
Dua minggu sudah berlalu pasca nyonya Anjani sudah sadarkan diri di rumah sakit. Kini kondisi kesehatan Nyonya Anjani sudah membaik. Ketika kondisi kesehatan Nyonya Anjani sudah membaik, Carlos pun berbicara kepadanya dan memberitahu kepada Nyonya Anjani Siapa dirinya sebenarnya.
Membuat Nyonya Anjani terhenyak mendengar kalau Carlos anak yang sudah ia tinggalkan sekitar 35 tahun yang. Ia tidak menyangka dapat bertemu kembali dengan putranya yang ia tinggal begitu saja. Nyonya Anjani Langsung menangis histeris dan memeluk Carlos dengan erat. Nyonya Anjani minta maaf kepada Carlos atas segala apa yang ia lakukan kepada Carlos dan juga Tuan Baskoro.
Carlos hanya diam saja tidak dapat merespon apa-apa. Seolah dirinya enggan untuk memberi maaf kepada nyonya Anjani.
"Maafkan mami nak, karena keserakahan mami, kamu Mami tinggalkan begitu saja bersama Papi kamu." ucap Nyonya Anjani kepada Carlos sambil menangis sesungguhkan. Carlos hanya diam saja tidak menjawab apa yang dikatakan oleh nyonya Anjani.
Sungguh menyakitkan bagi Carlos. Tetapi ia juga tidak bisa menghindar kalau Nyonya Anjani merupakan ibu kandungnya sendiri. Pil pahit harus ditelan oleh Carlos setelah mendengar apa yang dilakukan oleh Nyonya Anjani kala itu.
Dewi menghampiri Carlos dan memberikan pandangan kepada suaminya. Berharap suaminya dapat memaafkan Nyonya Anjani. "Mas jangan diam saja. Katakan apa yang mengganjal di hatimu. Lebih baik kita perbaiki hubungan ini agar hubungan mas dengan Mami Anjani semakin membaik.
Mas harus ingat Mami sudah berkorban mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan Mas ke dunia ini untuk Dewi. Jadi Mas tidak boleh dendam kepada wanita yang sudah berjasa melahirkan kita, karena itu anak durhaka.
Tiba-tiba seorang dokter datang menghampiri nyonya Anjani untuk memeriksa kondisi kesehatannya. "Bagaimana kondisi kesehatan saya dokter? apa saya sudah bisa pulang? tanya nyonya Anjani kepada salah satu suster dan dokter yang menanganinya di sana. Karna nyonya Anjani sudah bosan berada dirumah sakit.
"Sebentar ya Bu, Nanti kalau dalam pemeriksaan saya kondisi Ibu baik-baik saja Berarti Ibu bisa pulang sekarang .Tetapi kalau kondisi Ibu masih belum stabil, Ibu tidak akan bisa pulang ." sahut Pak Dokter kepada nyonya Anjani.
Setelah memastikan kondisi kesehatan Nyonya Anjani sudah stabil, dokter pun sudah mengijinkan nyonya Anjani untuk istirahat di rumah saja dan sesekali melakukan pemeriksaan kepada dokter.
Nyonya Anjani masih berusaha agar Carlos memaafkan dirinya. Awalnya Carlos tidak Sudi memaafkan Nyonya Anjani. Tetapi karena Dewi yang meminta membuat dirinya akhirnya kembali memaafkan Nyonya Anjani, atas segala kesalahan yang Nyonya Anjani lakukan.
Ada kebahagiaan tersendiri di hati Carlos telah mendapatkan seorang istri yang begitu bijaksana menurutnya. Dapat selalu memberikan pandangan yang tidak akan merugikan dan menyakiti siapa-siapa.
Hingga akhirnya Carlos pun mulai bisa menerima Nyonya Anjani kembali ke kehidupan mereka. Jam sudah pukul 15.00 sore. " Lebih baik kita langsung pulang ke rumah. Ujar Dewi kepada suaminya
Nyonya Anjani begitu bahagia ketika mendengar dokter sudah memperbolehkan untuk kembali ke rumah. Nyonya Anjani belum mengetahui kabar terbaru tentang suaminya, Kalau suaminya sudah meninggal dunia pasca kecelakaan yang menimpa mereka kira-kira tujuh minggu yang lalu.
