DARKNESS TO ENLIGHTMENT

DARKNESS TO ENLIGHTMENT
SS 151 Bocah Bodoh



"Shua ...!" Saito dan Liu melesat cepat ke arah Maru, tatapan mereka sangat tajam, Maru tak gentar dengan mereka berdua sama sekali, nampak dari raut bibirnya yang tersenyum tipis.


Mereka berdua memutari Maru, jarak dari tempatnya berdiri hanya dua puluh langkah. "Apa yang kalian lakukan? Cepatlah kalau mau menyerangku, tak perlu basa basi!" Maru menepuk-nepuk dadanya dengan penuh percaya diri untuk memprovokasi mereka berdua.


"Katon: Goukakyu no jutsu!" Dari arah kanan Maru, Saito merapal segel tangan dan menembakan bola api yang sangat besar berdiameter 10 meter.


"Fuuton: Atsugai!" Dari arah kiri Maru, Liu merapal segel tangan dan menembakan angin bertekanan tinggi dari mulutnya.


"Senpou: Myoujinmon!" Maru merapal segel tangan, lalu menangkupkannya. Muncul 4 pilar gerbang berwarna emas dari langit, jika Hashirama berwarna merah maka Maru berwarna emas. 4 pilar gerbang mengelilingi tubuh Maru dari 4 arah.


"Boom ...!" Angin bertekanan tinggi dan bola api yang sangat besar menghantam dua pilar yang berada di kiri dan kanan tubuh Maru.


Kepulan asap dan debu menghalangi pandangan, Saito yang bisa melihat Maru masih tegak berdiri sedia kala melalui persepsi sharingan yang melihat aliran chakra Maru tetap tenang, menaikan alisnya. "Tidak mungkin?! Kapan si sampah itu tiba-tiba bisa kuat," gumamnya.


"Huff ... huff ... huff ...." Nafas Akira tak beraturan dan berlutut satu kaki di dahan pohon, memperhatikan mereka bertiga, raut wajahnya agak pucat. "Sial, padahal aku hanya mentransfer jutsu mokuton ke pikiran Maru. Ternyata chakraku yang baru aku pulihkan langsung habis, sebenarnya berapa banyak chakraku yang asli tanpa chakra Enenra, sial!"


"Apakah hanya segitu kemampuan kalian, hahahaha ...!" Maru berteriak keras dari balik kepulan asap. Kemudian melanjutkan dengan menyeringai tajam dan merapal segel tangan, "Sekarang giliranku! Mokuton: Mokusatsu shibari no jutsu!"


Kepulan debu dan asap mereda, Liu serta Saito tetap waspada. Tampak Maru sudah menangkupkan tangan lalu direntangkan ke arah Liu dan Saito. Dari kedua tangannya keluar sulur kayu yang memanjang ke arah Liu dan Saito, sulur kayu itu bergerak sangat cepat untuk menjerat mereka berdua.


Saito menarik wakizashi dari punggungnya dan Liu menari kunai dari tas pinggangnya. Mereka berdua menghindar dengan melompat mundur dan menebas sulur-sulura kayu itu dengan senjata mereka.


Maru tersenyum licik, sulur-sulur kayu itu terus bergerak mengejar mereka berdua. "Hahahaha ... larilah sejauh mungkin. Jutsuku akan terus mengejar kalian berdua, hahaha ...." Maru terus mengkonstrasikan sulur-sulur kayu itu agar terus bergerak sambil tertawa jahat.


"Slash ...!" Liu dan Saito terus menebas sulur-sulur tersebut, sambil terus melompat mundur. "Katon: Hosenka no jutsu!" Saito merapal segel tangan, lalu menembakan ratusan bola-bola kecil ke arah sulur untuk membakarnya.


"Duar ...!" Bola-bola kecil itu beruntun menghantam sulur-sulur kayu yang mengejar Saito. Disaat Liu terdesak dan lengah, jaraknya 50 meter dari Maru, dia melepaskan sulur kayu yang keluar dari telapak tangannya dan merapal segel tangan, "Mokuton: Jubaku Eiso!" teriak Maru.


Dari belakang tubuh Liu muncul pohon besar dari permukaan tanah, sulur kayu berhasil menangkapnya dan dari pohon besar di belakang Liu juga keluar sulur yang mengikat tubuhnya.


