
"Aku tak yakin pemuda culun ini dokter. Apakah kamu itu tidak buta?" cibir penjaga lain dengan tatapan sinis pada Akira.
"Hmm ... kalau tidak butuh uang dan kehilangan 50% asetku, sudah aku bunuh penjaga bermulur cabe rawit itu," batin Akira tetap tersenyum walau didalam batin kesal.
"Maaf, tuan-tuan. Aku memang dokter biasa, seperti tuan-tuan yang katakan. Jadi aku mohon berikan aku tempat di Konohagakure hanya untuk membuka klinikku." Akira membungkuk hormat berpura-pura memohon dengan senyum licik di wajahnya.
"Mikha, bawa dia masuk. Aku benci melihat laki-laki sampah yang hanya bisa bersembunyi di ketiak wanita." Salah satu penjaga itu mengibaskan tangan melihat Akira dengan tatapan muak.
Punggung Mikha dan Akira hilang dari pandangan mereka menuju kediaman klan Rein di wilayah tenggara Konohagakure.
"Maaf, tuan dokter. Jangan diambil hati dan aku meminta maaf atas kejadian ini. Aku ...."
"Tidak apa-apa, nona. Seharusnya memang aku yang meminta maaf, karena berani membiarkan wanita yang sangat cantik disentuh oleh tangan pria yang bukan nona sukai." Akira membungkuk hormat dengan tatapan mata pura-pura sendu.
Tapi akting Akira ini menarik simpati Mikha yang membuat kedua pipinya merona, "Dokter Ino sangat baik dan sopan. Dia juga telah menyelamatkanku, semoga saja dia memang bisa menjadi bintang keberuntunganku di Konohagakure," batinnya tersenyum malu.
Mikha membawa Akira masuk dan menceritakan semua kejadiannya, "Tuan Dokter, aku Rein Tou sangat berterima kasih pada tuan Dokter Ino," kata Tou sambil membungkuk hormat dengan tulus dan penuh rasa syukur karena Mikha berhasil selamat.
"Sebagai rasa terima kasihku, aku akan memberikan uang ini padamu, tuan Ino," sambung Tou memberikan uang terakhir miliknya sebesar 1 juta ryo.
"Tuan Tou, itu tidak perlu." Akira mendorong tangan Tou dan melanjutkan, "Bagiku menolong orang adalah yang lebih utama dan tuan Tou memberikan aku tempat bernaung sementara juga itu sangat membuatku sangat berterima kasih. Budi baik tuan akan aku ingat selalu."
Setelah perbincangan Tou dan Akira selesai. Mikha mengantar Akira ke ruang tamu rumah kediaman Rein Tou di belakang dengan pemandangan taman bagian belakang.
"Terima kasih, nona Mikha. Jika kamu ada sakit hubungi aku lagi. Aku akan memeriksamu, sebelum tidur aku akan menyelesaikan beberapa pil dahulu." Akira membungkuk hormat pada Mikha karena memberikannya tumpangan sementara.
"Sama-sama, tuan Ino. Apakah aku boleh bertanya?" tanya Mikha penasaran.
"Tanya apa nona?" Ryuga berpura-pura tidak tahu. Tapi dari sorot matanya dia pasti menginginkan kekuatan dan berpikir, Akira mempunyai kemampuan pil seperti Tsunade, Karin, Sakura atau Shinji.
"Apakah tuan dokter hanya dokter biasa? Tapi aku tidak yakin. Dari deduksiku sendiri mana mungkin bisa menyembuhkan sekejap luka fatal ledakan yang sangat kuat dan dari sebelum terkena ledakan aku juga mengalami beberapa tulang retak serta patah tulang ringan."
"Padahal luka itu membutuhkan setidaknya jika selamat 6 bulan untuk waktu pemulihan. Aku memang tidak mengerti Ninjutsu Medis secara menyeluruh, tapi mengenai pengetahuan penanganan luka, aku cukup paham," jelas Mikha.
"Nona Mikha sangat cerdas. Tapi aku hanya dokter biasa, tapi untuk membuat pil aku memang dibilang tidak buruk, he-he-he ...."Akira terkekeh sambil memperbaiki kacamatanya yang agak melorot.
"Maaf, tuan Ino. Aku memang terlalu bersemangat, aku pikir anda seperti dokter Shinji Tatsuo yang sekarang digembor-germborkan memiliki pil yang bisa menaikan level dengan sangat cepat." Mikha membungkuk hormat dengan tatapan putus asa.
"Tidak apa-apa, nona Miku. Aku memang dokter biasa dan tak sebanding dengan dokter Shinji. Tapi aku pernah belajar padanya beberapa bulan untuk meramu pil dan memberikan teknik khusus padaku." Tiba-tiba Akira sengaja berkata seperti itu membuat Mikha matanya melebar dengan senyum yang mengambang.
"Oh, benarkah tuan Ino. Jika begitu aku akan meminta ayah membeli tanaman berkhasiat dan esok hari, sebagai rasa terima kasihku akan mencarikanmu tempat yang cocok dan strategis." Setelah berkata seperti itu Mikha langsung meninggalkan Akira dengan raut muka berbinar-binar.
