I Love You Office Girl

I Love You Office Girl
BAB.30 TANGIS CALISTA



Calista duduk di sofa sambil menonton televisi yang tayang di salah satu televisi swasta. Tepatnya di ruang CEO Bisma. Tiba-tiba suara ponsel Calista berdering.


Kring....


Kring.....


Kring..... Calista melihat layar ponselnya kalau yang memanggil dirinya nomor ponsel Gibran. Calista menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Gibran


"Halo Gibran," tumben kamu menghubungiku jam segini kamu nggak ada kelas? Tanya Calista di dalam sambungan telepon selulernya


"Enggak Calista kebetulan hari ini aku libur bisa nggak kita ketemuan? Aku sudah di depan kantor tempat kamu bekerja." ucap Gibran kepada Calista.


"Oh ya jadi kamu sekarang lagi di mana? tanya Calista


"Aku sudah di lobby kantor tempat kamu bekerja."sahut Gibran di ujung telepon


"Ok ya sudah aku turun deh." jawab Calista


"Calista permisi dulu ya pak!" sepertinya ada teman Calista menunggu di bawah."ucap Calista berpamitan kepada Bisma.


Bisma menganggukkan kepalanya pertanda ia setuju kalau Calista diperbolehkan untuk menemui temannya. Calista pun berlalu meninggalkan ruangan CEO untuk menemui Gibran. Sampai di lobby Calista sudah melihat Gibran menunggu Calista.


"Loh Gibran, sudah lama?


"Enggak kok paling sekitar 10 menit. Oh iya Aku dengar kamu sudah wisuda ya?"


"Ya begitulah Gibran."


"Kenapa kamu tidak memberitahuku? Kan kalau kamu memberitahuku aku bisa datang melihatmu pakai toga wisudamu. Dan juga kita bisa foto bareng He....he....he tawa Gibran.


"Aku tidak ingin merepotkan Mu Gibran." jawab Calista singkat


"Oh iya, tumben kamu mau mengajak ketemuan sekarang ada apa? Tanya Calista penasaran karena tiba-tiba Gibran menghampiri Calista ke kantornya.


"Tidak apa-apa kok Calista. Cuman kangen saja sama kamu. Habis dari kampus aku langsung kemari.


"Kamu sudah makan belum? Kalau belum makan kita makan yuk aku tahu tempat makan mie ayam kesukaan kamu yang enak." ujar Gibran.


"Oh ya sepertinya menggiurkan tuh." jawab Calista semangat sambil mengembangkan senyumnya. Tanpa Calista sadari sepasang mata sudah memperhatikan interaksi mereka berdua. Ya siapa lagi kalau bukan CEO es kutub utara itu.


"Sama orang saja senyumnya mengembang dan tertawa lepas. Tiba saatnya sama aku terus marah marah. Huh..... itu siapa sih? Apa itu pacar Calista?kok aku merasa ada yang aneh ya dalam diriku ketika melihatnya bersama laki-laki lain. Apa aku sudah mulai mencintainya?" tanya es kutub utara itu di dalam hati.


Calista dan Gibran berlalu dari kantor pergi ke warung mie ayam yang sudah diberitahu oleh Gibran. Ya Gibran tahu betul kalau salah satu makanan favorit Calista adalah mie ayam. Setelah sekitar kurang lebih 10 menit berlalu dari kantor Zulkarnain Group, mereka


Tiba di warung mie ayam.


Calista dan Gibran pun langsung memesan makanan mereka."Mang....mie ayamnya Dua ya." ucap Gibran memesan kepada penjual mie ayam


"Oh iya mas, ditunggu ya." sahut penjual mie ayam.


Beberapa menit kemudian pesanan mereka pun datang.


"Ini mas..... neng..... mie ayamnya." ucap si penjual mie ayam menyuguhkan dua mangkok mie ayam.


Sementara Bisma yang ternyata mengikuti mereka hanya duduk di mobil sport yang dikendarainya sendiri."Siapa dia? apa dia kekasihnya? Sepertinya mereka dekat sekali." gumamnya dalam hati. lalu Bisma mengambil ponselnya di saku celananya


"Hello sekretaris Hans...


"Ya tuan ada yang bisa saya bantu?


"Kamu cari tahu siapa laki-laki yang dekat bersama Calista saya ingin kamu cepat dapat informasinya tentangnya dan cari tau hubungan apa lelaki itu dengan Calista. Aku akan mengirim fotonya ke nomor ponsel kamu." perintah Bisma kepada sekretaris


lalu Bisma langsung mematikan ponselnya dan pergi kembali ke kantor.


Setelah selesai makan dan ngomong panjang lebar bersama Gibran, akhirnya mereka pun memutuskan untuk kembali ke kantor.


"Oh iya Gibran, sepertinya jam makan siang telah usai aku akan kembali ke kantor takutnya aku telat."ucap Calista kepada Gibran


"Ya sudah yuk aku antar." sahut Gibran.


Gibran mengambil motor yang diparkir di depan warung bakso itu


"Yuk Calista ajak Gibran." Calista duduk di belakang Gibran


"Sudah Lis?


"Sudah, tarik sis....... semangkok, Ah mantap. Sahut Budi ala ala anak zaman now


"Oh Ya, Calista aku langsung pulangnya takut ganggu kamu bekerja." Nanti sore aku jemput ya." ucap Gibran


"Oh tidak perlu Gibran aku nggak mau merepotkan kamu. lagian aku pulangnya bersama papa Nando sahut Calista.


