DARKNESS TO ENLIGHTMENT

DARKNESS TO ENLIGHTMENT
SS 65 - Ujian Babak Penyisihan Bagian 2



Boof!


"Hahahaha! Kawarimi no jutsu!" Renji tertawa terbahak-bahak, lalu mengepul jadi asap. Rantai abu baja beraura emas itu mengikat sebuah tongkat besi hitam sepanjang 3 meter yang tertancap di permukaan arena dengan ujung tongkat dilapisi tanah berbentuk palu.


Renji yang sedang berada di udara, merapal segel tangan dan langsung meluncur untuk menghentakan kedua telapak tangannya ke permukaam arena. "Doton: Ganchuuso!" muncul duri-duri tanah raksasa dan berhasil menusuk 10 bunshin Azura.


Jleb!


Jleb!


Boof!


Boof!


Rantai beraura abu-abu baja beraura emas juga ikut menghilang, hanya tersisa 6 rantai di tubub Azura yang asli. Renji berlari cepat untuk mengambil tongkat hitam miliknya yang sudah diselimuti bebatuan coklat berbentuk palu.


Renji melompat dan menghantamkan tongkat palu tanah itu ke kepala Azura, mata sharingannya sudah memprediksi gerakan Renji. "Kongo fusa fuin: Shi no megami dansu!" Azura dengan keyakinan penuh menautkan tangan, rantai abu-abu baja beraura emas berubah menjadi aura merah kehitaman dengan bilah tombak yang sangat tajam.


Shua!


Krak!


Brug!


Krecik!


Bebatuan coklat yang berbentuk palu di ujung tongkat hitam milik Renji itu hancur dan salah satu rantai mengikat tongkat hitam serta pinggul Renji yang masih melayang di udara. "Selama keyakinan Akira masih di dalam dadaku, aku yakin bisa mengalahkanmu. Meskipun kau sangat kuat, haaa!" teriak Azura dengan sorot mata yang tajam.


Shua!


Jleb!


Azura mengendalikan salah satu rantai yang menjerat tongkat hitam lalu rantai itu melempar kuat-kuat tongkat hitam hingga menancap ke dinding arena. Azura mengendalikan kelima rantai itu, dan langsung mengikat leher, kedua lengan, dan kedua kaki Renji hingga melayang serta terkunci.


"Haaa!" Renji berteriak menegangkan seluruh tubuhnya agar memutuskan rantai-rantai itu. Tapi semakin lama ia memberontak semakin cepat chakra dalam tubuhnya terkuras bahkan staminya juga, "Huff ... huff ... huff ... a-aku me-menyerah, le-lepaskan a-aku ... huff ... huff ... huff ...," kata Renji dengan nafas terengah-engah.


Azura menurunkan Renji dan melepaskan ikatan rantainya, "Pemenangnya Azura!" teriak Aichi dengan berapi-api mengumumkan hasil pertandingan yang ketiga.


Azura menaiki tangga lalu menyandarkan badannya ke dinding pembatas besi. "Kerja bagus, Azura," puji Akira dengan tersenyum dan sambil mengelus lembut rambut Azura. "Aku harap kamu bisa mempertahankan keyakinan itu dalam hatimu. Jika kamu merasa sendiri ada kami yang siap menemanimu."


"Terima kasih Akira, Reina. Aku sudah tak sendiri lagi." Azura memeluk Reina yang berada di samping Akira, cairan bening menetes di kelopak matanya. "Setelah ujian ini selesai, aku ingin ikut kalian kemana saja dan meninggalkan Konohagakure."


"Tentu, tapi aku juga sudah punya rencana akan tinggal di Otsugakure dan menetap disana. Disana banyak sumber daya makanan, tanaman herbal, dan juga batu logam yang bisa di olah menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Akira menyeka cairan bening di sudut kelopak mata Azura.


"Aku tidak keberatan," kata Reina dan Azura serentak.


"Aku hanya yatim piatu dan memutuskan untuk pensiun dini dari militer Kirigakure. Aku juga dibantu paman Hizuga dan paman Shinichi untuk membangun rumah disana serta bisnis disana," balas Akira tersenyum hangat, merasa mereka berdua adalah anak yatim yang masih perlu kasih sayang. "Aku janji akan menciptakan dunia yang penuh keadilan."


Tringtingting!


Tringtingting!


Tringtingting!


