DARKNESS TO ENLIGHTMENT

DARKNESS TO ENLIGHTMENT
SS 180 Diamond Mountain



Akira membungkuk hormat, "Maaf tuan. Aku Shinji Tatsuo, dokter yang ingin mengobati nona Amoki dan sudah ada janji dengan nona," jelasnya.


Yanuchi mengamati Akira dari bawah sampai atas, lalu menggeledahnya.


Kemanan di kediaman klan sangat ketat, bahkan setelah masuk ada alat khusus pemindai kertas peledak, chakra yang berpotensi meracuni, baik racun saraf maupun racun biasa, chakra yang berpotensi meledak, batu logam dan aura membunuh yang sangat pekat.


Karena klan Amenoji merupakan klan terkaya dan terkuat, teknologi apa saja mereka pasang di kediaman klan selama untuk melindungi klan.


"Terima kasih, tuan." Akira kembali membungkuk hormat pada Yanuchi setelah selesai menggeledahnya. Lalu berjalan dituntun ke kompleks dalam klan Amenoji.


Dia sudah terbiasa melihat kemewahan di depan matanya. Tatapan matanya datar dengan raut bibir tetap tersenyum.


Alat pindai berupa kubah transparan yang menutupi semua wilayah kediaman klan Amenoji tidak berbunyi, ketika Akira melewati pintu gerbang masuk.


Yanuchi menurunkan kewaspadaannya, karena Akira bukan dokter kaleng-kaleng yang sedang menyamar. Karena penampilannya terlalu rapi dan tampan sebagai seorang dokter lebih mirip bangsawan. Tentu saja Yanuchi mengira Akira bangsawan bukan dokter jadi mencurigainya.


Yanuchi berhenti di rumah bagian selatan yang paling mewah berlantai empat dengan gaya modern seperti mansion. Rumah dari tetua besar Kazuka Amenoji, dan ayah dari Amoki Amenoji.


Yanuchi menekan bel rumah dan disambut dua penjaga rumah, "Senpai ada apa?" tanya Koteki dengan sorot mata yang tajam.


"Ada dokter-"


"Shinji Tatsuo," potong Akira tersenyum ramah.


"Ya, dokter Shinji ingin mengobati nona Amoki dan sudah ada janji," tegas Yanuchi.


Mata Koteki dan Soteki yang menjaga pintu gerbang tetua Kazuka menatap menelisik setiap lekuk tubuh Akira, membuatnya seperti digerayangi.


"Masuk!" Koteki membuka pintu dan menuntun ke dalam aula untuk dipertemukan pada Kazuka yang sedang menyesap tehnya. "Maaf, Kazuka sama. Ada dokter Shinji dan sudah ada janji dengan nona Amoki untuk memeriksanya."


"Klan Amenoji adalah klan yang sangat ketat, setiap tamu yang masuk di jaga. Tapi kalau aku yang menjadi ter0risnya tentu akan mudah mengelabui mereka," batin Akira tersenyum.


"Maaf, Amoki sedang tidak bisa diganggu dan sedang diperiksa oleh dokter khusus dari klan Baroi," pungkas Kazuka dengan tatapan sinis pada Shinji.


"Baiklah, tuan. Maaf jika mengganggu waktu anda. Aku Shinji Tatsuo izin pamit." Dengan perasaan kecewa, Akira membungkuk hormat penuh dengan ketegaran.


Tiba-tiba dari arah pintu Inoichi masuk membawa bubur yang ia masak sendiri. Inoichi adalah anak dari wakil patriark klan Amenoji, Ichizawa Amenoji. Untuk mencuri perhatian Amoki, ia rela membuatkan bubur itu sendiri.


Tentu saja Kazuka membolehkannya masuk, karena Inoichi dan Amoki sudah berteman sejak kecil.


"Dokter Shinji, anda datang?"


Raut wajah Inoichi sumringah, melihat Akira. Ya, berkat Akira, Amoki tidak sampai putus lengan dan luka bakarnya tidak sampai fatal.


"Ya, sesuai janjiku. Tapi nona Amoki sudah ditangani oleh dokter lain. Jadi aku pamit undur diri, ada pasien lagi yang harus aku tangani lagi dari keluarga Mashiiro."


Akira tetap tersenyum ramah, dengan membungkuk hormat, kemudian membalikan badan.


