
"Huff ... huff ... huff ..." Shiina menyeka peluh didahinya, nafasnya juga tak beraturan.
Raut wajahnya begitu cerah dengan bibir merah merekah, pupil mata coklan dan kulit sebening embun, rambutnya yang lurus, berwarna kuning pudar menambah kesan gadis yang cantik dan elegan pada Shiina. "Te-terima kasih tuan dokter," imbuhnya dengan nada canggung.
Ikku langsung memeluk Shiina, dengan menitikan air mata, begitu juga Rouja.
"Tuan, bolehkan ambilkan beberapa daun Ashitaba dan daun puranasaoru masing-masing 10 lembar. Aku akan membuat pil hiringu dan pil chakra untuk memulihkan kesehatan serta stamina nona Shiina," pinta Akira yang berlutut satu kaki dan menautkan tangan. "Ryuton: Saibo no kasseijutsu!"
Swuung!
Akira menyembuhkan dirinya sendiri dan pulih dalam satu hembusan nafas. Dalam keadaan mata terpejam, Rinnegan dan Tenseigan ia non-aktifkan.
"Jangan panggil nona, tuan dokter. Shiina saja," pinta Shiina menunduk hormat dengan kedua pipi memerah.
"Hmm ... baik, tuan dokter."
Rouja mengangguk, dan keluar menuju rumah kacanya. Kebetulan memang hari ini saatnya memanen wortel kyuryuu, dan beberapa jenis tanaman herbal.
Akira tidak memperdulikan permintaan Shiina, hanya tersenyum tipis ke arahnya. Agar tak membuatnya kecewa lalu keluar dari kamar Shiina.
Ikku segera ke dapur dan membuatkan teh serta menghidangkan makanan yang ada di dapur. Sebelum Rouja tiba, Ikku memasak sayur-sayuran, itu adalah menu masakan hari-hari mereka. Hubungan keluarga Ikku dan Shiina terjalin cukup lama dan sangat erat, seperti saudara kandung sendiri.
'Gruyuuk!'
Perut Akira berbunyi keras, ia lupa sedari pagi belum mengisi perutnya sama sekali. "He-he-he, perutku lapar juga. Mungkin setelah ini selesai, aku akan menuju restoran, untuk makan," gumamnya sambil tertawa ringan.
Akira yang sedang duduk seiza, dikejutkan oleh Ikku yang membawa banyak makanan yang terbuat dari sayur-sayuran hasil dari perkebunan rumah kaca keluarga Ikku. Kemudian dihidangkan di meja Akira.
"Silahkan, tuan dokter. Hidangan sederhananya dinikmati, semoga tuan dokter menyukainya. Aku jamin masakanku enak, hehehe ...." Ikku tertawa ringan dan penuh percaya diri.
Seperti naga yang menemukan mangsanya, tanpa basa-basi, Akira melahap makanan tersebut. Akira yang kalap makan, dalam 300 hembusan nafas hidangan dengan total 10 piring tersebut ludes tak tersisa.
"Terima kasih atas jamuannya. Maaf kalau merepotkan," kata Akira menunduk hormat dengan tersenyum puas.
"Haah?!" Ikku menjatuhkan rahang, dan mengernyit tidak percaya, sang dokter tampan ternyata doyan makan. "Mantap."
Rouja kembali masuk dengan membawa ranjang kayu berisi 10 daun Ashitaba dan 10 daun Puranasaoru. Lalu memberikannya pada Akira, "Ini tuan."
"Terima kasih, Rouja sama." Akira menerima ranjang kayu tersebut dengan menunduk hormat.
"Jangan panggil aku tuan, tuan dokter," sergah Rouja yang merasa tak enak hati, dan merasa minder dipanggil tuan oleh Akira sang dokter ajaib.
Lagi-lagi Akira hanya tersenyum tipis. Kemudian membentuk raikoha dengan putaran pelan yang disatukan dengan chakra senjutsu.
Satu persatu daun-daun tersebut dimasukan ke dalam putaran raikoha untuk dibersihkan dari residu baik berupa racun dan hawa negatif.
"Aku harus berterima kasih banyak pada Denji. Berkatnya aku bisa menemukan formulasi yang sangat tepat dalam meramu pil," gumam Akira tersenyum puas.
