DARKNESS TO ENLIGHTMENT

DARKNESS TO ENLIGHTMENT
SS 156 Pilihan



Derap langkah kaki Sarada terdengar menaiki anak tangga dengan cepat, menandakan kepanikan dan kekhawatirannya saat ini.


Tentu saja karena Akira, cucu dari anak kesayangannya memuntahkan darah di dalam kamarnya.


Pintu kamar Akira itu didorong cepat setelah sampai di lantai kedua, kamar depan tangga.


"Kenapa Akira? Apa yang terjadi?" Mata Sarada melebar, selebar-lebarnya dan sangat panik.


Sarada memapah tubuh Akira yang mulai lemas dan menaruhnya di ranjang tidurnya. Tisu di atas nakas, Sarada ambil untuk menyeka darah di bagian bawah bibir Akira dan mengalir ke leher Akira.


Sarada menghela nafas panjang untuk menenangkan suasana hatinya yang sangat panik.


"Shousen no jutsu!"


Kedua telapak tangan Sarada ditempatkan di tengah dada Akira, chakranya dialirkan, cahaya warna hijau menerangi Akira. Sarada anak dari Haruno Sakura, murid dari shinobi medis nomor satu di zamannya yaitu Senju Tsunade. Tentu saja Sarada kemampuan medisnya saat ini tidak kalah oleh ibunya sendiri.


Bisa dikatakan Sarada saat ini berada di level shinobi medis rank A. Meskipun levelnya terpaut sangat jauh oleh cucunya sendiri Akira.


Detak jantung Akira kembali normal, "Terima kasih nek. Hampir saja aku kehilangan nyawaku."


Akira mengela nafas panjang, tubuhnya ia sandarkan pada ranjang tempat tidurnya. Rasa nyeri pada dadanya masih terasa sakit, serangan efek bijuudama cukup membuat tubuhnya merasakan ditusuk ribuan pedang.


Sarada menarik nafas dalam-dalam, nafasnya dihembuskan perlahan. Matanya diedarkan ke arah kening dan kedua bola mata Akira yang berbeda pupil.


"Rinne sharingan? Byakugan? Sharingan?" Sarada melebarkan mata.


Baru kali ini Sarada melihat sedekat itu tiga doujutsu yang berbeda, tatapan mata sumringah dan tentu kepuasan batin tercetak jelas di sudut kelopak matanya.


Akira mengernyit di tatap seperti itu, ia sadar jika mata ryuzugan miliknya yaitu kombinasi byakugan 7 tomoe putih dan sharingan 7 tomoe hitam serta rinne sharingan merah 12 tomoe miliknya, belum ia aktifkan.


Akira menautkan tangan dengan sedikit gemetar, "Ryuton: Ninpo sozo saisei."


Segel kutukan bermotif wajik berwarna hitam, muncul di dahinya. Luka dalam hantaman bijuudama cukup parah, Akira memutuskan untuk melakukan jutsu tersebut.


Walaupun hantaman bijuudama berhasil ia elakan sepersekian detik, tapi gelombang kejut ledakannya yang melukai organ vital bagian dalamnya.


Sarada matanya melebar, melihat Akira memiliki tanda segel kutukan yang sama pada dahinya. "Tidak mungkin? Bagaimana bisa?"


Segel itu adalah segel yang Sarada miliki, Sakura dan Tsunade, pikirannya terus dikuras untuk menyelami kedalaman kemampuan cucu yang sangat ia sayangi itu.


"Byakugo no jutsu." Akira mengeratkan tautan tangannya.


Segel bermotif wajik hitam menyebar cepat ke seluruh tubuh Akira membentuk garis hitam. Luka yang cukup fatal pada organ vital bagian dalam tubuhnya dalam sepersekian detik langsung sembuh. Aura berwarna hijau pekat menyelimuti tubuh Akira.


Chakranya yang sebanyak danau seluas 5 km langsung habis tak tersisa. Byakugo no jutsu memang teknik penyembuhan yang sangat ampuh dan tentu saja menguras banyak chakra dan dikatakan termasuk kinjutsu.


"Coba ceritakan." Pinta Sarada.


Melihat Akira sudah sembuh total dari persepsi sharingan yang bisa melihat aliran chakra, tentu saja Sarada ingin mengorek cepat informasi dari Akira. Sebagai seorang Hokage secepat mungkin mengetahui masalahnya, maka secepat mungkin ia mencari solusi.