"Pasti dokter cabul itu lagi yang datang," batin Inoichi menyeringai kesal.


Rujaku baru saja tiba dan masuk ke dalam mansion Kuzaku. Lalu menatap sinis Akira, tapi tidak berani menatap Inoichi.


"Selamat pagi, paman." Rujaku membungkuk hormat pada Kuzaku. Kemudian bangkit dan menunjuk sinis pada Akira, "Siapa dia paman?"


"Dokter, tapi entah dokter apa? Dokter hewan mungkin? Salah masuk rumahku," cibir Kuzaku dengan tatapan sinis.


Akira dihina seperti meskipun terdengar masuk ke telinganya tetap melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari mansion Kuzaku.


"Paman, hormati dokter Shinji. Kalau tidak ada-"


"Diam, Inoichi. Rujaku ini dokter nomor tiga di Kumogakure, tentu saja lebih hebat daripada dokter gadungan itu," potong Kuzaku menyeringai geram, karena merasa digurui oleh Inoichi.


"Kalau aku tidak mencintai anaknya. Sudah aku kuliti pak tua ini," batin Inoichi menyeringai kesal, tangannya dikepalkan.


"Lebih baik kamu pulang Inoichi. Amoki hari ini tak bisa diganggu. Terima kasih atas buburnya," kata Rujaku menatap sinis Inoichi.


Akira menghela nafas panjang setelah keluar dari pintu gerbang mansion Kuzaku. "Haaah ... menjadi orang yang baik itu tidak mudah. Padahal niatku menolong, ini bukan masalah uang tapi masalah reputasi dan tempat. Jika hanya berperang apa bedanya aku dengan kage dan pemimpin Yon Kingu yang semena-mena?"


Akira tak ingin menundukan wilayah dengan berperang terus-menerus. Jika berperang tentu saja Akira bisa memenangkannya, tapi berapa banyak korban yang akan berjatuhan.


Saat ini hanya jalan damailah yang Akira pikirkan, makanya ia melucuti semua senjata di markas selatan Yon Kingu di Namigakure.


Akira sudah keluar dari wilayah kediaman klan Amenoji dan baru saja keluar pintu gerbang. Ternyata Rouja masih menunggunya.


Rouja akan pulang jam 07.00, karena wakt7 jaganya sudah habis dan digantikan jounin lain. Jadi sengaja dia menunggu Akira.


"Iya. Sekalian pulang, mari tuan dokter." Rouja tidak bertanya apa-apa pada Akira terkait pemeriksaannya pada Amoki, karena itu bukan wewenangnya untuk menanyakan hal tersebut.


Akira dan Rouja berbalik arah menuju tenggara dimana wilayah kediaman klan Mashiiro berada. Warga desa mulai ramai beraktivitas, jalanan mulai padat, dalam 10 menit mereka berdua sampai di depan pintu gerbang klan Mashiiro. Pemukiman yang benar-benar sederhana, kalah jauh dengan klan Amenoji, dan tidak ada penjaga.


Anggota klan Mashiiro kebanyakan petani, sebelum klan Daikonji dibantai habis. Mereka masih cukup sejahtera karena menjual hasil panennya ke klan Daikonji, setelah tiada, hasil panen mereka ditekan oleh klan Baroi dengan harga jual murah. Mau tidak mau, mereka harus menjualnya demi memenuhi kebutuhan hidup.


Di dalam wilayah klan banyak rumah kaca yang dibangun untuk membudidayakan tanaman herbal dan sayuran berkhasiat. Tentu membuat Akira senang bukan kepalang, ia bisa membelinya pada mereka untuk membuat pil hiringu dan pil-pil lainnya.


"Pucuk dicinta, uang dan reputasi pun tiba," gumam Akira tersenyum licik. "Gunung emas menjauh, gunung berlian mendekat."


Tak sadar Akira terus berjalan dan menabrak dinding rumah kaca, padahal Rouja sudah berhenti di depan rumahnya.


"Tuan dokter, awas!" teriak Rouja.


'Tang!'


Kepala Akira membentur dinding kaca, "Maaf, maaf, tuan. Aku terlalu bersemangat melihat tanaman obat, hehehe ...." Akira menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sudah lama, dia tak seceria, sesemangat, dan segembira ini. Seakan rasa optimismenya kembali membara, disaat himpitan masalah banyak menghampirinya.