DARKNESS TO ENLIGHTMENT

DARKNESS TO ENLIGHTMENT
SS 161 Bidadari Di Dalam Pikiranku



Keesokan paginya, Akira bangun lebih pagi di rumah Sarada. Tepatnya dilantai dua. Akira menuruni tangga dan alangkah terkejutnya melihat Sarada sedang mengobati Boruto yang terluka parah di sofa. Tubuh Boruto dipenuhi lumuran darah dan bajunya koyak.


"Nenek, apa yang terjadi dengan kakek?" Akira bertanya dengan mata melebar dan sangat panik. "Biar aku membantu, nek."


"Mungkin aku harus membuat stok pil hiringu lebih banyak," batin Akira.


Akira menggantikan Sarada yang sedang mengalirkan chakra ke tubuh Boruto. Mata byakugan Akira fokuskan untuk melihat setiap inchi sel-sel di dalam tubuh Boruto.


"Hati-hati Akira! Analisa nenek lukanya sama seperti lukamu tapi lebih parah dan tubuh kakekmu terkena racun ganas," kata Sarada menyeringai tajam.


"Nampaknya tidak ada cara lain. Agar kakek selamat aku harus menggunakan kinjutsu lagi," batin Akira dengan tatapan mata fokus pada tubuh Boruto.


Akira melepaskan kedua telapak tangannya dari tubuh Boruto dan merapal segel tangan sangat panjang, "Ryuton: Kisho tensei!"


"Akira, jangan-jangan kamu-"


"Tidak perlu khawatir nek. Aku takan mati semudah itu, karena aku keturunan leluhur Ryutsuki," potong Akira.


Akira harus melakukannya karena berpacu dengan waktu, terlambat sedikit saja, nyawa Boruto yang menjadi taruhannya.


Kedua telapak tangan Akira kembali ditempelkan ke dada Boruto. Cahaya biru keluar dari telapak tangan Akira dan menjalar ke seluruh bagian tubuh Boruto. Luka-luka di beberapa bagian tubuh Boruto menutup, racun di dalam tubuh Boruto juga secepat kilat dinetralisir oleh Akira.


"Guhak!" Akira memuntahkan darah, diiringi Boruto yang sedang pingsan lalu terbangun dan memuntahkan darah berwarna hitam pekat dari mulutnya.


"Akira! Sayang!" Raut muka Sarada sangat panik dan bingung karena diantara mereka berdua siapa yang harus ditolong pertama kali.


"Tenanglah, nek." Akira menyeka darah di mulutnya. Kemudian melanjutkan, "Ini adalah efek kinjutsu: Kishoku tensei, dan darah hitam itu adalah racun yang bersarang di tubuh kakek."


"Apakah kamu baik-baik saja, nak? Aku khawatir dengan kondisimu, meskipun kamu mengatakan baik-baik saja." Sarada menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Akira tapi ditolaknya.


"Tidak usah nek. Cukup dengan ini aku baik-baik saja." Akira mengeluarkan pil chakra dari tas pinggang dan menelannya langsung. "Aku sudah sembuh. Kita bawa kakek ke kamar."


Akira langsung pulih dan menyeka lembut mulut Boruto. Tak sadar cairan bening di sudut kelopak matanya jatuh di kedua pipinya.


"Maafkan aku, cucuku. Semua ini salah kami berdua," lirih Boruto menggengam erat tangan Akira dengan raut penuh penyesalan.


"Kakek, tak perlu dibahas lagi. Sekarang kita fokus untuk kesembuhan kakek. Aku akan mencari beberapa tanaman obat untuk membuat pil hiringu, agar kakek cepat pulih," kata Akira tersenyum hangat.


Akira dan Sarada memapah Boruto menuju kamarnya, kamar Boruto bersama Sarada.


'Tok ...! Tok ...!' Pintu rumah kediaman Sarada diketuk dan yang mengetuknya adalah Hanabi. Setelah mendengar kabar jika Akira telah pulang, ia beberapa kali datang ke rumah Sarada untuk memastikannya. Tapi Akira, Sarada, dan Boruto selalu tidak ada di rumah.


"Permisi, Hokage Hime! Boruto! Apa kau di dalam?" panggil Hanabi dengan berteriak.


Akira segera menuruni tangga dan membukakan pintu. Mata Hanabi melebar setelah melihat yang mirip sekali dengan Ryuki meski warna rambutnya berbeda.