Layar monitor mulai mengacak lagi nama peserta, "Akimichi Kouchuo melawan Tebari Kurogane!" teriak Aichi mengumumkan hasil undian acak layar monitor. "Mulai!"


Koucho dan Tebari yang sama-sama satu tim di tim 33 Konohagare turun dari tangga bersamaan menuju arena yang berada di bawah. Mereka berdua meninju telapak tanganya, lalu masing-masing menunduk hormat.


"Kouchuo, aku tak sangka akan melawanmu dalam babak penyisihan ini. Jangan menahan diri, aku tak akam menahan diri padamu," kata Tebari tersenyum tipis, dia membawa katana bersarung merah dan gagang pedang merah, lebih tepatnya samurai bukan shinobi karena cucu dari Tsubaki Kurogane. Rambutnya hitam lurus diikat ke belakang, kulitnya putih pucat dengan sklera mata kemerahan dan pupil hitam kemerahan.


"Cih, aku tak akan sungkan. Baika no jutsu!" Tubuh Kouchuo membesar setinggi 5 meter, lalu berubah menjadi bola yang berputar cepat. "Nikudan sensha!"


Shua!


Boom!


Tebari menghindari serangan Kouchou dengan melesat ke arah kiri, tubuh Kouchou yang berubah menjadi bola yang berputar menabrak dinding pembatas arena hingga retak. "Hiken: Renzoku hitto!" Tebari melesat ke arah Kouchou yang berputar balik ke arahnya.


Trang!


Trang!


Trang!


Tebari menebas tubuh Kouchou yang berputar secara cepat hingga mengeluarkan percikan api di sekujur badan mereka berdua. "Hiken: Arashi nami surasshu!" Tebari yang terus beradu dengan Kouchou, mengalirkan chakra ke pedangnya dan bilah katana itu terselimuti aura merah, lalu ditebas secara vertikal dari atas ke bawah.


Slash!


Swush!


Boom!


Muncul siluet berwarna merah berbentuk dinding tipis memanjang sampai ke dinding pembatas arena. Tubuh Kouchou yang berputar secara cepat terdorong dan menabrak dinding pembatas arena untuk kedua kalinya. Semua tim shinobi yang berada di atas dinding pembatas melompat karena takut terkena tebasan Tebari.


"Menarik, seorang ahli pedang yang hebat," puji Akira tersenyum tipis dan menatap lekat Tebari. "Aku harap, aku bisa bertarung dengannya, darahku sudah mendidih."


"Aku baru pertama kali melihat Tebari seserius ini. Aku juga ingin melawannya," gumam Uchiha Sashiki tersenyum licik, dan penuh hasrat.


Kouchou masih bisa berdiri meski terkena tebasan yang sangat kuat, "Sudah kuduga, hanya kau yang mampu menahan serangan terkuatku, hehehe ... tapi aku masih punya serangan pamungkas," kata Tebari tertawa ringan lalu melesat ke arah Kouchou yang sudah berdiri.


"Bubun baika no jutsu!" Kouchou memperbesar kedua lengannya. Lalu memukul ke arah Tebari sangat cepat dan beruntun seperti peluru. "Ninpo: Gatoringu gun!"


Shua!


Shua!


Duar!


Tebari terus menghindari serangan pukulan Kouchou dengan berlari ke arah kiri. Pukulan-pukulan itu tak mampu mengenai Tebari yang bergerak begitu cepat. Kouchou mengangkat kedua tangannya dan menghantam Tebari seperti palu menghantam paku.


Shua!


Boom!


Tebari berguling ke arah kanan, lagi-lagi Kouchou melakukan pukulan cepat beruntun ke arah kanan. Tebari pun bergerak cepat dan berlari ke arah kanan untuk menghindari pukulan beruntun cepat Kouchou.


Shua!


Shua!


Duar!


"Akan aku akhiri!" Tebari melompat tinggi lalu mengayunkan pedangnya secara vertikal dari atas ke bawah. "Hiken: Shi no nami!"


Swush!


Shua!


Boom!


Bilah katana Tebari sudah diselimuti aura biru kehitaman, menebas secara vertikal sasarannya adalah bagian kepala Kouchou. Siluet bulan sabit yang sangat besar dengan panjang 20 meter melesat ke arah Kouchou,dan mengantamnya, hingga terpental menabrak dinding pembatas arena hingga hancur luluh lantak.