
Ibu Sarina dan pak Khairul Hamzah dipersilakan oleh kedua orang tua Tiwi masuk ke rumah. Tiwi yang sama sekali tidak mengetahui mengenai kedatangan dokter Gibran dan kedua orang tuanya, masih saja bermalas-malasan di kamar.
Karena kebetulan hari itu hari Minggu. Sehingga Tiwi memilih untuk berdiam diri di rumah beristirahat.
"Bu....., Tiwi di mana ya? Tanya Dokter Gibran ketika mereka sudah duduk bersama di ruang tamu di kursi rotan buatan pak Khairul ayah kandung dari Tiwi.
Ya Pak Khairul Bakti memang begitu kreatif untuk membuat sesuatu. Bahkan membangun rumah sederhana miliknya. Pak Khairul bakti yang melakukannya dibantu oleh kerabat dekatnya.
Karena kebetulan profesi Pak Khairul bakti merupakan seorang tukang di proyek-proyek yang membutuhkan tenaganya. Bahkan rumah sederhana yang mereka tempati pun hasil dari kerja keras pa Khairul bakti selama bekerja di proyek.
"Ibu Sari berlalu ke dapur. Untuk membuatkan minuman dan makanan ringan untuk kedua orang tua dokter Gibran. Sebelumnya dokter Gibran memang tidak memberitahu kepada Tiwi dan juga kedua orang tua Tiwi, kalau mereka hari itu akan datang melamar Tiwi.
Sehingga tidak ada persiapan apa-apa yang dilakukan ibu Sari. Ia hanya menghidangkan seadanya. Ibu Sari kembali ke ruang tamu dengan membawakan nampan berisikan 5 cangkir kopi dan makanan ringan di dalamnya.
Ibu Sari menghidangkan kopi itu, dari aromanya kopi buatan Ibu Sari sangat menggiurkan. "Silakan Bu.... Pak.... nak Gibran. Hanya ini saja yang bisa kami hidangkan. Maklum tidak ada persiapan sama sekali. Karena nak Gibran dan Tiwi tidak memberitahu kepada kami kalau ibu dan bapak akan datang ke rumah kami." ucap Ibu Sari berusaha mengembangkan senyumnya.
Sementara di dalam kamar, Tiwi masih menikmati tidurnya padahal Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 siang. Setelah makan siang, Tiwi menghabiskan waktunya di kamar untuk menonton drama Korea kesukaannya. Belum habis drama Korea yang ia tonton, Tiwi sudah tertidur pulas. Membuat Tiwi sama sekali tidak mengetahui kedatangan dokter Gibran dan kedua orang tuanya.
Terlihat dokter Gibran sudah mulai gelisah karena Tiwi tak kunjung keluar. Ibu Sari yang paham akan kegelisahan dokter Gibran, berlalu masuk ke kamar Tiwi. Karena kebetulan kamar Tiwi tidak dikunci hanya ditutup rapat.
Ibu Sari menggelengkan kepalanya melihat putrinya tertidur di hadapan televisi. "Ya Allah bukannya kamu yang menonton televisi, tapi televisinya yang menonton kamu tidur." pekik Ibu Sari Sambil tertawa melihat cara tidur putrinya yang terlentang bebas begitu saja.
Ibu Sari menggoyang-goyang tubuh Tiwi berharap Tiwi segera bangun dari tidurnya. "Bu......Jangan ganggu Tiwi! ini hari Minggu sudah waktunya Tiwi bermalas-malasan setelah 6 hari harus kerja rodi untuk mencari sesuap nasi." gerutu Tiwi dengan suara peraunya sambil tetap memejamkan matanya.
"Kamu ini bagaimana sih? calon mertua kamu dan calon suami kamu sudah datang ingin melamar kamu. Tapi kamu masih molor di sini." ucap Ibu Sari membuat Tiwi langsung terhenyak. Tiwi langsung terbangun dan duduk.
"Maksud ibu apa sih? jangan ngerjain Tiwi dong." gerutunya menuduh Ibu Sari membohongi dirinya.
" Kalau kamu tidak percaya, noh lihat di ruang tamu Gibran sudah sedari tadi gelisah menunggu kamu bangun! Apa kata calon mertua kamu nanti melihat calon menantunya seperti ini." ucap Ibu Sari sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang seolah tidak peduli apa-apa.
Tiwi menepuk jidatnya. Ia merutuki kebodohannya. Tiwi langsung beranjak masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Tiwi langsung membersihkan diri, Ia sengaja mempercepat ritual mandinya agar Pak Khairul dan ibu Sarinah Begitu juga dengan dokter Gibran tidak terlalu lama menunggunya.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Tiwi menggunakan pakaian apa adanya. Ya bukan Tiwi namanya, kalau tidak menunjukkan sikap aslinya kepada setiap orang.Ia tidak ingin bersikap palsu di hadapan orang lain. lebih baik baginya orang mengetahui sikap aslinya daripada harus ditutup-tutupi.
Setelah terlihat rapi dan memastikan penampilannya sudah tidak acak-acakan lagi, Ia keluar dari kamar menghampiri dokter Gibran dan kedua orang tua dokter Gibran yang hadir di sana.
