
4 shinobi Yon kingu merapal segel tangan, posisi mereka berada di belakang 2 shinobi yang berada di depan yang melemparkan puluhan kunai ke arah Akira.
"Raiton: Raikyu no jutsu!"
"Shoton: Ishi komyo!"
4 shinobi Yon Kingu menembakan bola petir berdiameter 5 meter, Akira membentuk kubah prisma kristal berwarna putih transparan untuk melindungi tubuhnya dari gempuran bola-bola petir.
'Duar!' Bola-bola petir dan puluhan kunai meledak, kepulan asap menutupi pandangan, kereta Kaminarimon agak melambat karena masinis kaget, tapi untung saja tidak menekan rem mendadak.
"Pengguna elemen kristal?! 9 shinobi Yon Kingu membulatkan mata, serangannya tak mempan sama sekali karena terhalang oleh prisma kristal.
"Jangan terkejut begitu, biasa saja. Itu baru salah satu elemenku. Aku akan tunjukan yang lain." Akira merapal segel tangan, tubuhnya melayang agak tinggi dari permukaan gerbong kereta. "Hyoton: Maku Kyosho!"
Muncul puluhan cermin es yang mengelilingi shinobi Yon Kingu. Cermin-cermin tersebut terbang melayang mengikuti kereta yang mulai melaju cepat kembali.
Akira meminta Azura untuk tidak ikut campur mengurusi lalat-lalat yang berdengung itu, karena mereka hanyalah lalat kecil yang mudak diinjak oleh Akira, dan Azura tidak perlu turun tangan.
Tubuh 9 shinobi Yon Kingu agak gemetar setelah semua cermin es yang mengitari mereka muncul semua bayangan Akira. "Sekarang elemen es? Monster macam apakah ini?"
"Kita tidak boleh menyerah, serang!" teriak salah satu shinobi Yon Kingu dan melemparka kunai peledak.
'Boom!' Suara ledakan berbunyi keras, kepulan asap menghalangi pandangan. Cermin-cermin es berbentuk persegi tersebut, tak ada satu pun yang pecah atau hancur.
"Hahahaha ...." Akira tertawa jahat. Kemudian melanjutkan dengan menangkupkan tangan secara keras hingga berbunyi suara 'Plak!', "Mati kalian semua! Hyoton: Sensatsu haiso! Shoton: Ishi komyo! Kai!"
Semua bayangan Akira dalam cermin melemparkan ribuan jarum es, dan ujung prisma kristal di depan dada Akira menembakan sinar laser berwarna putih ke arah cermin yang berhadapan jauh dengan Akira.
'Jleb!' Satu persatu shinobi Yon Kingu tertusuk jarum-jarum es. Tubuh mereka kaku dan hampir saja membeku, karena aliran darah di seluruh tubuh mereka menjadi kristal es.
'Boom!' Sinar laser memantul ke salah satu cermin yang berhadapan jauh dengan Akira dan mengenai 9 shinobi yang berkumpul dengan saling memunggungi. Mereka semua tewas menjadi bubuk kristal es berwarna merah.
Salah satu ANBU Konohagakure pergi ke gerbong masinis dan memberitahunya jika ada penyerangan oleh shinobi tak dikenal. ANBU Konohagakure meminta untuk tetap melajukan kereta dan jangan panik, karena sedang diatasi oleh Akira.
"Lalat saja, hmph!" Akira mengibaskan tangan dan menonaktifkan semua jutsunya lalu berteleportasi ke tempat duduknya. "Baaaa!"
Akira mengagetkan Boruto, Sarada, dan Hanabi yang sedang risau memikirkannya. "Dasar cucu sialan!" Mereka bertiga memukul kepala Akira serentak.
"Aaaaw!" Akira memekik panjang. Kepalanya ia elus-elus dengan raut muka meringis kesskitan. "Kenapa kalian memukulku?! Sakit tau!"
"Aku akan menunggumu di sana." Azura membalas melalui komunikasi telepati dan meminta Byako untuk terbang cepat ke arah Kirigakure, tepatnya apartemen Akira.
"Kamu yang mengagetkan kami, dasar cucu kurang ajar. Apa kau mau kami bertiga terkena serangan jantung?!" Hanabi berteriak keras tepat di telinga kiri Akira, urat otot diwajahnya menonjol cukup besar.
