
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Kini gadis cantik nan rupawan itu sudah terbangun dari tidurnya. Satu harian beraktivitas untuk mengurus ibu dan adiknya yang kurang sehat, membuat tubuh Dewi sedikit kelelahan. Hingga wanita cantik itu bangun pagi ini agak kesiangan.
"Ya ampun aku kesiangan, Padahal aku harus pergi bekerja." gumam Dewi dalam hati sambil langsung beranjak dari tempat tidurnya. Tempat tidur lucu yang sudah lama menemani tidurnya.
Ia terkejut Mia sudah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. "Loh kamu sudah mau berangkat?
"Sudah Kak. ini kan sudah jam 07.00.lebih baik kakak langsung mandi, baru Kakak bekerja dan aku, Sean berangkat sekolah. Dewi melihat sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Mia. Yang selama ini selalu membantu Dewi dalam segala hal. Walaupun adiknya masih duduk di bangku SMA tetapi Mia sangat mengerti akan kondisi keluarganya.
Sean yang sudah rapi menggunakan dinas sekolahnya, mengembangkan senyumnya menatap Dewi dengan tatapan yang penuh kasih. Sementara Ibu Sarah sudah terlihat lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
"Bagaimana kondisi ibu saat ini apa Sudah mendingan?
"Alhamdulillah kondisi Ibu sudah semakin membaik dan sekarang luka bekas operasinya juga sudah mengering.Itu berkat kamu dan kalian semua mengurus ibu dengan baik ketika ibu sakit." ucap Ibu Sarah sembari meraih tubuh putrinya ke pelukannya.
Drama pagi itu, telah usai kini Dewi berangkat bekerja. Sementara Mia dan Sean berangkat ke sekolah, setelah Dewi menyelesaikan ritual mandinya.
"Ibu kami berangkat dulu ya." ucap Dewi sembari memberi salam kepada Ibu Sarah kedua Adiknya juga mengikutinya melakukan hal yang sama. Dewi juga menganjurkan kepada Ibu Sarah, agar tidak mengerjakan apa-apa di rumah. Karena itu dapat mengganggu kesehatannya.
Dewi mengantarkan kedua adiknya naik ke dalam angkutan umum , agar mereka segera tiba di sekolah. lalu dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilo meter, Dewi melangkahkan kakinya di atas trotoar. Tanpa ia sadari mobil yang ditumpangi Carlos tiba tiba berhenti di hadapannya.
"Ayo naik!"perintah Carlos ketika melihat Dewi yang sedang berjalan menelusuri trotoar.
Dewi memalingkan pandangannya melihat kearah suara yang memintanya agar naik ke dalam mobil yang ditumpangi Carlos.
"loh Pak Carlos Kok bisa ada di sini?
"Saya kebetulan lewat dan ingin berangkat ke kantor.
"Lebih baik kamu ikut saya, nanti kamu terlambat ini sudah hampir pukul 08.00."ujar Carlos meminta kepada Dewi agar segera naik ke dalam mobilnya.
Dewi hanya nyengir lalu ia pun naik ke bangku kemudi. Carlos yang melihat Dewi naik ke bangku kemudi mengerutkan keningnya lalu "Kamu pikir saya sopir kamu? Ayo duduk di depan. Perintah Carlos membuat Dewi mengurutkan keningnya. Dewi pun akhirnya turun dari bangku penumpang dan duduk di bangku samping kemudi.
"Kamu kalau pergi ke kantor setiap hari berjalan kaki?
Dewi menganggukkan kepalanya. "Ya saya berjalan kaki menuju kantor. Tidak jauh kok paling hanya jarak dua setengah kilometer.
