
Setelah Genbu berhasil dikontrak, hujan yang sangat deras langsung berhenti tiba-tiba.
"Cuaca yang aneh." Akira mencebikan bibir dan kepalanya ditengadahkan ke atas langit, mengejek langit yang sangat aneh di wilayah pulau Kamijin.
"Sudah, ayo!" Azura menarik lengan kiri Akira ke arah hutan di bagian selatan pulau Kamijin.
Dari pusat danau ke hutan yang dipenuhi cuaca angin ekstrim tersebut, jaraknya 3 km. Kepercayaan diri Azura meningkat pesat setelah ia berhasil membuat kontrak dengan Genbu, walaupun itu dengan bantuan Akira.
"Akira, biarlah kali ini aku yang akan menghadapi Seiryu seorang diri." Azura mengepalkan tinju dan mengacungkannya berapi-api. Kemudian melanjutkan menunjuk dadanya, "Jika aku terdesak, baru kamu membantuku."
Mata Azura berkeliling mengamati keadaan, namun yang membuatnya aneh adalah pepohonan di hutan tersebut. Meskipun anginnya cukup ekstrim tapi tak mampu menumbangkan pepohonan-pepohanan tersebut.
Akira menyandarkan tubuhnya pada salah satu pohon besar, persepsi pandangan byakugannya diedarkan untuk memindai hutan pulau Kamijin.
"Rupanya Seiryu berada di bagian dalam hutan ini. Tapi masih jauh karena cukup luas 6 km persegi," gumam Akira mengelus dagu. Kemudian melanjutkan, "Sepertinya pulau ini hanya di huni satu wilayah sati siluman."
Azura berlari cepat dan melompati satu dahan pohon ke dahan yang lain, dengan tangan kanan menghalangi kepala Azura dari hembusan angin yang cukup kencang.
"Sial, fluktuasi angin ini menghalangi pandanganku," gumam Azura menyeringai kesal.
Semakin dalan hembusan anginnya semakin kuat. Dan benar saja Azura semakin kesal dibuatnya. Itu semua pandangannya terhalangi oleh hembusan angin yang semakin kencang.
Akira memberikannya 10 pil chakra, lalu ditelannya 1 butir, sisanya ia simpan di tas pinggang kecilnya yang berada di pinggan kanan.
'Groaaaar ...!' Seiryu menyadari kedatangan Azura dan bangkit lalu meraung keras. Tubuhnya membesar menjadi naga dengan panjang 30 meter dan diameter tubuh 10 meter.
Setelah Seiryu meraung keras dan menghempask gelombang kejut dalam radius 1 km. Angin yang berhembus sangat ekstrim itu berhenti seketika.
Seiryu terbang ke arah Azura dengan melesat sangat cepat, dan cakarnya siap dihunuskan.
"Tsuinken: Kureijisutomu!"
Azura mencabut dua sayap pedang di bagian paling bawah di punggungnya. Lalu hilang dari tempatnya melayang, melesat cepat ke arah Seiryu.
'Trang ...!' Suara dentingan cakar dan kedua pedang beradu. Azura menebas secara beruntun, bahkan menambahkan dua sayap pedang lagi untuk menebas Seiryu.
"Mengagumkan!" Mata Akira melebar melihat pertarungan Azura dan Seiryu melalui pandangan mata Byakugan.
'Swush ...!' Seiryu membalikan badannya yang sangat besar, lalu mengibaskan ekornya ke arah Azura.
'Boom ...!' Azura menyilangkan kedua pedangnya, untuk menahan serangan kibasan ekor Seiryu. Sayang sekali meskipun berhasil menahan, tapi gaya dorong kibasan ekor Seiryu sangat kuat hingga memetalkan tubuh Azura sejauh 1 km dan menabrak pepohonan sepanjang 500 meter.
"Bedebah! Benar-benar kuat sekarang Seiryu." Azura menumpu pada kedua pedangnya untuk bangkit ,tentu saja sangat kesal terpampang jelas di raut wajahnya yang ditekuk. Kemudian melanjutkan menarik 2 sayap berbentuk pedang yang tersisa dari punggugnya, "Senso do dansu!"
Gagang pedang yang terbuat dari besi diapitkan pada sela-sela jarinm Azura dan membentuk tiga cakar panjang di masing-masing tangan.
