
"Mengapa kamu mengatakan seperti itu? Ibu Sarinah angkat bicara. "Tidak ada maksud apa-apa tante, Tiwi hanya tidak ingin tante menyesal memiliki menantu miskin seperti Tiwi." ucap Tiwi berterus terang kepada Ibu Sarinah.
"Kalau Putra Saya sudah mencintai kamu, dengan tulus begitu juga dengan kamu mencintai Putra saya, Mengapa saya harus tidak memberikan restu kepada kalian? "Sekarang saya bertanya kepadamu Tiwi, apa kamu benar-benar mencintai Putra saya Gibran?" tanya ibu Sarinah penuh dengan selidik.
Tiwi mengembangkan senyumnya."Tiwi sangat mencintai dokter Gibran, lebih dari Tiwi mencintai Tiwi sendiri." ucap Tiwi meyakinkan Ibu Sarinah kalau dirinya benar-benar mencintai dokter Gibran.
" Bagaimana dengan kamu Gibran, Apakah kamu sudah menerima Tiwi yang akan menjadi pendamping hidupmu?" Ibu Sarina melontarkan pertanyaan itu kepada dokter Gibran.
" Dari awal Gibran sudah mengatakan sama Ibu kalau Gibran sangat mencintai Tiwi dan ingin sekali menikah dengan Tiwi." ucap dokter Gibran kepada Ibu Sarinah di hadapan Ibu Sari dan Pak Khairul bakti.
"Kalau begitu, Tunggu apa lagi. Kita tentukan saja tanggal pernikahannya, dan di mana lokasi pesta resepsi pernikahan kalian." ujar Ibu Sarinah sambil mengembangkan Senyumnya menatap Tiwi membuat Tiwi merasa heran melihat ibu Sarinah tiba-tiba saja begitu menghangat melihatnya. Padahal sebelumnya tatapan Ibu Sarina terhadap Tiwi tidak bersahabat.
Karena baru kali itu, Ibu mengulas senyum di hadapan Tiwi. Tetapi Tiwi tidak ambil pusing. yang penting baginya Ibu Sarinah dan pak Khairul Hamzah sudah memberikan restu kepada dokter Gibran dan juga Tiwi.
" Bagaimana Pak Khairul Bakti dan ibu Sari kapan kira-kira Menurut bapak pesta pernikahan anak-anak kita dilaksanakan?" tanya Pak Khairul Hamzah berharap kedua orang Tiwi memberikan pendapat mereka.
" Kalau menurut saya,lebih cepat lebih baik." ujar Pak Khairul Hamzah.
Akhirnya mereka sepakat pesta pernikahan dokter Gibran dan juga Tiwi diadakan tiga minggu ke depan. Membuat Tiwi terhenyak mendengar keputusan itu. "Dengan waktu yang singkat seperti itu, apa persiapan pesta pernikahannya dapat terkejar?" tanya Tiwi kepada Pak Khairul Hamzah dan juga Ibu Sarinah.
Kamu tenang saja sayang, kan ada event organizer yang akan menanganinya semua. Kita hanya terima bersih saja, tinggal kamu persiapkan diri menjadi Nyonya dokter Gibran." ucap dokter Gibran sambil mengembangkan senyumnya menatap Tiwi dengan tatapan penuh cinta.
Tiwi tertunduk malu mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Gibran. "Ya sudah kalau gitu menurut Om dan tante yang terbaik, Tiwi ikut saja." ucap Tiwi sambil menundukkan kepalanya.
"Jangan panggil om dan tante lagi dong. panggil saja seperti Gibran memanggil kami apa. Kan kamu sudah menjadi anak kami juga, karna kamu bakal menjadi pendamping hidupnya Gibran." ujar Ibu Sarinah kepada Tiwi sambil mengebangkan senyumnya.
Tiwi mengulas senyumya menatap Ibu Sarinah. "Maaf Bu, kebiasaan soalnya." sahut Tiwi sambil nyengir.
Mereka pun sepakat pesta pernikahannya diadakan di Jakarta. Dan setelah pesta pernikahan dilaksanakan, Tiwi dan dokter Gibran harus berkunjung ke Sumatera. Tepatnya desa kelahiran dokter Gibran.
Karena mereka ingin Tiwi mengetahui asal usul dari suaminya dokter Gibran. Tiwi begitu semangat mendengar apa yang dikatakan oleh ibu Sarinah, kalau mereka harus pulang ke kampung setelah acara pernikahan mereka dilaksanakan.