"Tapi kan nek, yang penting beres."Akira masih memegang kepalanya yang sakit dengan raut wajah pura-pura polos, untuk menenangkan Hanabi.
"Beres-beres, matamu. Tetap saja kalau jantung kami copot kita juga tetap mati walau tidak dibunuh para bandit itu," sergah Sarada menyeringai kesal dan kepalan tangan siap dihantamkan lagi pada kepala Akira.
"Yakin mereka itu bandit? Masa bandit tidak menyerang semua penumpang gerbong dan hanya mengarah ke gerbong satu?" Boruto menyeringai geram dengan raut muka menelisik. Kemudian melanjutkan, "Aku rasa mereka mengincar kita dan jelas tujuannya adalah membunuh salah satu dari kita atau tepatnya Hokage."
"Tepat sekali, kakek." Akira mengacungkan jempol pada Boruto. Kemudian melanjutkan dengan raut muka penuh tanda tanya, "Namun, siapa yang menyuruh mereka?"
"Aku sama sekali tidak menemukan tanda-tanda apapun," tambahnya dengan raut muka bingung.
Tiba-tiba terdengar suara Azura dalam kepalanya, "Akira, aku menemukan sesuatu. Aku berhasil menggali informasi dari salah satu shinobi organisasi Yon Kingu yang disuruh oleh Animisa Renbu. Klan Hozuki dan klan Hoshigaki akan melakukan pemberontakan malam nanti di Kirigakure. Target utamanya, Kagura dan Chojuro serta beberapa petinggi di Kirigakure yang bersebrangan dengan mereka, salah satunya dari klan Akiara," jelasnya melalui komunikasi telepati.
"Organisasi Yon Kingu?!" Akira membatin dan melebarkan mata, seolah tak percaya dengan penjelasan Azura. Kemudian melanjutkan, "Bukankah mereka sudah kita basmi?!"
"Entahlah. Masalah itu aku kurang mengerti, memang benar kita telah membasmi mereka. Tapi para petinggi mereka masih ada. Buktinya Animisa, Kuiro, dan Yoda serta Raiga dari informasi yang aku dapatkan masih hidup," jawab Azura melalui komunikasi telepati.
"Ada apa Akira?" tanya Hanabi, Sarada dan Boruto serentak, karena melihat Akira terdiam lama. Tentu saja membuat mereka penasaran, karena diamnya Akira raut wajahnya sering kali berubah.
"Nenek Hanabi, apakah nenek tahu jika tetua Hyuga Yoda adalah pemimpin organisasi Yon Kingu? Kemungkinan besar yang menyerang kakek Boruto dan paman Mitsuki adalah mereka. Padahal ...."
Akira terdiam sesaat mengingat kejadian ia dan Reina ditusuk oleh Azura bersama Mishima untuk melakukan sandiwaranya kembali. Sandiwara penuh dengan intrik kebohongan, untuk membuat Hanabi, Sarada dan Boruto percaya sama seperti Akria mengecoh Kagura.
"Padahal apa Akira? Katakan cepat!" Titah Hanabi menyeringai tajam.
Akira meneteskan cairan bening di sudut kelopak matanya, "A-aku tak bi-bsa la-lagi mengingat kejadian i-itu," ungkapnya dengan mengeka cairan kental dihidungnya.
"Aku meminta maaf jika membuatmu sedih. Tapi jika menyangkut penyerangan itu, kita harus bergegas cepat. Aku mohon Akira katakanlah pelan-pelan," kata Boruto mengiba pada Akira.
'Kiaaak!' Tiba-tiba ada elang pembawa surat masuk ke dalam jendela Akira dan berhenti di depan Sarada. Tangan Sarada membentuk siku, elang itu bertengger di lengannya. Sarada mengambil gulungan dari tempat gulungan yang terbuat dari bambu, posisinya berada di punggung elang.
Elang itu kembali terbang, Sarada membentuk segel pelepasan dan gulungan yang mempunyai segel khusus yang hanya bisa dibuka oleh Sarada itu terbuka. Kata demi kata ia baca, matanya melebar setelah selesai membaca isi dalam gulungan tersebut.