Akira mengganguk pelan, nafasnya di tarik dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan, agar lebih rileks. "Baiklah."


Akira mencertikan semua rincian kejadian sebenarnya, tanpa ada satu pun yang ditutup-tutupi.


Sarada matanya melebar, tangannya mengepal erat, dan menyeringai geram, "Uchiha Arashi! Beraninya kau!"


"Baiklah, kamu beristirahatlah. Semua masalah ini biar nenek yang tangani, Azura aku serahkan padamu."


Sarada mengelus lembut rambut cucu kesayangannya itu, lalu menidurkannya dan menyelimutit tubuhnya. Tubuhnya ia balikan dan berjalan perlahan keluar dari kamar Akira.


"Aduh!" Akira menepuk jidatnya dan mengelurkan 1 butir pil chakra dari rinnegan merah di telapak tangan kiri untuk mengisi ulang chakranya. Kemudian melepas selimut yang menutupi tubuhnya dan bangkit, "Aku harus cepat menolong Azura."


'Swush ...!' Akira masuk ke dalam dimensi kamui, matanya nanar menatap Azura dengan gundukan gunung kembar dan hutan belantara.


Akira duduk dengan menumpu pada lututnya, dan memejamkan mata. Akira tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk bercinta dengan Azura. Meskipun Azura sendiri pasti ikhlas menerima hal itu.


"Saibo no kasseijutsu!" Akira memegang lengan kiri Azura.


Chakranya ia alirkan, aura hijau pekat menjalar cepat ke seluruh tubuh Azura yang begitu mulus dan sintal. Godaan berat di depan mata Akira, tentu saja sebagai lelaki normal nafsu birahi Akira sudah di ubun-ubun.


"Akira." Lirih Azura.


Matanya terbuka perlahan, ia mendapati pemuda tampan di depannya. Senyuman tipis mengembang dari sudut-sudut bibirnya.


"Maafkan aku, Azura." Akira menundukan wajah.


Perasaan sesal itu tiba-tiba datang pada hatinya, setelah mengingat kejadian beberapa saat lalu. 'Ceroboh' itu kata yang ditunjukan pada dirinya sendiri dengan tegas saat ini.


"Aku harap dimasa depan, atau esok hari. Tidak akan terjadi lagi hal ini." Sesal Akira dalam hatinya.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, meskipun-"


Akira segera memotong perkataan Azura untuk menegaskan bahwa keperawanannya memang masih aman dan tidak dihancurkan oleh Arashi.


"Tenang saja segelmu masih aman. Aku menghajar bedebah itu sebelum berhasil memperkosamu. Tapi-"


"Tapi kenapa? Apa ada hal yang lain?" tanya Azura masih dalam keadaan berbaring dan mencoba duduk perlahan, memotong pernyataan Akira.


Azur menyadari jika baju yang ia pakai sudah koyak, dan memperlihatkan semua mahkota dan martabatnya sebagai seorang perempuan pada Akira yang sudah membuka matanya lebar-lebar.


"Aku siap menikahi kamu. Jika kamu menginginkannya." Tegas Akira.


Mata Azura melebar, belum pernah terbesit sedikit pun dipikirannya selama ini. Kata-kata yang mungkin akan ia tunggu dimasa depan tiba-tiba keluar dari bibir manis Akira.


"Apakah Reina tidak apa-apa?" Azura memegang erat tangan Akira untuk memastikan ini hanya bualan atau ketegasan.


"Tidak apa-apa." Akira menggeleng pelan dan memberikan topeng putih bermotif rubah miliknya. "Pakailah!"


Azura menerima topeng itu, sekali lagi ia menanyakan keputusan Akira. "Yakin?"


"Apa kamu ragu dengan keputusanku dan tak bisa mendengarnya dengan jelas?" Akira menatap nanar, emosinya agak sedikit naik.


Baginya kata-katanya itu cukup sekali didengarkan, dipahami, dan dimengerti serta dilaksanakan.


"Apakah kamu tahu, perasaan seorang wanita jika di duakan?" Azura memakai topeng tersebut.


Azura sangat mengerti jika perasaan seorang wanita di duakan tentu akan sangat sakit, terlebih lagi itu Reina yang sudah ia anggap saudaranya sendiri. Jadi ia ingin memastikan jika Akira mengambil keputusan yang tepat sebagai seorang laki-laki.