
Akira diam saja tapi tatapan matanya menyiratkan kebencian pada Hokage Sarada, Uzumaki Boruto dan Hyuga Hanabi. Karena ulah mereka, ayah dan ibu Akira jadi meninggal, itulah yang Akira pikirkan saat ini.
Chojuro memegang erat pundak Akira, lalu berbisik, "Tenang saja, Akira. Kami takan membiarkan kamu pergi, aku berjanji," bisik Chojuro.
Akira yang sudah tak bisa menahan emosinya, langsung melesat dan menusuk jantung Yoda dengan jutsu chidori yang baru saja ia kuasai, setelah mempelajari salah satu jutsu dari gulungan legendaris klan Yotsuki.
Shua!
Jleb!
"Aaakh!" pekik Yoda memuntahkan darah segar dari mulutnya. "A-apa yang k-kau lauk-lakukan, cu-cucuku?"
"Jangan panggil aku cucumu!" bentak Akira lalu memindahkan Mishima dengan hiraishin no jutsu ke dalam kamar Hiyoshi yang sedang beristirahat. "Paman Mishima, katakan apa kejahatannya?!"
Mishima yang sedang bersantai menyeruput teh, dan dipindahkan oleh Akira secepat kilat, raut wajahnya kebingungan. "Apa yang terjadi?" Mishima menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menatap Yoda yang sudah ditusuk oleh Akira dari belakang dengan Chidori. "Yoda sama?!"
"Cepat katakan paman Mishima!" bentak Akira menyeringai geram, tangan kanannya yang menusuh jantung Yoda, masih mengeluarkan aliran petir.
Zrrt!
"Akira hentikan!" Boruto melesat cepat dan mau memukul Akira, tapi dihentikan oleh Kishima yang keluar dari punggung Mishima.
Bang!
Shua!
Brak!
Boruto terpental menabrak dinding rumah sakit, "Sebaiknya anda diam, Boruto dono," kata Kishima dengan menyeringai tajam. Sarada dan tetap diam, mereka tak ingin memicu lebih banyak lagi perseteruan. "Biar kakakku yang menceritakan."
Bam!
Brak!
"Hahahaha, tak perlu!" Yoda tertawa terbahak-bahak dan menyikut perut Akira hingga membuatnya terpental dan menabrak pintu rumah kamar ruangan dimana Hiyoshi dirawat. "Aku yang menyutuh Hambo membunuh Akira. Karena dia rencanaku membunuh Hanabi gagal, hahahaha."
Dada Yoda yang berlubang langsung menutup, kukunya agak memanjang, mata byakugan miliknya yang berpupil putih ada garis vertikal merah, seperti mata kurama. Tubuhnya diselimuti chakra merah bijuu, mukanya berkumis enam, dan mengeluarkan ekor satu berwarna merah.
Yoda tubuhnya berkedip dan hilang dari pandangan, "Jinchuriki kyuubi?!" Boruto, Sarada, Kagura, Mitsuki, Hanabi, Chojuro, Mishima, Reina dan Akira membulatkan mata.
"Ba-bagaimana bisa pa-paman Yoda menyembunyikannya dari klan Hyuga?!" Hanabi berlutut lemas, dan matanya membelalak karena Yoda menjadi jinchuriki Kyubi.
Kishima yang bisa melacak jalur pelarian Yoda melalui mata miliknya, dan ingin segera melesat dihentikan oleh Akira. "Jangan paman! Itu sangat berbahaya. Lebih baik, paman kembali." Akira membuka portal kamui dan memindahkan Kishima serta Mishima ke markas cabang Senso no haijo Namigakure. "Jika kalian masih mengekang keinginanku, lebih baik aku dan Reina akan pergi. Kami tidak akan tinggal di Kiri maupun Konoha. Aku masih belum memaafkan atas kesalahan kalian yang telah mengusir ayah dan ibu."
Akira memegang tangan Reina, lalu membuka portal kamui dan menghisap tubuhnya sendiri serta Reina masuk dalam pusaran. Akira juga menghisap Hiyoshi masuk ke dalam pusaran portal kamui.
"Hiyoshi sensei, aku akan membawanya. Biar aku yang mengurus, tidak usah mencariku lagi!" Suara Akira menggema di dalam ruangan perawatan Hiyoshi.
