I Love You Office Girl

I Love You Office Girl
BAB 88. MAKAN SIANG YANG BERARTI



"Tidak, Saya harap kamu mau makan siang denganku. Kalau tidak aku akan semakin merasa bersalah kepadamu. Karena sudah menghabiskan nasi goreng jatah sarapan pagi Mu." ucap Carlos membuat Dewi mengerutkan keningnya.


" Ya sudah Pak!" tidak apa-apa Nanti kabari saja Dewi, mau makan di mana siang ini." ucap Dewi sambil berpamitan meninggalkan Carlos di sana.


Senyum sumringah terlihat jelas di wajah Carlos ketika mendengar Dewi bersedia makan siang dengannya. Ada rona bahagia di wajah Carlos pagi ini. Ia melangkah keluar menuju ruang meeting, seperti yang dikatakan oleh Dewi sebelumnya. Kalau Carlos saat ini sudah ditunggu di ruang meeting.


****


"Kalau boleh tau mengapa Pak Carlos tidak membuka hati saja kepada wanita?tanya Dewi untuk memulai percakapan mereka di sebuah restoran ternama yang lokasinya tidak jauh dari kantor Zulkarnain group.


"Dari dulu saya berusaha untuk membuka hati kepada wanita. Tetapi entah mengapa hingga saat ini belum ada wanita yang bisa membuat aku lupa dengan perbuatan ibu yang tidak meninggalkanku di saat aku masih kecil bersama ayahku.


"Sejujurnya aku tidak menyalahkan Pak Carlos. Tetapi menurutku cobalah berdamai dengan keadaan. Karena dengan cara itu hidup kita akan lebih baik. Sama seperti yang Dewi alami selama ini. Awalnya Dewi merasa tidak mampu menjalani hidup tanpa adanya seorang ayah.


Ayahku pergi untuk selamanya, meninggalkan tiga anak dan istri. Sulit bagi kami menerima itu semua. Tetapi akhirnya aku berdamai dengan keadaan, sehingga aku kuat untuk menjalani hidup. Walaupun hanya hidup pas-pasan terkadang kekurangan.


Lebih sakit lagi, ketika ibu sakit. Bagai petir di siang bolong, Aku khawatir terjadi sesuatu kepada ibuku. Awalnya aku merasa sama sekali tidak memiliki kekuatan. Tetapi aku serahkan semua kehidupanku dan kehidupan keluargaku kepada sang pencipta.


"Ya, dengan pertolongan dari Pak Carlos, sekalipun itu mendapat perintah dari Tuan Bisma biaya pengobatan ibuku mendapat bantuan dari kalian. Sejujurnya aku sudah tidak tahu harus melakukan apa saat itu. Kedua adikku masih sekolah dan harus memiliki biaya sekolah dan kehidupan kami sehari-hari. Itu saja aku harus gali lubang tutup lubang. Untuk membiayai segalanya.


Aku hanya mengharapkan upahku kerja di Zulkarnain Group, untuk biaya kehidupan kami sehari-hari. Dulu sebelum ibuku sakit, ibuku bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangga untuk menambah biaya kami. Tetapi untuk sekarang ibuku tidak bisa bekerja lagi, dan biaya kami hanya mengharapkan aku saja. Tapi aku menikmati hari-hariku asalkan Kami tetap bersama.


Berdamai dengan keadaan membuat kita lebih menerima, segala jalan hidup yang diberikan Alloh." ucap Dewi kepada Carlos membuat Carlos langsung terdiam menatap Dewi dengan tatapan seksama.


Sekilas Ia berpikir Dewi salah satu wanita tangguh. Yang mampu melakukan yang seharusnya dilakukan seorang ayah ataupun lelaki. Jujur aku Salut kepadamu Dewi. Mungkin Jika aku di posisimu Aku tidak akan sanggup menjalani hidup ini. Terima kasih atas nasehatmu. Semoga aku juga dapat berdamai dengan keadaan keluargaku." ucap Carlos, netranya tetap menatap seorang wanita yang ada di hadapannya.


Dewi yang menyadari kalau dirinya ditatap oleh Carlos, merasa tidak nyaman."Kenapa Pak Carlos menatapku seperti itu? Apa ada yang salah di penampilanku? atau ada yang salah di perkataanku? tanya Dewi penasaran Mengapa sosok Carlos menatapnya seolah tatapan itu asing baginya.


Kalau kamu sendiri, apa kamu tidak berniat untuk mencari pendamping hidup? pertanyaan dari Carlos yang sontak membuat Dewi terkejut. Dewi menghela nafas berat.


" Saya seorang wanita dan usia saya juga masih muda. Untuk saat ini saya belum berpikir jauh sampai ke sana. Karena aku menginginkan adik-adikku Tamat sekolah dulu baru memikirkan sampai ke sana.


Lagian aku tidak pernah muluk-muluk. Aku hanya berharap Allah mengirimkan jodoh untukku, lelaki yang baik perhatian dan menyayangi aku dan keluargaku. Didalam satu hubungan kesetiaan dan kepercayaan itu yang paling dibutuhkan di sana.