"Ryuki, dimana Ryuna sekarang?" Hanabi histeris dan menarik-narik kerah Akira dengan cairan bening di sudut kelopak matanya mengalir deras, "Cepat Ryuki! Katakan dimana Ryuna sekarang?"


"Nenek, nenek ... nenek! Tenanglah! Ini aku Akira cucumu bukan ayah." Akira melepaskan cengkraman tangan Hanabi, mencoba untuk menenangkannya. "Sadarlah nenek, sadarlah. Ayah dan ibu sudah tiada."


Perasaan Hanabi sangat tidak karuan saat ini, air matanya terus mengalir tanpa henti, mengingat putri satu-satunya Ryuna tak pernah kembali dan bisa dikatakan mati. Kemudian Akira mempertegasnya, meskipun Mizukage Kagura pernah mengatakannya di depan Hanabi, tapi Hanabi masih menganggap Ryuna masih hidup.


"Ryuna! Ryuna! Pulanglah nak, ibu menunggumu. Ibu yakin kamu masih hidup, buktinya Ryuki sudah pulang. Ibu mohon pulanglah, hiks ... hiks ... hiks ...." Hanabi terus menangis histeris san terduduk lemas di depan pintu rumah Sarada.


Suara tangisan histeris Hanabi mengganggu telinga Sarada yang sedang merawat Boruto di kamarnya. 10 nafas kemudian Sarada tiba dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Hanabi senpai, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sarada dengan raut muka sangat panik karena melihat Hanabi menangis histeris sampai suaranya parau.


"Ryuna, Sarada, Ryuna. Ryuna mana? Kenapa hanya Ryuki yang pulang? Ryuna dimana?" Hanabi masih terduduk lemas dan menangis menutupi wajahnya dalam keadaan menunduk.


"Terpaksa aku lakukan." Akira memukul perut Hanabi dan membuatnya pingsan. "Nenek, ayo bawa nenek Hanabi ke kamarku!"


"Aiiiih .... kenapa jadi seperti ini?" batin Akira.


Sarada menepuk jidatnya sendiri melihat Akira malah memukul Hanabi hingga pingsan dan memapah Hanabi bersama Akira.


10 nafas kemudian, Hanabi sudah dibawa ke kamar Akira. Tapi Sarada yang menunggu Hanabi untuk menjaganya. Akira tidak mau ambil pusing tentang Hanabi tiba-tiba histeris. Jadi Akira pergi ke kediaman klan Senju untuk mengambil beberapa tanaman herbal untuk membuat pil hiringu dan pil Kutsueki busuta atau pil penambah darah.


Akira di dalam gudang penyimpanan tanaman herbal dan sayuran berkhasiat, mulai meramu pil dengan rinnegan merah di telapak tangan kirinya. Bahan untuk membuat pil hiringi tentu saja daun Ashitaba dan bahan untuk membuat pil Kutsueki busuta adalah daun Ashitaba serta buah radish.


Dalam satu jam Akira berhasil meramu 30 butir pil Hiringu dan 30 butir pil Kutsueki busuta.


"Sepertinya sudah cukup untuk kakek. Aku akan pulang." Akira menyimpan 30 butir pil Hiringu dan 30 butir pil Kutsueki busuta di dua toples kecil yang muat disimpan pada tas pinggang.


***


Markas bulan.


Hyuga Yoda sedang merawat Uzumaki Arashi, raut wajahnya sumringah setelah Renbu Animisa berhasil menyerang dan meracuni Boruto serta Mitsuki di hutan perbatasan antara Konohagakure dan Otogakure.


"Aku bisa memanfaatkan perasaan dendam Arashi pada klan Uchiha, untuk menghancurkan mereka." Yoda tersenyum licik yang sedang memainkan rencananya.


Sudah hampir 48 jam kondisi Arashi belum bangun. Di dalam kamar yang lain, Renbu Animisa tiba merasakan sakit yang amat sangat di perutnya. "Kenapa mereka selalu muncul dimana-mana? Siapa mereka? sial," lirih Animisa meringis kesakitan.


Ketika Animisa sebentar lagi menghabisi Boruto dan Mitsuki, tiba-tiba Denji bersama Shin langsung menyerangnya. Dengan elemen kayu miliknya Shin menembakan serbuk bunga beracun, untuk membuat Animisa tertidur tapi sayang dosis yang dilepaskan oleh Shin terlalu berlebih hingga menjadi racun pelemah syaraf.