"Mom lebih baik kita pulang ke rumah sekarang." ujar Carlos sambil membereskan biaya administrasi rumah sakit. "Kamu mau membawa aku pulang ke mana nak? tanya Nyonya Anjani penuh dengan selidik.
Carlos menghela nafas panjang. Ia bingung membawa Nyonya Anjani pulang ke mana saat ini. Yang pasti tidak mungkin nyonya Anjani, kembali ke rumah mereka sebelumnya bersama almarhum suaminya.
Perlahan Carlos akhirnya terbuka dan memberitahu kenyataan pahit kalau suami Nyonya Anjani sudah meninggal dunia. Membuat Nyonya Anjani terhenyak dan menangis histeris. Seolah dirinya tidak percaya akan apa yang dikatakan Carlos.
"Tidak! Kamu pasti berbohong!" Jangan Kau bohongi.
"Tidak mom, Carlos tidak berbohong kepada mami. Kalau Mami tidak percaya, Carlos akan bawa Mami ke sana sekarang.
Tuan Aceng meninggal dunia di tempat mami dan Tuan Aceng mengalami kecelakaan. Tuan Aceng meninggal di tempat dan Mami dilarikan ke rumah sakit mami mengalami koma selama kurang lebih satu bulan.
Carlos mengetahui kabar tentang Mami dari salah satu asisten papi, yang memberitahu Kalau Mami saat itu membutuhkan golongan darah yang sama dengan Mami. Kebetulan golongan darah yang mami memiliki sangat langka. Dan persediaan golongan darah yang sama dengan Mami saat ini itu kosong di rumah sakit ini. Dan pihak rumah sakit juga sudah mencari ke PMI terdekat. Tetapi mereka tak kunjung mendapatkan donor darah untuk mami.
Padahal saat itu, Mami sangat membutuhkan donor darah. Hingga Papi memohon kepada Carlos agar Carlos membantu mami dengan cara mendonorkan darah Carlos ke tubuh mami. Jujur kalau tidak karena Papi yang meraung-raung memohon kepada Carlos. Dan juga istri Carlos, yang selalu memberikan pandangan dan memohon kepada Carlos, untuk mendonorkan darah Carlos kepada mami. Mungkin Carlos tidak akan melakukannya.
Begitu besar cinta Papi kepada mami. Tetapi apa yang mami lakukan kepadanya? hanya penghianatan. Terbukti sampai saat ini Papi tidak pernah menikah dengan wanita lain, sekalipun banyak wanita-wanita yang bersedia menikah dengan Papi. Tetapi Papi tidak pernah menghianati cintanya.
Nyonya Anjani semakin merasa bersalah setelah Carlos memberitahu Kalau Tuan Baskoro lah yang meminta Carlos untuk segera mendonorkan darahnya kepada Nyonya Anjani.
Hening
Tidak ada yang berbicara. Dewi pun membiarkan suaminya untuk mengungkapkan segala unek-uneknya kepada Nyonya Anjani. Ia sengaja membiarkan Carlos berbicara apa yang ada di dalam hatinya, karena Dewi sangat mengetahui betapa sakitnya hati Carlos dan Tuan Baskoro ditinggal pergi oleh Nyonya Anjani tanpa kabar berita.
****
Drama di rumah sakit Telah usai. Kini mereka sudah kembali ke rumah utama Tuan Baskoro. Nyonya Anjani enggan masuk ke rumah mengingat kesalahan yang sudah ia lakukan kepada Tuan Baskoro.
"lebih baik antarkan saja saya ke rumahku. Saya tidak pantas tinggal di sini." Nyonya Anjani melangkah mundur tiga langkah. Ia merasa tidak sanggup menginjakkan kaki di rumah utama Tuan Baskoro.
"Mom masuklah, lebih baik Mami istirahat di dalam. Nanti kalau kondisi Mami sudah benar-benar pulih, kita akan segera ke sana." ujar Dewi menghampiri Nyonya Anjani.