"Aaaakh!" Tubuh Liu berontak, namun sukur yang mengikat tubuhnya sangat kuat. "Lepaskan aku, lepaskan, bangs4t!"


"Zrash ...!" Tubuh Liu hancur menjadi bubur darah tanpa jeritan terakhir keluar dari mulutnya. Saito langsung pucat pasi wajahnya, tubuhnya bergetar merasakan ketakutan akan kematian dan sangat dalam.


Akira yang menyandarkan tubuhnya pada dahan pohon sambil berlutut satu kaki, menepuk jidatnya sendiri, "Benar-benar ceroboh Maru. Kalau begini bisa memicu perang saudara di Konohagakure," gumamnya.


Saito segera berlari kabur ke arah pintu keluar training field, jaraknya cukup jauh 2 km dari perbatasan hutan kematian. "Takan kubiarkan!" Tubuh Maru berkedip menggunakan shunsin no jutsu, hilang dari tempatnya berdiri dan melesat cepat ke arah Saito. "Konoha daisenko!"


"Bam ...!" Maru berhasil menendang dada Saito hingga mementalkannya, menabrak pagar besi pembatas hutan kematian.


"Guhak!" Saito memuntahkan banyak darah dari mulutnya, tulang rusuk Saito hancur, tangannya memegangi dada dengan raut wajah meringis kesakitan. "Huff ... huff ... huff ... a-aku ha-harus memanggil bala ban-bantuan!"


Saito mengambil suar di tas pinggangnya, ia acungkan ke atas. Namun sebelum suar itu ditembakan ke udara, leher Saito sudah tercekik oleh sulur kayu yang keluar dari pohon di belakang tubuhnya dan membuatnya terpisah dari badan tanpa bisa menjerit.


Tanpa basa-basi, Maru mengambil kedua bola mata sharingan dari kelopak mata Saito dan menaruhnya ke dalam toples kecil berisikan cairan formalin. "Hahaha .... Eneru sama! Ini adalah bukti kalau aku Senju Maru telah membunuh salah satu orang telah membuatku sakit selama aku hidup, hahahaha ....!" Maru mengacungkan toples tersebut ke atas sambil tertawa jahat.


Toples berisikan cairan formalin itu memang sudah ia siapkan, semenjak ia menaruh dendam pada Saito dan beberapa anggota klan Uchiha yang sering merundungnya. Jika suatu saat nanti Maru berhasil membunuh salah satu dari mereka.


"Bletak ...!" Akira muncul dari belakang dengan berkedip dan memukul kepala Maru. "Dasar bodoh! Kamu telah berbuat keterlaluan! Kamu bisa memicu perang saudara tiga klan di Konohagakure!" teriak Akira di telinga kanan Maru. Kemudian melanjutkan dengan nada berapi-api, "Apa yang akan kau lakukan dengan mata sharingan itu?! Bocah bodoh! Mau kau transplantasikan mata sharingan itu ke matamu, hah?!"


"Aha!" Maru yang mendengar teriakan Akira, malah seolah tidak terjadi apa-apa dan menjentikan jarinya. Senyuman puas terpampang di raut wajahnya, "Ide bagus Akira sama. Mohon bantuannya!"


Akira menepuk jidatnya sendiri, lalu menepuk-nepuk mulutnya, "Dasar mulut salah! Mulut salah! Mulut salah!" katanya menyeringai kesal. "Huff ... huff ... huff ... cepat bawa aku pulang!"


"Siap, Eneru sama!" Tanpa basa-basi Maru menggendong tubuh Akira yang sangat lelah, karena kehabisan chakra dan berlari ke arah pintu keluar training field.


"Mulai sekarang, panggil aku Akira. Aku akan memasukanmu ke anggota inti organisasiku dan memberimu kekuatan lagi. Apakah kau mau, Maru?" lirih Akira di telinga kiri Maru yang terus berlari cepat ke arah pintu keluar training field.


"Tentu, Akira sama." Maru mengangguk pelan. "Lagipula aku memang membutuhkan kekuatan, aku juga ingin mengaktifkan mata sharingan itu menjadi rinnegan."


"Tidak semudah itu bocah bodoh!" teriak Akira yang lama-lama kesal pada Maru yang meminta hal yang sulit untuk dilakukan. "Aku saja yang mempunyai sharingan belum tentu bisa mengaktifkan rinnegan!"