I Love You Office Girl

I Love You Office Girl
BAB 79. KAMU PIKIR SAYA SOPIR KAMU!



Hari sudah sore. Kini jam kerja Dewi dan Tiwi Telah usai. Kedua Wanita itu sudah bersiap untuk segera pulang. "Tiwi Kamu langsung pulang tidak?


"Memangnya kenapa?


"Kalau kamu tidak ingin langsung pulang lebih baik aku duluan ya, Aku khawatir kalau ibuku akan mencariku. Apalagi kamu tahu sendiri ibuku baru sembuh. Aku tidak ingin ibuku mengerjakan pekerjaan yang tak patut ia kerjakan. ucap Dewi kepada Tiwi.


"Aku juga ingin langsung pulang kok. Kamu tenang saja, lebih baik kita naik angkutan umum saja. Daripada kamu harus berjalan kaki. Ini sudah sangat sore, bisa-bisa kamu sampainya nanti sudah gelap." ujar Tiwi kepada Dewi yang selalu berniat pulang dengan berjalan kaki, walaupun jarak rumah kontrakan yang mereka tempati ke kantor Zulkarnain group lumayan jauh.


Dewi menganggukkan kepalanya. Ia merogoh saku dan tas selempang yang ia punya, untuk melihat cukup tidaknya uang yang ada disaku celananya. "Maaf Tiwi Sepertinya aku tidak usah naik angkot deh, soalnya uangku tidak cukup untuk ongkos ku. Aku hanya bawa uang segini saja."ucap Dewi berterus terang kepada rekannya sambil menunjukkan uang pecahan dua ribu.


Sudah tidak apa-apa. Kali ini biar aku yang bayar ongkos kita. Aku tahu kok kamu pasti lagi membutuhkan uang. Apalagi kita belum gajian, yang sabar ya!. Semua ada hikmahnya. kita tinggal minta pertolongan saja kepada Alloh pasti Alloh akan membukakan jalan pintu rezeki untuk kita." ujar Tiwi sambil menggandeng tangan Dewi keluar dari kantor.


Kedua sahabat itu berjalan keluar gerbang kantor berniat untuk menunggu angkutan umum. Tetapi sudah sekitar 10 menit lamanya kedua sahabat itu menunggu angkutan umum,tak kunjung ada yang datang. Jika adapun selalu padat penumpang membuat Dewi semakin gelisah.


"Sudahlah Lebih baik aku jalan.Nanti ibuku terlalu lama menungguku." ucap Dewi sembari ingin melangkahkan kakinya meninggalkan Tiwi di depan kantor Zulkarnain group


Tin....


Tin...


Tin...


Suara klakson mobil yang dikendarai oleh Carlos terdengar memecah gendang telinga kedua sahabat itu. Membuat Dewi dan Tiwi sontak mengalihkan pandangan mereka.


"Berisik amat sih,tidak tahu apa ini sudah sangat sore tapi angkutan umum tak kunjung datang!" gerutu Dewi yang sudah khawatir kepada ibu dan adiknya.


Mau sampai kapan kamu berdiri di situ menunggu angkutan umum? ini sudah magrib lebih baik kalian berdua naik saja biar saya yang mengantar kalian." ucap Carlos ketika Carlos sudah membuka kaca nako mobilnya.


Dewi menatap Tiwi pertanda ia meminta persetujuan dari sahabatnya itu. Tiwi menganggukkan kepalanya lalu keduanya pun melangkah ingin masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Carlos.


Dewi kamu di depan saja ya. Biar aku yang duduk di bangku penumpang. Nanti kata Pak Carlos, "Kamu pikir saya sopir kamu? celetuk Tiwi yang mampu membuat Dewi langsung tertawa ngakak. Ketika Tiwi menirukan suara Carlos saat Dewi memberitahu kepada Tiwi kalau Carlos mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Tiwi pagi itu.


Carlos hanya diam saja. Fokus menatap ke depan mimik wajahnya yang terus vakum membuat kedua wanita itu langsung terdiam. Ketika Dewi sudah duduk di samping kemudi Carlos melajukan mobilnya ke arah jalan raya menuju kediaman Dewi.


Tetapi sebelum mereka tiba di rumah kontrakan keluarga Dewi, Tiwi sudah turun duluan di rumah kedua orang tuanya.


"Pak Carlos, Saya turun di sini saja deh. Rumah orang tua saya hanya tinggal masuk gang saja." ujar Tiwi meminta Carlos Untuk menghentikan mobilnya.