Dewi memang selalu bijaksana dalam menangani masalah apapun. Ia tidak ingin memperkeruh suasana. Justru ia selalu memberikan pandangan-pandangan kepada suaminya, agar suaminya tetap tau kalau Nyonya Anjani lah wanita yang begitu berjasa untuknya. Telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan Carlos.
Tuan Baskoro yang mendengar suara mobil milik Carlos masuk ke areal rumah utama, Tuan Baskoro langsung bangkit dari tempat duduknya. Keluar dari ruang kerjanya. Berniat untuk menghampiri Carlos.
Tuan Baskoro tidak menyangka kalau Carlos membawa Nyonya Anjani pulang ke rumah utama keluarga Baskoro. Sehingga Tuan Baskoro terhenyak melihat kehadiran Nyonya Anjani di sana.
"Anjani! pekik Tuan Baskoro ketika melihat keberadaan Nyonya Anjani di sana. Nyonya Anjani tertunduk malu tidak mampu menatap Tuan Baskoro. Air bening mengalir begitu deras di wajah wanita paruh baya itu. Ia sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi di hubungan rumah tangga antara Nyonya Anjani dan Tuan Baskoro.
Tuan Baskoro mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah. Netranya terus menatap ke arah Nyonya Anjani. Ingin rasanya Tuan Baskoro langsung memeluk wanita yang sangat ia rindukan selama ini. Tetapi ia merasa tidak memiliki hak karena Anjani sudah tidak menjadi istrinya lagi. setelah pernikahan Anjani dengan Tuan Aceng.
Sungguh tak disangka dan tak diduga. Saat ini mereka berada di Satu atap yang sama. Nyonya Anjani memohon kepada Carlos untuk segera menghantarkannya ke rumah yang selama ini ia tempati setelah kembali dari California. "Antarkan saja saya ke rumah. saya juga ingin nyekar melihat makam suami saya." mohon Nyonya Anjani kepada Carlos.
Carlos menatap Nyonya Anjani dengan tatapan kesal. Padahal Carlos tidak mengetahui Mengapa Nyonya Anjani ngotot ingin segera kembali ke rumah yang selama ini ia tempati. Nyonya Anjani karena sangat merasa bersalah dan merasa tidak pantas untuk menginjakkan kaki lagi di sana.
Nyonya Anjani mengembangkan senyumnya "Terima kasih nak. Kamu sudah baik hati dan kamu benar-benar wanita yang sangat baik. beruntung Carlos memiliki istri sepertimu. Jangan pernah khianati Carlos, seperti Mami menghianati cinta Papinya Carlos. mohon Nyonya Anjani sembari berjalan keluar menenteng tas kecil yang ia pegang sebelumnya.
Dewi kembali memohon kepada Nyonya Anjani. Hingga nyonya Anjani pun akhirnya bersedia untuk menginap di rumah utama keluarga Baskoro, untuk beberapa hari ke depan.
Tuan Baskoro bernafas lega. Karena akhirnya Nyonya Anjani bersedia menginap. Sementara Carlos langsung berpamitan untuk segera membersihkan diri. Tubuhnya terasa lelah setelah satu harian beraktivitas.
"Sayang mas duluan ke kamar, segeralah menyusui. Ada sesuatu yang ingin Mas bicarakan kepada kamu." bisik Carlos tepat di telinga Dewi. Dewi mengangguk lalu menghantarkan Nyonya Anjani ke kamar tamu yang sudah dipersiapkan oleh asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman Tuan Baskoro.
" Mom istirahatlah di sini. Jika Mami memerlukan sesuatu Panggil Dewi atau bibi." ujar Dewi sambil mengembangkan senyumnya kepada Nyonya Anjani.