'Swush ...!' Seiryu menembakan bola-bola angin ke arah Azura, bola-bola angin tersebut cukup besar dengan diameter 10 meter. Tubuh Azura berkedip secara cepat, setiap bola-bola angin yang ia bisa lihat menggunakan persepsi mata sharingan, siap menghantamnya.
'Swush ...!' Seiryu seperti punya chakra tanpa batas, terus menembakan bola-bola angin tanpa kelelahan sedikitpun.
'Boom ...!' Pepohonan dalam radius 300 meter hancur dan membentuk cekungan kawah dimana-dimana.
"Jika terus seperti ini, aku hanya akan kehabisan chakra dengan terus menghindar." Azura menyeringai kesal dan mencoba mengayunkan keenam pedangnya yang membentuk cakar, untuk membelokan setiap serangan bola-bola angin yang dilesatkan Seiryu.
'Bam ...!' Azura menebas setiap bola-bola angin tersebut untuk menangkis, membelokan, bahkan membelahnya.
'Groaaar ...!' Seiryu meraung kesal karena tak ada satu pun serangannya yang mampu mengenai Azura.
Sudut-sudut bibir Azura menekuk membentuk senyuman sinis, "Hai kadal bau ketiak! Mana seranganmu itu? Apa kau buta ya?" ejeknya sambil terus mengayunkan keenam pedangnya, kali ini serangan bola-bola angin itu Azura balikan kembali ke arah Azura.
'Boom ...!' Ledakan beruntun dan sangat cepat mengenai terdengar keras. Setelah bola-bola angin yang Azura balikan mengenai dada, kepala, bahkan mata Azura.
"Rasakan! Makan seranganmu sendiri naga bau ketiak!" Azura menancapkan ketiga pedang di jari kanannya ke permukaan tanah, lalu mengacungkan jari tengah dengan raut muka girang penuh kemenangan.
Padahal sejatinya chakranya sudah terkyras habis, akibat menggunakan shunsin no jutsu tanpa henti, untuk menghindari serangan bola-bola angin Seiryu.
'Gluk!' Azura mengambil satu butir pil chakra di tas pinggangnya, tatapan matanya tetap tajam untuk menjaga kewaspadaan.
'Groaaar ...!' Seiryu kembali meraung keras, getaran raungannya mengeluarkan gelombang kejut yang sangat cepat, menghempaskan semua pepohon di sekitarnya dalam radius 100 meter.
"Berani kau membuatku kesal, bocah rambut kuda! Aku hancurkan kau menjadi debu, groaaaar ...!" geram Seiryu.
Tubuhnya memanjang 20 meter menjadi 50 meter dan diameter tubuhnya membesar dengan menjadi 30 meter.
'Gluk!' Azura tiga kali menelan air liurnya. Bagaimana tidak, sosok Seiryu bertambah lebih menyeramkan seperti bijuu bahkan lebih besar dari bijuu.
"Aku tidak akan gentar!" Azura kembali menarik ketiga pedangnya yang masih tertancap di permukaan tanah. Kepercayaan dirinya dalam mode maksimal, dan yakin bisa mengalahkan Seiryu.
'Swush ...!' Dada Seiryu mengembang besar lalu mengempis cepat. Mulutnya menganga lebar dan mengeluarkan bola angin yang sangat besar berdiameter 100 meter.
Mungkin bagi shinobi lain melihat ini, ia akan ketar-ketir dan badannya gemetar dengan raut muka pucat pasi, penuh ketakutan. Tapi tidak bagi Azura yang percaya akan kemampuannya.
Jarak bola angin hanya tersisa 20 langkah dari Azura. Senyuman liciknya mengembang dan menancapkan keenam pedangnya lalu merapal segel tangan, "Kamu ini benar-benar bodoh naga bau ketiak. Kamu tidak tahu siapa yang kamu lawan. Katon: Gouka mekakyu!"
'Swus ...!' Dada Azura mengembang besar lalu mengempis cepat, menembakan semburan api yang sangat besar dan bertekanam tinggi. Bola angin itu terdorong ke arah Seiryu, dan memicu perubahan warna api yang merah menyala menjadi api biru.
"Hahahah ...!" Azura tertawa licik. Kemudian melanjutkan, "Elemen angin itu lemah terhadap elem api. Apa kau lupa?"
'Boom ...!' Tubuh Seiryu meledak terkena badai api biru, seluruh tubuhnya dipenuhi asap dan kulitnya yang berwarna biru menjadi hitam legam.