Carlos menepikan mobilnya lalu Tiwi pun keluar. "Terimakasih Pak Carlos sudah memberikan tumpangan kepadaku sering-sering ya." ucap Tiwi sambil nyinyir Carlos hanya mengembangkan senyumnya menatap Tiwi dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kini hanya Carlos dan Dewi yang ada di dalam mobil."kita langsung pulang tidak? tanya Carlos kepada Dewi.


"Bisa tidak, kamu temenin Saya makan dulu? soalnya perut saya lapar banget nih." ucap Carlos kepada Dewi. Dewi berpikir sejenak ia dilema. Di satu sisi ia khawatir kalau sang Ibu mengkhawatirkannya karena telat pulang. sementara di s sisi lain Dewi tidak enak hati menolak permintaan Carlos.


Dewi meraih ponselnya lalu mengirimkan chat WhatsApp kepada Mia, sang adik untuk memberitahu Kalau hari ini dirinya akan telat pulang. Setelah pesan itu terkirim, Mia pun membalasnya akhirnya Dewi pun menganggukkan kepalanya.


Mobil yang dikendarai Carlos berhenti di sebuah restoran yang lokasinya tidak jauh dari rumah kontrakan Dewi. "Kita makan di sini saja ya! tidak apa-apa kan?


Dewi hanya manggukan kepalanya. Lalu Dewi mengikuti Carlos berjalan masuk ke dalam restoran.


Ya Dewi memang jarang-jarang makan di restoran berkelas seperti ini. Terkadang hanya jika Dewi baru menerima gaji,ia pergi bersama kedua adiknya atau temannya untuk makan di salah satu restoran junk food yang ada di mall.


"Keren amat, restoran ini. Pasti makanan yang dijual di sini mahal-mahal. Dewi membatin.


"Pak apa sebaiknya kita mencari tempat lain saja? sepertinya makanan di sini semuanya cukup mahal." ucap Dewi ketika menatap daftar menu yang ada di atas meja.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan meminta bayaran darimu. Menemani aku saja kamu makan Aku sudah bersyukur." ucap Carlos yang tiba-tiba membuat Dewi merasa heran. Ia bingung apa tujuan Carlos mengatakan seperti itu kepadanya. Salah satu pelayan restoran datang menghampiri Dewi dan Carlos.


"Selamat malam Tuan Carlos! menunya seperti biasa atau tidak? pertanyaan itu langsung dilontarkan oleh pelayan cantik itu. itu artinya Carlos sering makan di restoran itu. "Ya pesanan saya tetap seperti biasa


"Kamu mau makan apa dew? Dewi hanya terdiam. Ia bingung memesan makanan apa yang ada di restoran itu. Makanannya terasa asing baginya. Tidak ada di dalam daftar menu yang biasa dimakan Dewi membuat Dewi sedikit kebingungan. Akhirnya Dewi pun menjatuhkan pilihannya untuk memakan steak daging dan juga coffee late spesial dari restoran itu.


Ketika mereka menunggu menu makanan terhidang di atas meja,terlihat Carlos memperhatikan gerak-gerik Dewi yang sedari tadi tampak kurang nyaman di sana."Kamu kenapa? apa kamu malu makan bersama saya di sini?


"pertanyaan macam Apa itu Pak Carlos? Mengapa saya harus malu makan bersama Bapak? Saya hanya terasa asing di tempat ini. karena semua menu makanan yang ada di sini tidak ada yang biasa aku makan. Itu saja kok. Bukan karena malu makan bersama Pak Carlos." ucap Dewi berterus terang


Bisa tidak memanggilku tidak Panggil Pak? atau kamu memang benar-benar sudah melihatku terlalu tua? ucap Carlos yang mampu membuat Dewi mengerutkan keningnya. Siapa juga yang bilang Pak Carlos itu tua? Pak Carlos masih terlihat muda kok. jangan khawatir masih tetap tampan walau di usia sudah 39 tahun.


Tetapi bagaimanapun Pak Carlos itu merupakan atasan saya. Jadi saya tidak pantas memanggil nama ataupun memanggil yang sebutan lain." ucap Dewi kepada Carlos. "Mengapa tidak? kamu panggil saja namaku atau apalah yang membuat telingaku sejuk." ujar Carlos yang mampu membuat Dewi langsung mengembangkan senyumnya. menatap Carlos dengan tatapan seksama.


"Okey okey aku akan memanggil Pak Carlos dengan sebutan mas saja. Tidak apa-apa kan? Carlos mengembangkan senyumnya "Sepertinya panggilan itu lebih cocok dibandingkan kamu harus memanggilku dengan sebutan Pak." sahut Carlos sambil menatap Dewi dengan tatapan yang sulit diartikan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT LIKE COMMENT VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏


sambil menunggu karya ini up kembali yuk mampir ke karya teman emak.