
Di kota Jakarta terlihat Gibran sudah menunggu Tiwi di depan kantor Zulkarnain Group. Tiwi yang sudah menyelesaikan pekerjaannya langsung berpamitan kepada Dewi untuk segera kembali karena kebetulan dokter Gibran sudah menjemputnya.
"Dewi aku duluan ya, soalnya dokter tampan sudah menjemput Ku. Tidak apa-apa kan aku tinggal dulu?" ucap Tiwi merasa tidak enak hati meninggalkan Dewi di sana. Tidak apa-apa santai saja. Tidak perlu merasa tidak enak hati." sahut Dewi sambil mengembangkan senyumnya.
Tiwi berjalan menuju lift khusus karyawan. Ia pun langsung menekan tombol angka satu agar dirinya segera tiba di lantai dasar di mana Gibran sudah menunggu dirinya.
Pak Dokter sudah lama? tanya Tiwi yang sudah berada di lobby kantor.
"Tidak!" paling sekitar 5 menit yang lalu." sahut dokter Gibran sambil menatap Tiwi dengan tatapan penuh arti.
Gibran dan Tiwi berlalu dari kantor Zulkarnain Group. Carlos menatap kepergian mereka dari ruang kerjanya, tepatnya dari lantai 10 melalui dinding kaca ruang kerjanya."Jangan-jangan dokter Gibran sudah jadian dengan Tiwi. Tapi kok bisa? kapan jadiannya? Carlos bermonolog sendiri menatap dari kejauhan kepergian dokter Gibran dengan Tiwi.
Sementara Dewi yang berniat untuk menikmati makan siangnya di salah satu rumah makan Minang yang lokasinya tidak jauh dari kantor pencakar langit itu, keluar dari lobby kantor Zulkarnain group oleh Carlos.
Carlos langsung meraih ponselnya yang ada saku celananya.
Kring.....
Kring....
Kring..... suara deringan ponsel milik Dewi terdengar jelas di telinganya. Dewi meraih ponsel yang ada di saku celananya.
Dewi menatap nomor ponsel yang menghubungi dirinya nomor ponsel Carlos. Dewi menekan tombol hijau yang ada dilayar ponselnya. Agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Carlos .
"Ya Selamat siang pak Carlos!" Ada yang bisa saya bantu? sahut Dewi di dalam sambungan telepon selulernya. "Kamu dimana? tanya Carlos padahal Ia sudah mengetahui keberadaan Dewi saat ini.
"Saya masih berada di lobby Pak. Ingin pergi ke rumah makan yang lokasinya tidak jauh dari kantor ini. Kebetulan Dewi tidak membawa bekal makan siang." sahut Dewi jujur.
"Tunggu di situ. Saya akan turun, kita makan bareng." ucap Carlos sembari langsung berjalan keluar ruang kerjanya. Menuju khusus petinggi perusahaan. Ia berniat makan siang bersama dengan Dewi siang itu.
Sambil berbicara dalam sambungan telepon, Carlos berjalan ke lobi setelah keluar dari lift khusus petinggi perusahaan. Ia sudah melihat Dewi menunggunya di pintu gerbang kantor. "Tunggu saja di situ ya, jangan kemana-mana aku akan mengambilkan mobil. Klik ...
Carlos mematikan sambungan telepon selulernya. Lalu masuk ke dalam mobilnya. Carlos menghidupkan mesin mobil miliknya dan melajukannya menghampiri Dewi yang sedang menunggu di pintu gerbang kantor.
"Silakan masuk tuan putri!" ucap Carlos ketika sudah tiba di hadapan Dewi membuat Dewi pun tertawa cengengesan, mendengar Carlos mengatakannya sebagai tuan putri.
" Pak Carlos ada-ada saja." ucapnya sambil langsung duduk di bangku samping kemudi.
Carlos melajukan mobilnya ke arah jalan raya. "Kita makan di mana?tanya Carlos kepada Dewi.
"loh kok nanya sama aku sih Pak? bukannya pak Carlos yang ngajak makan siang? sahut Dewi.
" Bagaimana kalau kita makan di salah satu restoran langganan aku saja." sahut Carlos. Dewi menggelengkan kepalanya. Dewi tidak mau makan di restoran langganan Pak Carlos. Karena apa? Karena makanannya di sana terlalu mahal. Sekali makan di sana gaji Dewi satu bulan bekerja di Zulkarnain Group tidak cukup." ucap Dewi sambil terkekeh.
