
[Selamat host mendapatkan 100 poin pengalaman dari menelan yoru akuma] x10.000.
[Selamat host mendapatkan 1.000.000 poin pengalaman dan dikalikan dua karena menyerap yoru dengan rinnegan merah]
[Selamat host telah naik level dari level jonin 2 ke jonin. Untuk naik ke level jonin 4 dibutuhkan 403,550 poin pengalaman]
Akira tidak memperdulikan pemberitahuan Ryujin, ia menutup kedua mata rinnegan merahnya. Langkah kakinya ia percepat untuk menyusul Hiyoshi dan Reina yang sudah sampai di bagian barat daya pulau, tujuan mereka bertiga adalah namigakure atau desa ombak.
Lima dewa serigala telah kembali ke pulau menara langit, pulaunya selalu berpindah-pindah tempat dimana para siluman serigala berada. Ada satu tempat lagi yang dihuni para siluman yang bisa dikontrak sebagai hewan kuchiyose selain gunung Myoboku dan gua Ryuchi, dan yang menemukan pertama kali adalah Hiyoshi Yuga bernama pulau Sukaitawa.
Hiyoshi yang masih genin dan sangat bandel, ingin belajar memanggil hewan kuchiyose. Tapi gurunya bernama Suiko Karatachi dari klan Karatachi, yang tewas dibunuh oleh Jugo Yui di perang dunia shinobi kelima, mengatakan jika ingin memanggil hewan kuchiyose membutuhkan kesepakatan gulungan kontrak antara pemanggil dan hewan pemanggil. Darah pemanggil juga dibutuhkan sebagai tanda kesepakatan perjanjian pemanggilan hewan kuchiyose.
Tapi Setelah Hiyoshi sangat nakal dan sangat takut jika darahnya dikeluarkan dari jarinya sebagai persembahan kontrak. Suatu hari Hiyoshi yang iseng, melukai salah satu serigala putih lalu mengambil sedikit darahnya, lalu merapal segel kuchiyose. Hiyoshi malah terlempar ke pulau Sukaitawa yang berisi banyak serigala, berlatih di pulau menara langit dan mendapatkan kesepakat kontrak dengan raja dewa serigala bernama Yorukami.
"Bagaimana sensei keadaan Reina? Apakah baik-baik saja? Sini biar aku periksa!" pinta Akira, raut mukanya sedikit khawatir melihat Reina sedikit lemas.
"Ti-tidak apa-apa Akira. Aku hanya lelah kehabisan banyak chakra, ini akibat aku menggunakan jutsu shoton: garuda phoenix sewaktu ujian. Di tambah lagi aku butuh asupan makanan untuk mengembalikan chakra dan staminaku," jawab Reina, pipinya memerah karena dikhawatirkan oleh Akira, sang pujaan hati.
"Lebih baik kita bergegas ke Namigakure, kita percepat langkahnya, kemungkinan kita sampai satu jam lagi di Namigakure. Dari sini perjalanan kita akan sangat cukup dekat dan siang hari kita sudah bisa sampai di Konohagakure. Aku harap staminamu masih kuat Akira."
Hiyoshi membuka gulungan peta dan menunjukan jalur laut tercepat menuju Namigakure yaitu mengikuti jalur rel kereta kaminari permukaan laut yang menghubungkan Konogakure, Namigakure, dan Kirigakure.
"Tenang saja sensei aku masih kuat, aku juga sudah membaea banyak persediaan pil chakra dan pil hiringu." Akira mengeluarkan 10 pil chakra dan memberikannya pada Reina untuk ditelan. Reina menelan sekaligus 10 pil chakra untuk memulihkan stamina dan chakranya. "Aku akan menggendongmu biar kita bertiga cepat sampai di Namigakure."
Akira berjongkok dan menyodorkan tangannya ke belakang, "Hmph!" Reina menanggukaj kepalanya dengan pipi memerah karena bisa digendong oleh Akira. "Te-terima kasih Akira."
Reina mendekap erat leher Akira yang sudah melesat jauh meninggalkan Hiyoshi, "Cih! Dasar bocah badung, kalau masalah wanita saja selalu semangat," decih Hiyoshi yang sedang mengejar Akira.
