
"Oh, seperti itu. Terima kasih Ryujin."
Akira sedang berada di kamar apartemennya, hari ini adalah ujian genin khusus untuk Aina. Akira membersihkan diri, lalu memakai kaos merah dengan lambang bulat di dalamnya gambar kepala naga pada punggungnya. Lalu keluar, ternyata Aina sudah berada di depan kamarnya menunggu Akira keluar.
"Selamat pagi Akira!" sapa Aina sambil tersenyum. "Kita sarapan pagi dulu, aku sudah memasak untuk kita makan berdua."
Akira yang sudah lapar langsung masuk kamar Aina tanpa malu-malu, lalu menyantap hidangan yang sudah disediakan Aina.
"Nyam ... nyam ... nyam ... hmmmm sangat enak. Aina masakanmu sangat enak, aku sangat menyukainya," puji Akira tulus.
"Te-terima kasih Akira," balas Aina, pipinya memerah sambil menuangkan nasi dimangkuknya. Kemudian Aina makan sambil terus menapat penuh cinta pada Akira, laki-laki yang telah menyelamatkan dan siap menanggung kehidupannya bak tanggung jawab seorang suami, setelah Hiro tewas dibunuh Chojuro dan Kagura.
Mereka berdua makan sangat lahap, seperti sepasang kekasih. Hizuga kini tinggal bersama Shinichi dan menjadi tanggung jawab Shinichi, sekaligus menjadi jalan pertaubatannya.
Aina memakai celana putih dengan ujung berwarna pink selutut, dan memakai tank top putih dengan ujung ping serta ditutupi kimono pink dengan hambar lotus kristal putih di punggungnya.
Akira dan Aina sudah sampai di halaman akademi, Hachibiki, Shinku, Mizukage Kagura, Mizukage Chojuro dan Hiyoshi sebagai tim penilai. Yazihiko masih di dalam penjara, Akira berencana mengeluarkan Yazihiko dari dalam penjara, tapi harus mengumpulkan uang jaminan 100.000 ryo.
"Baik, hari ini adalah tes ujian genin khusus kali kedua yang akan dilaksanakan oleh Kirigakure dengan peserta Akiara Reina," kata Shinku mengawali pengumuman.
Hiyoshi dalam penyelidikan di bekas reruntuhan klan Yuki, menemukan fakta jika Aina nama aslinya adalah Akiara Reina dari klan Akiara. Klan yang memiliki kutukan tato lotus kristal, bisa menggunakan kekkai genkai elemen es, elemen kristal dan elemen debu jika mencapai tahap kutukan bentuk ketiga. Bentuk pertama, kelopak bunga lotus yang tercetak di dahi penggunanya ada 3, bentuk kedua ada 6 kelopak, dan terakhir 9 kelopak bunga kristal. Reina sendiri sudah memiliki 9 kelopak di usianya yang masih 5 tahun.
Setelah Reina bebas, Akira langsung melatihnya langsung dengan berbagai latihan ekstrem. Alhasil Reina meningkat pesat kekuatannya dari genin 9 menjadi chunin 9.
Reina meninju telapak tangannya, lalu membungkuk hormat pada semua pengawas. "Ujian pertama jutsu perubahan, ujian kedua melempar shuriken, ujian ketiga buat bunshin, ujian keempat tes elemen, ujian kelima hancurkan 1000 boneka jerami dalam waktu 15 menit!" jelas Hachibiki. "Silahkan dimulai!"
Keempat pengawas yaitu Rokudaime Mizukage Chojuro, Nanadaime Mizukage Kagura, Shinku, dan Hachibiki memperhatikan Reina secara seksama dengan sorot mata yang tajam. Sedangkan Akira dan Hiyoshi berdiri di paling kanan, keempat pengawas yang sedang duduk pada kursi.
Reina merapal segel tangan, "Henge no jutsu!" Reina berubah menjadi dirinya sendiri versi dewasa, dengan rambut merah muda lurus panjang, tapi fashion pakaiannya tetap sama.
Boof!
Boof!
"Woaaah! Sangat cantik!" gumam Akira memuji kecantikan Reina dengan mata berbinar-binar, cairan merah keluar dari kedua hidungnya tanpa ia sadari. "Baru kali ini aku melihat sang dewi, jika besar nanti aku akan menikahi Aina, eh Reina."
Bletak!
