DARKNESS TO ENLIGHTMENT

DARKNESS TO ENLIGHTMENT
SS 41 - Masalah Terselesaikan



Hiyoshi hanya bisa menggelengkan kepala, melihat ketiga muridnya yang tak bisa akur. "Benar-benar hebat, bahkan sharinganku tidak bisa memprediksikan gerakannya," gumam Azura membulatkan mata dan bangkit dari duduknya, dinding pembatas di bagian belakang tubuhnya hancur. "Benar-benar menguji kesabaranku. Haaa!"


Shua!


Reina dan Azura melesat cepat serta ingin saling membunuh, tatapan mereka berdua sangat tajam dalam menatap masing-masing.


Hiyoshi melesat cepat untuk menghentikan mereka berdua, tapi sayang sudah telat. "Sial, aku sudah tak sempat, benar-benar murid yang merepotkan," gumam Hiyoshi menyeringai kesal.


Shua!


Secepat kilat Akira merapal segel tangan, "Shoton: Kurenai kaijutsu!" Akira menghentakan kedua telapak tangannya, ke permukaan lantai, jarak 1 meter kubah pelindung kristal mengurung tubuh Reina dan Akira.


Krak!


Krak!


"Fyuh! Hampir saja, benar-benar perempuan yang sangat merepotkan, huff ... huff ... huff ..." Nafas Akira terengah-engah, detak jantungnya tak beraturan.


Azura memukuli kubah pelindung dengan menyeringai kesal dan berteriak keras, "Woy! Keluarkan aku, biar kuhajar gadis panda itu, woy ...!"


"Akira lepaskan aku, biar aku menghajar hantu Sadako itu. Keluarkan aku Akira!" Reina juga sama berteriak dan memukul kubah pelindung kristal. Reina tidak bisa melepaskan jutsu milik Akira, meskipun sama-sama pengguna elemen kristal karena perbedaan level, Reina level chunin 9 dan Akira jonin 3.


"Sudahlah, kalian tidak usah bertengkar. Kita ini akan menjadi satu tim, kamu dapat perintah dari Mizukage untuk masuk timku, untuk ikut ujian chunin khusus yang diadakan 6 hari lagi," pinta Hiyoshi. "Bicarakan baik-baik, jika ada masalah dengan Akira. Tidak usah pakai pukulan apalagi otak otot, paham!"


Akira berjalan perlahan dan berdiri di samping Hiyoshi yang berada di antara dua kubah kristal pelindung yang mengurung Reina dan Akira. "Ya, kita bicarakan baik-baik. Aku sendiri tak ada masalah denganmu, dan kita juga baru bertemu," timpal Akira.


Nenek Gezo dan Yumiko hanya diam dan ketakutan, melihat Reina serta Azura berkelahi, meski telah merusak properti penginapan, karena mereka berdua hanya warga sipil.


Namikage Bujin dan dua orang jonin Namigakure tiba, "Maaf, ada apa ini ribut-ribut?" tanya Namikage Bujin tegas.


"Maaf Namikage sama, ini hanya permasalahan kecil. Mereka bertiga adalah muridku, ya hanya sedikit ada pertengkaran, hehehe," kata Hiyoshi tertawa mencairkan suasana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Azura chan, terima kasih sudah membunuh lima hantu bayangan. Teror di Namigakure udah terselesaikan, aku sudah mengirim elang khusus ke Konohagakure, untuk pembayarannya aku sudah berikan pada Kyudaime Hokage Sarada. Kamu sudah bisa pulang," jelas Shodaime Namikage Bujin.


Lima tahun terakhir negara ombak dan Namigakure mengubah kepemimpinan pemerintah wilayahnya dengan memilih kage yang ditunjuk oleh daimyo negara air. Satoshi Bujin terpilih menjadi Shodaime Namikage saat ini yang memimpin desa Namigakure.


"Baguslah, jika dia menyebut gadis Sadako itu, untuk sementara identitasku harus aku tutupi bahwa aku yang membunuhnya. Meskipun kepala mereka akan aku tukarkan pada lembaga pemburu nukenin di Kumogakure*."


"Tunggu, Hiyoshi sama! Bukankah Azura dan kedua muridmu itu berbeda ikat kepala? Bagaimana mungkin Azura adalah muridmu, sedangkan dia berada di Konohagakure dan Hiyoshi sama berada di Kirigakure?" tanya salah satu jonin Namigakure bernama Saburi Seito.