Nyonya Anjani menelisik seisi ruang kamar itu. "Kamarnya cukup luas ,sepertinya kondisi keuangan Baskoro saat ini membaik. Aku yang salah Mengapa aku gelap mata dulu. Aku tidak menyadari cinta tulus Baskoro kepadaku. Maafkan aku Mas, maafkan segala apa yang aku lakukan kepadamu." Nyonya Anjani meratapi segala kesalahan yang ia lakukan selama ini, terhadap Tuan Baskoro dan juga Carlos.
Tok....
Tok....
Tok.... suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Nyonya Anjani. Nyonya Anjani mendongakkan kepalanya, lalu bangkit dari tempat duduknya untuk membuka pintu melihat Siapa yang mengetuk pintu kamar tamu yang ia tempati.
Ketika Nyonya Anjani membuka pintu, Ia melihat kehadiran asisten rumah tangga yang paling lama bekerja di kediaman Tuan Baskoro.
"Maaf Nyonya mengganggu istirahat nyonya." ucap asisten rumah tangga itu kepada Nyonya Anjani. "Tidak apa-apa kamu betah tinggal di sini. Terima kasih sudah menjaga Carlos selama ini." ucap Nyonya Anjani kepada asisten rumah tangga itu. Karena ia tahu kalau asisten rumah tangga itulah yang membantu Tuan Baskoro merawat dan menjaga Carlos saat kecil, ketika Nyonya Anjani meninggalkan mereka.
"Maaf Nyonya, saya datang ke sini bukan untuk membicarakan hal itu. Tetapi Tuan meminta saya untuk memanggil anda menikmati makan malam. Karena saatnya makan malam di rumah ini ." ujar asisten rumah tangga itu yang tidak ingin berlama-lama berada di sana.
Entahlah. Mungkin sang asisten rumah tangga dapat merasakan sakit hati yang dirasakan Tuan Baskoro dan juga Carlos. Membuat dirinya enggan kembali dekat dengan Nyonya Anjani. Ya sebentar lagi saya akan nyusul Saya belum lapar.
Peraturan di rumah ini selalu harus dilaksanakan, dengan makan bersama. Tidak ada yang makan duluan dan ada yang makan belakangan. Semuanya saling menunggu. Jika Nyonya tidak makan, apa Nyonya tega membiarkan Tuan Baskoro, Nona Dewi dan Tuan Muda Carlos tidak makan juga, karena nyonya Anjani yang tidak ingin makan? tanya asisten rumah tangga itu membuat nyonya Anjani terhenyak.
Nyonya Anjani pun akhirnya bersedia untuk mengikuti asisten rumah tangga itu menemui Tuan Baskoro dan yang lainnya di ruang makan. "Kalau tidak karena Tuan Baskoro yang memintaku memanggilmu, Aku tidak akan sudi memanggil kamu sebagai nyonya lagi." gumam asisten rumah tangga itu karena merasa kesal mengingat kesalahan yang sudah dilakukan nyonya Anjani Kepada Tuan Baskoro.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu." nyonya Anjani meminta maaf. "Tidak apa-apa mom, silakan dicicipi menu makan malam yang tersedia di rumah ini. Dengan telaten Dewi meladeni Nyonya Anjani, layaknya seperti Ibu mertuanya.
Tuan Baskoro menatap Dewi yang begitu telaten meladeni Tuan Baskoro, Carlos dan juga Nyonya Anjani. "Ternyata enak juga ya sudah punya menantu! Ada yang menyiapkan menu makanan di hadapanku sekarang. Tidak seperti hari-hari sebelumnya makan berdua bersama Carlos.
"Mengapa tidak dari dulu kamu menikah Carlos? enakan sudah menikah ada yang melayani mu? ucap Tuan Baskoro Sambil tertawa cengengesan menyalahkan Carlos yang menikah di usia yang sudah tidak mudah lagi.
"Papi tidak usah diungkit-ungkit lagi. Semua ini gara-gara Papi.
"loh kok jadi nyalahin papi sih. Carlos terdiam ia tidak ingin melanjutkan pembicaraannya lagi. Karena pembicaraannya akan mengarah kepada Nyonya Anjani. Ia tidak ingin memperkeruh suasana dan membuat Anjani tidak betah tinggal di rumah tuan Baskoro.