"Oh ya sudah kalau gitu aku pulang dulu ya.' Okey dah..... Calista melambaikan tangannya sambil mengebangkan senyumnya.


Dari mana saja kamu? Ini sudah jam berapa? Suara bariton terdengar jelas di telinga Calista.


"Ini masih jam kerja kamu malah keluyuran."ucap Bisma dengan mata elangnya


"Ya pak, saya minta maaf kebetulan teman saya tadi mengajak makan siang bareng jadi tidak enak juga menolaknya." jawab Calista.


"Teman apa teman? Ingat kamu itu calon istriku jadi tolong kamu jaga jarak sama laki-laki lain.


"Jawab dengan jujur dia itu siapa Calista? Tanya Bisma dengan nada suara agak meninggi


"Tuan Bisma yang terhormat saya sudah katakan dia itu teman saya. Apa Anda tidak mendengarnya?


"Teman sampai sedekat itu?


Kalau tidak percaya ya sudah capek berbicara sama orang yang tidak pernah percaya sama orang." jawab Calista.


"Kamu bisa tidak menghargai saya Calista? intonasi suara Bisma semakin meninggi


Calista diam tak menjawab apa-apa. Tiba-tiba ponsel Calista kembali berdering.


Kring.....


kring....


kring.....


Calista melihat di layar ponselnya kalau yang menghubunginya nomor ponsel milik Gibran


Calista langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Gibran. Ia tidak ingin membuat Gibran Kwatir terhadapnya.


"Hello Gibran


"Hello Calista aku sudah sampai di rumah. bagaimana dengan kamu apa semua baik-baik saja? Tanya Gibran karena dirinya khawatir kalau Calista bakal diomeli oleh atasannya. Karena terlambat masuk kantor setelah makan siang.


"Oh aku baik-baik saja kok santai saja Gibran


Tiba-tiba Bisma mengambil ponsel dari tangan Calista. Sontak Calista terkejut dengan kelakuan es kutub utara itu.


"Heh kamu siapa? tolong jangan kamu ganggu calon istriku dan jangan kamu telepon-telepon lagi Dia." bentak Bisma di dalam sambungan telepon seluler Calista membuat Budi sangat terkejut.


"Apa?


Calon istri? Kenapa Calista nggak pernah cerita kalau dia sudah punya kekasih?" gumam Gibran dalam hati


"Kamu kenapa membentaknya dia itu teman satu kelas aku sewaktu aku di desa dan apa salahnya sama kamu hah... Calista tidak habis pikir dengan jalan pikiran tuan Bisma Zulkarnain yang terhormat.


"Aku hanya tidak ingin kamu dekat dekat sama dia. pokoknya mulai sekarang aku ingin kamu jauhi dia." jawab Bisma


"Apa maksud anda menyuruh saya menjauh dari teman satu kampung saya? Saya tidak bisa menjauh darinya. Karena hanya dari dialah aku mendapat informasi mengenai kampung halamanku. Termasuk rumah peninggalan orang tuaku yang sudah direbut orang.


"Apa Anda tahu apa yang sudah saya alami selama hidup di kampung, sampai ayah, ibu dan kakak saya meninggalkan saya untuk selamanya? Dan apa Anda tahu kalau rumah peninggalan orang tua saya diambil alih salah satu rentenir karena kami tidak mampu membayar hutang pengobatan ayahku? Tidak kan? Tanya Calista sambil air bening mengalir bercucuran membasahi pipi Calista.


"Tuan Bisma Zulkarnain yang terhormat apa pernah anda mengetahui mengapa saya sampai ada di kota ini? Anda bilang saya ini calon istri anda. Tetapi anda tidak tahu sedikitpun kehidupan pribadi saya. Apa pantas seorang calon suami tidak tahu kehidupan pribadi calon istrinya?


Apalagi masa lalu calon istrinya?


"Ingat tuan Bisma Zulkarnain yang terhormat. Saya berasal dari mana. Sebelum anda mencari tahu tentang saya, lebih baik anda batalkan perjodohan ini daripada anda menyesal nantinya. Tangis Calista semakin menjadi mengingat masa-masa bersama ayah, ibu,dan kakaknya Andika yang sangat iya sayangi. Yang sudah lebih dulu menghadap sang khalik.


"Ayah ibu kakak maafkan Calista, belum bisa berkunjung ke desa untuk berziarah ke makam kalian. Bukannya Calista lupa sama kalian. Tetapi karena keadaan Calista yang tidak memungkinkan. Semoga kelak Calista bisa mengunjungi kalian." Ratap Calista sambil menangis sejadi-jadinya.


Bisma Zulkarnain merasa bersalah dan tiba-tiba memeluk Calista.


"Maafkan aku, karena sudah membuatmu bersedih. Sebenarnya aku tidak berniat membuatmu sedih. Tetapi mungkin karena aku takut kalau kamu akan membatalkan pernikahan kita, karena laki-laki itu." ucap Bisma sembari mengeratkan pelukannya kepada Calista


Calista hanya diam tak menjawab apa-apa Kalista hanya meratapi nasibnya yang ia alami selama hidup.


Bersambung....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