbicara dengan Tuan Baskoro. "Alhamdulillah ternyata Anjani benar-benar sudah sadarkan diri." gumam Tuan Baskoro dalam hati sembari memperhatikan potret terakhir milik Nyonya Anjani yang ada di layar ponselnya. Itu ia dapatkan dari salah satu asistennya yang selalu mencari tahu tentang kehidupan Nyonya Anjani.
Bersambung...
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