Dewi mengembangkan senyumnya menatap Kedua lelaki yang penting di hidupnya. Melihat interaksi antara Carlos dan Tuan Baskoro yang begitu dekat, Nyonya Anjani merasa bahagia. Itu artinya Baskoro berhasil mendidik Carlos dengan baik, walaupun tanpa keterlibatan Nyonya Anjani mendidik Carlos hingga besar dan menikah.
" Oh ya. Papi sudah sepertinya kesepian di rumah ini. "Kapan ya mendengar suara tangis Bayi di rumah ini?" tanya Tuan Baskoro tepat kepada Carlos dan juga Dewi membuat Dewi langsung tersendat. Dengan sigap Carlos memberikan minuman kepada Dewi agar sedikit merasa lega. "Hati-hati sayang." ujar Carlos sambil menepuk-nepuk punggung istrinya.
Padahal Dewi hanya terhenyak mendengar perkataan Tuan Baskoro yang menginginkan mereka secepatnya memiliki momongan. "Papi tenang saja, semuanya butuh proses." sahut Carlos sambil terkekeh.
Makan malam malam itu sangatlah berkesan bagi Tuhan Baskoro. Apalagi dengan hadirnya orang yang sangat ia cintai dan ia rindukan selama ini. Hingga Tuan Baskoro pun menghabiskan menu makan malam tanpa sisa di piringnya. "Aduh Papi kenyang sekali, lahap makanya. Masakan kamu memang enak Bi,tidak ada duanya." puji Tuan Baskoro sambil tertawa cengengesan.
Tidak perlu memuji masakan Bibi. Bilang saja karena ada seseorang yang penting di hati Papi, sehingga Papi merasa makanan dengan lahap." tuduh Carlos membuat wajah Tuan Baskoro memerah bagai kepiting rebus.
"Melawan bocah seperti kamu, tapi tidak akan ada menangnya. Lebih baik Papi nonton saja deh." sahut Tuan Baskoro sambil langsung bangkit dari tempat duduknya setelah Tuan Baskoro sudah menghabiskan menu makan malam miliknya.
Dewi hanya tertawa menatap Kedua lelaki yang begitu berarti baginya. "Mas jangan berbicara seperti itu, Papi jadi malu kan." bisik Dewi tepat di telinga Carlos yang membuat Carlos langsung tertawa ngakak.
Drama makan malam telah usai. Kini keluarga Baskoro sudah berkumpul di ruang tamu. Terlihat Tuan Baskoro, dan Carlos membicarakan sesuatu hal yang penting mengenai bisnis yang mereka kelola.
Dewi tidak pernah mau tahu mengenai bisnis yang dikelola suaminya, dan juga Ayah mertuanya. Karena Ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai harta kekayaan milik suaminya.
Yang ia tahu suaminya hanyalah seorang asisten Bisma, pemilik sah dari Zulkarnain. Tetapi akhir-akhir ini, Dewi sudah mulai mengetahui kalau suaminya memiliki hotel dan juga restoran ternama di kota ini. Dan Carlos juga memiliki saham di Zulkarnain grup walaupun itu hanya 15%. Sementara Bisma memiliki 85%.
Tetapi Carlos tidak hanya mengharapkan itu saja. Ia mengembangkan bisnis kuliner dan properti lainnya. Sementara Bisma mengembangkan usahanya, di bidang supermarket, hotel, dan pertambangan. banyak anak cabang perusahaan milik Bisma.
Tetapi Calista juga tidak tahu menahu tentang harta kekayaan suaminya yang tak akan habis 7 keturunan.
Dewi duluan ya mas, mau nonton sebentar. "Sayang jangan terlalu banyak menonton drama Korea. Nanti terbawa suasana." ucap Carlos Sambil tertawa cengengesan menatap istrinya yang begitu ia cintai. Dewi memonyongkan bibirnya, pertanda tebakan suaminya benar. Kalau dirinya ingin menonton drama Korea kesukaannya.
Bersambung....
Hai Hai readears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓💓
JANGAN LUPA, TEKAN, FAVORIT, LIKE VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