
Dalam tiga hembusan nafas, luka-luka Amoki langsung menutup dan tangannya yang hampir putus menyatu. Hanya kondisi mentalnya saja masih syok, terlihat dari mukanya yang sangat pucat pasi.
Akira terus menyalurkan chakranya yang tidak terbatas untuk memulihkan sepenuhnya kondisi Amoki.
Sontak Inoichi, Shuichi dan tiga anggota klan Amenoji yang lain, melebarkan mata. Dalam sekejap luka-luka Amoki pulih dan kulitnya bersih seperti semula tanpa ada bekas luka bakar sedikitpun.
"Terima kasih tuan atas waktunya." Akira bangkit lalu membungkuk hormat pada Shuichi. Karena dari sensor chakranya, Shuichi terdeteksi level 5 dan pastinya pemimpin dari ekspedisi ini, "Aku izin pamit."
"Doton: Shido gakou!"
'Graaag!'
Inoichi merapal segel tangan dengan satu tangan, dan menghentakan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menjaga Amoki agar tetap duduk. Bunker tanah tersebut naik seperti lift elevator naik menuju permukaan tanah.
Dan benar saja 4 shinobi klan Amenoji tersentak kaget melihat pemandangan pepohonan banyak yang tumbang dan 99 anggota bandit Monarki terlentang pingsan dalam keadaan tanpa busana.
"Sepertinya pemuda ini bukan shinobi biasa, tapi dari pakaiannya yang sangat sederhana dan tak ada simbol dari klan manapun pilihannya dua. Ronin atau nukenin? Sikapnya juga agak aneh biasanya disaat terdesak para shinobi meminta bayaran atas jasanya. Pemuda ini malah ingin pergi begitu saja," batin Shuichi menatap lekat Akira.
Bukan hanya Shuichi tapi delapan anggota klan Amenoji berpikiran yang sama tentang Akira. Ditambah levelnya hanya di jounin 1 tapi dengan jutsu elemen angin rank E bisa menghancurkan area seluas itu.
"Tunggu anak muda!" Shuichi yang berbeda umurnya 5 tahun dari Akira yaitu tubuh pemuda berumur 22 tahun, menarik lengan Akira, "Siapa namamu? Aku Shuichi dari klan Amenoji, Kumogakure."
"Aku Shinji Tatsuo. Hanya pemuda yang sedang lewat, salam kenal." Akira membungkuk hormat lagi pada Shuichi.
Kalau dia memberi tahu nama aslinya takutnya akan curiga, karena Kumogakure sangat beraffiliasi ketat dengan Yon Kingu. Dan tentu saja akan merepotkan anggota yang lain saat ini.
"Terima kasih atas bantuannya Shinji senpai!" Shuichi dan 7 anggota klan Amenoji membungkuk hormat, sedangkan Inoichi yang menggendong Amoki hanya menunduk hormat. "Oh, ya. Untuk kakak wanita esok hari juga sudah pulih. Kebetulan aku hanya dokter kecil-kecilan, tapi aku sedang terburu-buru jadi tak sempat membuat pil. Tapi jika masalahku selesai, aku berjanji akan memeriksa kembali kakak-"
"Amoki Amenoji," potong Inoichi.
"Ya, kakak Amoki. Sebagai dokter yang punya prinsip, aku akan menyembuhkan setiap pasienku sampai pulih total. Itu prinsip kedokteranku, heheheh ...." Akira tertawa ringan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Paling lambat lusa aku akan berkunjung ke kediaman klan Amenoji."
"Terima kasih banyak atas pertolongannya. Kami akan senang sekali jika Shinji senpai mau berkunjung, hati-hati di jalan." Shuichi menyodorkan tangan untuk berjabat tangan dan Akira menyambutnya dengan raut muka tersenyum puas.
Tentu saja karena rencananya berhasil. Setidaknya ia punya pijakan di Kumogakure saat ini. Walaupun kuat atau tidak.
Tim ekspedisi Amenoji langsung berlari ke cepat ke arah negara angin untuk menuju stasiun Kaze yu, dan melanjutkan perjalanan dengan kereta Kaminarimon menuju stasiun Rai yu, Kumogakure.
Sedangkan Akira berlari menuju kanan yaitu arah menuju Namigakure. "Tanpa taijutsu kage no suteppu, hirashin, atau shunsin, capek juga terus berlari," gumamnya menyeringai kesal, "Lama lagi."