"Loh om dan tante ada di sini? ucap Tiwi berbasa basi sambil memberi salam kepada Pak Khairul Hamzah dan ibu Sarinah.
Dokter Gibran menatap kehadiran Tiwi di sana Lalu menarik tangan Tiwi keluar dari ruang tamu.
"Kamu dari mana saja sayang? dari tadi Mas sudah menunggumu Mas sangat gelisah." ucap dokter Gibran kepada Tiwi.
"Maaf Mas, tadinya Tiwi hanya ingin menikmati libur Tiwi hari ini di kamar, dengan menonton drama Korea kesukaan Tiwi. Eh ternyata Dewi bukan malah menonton, tapi tertidur. Makanya Ibu tadi mengomel kepadaku. Ibu melihat Tiwi bukannya menonton televisi, tetapi justru televisi yang menonton Tiwi. Membuat ibu mengomel kepada Tiwi." ucapnya sambil nyengir.
Dokter Gibran hanya menggelengkan kepalanya, mendengar penjelasan Tiwi kepadanya. Kamu memang ada-ada saja sayang. Mas sudah khawatir tadi Kalau kamu tidak ada di rumah. Dan tak sudi bertemu dengan ibu dan ayah." ucap dokter Gibran memberitahu kegelisahannya kepada Tiwi.
"Mas berprasangka buruk banget sih sama Tiwi, tidak mungkin dong Tiwi tidak bersedia bertemu dengan dokter tampan Tiwi ini." ucap Tiwi sambil langsung mengalunkan tangannya di jenjang leher dokter Gibran.
" Kok Om dan tante ikutan datang ke sini? ada apa dokter tampan Ku sayang? ucap Tiwi penasaran. Dokter Gibran mengembangkan senyumnya lalu memberitahu maksud dan tujuan Ibu Sarinah dan tak Khairul Hamzah datang bersama dokter Gibran ke rumah keluarga Tiwi
"Dokter tampan serius?
"Tidak bohong kan?
"Jadi om dan tante sudah merestui hubungan kita? Tanya Tiwi belum percaya apa yang diucapkan oleh dokter Gibran.
"Ngapain mas membohongi kamu sayang." sahut dokter Gibran sambil mengembangkan senyumnya.
Mereka pun kembali menghampiri Ibu Sarinah Pak Khairul Hamzah dan kedua orang tua Tiwi. Pak Khairul Hamzah dan ibu Sarinah pun memberitahu maksud dan tujuan mereka datang ke rumah keluarga Tiwi bahwa mereka saat ini berniat melamar Tiwi menjadi menantu mereka.
Kedua orang tua Tiwi terhenyak mendengar apa maksud dan tujuan Pak Khairul dan ibu Sarinah menghampiri mereka. Pak Khairul bakti menatap Tiwi dengan tatapan penuh tanya. Seolah Pak Khairul ingin meminta penjelasan kepada putrinya.
Tiwi menggerdikkan bahunya. Ia tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan saat ini. Dokter Gibran angkat bicara dan bertanya kepada Tiwi Apakah Tiwi bersedia menjadi pendamping hidupnya.
Tiwi tidak langsung menjawab. Ia terlihat berpikir sejenak membuat dokter Gibran sedikit gelisah khawatir, kalau Tiwi menolak lamarannya. Kemudian Tiwi angkat bicara. "Begini mas, om.... tante....,bukannya Tiwi menolak lamaran ini. Tetapi alangkah baiknya dipikirkan terlebih dahulu daripada menyesal nantinya.
Kami hanya keluarga sederhana dan hidup pas-pasan. Bisa Ibu lihat sendiri dari kondisi keluarga kami saat ini. Jadi sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, lebih baik dipikirkan terlebih dahulu. Karena bagi Tiwi pernikahan itu sakral tidak hanya coba-coba. dan tidak perlu ada unsur paksa.
Tiwi hanya ingin menikah dengan pria yang mencintai Tiwi dengan tulus dan direstui oleh kedua orang tua Tiwi dan kedua orang tua calon suami Tiwi sendiri, tanpa ada unsur paksaan." ucap Tiwi mengingatkan kepada Ibu Sarinah dan Pak Khairul Hamzah. Karena Tiwi mengira Ibu Sarinah menyetujui pernikahan dokter Gibran dan Tiwi hanya karena ancaman dokter Gibran.
"Mengapa kamu mengatakan seperti itu? Ibu Sarinah angkat bicara. "Tidak ada maksud apa-apa tante, Tiwi hanya tidak ingin tante menyesal memiliki menantu miskin seperti Tiwi." ucap Tiwi berterus terang kepada Ibu Sarinah.
"Kalau Putra Saya sudah mencintai kamu, dengan tulus begitu juga dengan kamu mencintai Putra saya, Mengapa saya harus tidak memberikan restu kepada kalian? "Sekarang saya bertanya kepadamu Tiwi, apa kamu benar-benar mencintai Putra saya Gibran?" tanya ibu Sarinah penuh dengan selidik.
Tiwi mengembangkan senyumnya."Tiwi sangat mencintai dokter Gibran, lebih dari Tiwi mencintai Tiwi sendiri." ucap Tiwi meyakinkan Ibu Sarinah kalau dirinya benar-benar mencintai dokter Gibran.
Bersambung....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasihππππ
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH πππππ