Hiyoshi sudah sangat terkenal, di umurnya 35 tahun dan mempunyai gelar Kiri no okami kiba. Karena di perang dunia shinobi kelima membantai 10.000 pasukan mutan yang dibuat oleh organisasi Kara bernama Siutsu sendirian.


"Azura aslinya dari Kirigakure, dan dia dahulu muridku. Lalu dipindahkan ke akademi Konohagakure sambil belajar dan menyempurnakan pengobatan matanya. Kini Mizukage Kagura memanggilnya untuk ikut ujian chunin khusus yang diadakan 6 hari lagi di Konohagakure," jawab Hiyoshi sedikit tersenyum. "Mohon maaf Namikage sama, kami harus segera berangkat ke Konoha sekarang karena harus mengurus beberapa administrasi secepatnya disana."


"Pantas saja ada pengguna elemen kristal, murid-murid Hiyoshi bukan anak sembarangan. Aku merasakan Azura chan saja chakranya begitu mengerikan, gadis imut berambut putih juga cukup mengerikan, apalagi bocah jabrig itu. Aku merasakan di dalam tubuhnya ada chakra yang sangat kuat dan lebih mengerikan."


Akira menghilangkan kubah kristal pelindung, "Sudah jangan berkelahi lagi. Aku harap maslaahmu sudah selesai dan sesuai harapanmu bukan. Lain kali jangan hanya menguntit, jika ingin membantu, bantulah. Aku menerimanya dengan senang hati," kata Akita tersenyum pada Azura.


"Oke, lain kali aku tak akan melepaskanmu, hmph!" Azura membuang muka dan menggembungkan pipinya pada Reina serta Akira. Lalu pergi meninggalkan mereka semua menuju penginapan lain, tempat Azura menginap selama 2 minggu di Namigakure, guna menyelidiki lima hantu bayangan.


Shodaime Namikage Bujin juga pergi bersama dua jonin itu, meniggalkan penginapan nenek Gezo. Yumiko dan nenek Gezo mengintip dari celah pintu karena masih sangat ketakutan.


Hiyoshi yang ingin mengambil perlengkapab bajunya, langsung membuka pintu dan dikagetkan oleh Yumiko yang sedang mengintipnya. Yumiko kaget dan terjatuh ke pelukan Hiyoshi, mereka berdua sama-sama kedua pipinya memerah.


Akira langsung memberikan uang 100.000 ryo pada nenek Gezo, "Nek maafkan kami. Karena kami penginapan nenek jadi rusak, dan ini uang ganti ruginya. Jika masih kurang aku akan menambahkannya lagi," kata Akira sambil menunduk hormat, membuat nenek Gezo terharu.


"Kamu anak yang baik Akira." Nenek Gezo membelai lembut kepala Akira dan mengingatkan Akira dengan kakek Don Telo yang selalu menyayanginya seperti cucu sendiri. "Ini sudah lebih dari cukup, jadilah shinobi yang baik dimasa depan dengan membela kaum yang lemah. Terima kasih Akira."


"Sama-sama nek, terima kasih juga atas nasihatnya," kata Akira sambil menunduk hormat pada nenek Gezo.


"Ehem ... ehem ...." Reina berdehem keras menggoda Hiyoshi dan Yumiko. "Dasar pasangan burung merpati, jika dekat menjauh, jika jauh ingin mendekat, preet!"


"Ma-maf Yumiko, aku tak sengaja." Hiyoshi melepaskan pelukannya ke Yumiko, begitu pula sebaliknya. "A-aku ...."


"Ti-tidak a-apa-apa Hiyoshi sama. Maaf kalau aku juga lancang memelukmu dengan erat, aku hanya takut jatuh saja," balas Yumiko menundukan wajahnya dengan kedua pipi semerah tomat.


Akira berjalan keluar penginapan dan berteriak, "Sensei! Ayo cepat berangkat, nanti malah kesorean sampai Konoha! Kalau mau mengatakan cinta dan melamar nona Yumiko katakan saja sekarang! Setelah ujian chunin selesai, sensei bisa menikah dengan nona Yumiko. Dasar sensei payah, mengatakan aku cinta padamu saja tidak bisa, payaaaah!"