Akira berlalu saja membiarkan 99 bandit Monarki pingsan dan tak ada satu pun yang dibunuh. Dia sangat malas mengurusi uang receh seperti itu, meskipun uangnya tinggal sedikit. Tapi untuk makan satu bulan dirinya sendiri cukup, pikirnya saat ini.
***
Akira sampai di Namigakure, kondisinya cukup parah saat ini. Banyak warga yang kelaparan, bahkan nenek Gezo juga telah tewas dalam insiden penyerangan satu minggu lalu.
Hiyoshi yang ingatannya belum sadar tapi tak sengaja bertemu Yumiko lagi, 7 tahun silam saat Byakuya dan Shinichi membawanya untuk pulang ke Kirigakure, serta mampir ke penginapan nenek Gezo. Memutuskan untuk melamar Yumiko demi Hiyoshi.
Bagaimanapun juga Hiyoshi adalah sahabat dekat Shinichi. Anehnya dengan Yumiko ingatan Hiyoshi begitu kuat, tapi dengan masa lalu, Akira dan Reina bahkan Azura serta Shinichi pun tak ingat.
Berkat Hiyoshi dan Namikage Ouja serta shinobi Namigakure, desa Nami masih bisa dipertahankan saat ini dari invasi Yon Kingu.
Akira berjalan ke arah penginapan Kuboshiri milik nenek Gezo, yang sekarang diurus oleh Hiyoshi dan Yumiko.
Tanpa Akira sadari, air matanya jatuh ketika melihat Hiyoshi dan Yumiko dalam keadaan menderita. Penginapan yang semula cukup mewah karena sudah mengalami renovasi dan ramai dengan pengunjung sekarang sepi.
"Sensei, Oni chan!" panggil Akira lirih.
"Aku harus membasmi mereka semua, dan membuat dunia yang lebih baik," imbuh Akira bergumam dengan menggertakan giginya dan raut muka merah padam.
"Tuan muda, apakah kau mau menginap?" seru Hiyoshi tersenyum lebar.
"Tentu, tuan. Tolong sediakan makanan terbaik di penginapan ini," jawab Akira menyeka air matanya di depan Hiyoshi dan berpura-pura matanya kemasukan debu. "Maaf, tuan. Kemasukan debu mataku, hehehe. 7 tahun yang lalu Namigakure merupakan desa yang sangat makmur, tapi saat ini seperti ini ya."
"Mari masuk tuan muda." Hiyoshi sedikit membungkuk dengan tersenyum ramah dan menuntun Akira masuk ke dalam bagian depan penginapan untuk makan terlebih dahulu. "Tunggu, kami persiapkan makanan terbaik kami dan juga kamarnya ya tuan muda."
Yumiko merasakan aura yang telah lama ia rindukan sebagai adiknya, lalu keluar dari dapur. "Sayangku, siapa tamu itu?" tanya Yumiko pada Hiyoshi yang bergegas mau naik ke lantai dua.
"Entahlah, aku tak paham." Hiyoshi menggeleng pelan dan melanjutkan langkahnya menuju lantai dua, tiba-tiba membalikan badan karena teringat sesuatu . "Oh, ya sayang. Tolong siapkan makanan terbaik kita untuk tuan muda itu."
"Siap sayang." Yumiko masuk kembali ke dalam dapur dan menyiapkan makanan dengan sangat cepat, karena rasa penasaran itu terus menghinggapinya.
Akira menunggu dengan duduk tegak, raut wajahnya datar. 10 menit kemudian Yumiko datang membawa trolley makanan yang cukup banyak dan menghidangkan makanan ke meja Akira. Satu-satunya pelanggan hari ini yang baru datang.
Betapa terkejutnya setelah melihat wajah Akira yang tambah super tampan dengan rambut biru harajuku style, "Akira?!" Yumiko melebarkan mata.
"Sssst!" Akira menutup mulutnya dengan jari telunjuk, "Jangan keras-keras menyebut namaku Oni-chan. Aku sudah dalam misi rahasia," bisiknya.
"Hmmm!" Yumiko yang sangat paham dengan adik angkat kesayangannya itu, langsung menggangukan kepala. Lalu duduk disampingnya.
Membuat Hiyoshi yang baru turun dari lantai dua sedikit cemburu, "Ekhem ... ekhem ...." Hiyoshi berdehem keras.
"Jangan cemburu sayang." Yumiko langsung bangkit dan berlari bergegas menuju Hiyoshi untuk memeluknya. "Dia itu pelanggan lama kita, dan bisa dibilang pemuda yang sering membantu penginapan ini di masa lalu. Namanya-"
"Shinji Tatsuo," potong Akira tersenyum ramah pada Hiyoshi.