Boruto menonaktifkan jougan, dan segel karmanya, "Kamu benar Mitsuki. Gara-gara orang itu, klan Uchiha dan klan Hyuga juga berseteru tentang siapa klan yang memiliki doujutsu terkuat," kata Boruto dengan raut wajah murung, mengingat kesalahannya di masa lalu mengusir Uchiha Ryuki.
"Gara-gara mereka Akira pergi lagi. Ini semua kesalahan Kagura yang mengatakan hal sesungguhnya pada Sarada dan Hanabi, tanpa persetujuanku. Sial! Padahal aku hanya ingin Akira bisa hidup damai bersamaku, dan menjalani hari-harinya sebagai shinobi biasa," batin Chojuro menyeringai kesal.
***
Toko senjata Yurui, Sunagakure.
Krak!
Krak!
Prang!
Shinichi yang sudah mengaktifkan segel Ryuko sedang menghancurkan batu logam gakizo, dengan meremas batu tersebut. Untuk membuatkan senjata permintan dari klan Masamune sebagai syarat persetujuan kepemilikan ruko yang sudah di tempati Shinichi sekarang.
Akira memapah Hiyoshi dan Reina keluar dari pusaran portal kamui, Shinichi terkejut dan langsung berdiri membantu memapah Hiyoshi yang sedang tertidur, akibat obat penenang.
"Apa yang terjadi, Akira sama?" tanya Shinichi dengan raut penasaran dan mengangkat tubuh Hiyoshi. "Kita bawa ke kamarku saja."
Reina menggelengkan kepalanya, memberi isyarat untuk tidak menggangu Akira saat ini, karen emosinya sedang tidak stabil.
Shinichi membawa tubuh Hiyoshi ke kamarnya dan menaruhnya perlahan di ranjang tidur miliknya. Shinichi ke dapur lalu mencuci tangan dan menghidangkan teh hangat untuk Akira serta Reina.
"Silahkan, Akira sama dan Reina di minum tehnya, mumpung masih hangat." Shinichi menghidangkan dua cangkir teh hijau dan menaruhnya di meja. "Untuk sementara, kalian tinggal saja disini. Ini juga rumah Akira sama, lagipula Byakuya dan Denji sebentar lagi kesini, aku sudah membuatkan senjata untuk mereka berdua, sebelum mereka pergi ke gurun iblis untuk berburu hewan buas."
Akira menghela nafas panjang, lalu menyereput secangkir teh yang sudah dihidangkan oleh Shinichi. "Haaaaa! Kenapa hidupku seperti ini?" gumam Akira.
"Rasanya lebih baik aku kembali ke bumi. Masalah disini terlalu kompleks, dan aku seperti terbawa perasaan. Diriku dan tubuh Akira ini, nasibnya sama, Aku kehilangan kedua orang tuaku dan tubuh ini juga kehilangan orang tuanya. Perbedaannya hanya satu, tubuh ini sudah menemukan siapa kedua orang tuanya. Sedangkan aku belum tahu sampai saat ini, siapa kedua orang tuaku."
"Paman Shinichi, kami datang!" teriak Denji dan Byakuya dari luar pintu toko senjata Yoroi, membuyarkan lamunan Akira. Mereka berdua pun masuk dan melihat Akira serta Reina sedang menyeruput teh dengan raut wajah yang sangat tegang. "Eh, Akira sama!"
Akira hanya diam membisu dengan tatapan mata yang kosong, Reina menggelengkan kepala untuk tidak menggangu Akira yang sedang merajuk.
"Hmm!" Denji dan Byakuya menganggukan kepala lalu masuk ke bagian belakang toko, Shinichi sedang menghancurkan batu logam gakizo dengan cengkraman tangannya. "Paman Shinichi sang maestro senjata!"
"Hei, bocah bawel! Senjatamu sudah kuselesaikan. Bagaimana bayaranku sudah kalian bereskan?" teriak Shinichi dengan raut muka penasaran.
"Beres!" jawab Byakuya dengan berteriak. "Kami sudah ...."
"Ssssst! Jangan keras-keras!" bisik Shinichi sambil membungkam mulut Byakuya. "Malu nanti kedengaran Akira sama, sudah katakan pelan-pelan."
Denji berbisik di telingan Shinichi, "Nona Niseki mau kencan dengan paman Shinichi.
"Oraaaaa!" teriak Sinichi.