
"Eh Calista sampai lupa.Nih ada buah, di makan ya Bu." ujar Calista sambil memberikan parsel buah yang mereka bawa sebelumnya. "Trimakasih non!"
"Bu, tidak perlu memanggil saya dengan panggilan non. Panggil saya Calista Saja, umur saya masih lebih muda dari Dewi kok." ucap Calista sambil mengembangkan senyumnya.
Ibu Sarah menatap Calista dengan intens. "Baik sekali anak ini, padahal si isteri orang ternama di kota ini. Tapi penampilannya sederhana. Tutur katanya juga sopan." gumam ibu Sarah dalam hati sambil menatap calista dengan tatapan penuh arti.
Setelah memastikan kondisi kesehatan ibu Sarah dan Sean sudah semakin membaik. Calista dan Bisma berniat ingin berlalu dari rumah sakit. Tetapi tiba-tiba Gibran masuk ke dalam ruang rawat inap Ibu Sarah. Karena sudah jadwal Gibran untuk mengontrol kondisi kesehatan ibu Sarah pagi itu.
"Hallo selamat pagi Ibu Sarah, Bagaimana kondisinya saat ini Apa sudah baikan?" tanya Gibran kepada Ibu Sarah sambil langsung menghampiri Ibu Sarah, tanpa memperhatikan kehadiran Calista dan Bisma disana. Calista yang melihat Gibran masuk ke dalam ruang rawat Ibu Sarah dan Sean pun langsung terkejut. Apalagi Gibran berpenampilan yang berbeda, tidak seperti biasanya.
"Gibran!" Panggil Calista, Ketika dirinya melihat Gibran menghampiri Ibu Sarah dengan mengenakan baju layaknya seorang dokter.
"Calista kamu disini?
" Ya, aku ingin menjenguk dan melihat kondisi kesehatan ibu Sarah. Kamu sendiri ngapain di sini? tanya Calista, sambil menatap Gibran dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Penampilan Gibran yang berbeda membuat Calista bertanya-tanya di dalam hati.
"Saya bertugas di rumah sakit ini dan saya yang menangani kesehatan ibu Sarah saat ini." ucap Gibran kepada Calista. Membuat Calista bingung, karena selama ini Gibran tidak pernah memberitahu kalau Gibran kuliah di bagian fakultas kedokteran di kota Jakarta.
Calista hanya mengetahui kalau Gibran mengambil pendidikan sarjana teknik.
"Bukannya kamu dulunya kuliah di fakultas teknik? tanya Calista kepada Gibran.
"Tidak," saya tidak jadi mengambil fakultas teknik. Tetapi saya lebih memilih untuk mengabdikan diri menjadi seorang dokter.
Karena saya memiliki cita-cita untuk membangun sebuah klinik di desa kita. Kamu ingat kan, setiap kali masyarakat di desa kita membutuhkan perawatan dari dokter, kita harus pergi ke kota. Jadi aku bercinta cinta membuka sebuah klinik kesehatan disana, jika uangku sudah cukup kelak." ucap Gibran berterus terang kepada Calista.
Sontak Calista mengacungkan jempolnya Karna cita-cita dan impian Gibran yang sangat mulia. "Aku pasti mendukungmu . Itu salah satu impian aku dari dulu." ucap Calista sambil mengembangkan senyumnya menatap Gibran dengan seksama.
"Jujur aku juga berniat untuk mengembangkan desa kita Yang tertinggal. Apalagi kamu tahu sendiri, kondisi kesehatan kedua orang tuaku tidak dapat tertolong karena keadaan dan kondisi ekonomi kami saat itu cukup lemah. Apalagi situasinya tidak memungkinkan untuk membawa ibu dan ayah saya ke rumah sakit yang ada di mengingat angkutan dan akses jalan di desa kita cukup memperhatikan.
Dewi dan Bisma menatap interaksi antara Gibran dan juga Calista. Kedekatan keduanya benar-benar terlihat begitu dekat. Membuat Bisma sedikit iri, melihat kedekatan Gibran dengan Calista. Calista, Gibran dan listra memang sahabat mulai sejak kecil. Hingga mereka menyelesaikan studinya di bangku SMA.
Tetapi Bisma dan Dewi tidak paham situasi yang dialami oleh Gibran dan Calista selama berada di desa. Sehingga mereka memiliki niat, untuk membangun desa meraka. yang sangat tertinggal.