"Menikah, menikah!" Hiyoshi memberikan pukulan pada kepala Akira, lalu diputar-putar tangan Hiyoshi hingga mengeluarkan kepulan asap di kepala Akira sampai memerah. "Masih kecil, ingat kamu harus fokus ujian chunin khusus 10 hari lagi di Konoha."
"Aw, aw, aw! Sakit sensei. Tenang saja aku pasti lulus, jika adu kekuatan aku jagonya, semua peserta akan aku bantai habis, hehehe." Akira menggosok-gosok kepalanya yang sakit, lalu tertawa ringan pada Hiyoshi.
"Kai!" Reina menonaktifkan jutsu perubahan, lalu bersiap melempar shuriken pada target sasaran yang sudah ditentukan. "Shuriken no jutsu!" Reina melempar shuriken satu persatu, total 10 shuriken yang harus mengenai target sscara tepat.
Shua!
Shua!
Deb!
Deb!
"Shoton: Suisho Kyo!" Reina membuat cermin kristal besar, "Suisho Bunshin no Jutsu!"
Sriing!
Dari dalam cermin kristal besar, muncul bunshin Reina dewasa satu persatu, totalnya ada 10 bayangan yang keluar dari cermin kristal besar. Keempat pengawas sudah menentukan nilai setiap ujian, tinggal dua tahap ujian lagi untuk Reina.
"Kamu payah Akira, bunshin yang dibuat oleh Reina lebih banyak, daripada dirimu sewaktu ujian, hmph!" ledek Hiyoshi sambil menghembuskan nafas yang keras pada telinga Akira.
"Biarkan, hmph! Yang penting aku menjadi pahlawan desa. Coba kalau aku telat sedetil saja, apa jadinya desa Kirigakure, bleee!" Akira membalas ledekan Hiyoshi dengan menjulurkan lidahnya. "Daripada sensei pingsan kehabisan chakra, hahaha!"
Bletak!
"Anak bodoh, berani menghina senseimu sendiri!" Hiyoshi kembali memukul kepala Akira, karena kesal pada Akira. "Sudahlah, kita fokus saja melihat Reina. Semoga dia lulus, dan bisa melewati nilaimu Akira, hahahaha!"
"Sssst! Ujian sedang berlangsung, jangan berisik!" Nanadaime Mizukage Kagura menaruh jari telunjuk pada tengah bibirnya, tatapan matanya sangat tajam menatap Akira dan Hiyoshi. "Kalau berisik terus, aku potong gaji kalian berdua!"
"Janganlah Mizukage sama, aku punya banyak hutang di restoran Borotsuki, sudah tiga bulan nunggak, hehehehe." Hiyoshi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Doton: doryuuheki! Suiton: Takitsubo no Jutsu!" Reina merapal segel tangan sangat cepat, lalu menghentakan kedua tangannya ke tanah. Muncul dinding tanah setinggi 10 meter, lalu melompat ke bagian atas dinding dan kembali menghentakan kedua telapak tangannya ke permukaan dinding tanah, untuk memunculkan air terjun.
Grag!
Byur!
Zrash!
Reina kembali merapal segel tangan, "Fuuton: Atsugai!" lalu menembakan tekanan angin yanga sangat kuat dari mulutnya ke atas udara.
Swush!
Shua!
Sruuug!
Setelah menembakan angin bertekanan tinggi, Reina backflip ke depan untuk turun di depan air terjun lalu merapal segel tangan. "Katon: gouryuuka no Jutsu!" Reina menembakan naga api raksasa secara beruntun ke arah air terjun.
Swush!
Boom!
Pssh!
Semua airnya langsung mengering, dinding tanah juga berhasil dijebol. "Apa?!" keempat pengawas membulatkan mata. "Bagaimana mungkin?!"
"Ya mungkin sajalah! Aku sendiri yang melatih Reina, jadi ya Akira! Hmph!" Akira mengelus hidungnya dengan jempol, membanggakan dirinya sendiri. "Tapi masih hebat akulah, aku bisa lima elemen, hehehehe."
"Diam!" Rokudaime Mizukage Chojuro, Nanadaime Mizukage Kagura, Shinku, dan Hachibiki berteriak serentak dengan kepalanya menoleh pada Akira. "Kami tak membutuhkan penjelasanmu!"
"Haa! Begini nasib anak tiri!" Akira menangis tapi hanya berteriak, dengan jongkok dan menundukan wajahnya di samping meja pengawas. "Nasib pahlawan tersingkirkan, hmph!"