Mereka berdua berlari sangat cepat seperti adu balapan, kadang Akira menggunakan shunsin no jutsu. Hiyoshi juga tak mau kalah menggunakan jutsu kaze no suteppu untuk mempercepat langkahnya. Kecepatan mereka berdua lari tidak main-main sampai 150 km/jam di atas permukaan air laut, jarak tempuh dari pulau antah berantah ke Namigakure yang panjangnya 150 km, ditempuh hanya dalam waktu 45 menit.
"Akh, huff ... huff ... huff ... akhirnya sampai juga di dermaga Namigakure. Sensei kau kalah, sensei harus mentraktir kami berdua, jangan lupa hehehe." Akira tertawa ringan pada Hiyoshi, nafasnya sedikit terengah-engah.
"Beres, kita cari penginapan dahulu! Waktunya juga sudah malam, sudah mau jam 12 malam, kita istirahat sejenak. Ayo!" Hiyoshi melambaikan tangan ke depan, menyusuri jalanan dermaga menuju pusat kota Namigakure yang cukup sunyi di malam hari. Karena adanya rumor hantu malam yang membunuh siapapun, mereka mengincar kepala shinobi desa manapun yang berkeliaran di malam hari.
Akira berjalan perlahan sambil menggendong Reina, mengikuti langkah kaki Hiyoshi. "Sensei, sudah larut malam seperti ini, memangnya masih ada penginapan yang buka," tanya Akira yang meragukan pernyataan Hiyoshi.
[Ding]
[Terdeteksi nukenin rank A]
[Nama shinobi : Rotai
Affiliasi desa : Kumogakure
Elemen : petir
Status : wajib dibunuh
Syarat penukaran nukenin : kepala]
"Ternyata, di Namigakure juga ada nukenin," gumam Akira, "tapi upahnya sangat kecil, apa karena rank A?"
[Bukan host. Besaran upah dari sistem atau upah dari bagian pemburu nukenin di setiap desa berbeda-beda, ada beberapa kriteria yaitu seberapa bahaya tindakan kriminalnya yang telah dilakukan? Dan juga level shinobi dari nukenin tersebut. Untuk sementara level nukenin belum bisa di informasikan pada status nukenin, membutuh upgrade sistem versi 2 dan membutuhkan biaya 1 juta ryo]
[Apakah host mau upgrade sistem ke versi dua]
[Ya/Tidak]
"Tidak Ryujin, saat ini keuanganku juga menipis. Sampai kau aku surug hutang pun aku tak akan mengizinkannya."
[Ding]
[Terdeteksi nukenin rank A]
[Nama shinobi : Juwa
Affiliasi desa : Kumogakure
Elemen : petir
Status : wajib dibunuh
Syarat penukaran nukenin : kepala]
[Ding]
[Terdeteksi nukenin rank A]
[Nama shinobi : Kazui
Affiliasi desa : Kumogakure
Elemen : petir
Status : wajib dibunuh
Syarat penukaran nukenin : kepala]
[Ding]
[Terdeteksi nukenin rank A]
[Nama shinobi : Suchui
Affiliasi desa : Kumogakure
Elemen : petir
Harga buronan : 400.000
Status : wajib dibunuh
Syarat penukaran nukenin : kepala]
[Ding]
[Terdeteksi nukenin rank A]
[Nama shinobi : Barihara
Affiliasi desa : Kumogakure
Elemen : petir
Harga buronan : 200.000
Status : wajib dibunuh
Syarat penukaran nukenin : kepala]
Jalanan sangat sepi, Hiyoshi sampai di sebuah penginapan sederhana yang masih buka. "Selamat malam, nenek Gozu!" Hiyoshi masuk ke dalam penginapan lalu membungkuk hormat pada seorang nenek tua renta berumur 73 tahun. Sedangkan Akira masih berada di luar penginapan sambil menggendong Reina yang sudah tidur pulas di pundak Akira.
"Hei! Onyu, lama tak jumpa! Mari masuk-masuk. Siapa kedua bocah laki-laki tampan dan anak perempuan cantik itu? Tak baik sudah larut malam, bawa mereka masuk cepat!" balas nenek Gozu. "Bahaya di luar."
"Dia adalau muridku nenek." Hiyoshi menunjuk Akira dan Reina. "Kalian berdua cepatlah masuk, ayo! Jangan sungkan! Nenek Gezo pemilik penginapan Kumuchi ini, beliau sangat ramah dan baik."
"Hmph!" Akira menganggukan kepala, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam penginapan. Tapi perasaan Akira tidak enak, seperti ada yang memperhatikan mereka bertiga.