Kalau masalah ekonomi, itu terakhir. uang dapat dicari bersama. Dewi nggak pernah berpikir kalau Dewi akan menikah dengan lelaki mapan seperti Calista. Dewi sadar tidak mungkin lelaki seperti Tuan Bisma atau Pak Carlos melirik wanita seperti Dewi yang hanya tamat SMA dan bekerja sebagai office girl. mau ditaruh ke mana ke wajah lelaki memiliki pendamping hidup seorang office." ucap Dewi sembari mengembangkan senyumnya.


"Memangnya kenapa dengan office girl?


"Tidak apa-apa. Hanya tidak sebanding saja. Karena semua orang tua Pasti akan mencari menantu yang ekonominya sepadan dengan mereka.


Makanya bagiku tidak ada terbersit sampai ke sana." sahut Dewi. Tiba-tiba menu makan siang mereka sudah datang diantarkan oleh seorang pelayan." Silakan dimakan Nona Dan Tuan." ucap sang pelayan itu kepada Dewi dan juga Carlos.


Dengan hati yang begitu bahagia, baru Dewi yang sudi menjabat tangannya di sana. sekalipun dia hanya pelayan, terkadang pelayan itu hanya dipandang rendah orang-orang kaya yang menghabiskan uangnya di restoran itu.


"Ya, silakan makan Dewi, Tuan." ucap pelayan itu sembari mengembangkan senyumnya. Lalu pelayan itu pun berpamitan meninggalkan Dewi dan Carlos setelah menghidangkan menu makan siang itu.


Terlihat Carlos hanya menatap Dewi berinteraksi dengan sang pelayan. "loh Pak Carlos, kok menatapku seperti itu? kenapa tidak dimakan? apa kurang selera? tanya Dewi penasaran.


Carlos mengembangkan senyumnya lalu mengambil garpu dan pisau yang ada di sana untuk menyantap meni makan siang mereka. sementara Dewi langsung mencuci Tangannya di kobokan. karena sebelumnya Dewi sudah meminta kepada pelayan untuk menyediakan cuci tangan untuknya di dalam kobokan.


Dewi makan dengan menggunakan kelima jaringan tangannya. Membuat Carlos mengerutkan keningnya. Wanita yang sangat polos. tidak ada gengsi sama sekali. walaupun di hadapan lelaki. " Carlos bermonolog sendiri di dalam hati.


Dewi menyantap menu makanan itu. Melihat Dewi makan lahap dengan menggunakan kelima jarinya, Carlos mengikuti seperti yang dilakukan Dewi. Carlos yang sama sekali belum pernah makan dengan dengan hanya menggunakan kelima jaringan, tanpa memakai sendok dan garpu atau pisau membuat Carlos sedikit kaku.


Tetapi ia pun kali ini belajar dari Dewi. Enak kan makan pakai tangan seru tahu." ucap Dewi sambil mengembangkan senyumnya menatap Carlos yang baru memulai makannya dengan menggunakan kelima jarinya.


Iya ya, ternyata kamu betul. Makan dengan kelima Jari memang membuat kita lebih asik dan menikmati makanan ini." ucap Carlos sambil terus menyantap menu makan siangnya. Terlihat Dewi tidak sungkan Ama sesekali. Sikapnya itu natural tidak ada yang dibuat-buat di sana.


Tidak seperti wanita lainnya jika di hadapan lelaki, cara makan mereka akan menjaga image. Jika di hadapan lelaki. Tetapi bagi Dewi itu tidak penting baginya. Menurut Dewi jika lelaki itu benar-benar mencintainya, maka lelaki itu pasti menerima Dewi apa adanya.


"Pak karlos tidak Jera kan mengajakku makan siang bareng? tanya Dewi samber tertawa cengengesan ketika dirinya sudah selesai menyantap menu makan siangnya.


"Memangnya kenapa saya harus jera membawa kamu makan siang bareng?


"Karena Dewi tidak memiliki etika makan di restoran ternama seperti ini bahkan Dewi sudah malu maluin disini. Dewi makan layaknya seperti di rumah dengan menggunakan kelima jari, tanpa memperhatikan kelas menengah ke atas makan di sebuah restoran ternama seperti ini. pasti pak Carlos merasa malu kan?


"Tidak!"


"Justru aku menikmati makan siang ini dengan nikmat. Besok-besok kita makan bareng lagi ya." ucap Carlos berharap Dewi bersedia memakan bareng bersamanya di Line waktu.


It's okay. Tidak apa-apa yang penting ditraktir makan sama pak Carlos. Maklum aku tidak mampu membayar jika aku yang mentraktir Pak Carlos. Apalagi di restoran ternama seperti ini. Bisa-bisa gajiku satu bulan cukup hanya 2 hari. He....he....he." ucap Dewi sambil nyengir membuat Bisma pun langsung tertawa sumringah.


Siang itu Carlos dan Dewi kembali ke kantor setelah menyelesaikan makan siang mereka. Terlihat Tiwi sudah menunggu Dewi di kantor. "Kemana saja sih si Dewi? katanya hanya makan siang bareng bersama Pak karlos." gumam Tiwi dalam hati sembari melihat arloji yang ada di pergelangan tangannya.


iya sebelumnya Dewi berpamitan kepada Tiwi untuk makan siang bareng bersama Carlos karena kebetulan Dewi juga memiliki janji dengan Pak Dokter tampan idola Dewi pengganti dari Bisma yang menjadi idolanya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