"Wah ternyata dokter Gibran juga berteman dengan non Calista." ucap Ibu Sarah sambil menatap Gibran dengan Calista secara bergantian.
"Ya bu, saya dan dokter Gibran teman masa kecil." ucap Calista mencoba memberitahu kedekatannya dengan Gibran.
karena Calista sudah melihat raut wajah Bisma terlihat tidak menyukai kedekatan Calista dengan Gibran ia merasa galau Bisma saat ini cemburu terhadap Gibran seperti yang ia temukan selama ini hubungan Gibran dengan Calista memiliki hubungan khusus selain dengan hubungan persahabatan. walaupun Calista selalu memberikan penjelasan dan meyakinkan Bisma mengenai hubungannya dengan Gibran.
"Bagaimana kondisi Ibu Sarah saat ini Apa dia sudah baikan? tanya Bisma mengalihkan pembicaraan Calista dengan Gibran. Karena Bisma,tidak ingin kalau Calista lebih lama berinteraksi dengan Dokter Gibran.
" Alhamdulillah kondisi Ibu Sarah saat ini sudah semakin membaik. Mungkin satu atau dua hari lagi, Ibu Sarah sudah bisa pulang." ucap dokter Gibran kepada Bisma sambil memperhatikan jarum infus yang tertancap di punggung tangan Ibu Sarah.
"Cie cie ada yang cemburu nih!" celetuk Dewi membuat Bisma langsung mengalihkan pandangannya.
"Siapa yang cemburu?
"Laki Lo lah, laki siapa sih yang tidak cemburu melihat istrinya orang yang mencintai istrinya ada di dekat istrinya dan berbicara mengingat masa masa lalu." ucap Dewi asal membuat Calista langsung melihat kearah Bisma, yang pura pura melihat kearah Sean.
Sepeninggalan Gibran Ibu Sarah bertanya kepada Calista. " Kalian memang teman masa kecil? tanya ibu Sarah kepada Calista.
" Ya Bu! Kami teman semenjak kecil. Kami sudah berteman mulai dari SD sampai SMA kami satu sekolah di desa yang sama.
" Memangnya ada apa Bu? kok pertanyaan Ibu seperti itu? tanya Calista penasaran.
"Tidak ada apa-apa non Calista. Ibu salut aja melihat kedekatan kalian, Walaupun kalian sudah sama-sama berada di kota." ucap Ibu Sarah sambil mengembangkan senyum padahal sebenarnya Ibu Sarah sudah curiga Kalau dokter Gibran memiliki rasa cinta terhadap Calista.
Bisma melihat jarum jam yang ada di pergelangan tangannya. "Oh ya, ini sudah hampir jam sepuluh, saya ada meeting penting sebentar lagi. Kalau begitu kita pamit dulu ya Bu.Semoga ibu dan Sean cepat sembuh." ucap Bisma sambil memberikan sebuah amplop coklat yang berisikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.
"Tuan Bisma tidak perlu seperti ini. Tuan sudah membiayai biaya pengobatan saya dan putra saya Sean. Tapi bapak malah memberikan uang lagi kepada kami. Saya merasa tidak enak hati jadinya.
"Tidak apa apa Bu, anggap saja ini sebagai ucapan syukur saya,Kaena Alloh memberikan rezeki kepada saya. Dan ini salah satu ucapan syukur saya. Karena acara pernikahan saya dan istri saya berjalan dengan lancar." ucap Bisma sambil kembali memberikan amplop coklat itu ,kepada ibu Sarah.
Calista pun berpamitan kepada Ibu Sarah dan juga Sean yang masih berbaring di atas Branker. lalu Calista dan Bisma meninggalkan Dewi dan keluarganya di ruang rawat inap Ibu Sarah.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran mobil. Bisma hanya diam. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. "Mas Calista bisa ikut ke kantor tidak?
"Ummmm , ucap Bisma tanpa melihat kearah Calista sama sekali. Calista berusaha mengimbangi langkah Calista yang sudah sedikit kewalahan mengimbangi langkah Bisma.
Tiba di parkiran Mobil, Bisma membuka pintu mobil untuk Calista, tanpa membuka suara sedikitpun. Membuat Calista sedikit bingung dengan sikap suaminya yang tiba tiba berubah.
"Kenapa sih Dia?
"Kesambet apa? gumam Calista sambil masuk kedalam mobil mewah milik suaminya .
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK " PERAWAN 500 JUTA " rilis tgl 1 September