
Tetapi Bisma masih tetap mendengar apa yang dibicarakan kedua wanita itu. listra menghapus Air mata Calista yang mengalir diwajah cantik sahabatnya. "Jangan menangis. Kamu harus bahagia dengan pernikahan kamu." ucap listra sambil berlalu dari pelaminan setelah mengucapkan selamat kepada Calista dan juga Bisma.
Tak lupa, listra juga memberikan kado terindah kepada sahabatnya. "Terima kasih listra kamu sudah hadir di acara pesta pernikahan kami." ucap Bisma dan Calista kompak. listra mengembangkan senyumnya sambil langsung menganggukkan kepalanya berlalu dari hadapan Calista dan Bisma.
Karena ia tidak ingin para tamu undangan lainnya, terlalu lama menunggu listra memberikan selamat kepada kedua mempelai.
Gibran juga yang mendapat undangan dari Calista Ia pun turut hadir meramaikan pesta pernikahan Calista dan juga Bisma. Dewi dan Tiwi melihat kehadiran Gibran langsung menghampirinya.
"Eh kamu datang juga ternyata? memangnya tidak sakit hati melihat acara pernikahan wanita yang kamu cintai bersanding dengan lelaki lain." ucap Dewi membuat Gibran mengernyit
"Kamu apa-apaan sih main nyrocos aja." gerutu Gibran.
"Memang benar kan!" kamu pasti sakit hati wanita yang sangat kamu cintai sejak dulu lebih memilih menikah dengan lelaki lain yang lebih kaya dan tampan seperti Bos Bisma ?" Timpal Tiwi membuat Gibran menggelengkan kepalanya menatap kedua wanita itu mengusik dirinya. Ketika Gibran hadir di acara pesta pernikahan Calista dan juga Bisma.
"Itu mulut bisa dijaga nggak sih?
"Kamu juga seperti tidak sakit hati saja lelaki idaman kamu lebih memilih menikah dengan wanita lain dibandingkan kamu. Berarti Tuan Bisma sama sekali tidak mencintai kamu sedikitpun."ucap Gibran yang tidak mau kalah dari Dewi dan Tiwi.
"Ha...ha...ha" kamu salah bro, kamu pikir saya sangat mencintai Tuan Bisma. Saya memang mencintainya. Tetapi bukan mencintai untuk memiliki. Saya cinta kepadanya karena saya sangat salut sekaligus terpesona kepada tuan Bisma.
Karena tuan Bisma lelaki yang sangat tampan, mapan dan juga ya untuk dibawa ke pesta tidak kalah lah." ucap Tiwi membuat Gibran langsung tertawa cengengesan mendengar jawaban Tiwi.
listra yang baru melihat kehadiran Gibran di sana langsung menghampiri Gibran yang sedang berargumen dengan Tiwi dan Dewi.
"Gibran!" Panggil listra yang melihat Gibran hadir di acara pernikahan Calista.
" Listra!" kamu datang juga? kapan kamu datang ke Jakarta? Mengapa tidak mengabari Ku? tanya Gibran.
"Aku baru tiba tadi malam di Jakarta, setelah mengetahui pesta pernikahan Calista dan juga tuan Bisma. Kamu sendiri dapat undangan dari siapa? dan dari mana kamu mengetahui pesta pernikahan Calista? tanya listra penuh selidik.
"Ini no laki-laki yang tidak bertanggung jawab menabrak sahabatku, Tetapi dia main pergi begitu saja. Ketika mendengar non Calista menikah dengan Tuan Bisma. Eh ternyata laki-laki songong ini mencintai non Calista.
Sehingga ketika mendengar non Calista menikah dengan Tuan Bisma Ia pun langsung terkejut."Celetuk Dewi membuat listra mengerutkan keningnya.
"Menabrak?
"Tidak bertanggung jawab?
"Maksudnya apa nih Gibran? tanya listra kepada Gibran.
"Gibran menghela nafas berat. Kemudian Gibran pun menceritakan apa yang terjadi sehingga dirinya meninggalkan Dewi begitu saja di rumah sakit,paska Gibran menabrak Tiwi secara tidak sengaja.