" Tidak apa-apa Bu, Lagian Tiwi juga harus mengetahui tanah kelahiran suami Tiwi." ucapnya sambil mengembangkan senyumnya.
Setelah berbicara panjang lebar, dan sudah sepakat kalau pesta pernikahan dokter Gibran dengan Tiwi diadakan 3 minggu ke depan, Kedua orang tua dokter Gibran dan juga Gibran berpamitan kepada Tiwi dan kedua orang tuanya.
" Kalau begitu kami pamit dulu Bu." ucap Pak Khairul Hamzah dan ibu Sarina di ikuti Dokter Gibran sembari memberi salam kepada Ibu Sari dan Khairul bakti.
****
"Entahlah Mas, dari tadi Calista mual dan muntah. Rasanya pusing." ucap Calista memberitahu kepada suaminya apa yang ia rasakan saat ini.
"Kita ke dokter ya sayang, untuk memeriksa kesehatan kamu.
"Tidak perlu mas. Dokter sudah mengatakan kepada Calista, kalau hal seperti ini biasa dialami ibu yang lagi hamil muda." ucapnya sambil menatap Bisma dengan tatapan sendu.
"Ya Allah menderita sekali istri hamba." gumam Bisma dalam hati yang tidak tega melihat Calista terlihat pucat dan lemas. Bisma menggendong tubuh Calista dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran King size itu.
"Mas jangan tinggalin Calista." mohon Calista dengan manja.
"Mas tidak akan tinggalin kamu sayang, tidak mungkin masih meninggalkan kamu dalam situasi seperti ini." ucap Bisma sambil mengecup kening istrinya.
Calista meminta Bisma membaringkan tubuhnya di samping Calista. Calista ingin istirahat dipeluk oleh Bisma. Entah itu karena keinginan Bayi yang ada di dalam kandungan Calista. Bisma selalu menuruti keinginan istrinya.
Ia tidak ingin mengecewakan istri yang sangat ia cintai. Apalagi semenjak Calista sedang hamil, perhatian Bisma penuh kepada Calista. Ia lebih mementingkan memenuhi keinginan istrinya, daripada melakukan tugas dan tanggung jawabnya di kantor.
Akhir-akhir ini Bisma lebih sering melimpahkan pekerjaannya kepada Carlos, ataupun Pak Nando jika Calista ingin tetap bersamanya. Tetapi Bisma tidak mempermasalahkan itu. Yang penting baginya Calista bahagia.
"Mas temani Kalista tidur ya." ucap Calista memohon kepada Bisma.
"Iya sayang, mas akan temani kamu. Tapi Sebelumnya kamu harus minum susu dan air putih yang cukup dulu. Karena cairan di tubuhmu, sudah banyak kamu keluarkan. Agar cairan di tubuhmu kembali pulih." ujar Bisma kepada istrinya berharap istrinya menuruti kata-katanya.
Calista tidak ingin membuat suaminya kecewa. Ia pun langsung meminum segelas susu yang sudah dibuat Bisma sebelumnya. "Kamu minum ya sayang, karena bayi kita juga membutuhkan asupan gizi dan kamu juga membutuhkan tenaga." ucap Bisma sambil mengecup kening istrinya.
Bisma ekstra hati-hati dan selalu berjaga agar istrinya tetap baik-baik saja. Calista merasa bahagia memiliki suami yang begitu perhatian terhadapnya. Ia tidak menyangka setelah penderitaan yang ia alami ketika berada di desa, sampai kedua orang tuanya dan kakak Calista meninggalkan Calista menghadap sang khalik, ternyata saat ini Calista mendapat kasih sayang penuh dari suaminya Bisma.
Calista juga mendapat perhatian penuh dari ibu dan ayah mertuanya. Ibu Intan dan Pak Nando juga selalu perhatian kepadanya membuat Calista benar-benar bersyukur atas rahmat yang diberikan Allah subhanahu wa ta'ala terhadapnya.
"Terima kasih Mas. Mas selalu perhatian kepada Calista." ucap Calista sambil mengembangkan senyumnya.
"Itu sudah tugas dan tanggung jawab Mas, sebagai suami kamu sayang." sahut Bisma sambil mengelus rambut indah istrinya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓💓
JANGAN LUPA, TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