Lagian untuk mengirit ongkos. Kalau Dewi naik ojek online dua kali satu hari, itu bisa aku gunakan untuk menambah biaya kehidupan kami sehari-hari. " sahut Dewi tetap menatap fokus ke depan. Tanpa menoleh sedikitpun kepada Carlos. Carlos terdiam sejenak ia berpikir "Ya ampun betapa beratnya beban wanita ini. Tetapi dia tetap kuat untuk menjalani hidupnya." Carlos membatin.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 10 menit kemudian, Carlos dan Dewi pun tiba di kantor. Dewi dengan langkah tergesa keluar dari mobil yang di kemudikan Carlos. "Terima kasih pak Carlos atas tumpangannya. Saya duluannya." ucap Dewi sambil berlari menuju lift khusus karyawan. Carlos menggelengkan kepalanya menatap Dewi dengan langkah cepat Dewi berlari menuju lift karyawan.
Setelah tiba di pantry, Dewi langsung menggunakan pakaian yang biasa ia gunakan sehari-hari untuk bekerja di kantor yang Bisma pimpin. Ia mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan instruksi yang diberikan leader kepadanya.
"Ya Allah dew, biasa aja kali. Tiwi juga biasa seperti itu ko." ucap Tiwi sambil mengembangkan senyumnya.
****
Di tempat lain, Calista sudah menunggu suaminya di bawah tepatnya di meja makan. Padahal sebelumnya Calista sudah mempersiapkan pakaian suaminya, untuk segera ia gunakan. Setelah selesai melakukan ritual mandinya. Tetapi entah mengapa sang suami masih saja bermalas-malasan hari itu. Hingga Calista pun kembali menghampiri Bisma yang masih setia di kamar.
Mas kok lambat sekali ini sudah pukul 09.00 loh. Memangnya mas tidak ke kantor? ucap Calista sembari menatap suaminya yang sedang menggunakan pakaian yang sudah dipersiapkan Calista.
"Habis kamu tinggalin Mas begitu saja. bantuin Mas dong."ucap Bisma bermanja kepada istrinya. Calista menghela napas lalu menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah manja suaminya. Tetapi Calista tetap menjalankan tugasnya setiap apa yang diminta oleh suaminya.
Calista selalu tidak bisa menolak. Calista membantu merapikan pakaian yang sudah ia gunakan, termasuk dasi dan kemeja yang akan digunakan. Begitu juga dengan setelan jas yang yang terlihat elegan digunakan oleh Bisma. "Nah gini kan, sudah tampan." terpuji Calista sambil mengembangkan senyumnya menatap suaminya yang berdiri kokoh di hadapannya.
"Baru nyadar kalau suami kamu ini tampan. timpal Bisma yang mampu membuat Calista langsung tertawa ngakak. "Lumayan sih, tetapi sepertinya suami aku sudah ubanan." sahut Calista berniat untuk menjahili suaminya.
Hal itu membuat Bisma menjadi tidak percaya diri. Ia berlalu meninggalkan Calista di sana. Menuju cermin yang ada di kamar. "Sayang, dimana ubannya? tanya Bisma penasaran apa yang dikatakan Calista benar atau tidak. Sambil memeriksa rambutnya di depan cermin.
Calista langsung tertawa lalu memeluk suaminya dari belakang. "Sekalipun kamu sudah ubanan, kamu tetap suamiku. Calista Tidak akan pernah membiarkanmu direbut wanita manapun dariku." ucap Calista yang mampu membuat hati Bisma menjadi berbunga-bunga.
"Yang benar sayang?
"Ya iyalah, apa yang sudah menjadi milikku, aku tidak akan rela dimiliki orang lain." sahut Calista dengan nada menegaskan. Bisma langsung meraih tubuh istrinya lalu menggendong dan memutar-mutarkannya.
"Terima kasih sayang, kamu benar-benar istri yang begitu baik dan perhatian kepada Mas. jujur Jika waktu bisa diputar, Mengapa tidak dari awal aku bertemu dengan kamu ya.
"Ya Allah Mas , seandainya dari awal kita bertemu, Calista belum tahu kali dimana. secara usia kita jauh berbeda." ucap Calista yang mampu membuat Bisma langsung terdiam.
"Sudah lebih baik kita langsung istirahat habis itu kita ke kantor." ucap Calista
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN, HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏
sambil nunggu karya ini up kembali mampir ke karya Teman emak