"Ya Allah Gibran kamu hampir saja menghilangkan nyawa orang. Syukurlah Mbak Tiwi tidak kenapa-kenapa. Kalau saja terjadi sesuatu kepada Mbak Tiwi apa yang akan kamu lakukan? Kamu ini bagaimana sih ucap listra bertubi-tubi menyalahkan Gibran.
"Maaf Mbak kalau boleh tahu Mbak mengenal Mas Gibran?
"Ya dia teman kecil ku dan Calista. Kami bertiga bersekolah, di sekolah yang sama. Jadi kami hafal betul sikap Gibran yang bagai mana.
Kalau masalah Tidak bertanggung jawab seperti yang kamu katakan tadi, Sepertinya saya tidak setuju. Karena saya mengetahui kalau Gibran lelaki yang bertanggung jawab." ucap listra mengatakan apa yang ia ketahui tentang Gibran.
listra juga sangat mengetahui kalau Gibran sangat mencintai Calista sejak Gibran mengenal namanya cinta. Hanya Calista yang ia cintai sampai saat ini. Tetapi kedua orang tua Gibran tidak menyetujui hubungan keduanya, hingga calista pun memilih untuk tidak menjalin hubungan kekasih dengan Gibran.
Tiba-tiba Wulan datang menghampiri mereka. Ada apa sih? kok rame-rame seperti ini? memangnya ada masalah? tanya Wulan kepada listra yang melihat listra berbicara serius kepada dua wanita yang ada di hadapannya dan juga Gibran.
"Tidak ada apa-apa kok mbak. Sepertinya mereka salah paham saja.
Salah paham bagaimana? tanya Wulan yang begitu penasaran masalah apa yang terjadi kepada mereka. Kemudian listra pun menceritakan apa yang terjadi sehingga perdebatan antara Dewi dan Gibran terjadi di sana.
Wulan menatap Gibran dengan seksama. Ia seolah mengenali Gibran. Tetapi ia tidak mengetahui di mana Wulan bertemu dengan Gibran, sosok Gibran seolah tidak asing bagi Wulan. "Maaf sepertinya wajah kamu tidak asing bagiku. Tapi kita pernah bertemu di mana ya?" ucap Wulan kepada Gibran.
"Saya juga merasa tidak asing dengan wajah kamu. Tapi saya juga tidak mengetahui di mana Kita pernah bertemu." sahut Gibran sambil mengembangkan senyumnya.
Kamu Tiwi kan dan Dewi yang bekerja di tempat Kak Bisma kan? tanya Wulan kepada Tiwi dan Dewi. Tiwi dan Dewi pun menganggukkan kepalanya. Karena mereka mengetahui siapa sosok Wulan bagi Bisma.
"Oh Jadi kalian berdua yang diceritain Calista sahabat baiknya selama bekerja di kantor ka Bisma?" tanya Wulan sambil menatap kedua wanita yang ada di hadapannya.
Memangnya Calista pernah cerita apa tentang kami?
"Tidak ada cerita apa-apa,"cuman Calista pernah cerita kalau teman satu kerjaannya begitu baik kepadanya dan selalu membantunya dalam segala hal." Ucap Wulan sambil melihat Dewi dan Tiwi.
Di tempat lain, tepatnya di pelaminan terlihat Pak Nando dan Ibu Intan menghampiri Bisma dan Calista.
"Ya Allah nak sepertinya baru saja kita bersama. Tetapi kamu sekarang sudah menjadi milik orang lain. Jujur Ibu sedih karena berpisah dengan kamu.
Hari-hari Ibu semakin berwarna ketika kamu hadir di tengah-tengah keluarga kami. Jadilah ibu rumah tangga yang baik nantinya, dan jadilah menjadi istri yang menurutku kepada suami. Jangan lupa sholat meminta perlindungan kepada Alloh." ucap Bu intan kepada Calista.
"Ya bu!" Terima kasih sudah menjadi bagian hidup Calista selama ini. Jujur kalau tidak ada Papa dan ibu, mungkin Calista tidak tahu bagaimana menjalani hidup ini. Terima kasih sudah menjadi bagian hidup Calista Bu....pa," ucap Calista sambil meneteskan air matanya. Karena Calista sangat menyayangi Pak Nando dan juga Bu Intan yang sudah beberapa tahun belakangan ini hidup bersama Calista.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih
JANGAN LUPA LIKE COMENT VOTE DAN HADIAH NYA YA.🙏🙏🙏🙏