"Klan Rein akan berjaya! Klan Rein akan berjaya! Klan Rein akan berjaya ...!" Mikha terus berteriak hingga suara itu semakin sayup-sayup terdengar karena punggung Mikha sudah lagi tak terlihat.
"Sepertinya aku agak berlebihan, tapi memanfaatkan klan tak berdaya adalah keahlianku. Kali ini aku akan menggunakan mereka untuk memberontak, tanpa aku perlu turun tangan," gumam Akira menyeringai.
Akira mulai membuat beberap pil Hiringu, pil chakra, pil Mizuko untuk penyakit ringan, pil Hanaki untuk penyakit sedang menggunakan jutsu Senpo: Rasenraikoha yang dipadukan dengan katon: Hiringu.
[Selamat, host mendapatkan 100 poin chakra karena menggunakan salah satu Medical Ninjutsu]x40.000
[Selamat, host berhasil menaikan level rank Medical Ninjutsu menjadi rank SSS dan mendapatkan jutsu Edo Tensei tanpa pengorbanan manusia hidup untuk membangkitkan orang yang ingin dibangkitkan. Tapi sebagai gantinya, setiap tomoe mata host akan hilang sementara sesuai besaran chakra yang dibutuhkan jutsu rank tertentu]
"Dengan begini aku bisa berbuat sesuka hatiku," gumam Akira dengan tersenyum puas melihat layar panel hologram merah.
***
Keesokan paginya.
[Selamat juragan mendapatkan 86.400 ryo karena berkedip sebanyak 28.800 kali dalam 24 jam. Evolt sudah mentransfer uang tersebut ke dalam saldo sistem]
Akira seperti biasa melakukan misi harian untuk memperkuat tubuhnya. Walau dia sudah tak bisa dikatakan lagi sebagai manusia. Tapi kebiasaan adalah kebiasaan, jika sudah terbiasa, maka akan sulit ditinggalkan.
'Dor-dor!' Rein Fioki menggedor keras pintu rumah Rein Tou, "Tou! Buka pintunya cepat!" teriaknya cepat.
"Ya, tuan patriark." Tou tahu suara itu suara siapa, jadi bergegas untuk membukakan pintu. "Ada yang bisa dibantu, tuan patriark?"
"Sudahi basa-basinya!" hardik Fioki dan melanjutkan dengan wajah garang, "Kamu telah memasukan orang ke rumahmu. Jika kamu tak membayar denda atas kesalahanmu sebesar 100.000 ryo. Aku sebagai patriark klan akan bertindak tegas."
"Tunggu, tuan patriark." Mikha tiba-tiba muncul, menyela karena merasa keberatan dan melanjutkan, "Aku yang membawanya. Dia yang menyelamatkanku dalam misi kemarin. Apakah ayahku dan aku salah jika membalas budi? Tuan Onani Ino hanya seorang dokter petualang yang ingin menetap hidupnya di Konohagakure. Jadi apakah salah jika kami memberinya tumpangan?"
"Kamu pandai bersilat lidah, Mikha!" hardik Fioki dengan raut muka geram karena dibantah dan melanjutkan, "Hanya Chunin sampah saja berani bertindak tidak sopan padaku!"
Mikha dan Tou bungkam, mereka hanya anggota klan yang lemah dan termiskin dari semua anggota klan Rein.
Akira yang sedang bermeditasi di kamarnya langsung bangkit, setelah mendengar ribut-ribut dan bergegas ke arah pintu depan.
"Maaf, tuan. Ada apa ini?" tanya Akira berpura-pura polos.
"Oh, ini orangnya?" Fioki memicingkan mata dan benar-benar memandang rendah Akira seperti semut dan menunjuk tegas Akira tepat dimukanya, "Jika tidak membayar denda, maka kau akan kami tangkap!"
"Denda? Kesalahan aku apa?" tanyanya lagi polos.
"Nampaknya mereka orang-orang yang sombong dan serakah akan uang. Aku akan memprovokasi mereka, agar ini lebih seru," batin Akira tersenyum licik.
"Aku memita maaf tuan. Jika aku lancang masuk ke kediaman klan ini. Aku akan membayar denda 10 kali lipat. Mohon maaf tuan, berapa dendanya?" tanya Akira sopan dan terus bersandiwara. Raut muka liciknya tertutupi kacamata dan juga karena wajahnya sedikit ditundukan
"100.000 ryo," jawab singkat Fioki.
"Tapi tuan Ino. Ini bukan salah ...."
"Tidak apa-apa, nona Mikha. Aku masih ada uang," potong Akira mengeluarkan uang dari saldo sistem sebesar 1 juta ryo dan melanjutkan, "Tapi, aku ada satu permintaan tuan."
"Jangan banyak basa-basi, cepat katakan!" bentak Fioki dengan nada cepat.
Lama-kelamaan anggota klan Rein yang lain berkumpul di depan rumah Tou, untuk melihat apa yang terjadi.