" Maksud kamu?
"Loh kok malah nanya lagi? Memangnya maksud Dewi tidak jelas apa? pak Carlos pernah membawa Dewi makan di salah satu restoran ternama di kota ini. Yang ternyata itu restoran milik keluarga Pak Carlos.
"Memangnya siapa yang ingin meminta bayaran dari kamu? tidak ada kan?
"Memang tidak ada. Tapi sepertinya itu bagiku pemborosan. Sama halnya seperti prinsip kami bertiga. Jika kita makan di restoran ternama, selain harganya sudah mahal pemiliknya otomatis sudah kaya.
Sedangkan kalau kita makan di rumah makan sederhana, Rumah makan pinggir jalan yang rasanya tidak kalah enak dari restoran bintang lima harganya bersahabat dengan rakyat jelata sepertiku. Di samping itu, anggap saja kita membantu pemilik warung itu menyekolahkan anaknya.
Jika kita sering makan di sana, otomatis sedikit banyaknya Dia memiliki keuntungan dari kita dan dapat menyekolahkan anaknya. Secara tidak langsung kita pasti membantu mereka." ucap Dewi kepada Carlos membuat Carlos tertegun dengan jawaban Dewi.
"Carlos hanya manggut. lalu kita harus makan di mana nih? ucap Carlos bertanya kepada Dewi.
" Lebih baik kita makan di rumah makan situ saja. Yang lokasinya tidak jauh dari sini." sahutnya sambil menunjukkan arah rumah makan yang biasa tempat Dewi dan Tiwi membeli makan siang mereka, jika kedua sahabat itu tidak membawa bekal dari rumah.
"Tapi Apa makanannya di sana higienis?
"Bersih kok. Aku melihat ketika mereka sedang memasak wajan dan makanannya sebelum dimasak ,semuanya dicuci bersih. Dan ras Citra rasanya tidak kalah enak dengan restoran bintang lima. Pak Carlos tidak yakin?tanya Dewi
Carlos hanya terdiam melajukan mobilnya ke arah rumah makan yang ditunjuk oleh Dewi. Lina menit kemudian mereka tiba di sana. "Tapi di mana saya memarkirkan mobil ini? ucap Carlos sembari meneliti tempat parkir mobil miliknya.
"Parkir di bahu jalan saja. Tidak apa-apa kok, nanti ada juru parkirnya. Semuanya pada baik disini mobilnya akan dijaga dan pasti aman." sahut Dewi sembari langsung membuka pintu mobil milik Carlos, tanpa menunggu Carlos terlebih dahulu membukakan pintu kepadanya.
"Neng Dewi, sendiri toh?tanya pemilik warung yang biasa melihat Dewi makan di sana. "Tidak mang ada atasan Dewi yang ikut. Itu dia." sahut Dewi sembari menunjuk ke arah Carlos yang baru turun dari mobil miliknya.
Carlos menelisik seisi Rumah makan. ditatapnya Rumah makan itu ramai sekali dikunjungi para mahasiswa mahasiswi dan juga karyawan karyawati yang bekerja lokasinya tidak jauh dari rumah makan itu.
"Rame banget ya!" ucap Carlos setengah berbisik di telinga Dewi. Citra rasanya memanjakan lidah kita, sehingga tempat ini sangat ramai. Selain harganya bersahabat Citra rasanya yang begitu menggiurkan selera." ucap Dewi mempromosikan menu masakan yang ada di rumah makan itu. Membuat sang pemilik warung pun hanya mengembangkan senyumnya mendengar apa yang dikatakan Dewi kepada Carlos.
"Mau makan apa neng Dewi?
"Biasa Mang!"
"Masnya mau makan apa? tanya pemilik warung kepada Carlos. Carlos bingung menjawab apa. lalu ia menatap daftar menu sederhana yang ada di sana.
"Samakan saja pesanan saya dengan Dewi." sahut Carlos sambil memperhatikan daftar menu makanan yang ada di sana. Pemilik warung berlalu meninggalkan tempat duduk Dewi dan Carlos.
Sepeninggalan Mang Karim, Carlos bertanya kepada Dewi. "Kamu serius harga makanannya hanya segini? ucap Carlos yang melihat daftar menu makanan yang ada di sana satu porsi makanan dengan menggunakan ayam penyet hanya sebesar lima belas ribu rupiah.
"Ya benar lah Pak Carlos!" mana mungkin Itu berbohong." sahut Dewi sambil menatap Carlos dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bersambung....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN, HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