Ikku dan Rouja hanya memperhatikan dengan melebarkan mata, mulutnya menganga. Baru kali ini dan pertama kalinya melihat seorang dokter ajaib meramu pil dengan cara extra ordinary, dari ninja medis atau dokter lainnya.
Di telunjuk kanannya terbentuk api putih futton (elemen uap), bola air kecil yang menyelimuti daun-daun tersebut melayang dan bergerak ke arah api putih. Jarak perebusan dengan bola api putih berdiameter 2 cm tersebut adalah 10 cm.
Daun-daun tersebut meleleh menyatu dengan bola air dan merubah warnanya, daun Ashitaba merubah bola air berwarna hijau, dan daun Puranasaoru berwarna biru.
Untuk proses terakhir, bola air yang sudah tercampur ekstraksi daun Ashitaba dan daun Puranasaoru. Akira bakar dan dikristalisasi dengan api hijau Hiriton yang sudah dikombinasikan dengan chakra Enenra.
Satu persatu pil tersebut terbentuk dengan harum yang sangat wangi, warnanya biru terang untuk pil chakra dan hijau terang untuk pil hiringu. Air liur Rouja dan Ikku menetes tak terasa, karena bernafsu dengan pil buatan Akira.
"Hei!" panggil Akira membuyarkan nafsu mereka yang sesaat tak bisa dibendung.
"Tuan dokter, ngomong-ngomong itu pil efektifitasnya berapa persen?" tanya Rouja dengan tatapan penuh minat dan menyeka air liur yang membasahi kedua sudut bibirnya.
"100%," jawab singkat Akira dengan raut muka datar, karena baginya membuat pil dengan berbagai metode hasilnya tetap sama 100%.
"Apa?! Ti-tidak mungkin, 100%? Tuan dokter tidak bercanda kan?!" Rouja dan Ikku bergetar kedua tangannya, matanya membelalak seolah tak percaya dengan pernyataan Akira. Tapi dari baunya saja, mereka sudah tahu pil itu adalah pil ajaib.
Akira segera mengamankan pil tersebut dengan jutsu Satsujin elemen angin terkompresi tapi dengan putaran sangat pelan. Supaya bau pilnya tidak menyebar keluar, jika terjadi pasti akan merepotkannya.
'Boof! Boof! Boof!'
100 kage bunshin Akira menjadi kepulan asap, sudah selesai mengobati semua anggota klan Mashiro dari virus Kitana.
"Mohon, bawa nona Shiina kemari, tuan Rouja," pinta Akira tersenyum hangat.
[Selamat host mendapatkan 100 poin chakra karena menggunakan salah jutsu katon. Poin chakra dikalikan dua, karena memakai setelan baju elemen]x2.
[Selamat host mendapatkan 100 poin chakra karena menggunakan salah jutsu suiton. Poin chakra dikalikan dua, karena memakai setelan baju elemen]
[Selamat host mendapatkan 100 poin chakra karena menggunakan salah jutsu futon. Poin chakra dikalikan dua, karena memakai setelan baju elemen]
Shiina yang merasa jauh lebih baik, berjalan beriringan dengan Rouja dengan tersenyum ceria. Akhirnya penyakit yang menggerogoti bahkan membunuh ibunya telah lenyap. Shiina bisa beraktifitas kembali sebagai chunin Kumogakure.
Shiina duduk di samping Ikku, Akira memberikan satu pil hiringu dan pil chakra pada Shiina. Tanpa sungkan Shiina menelan keduanya, dan dalam satu hembusan nafas kesehatan serta stamina Shiina langsung prima. Terlebih lagi levelnya naik 11 level dari chunin 9 ke Anbunin 1.
'Boof! Boof! Boof!'
Rentetan suara ledakan di dalam wadah chakranya yang cukup keras terdengar. Wadah chakranya membesar setara satu danau seluas 50 km.
Ikku yang sebelumnya di level yang sama dengan Shiina, kini tak dapat melihat level Shiina. Rouja melebarkan mata, putrinya bisa naik level sangat drastis bahkan satu tahap lagi menyusulnya di level Sannin 1.
"Tuan Rouja, aku punya satu permintaan," pinta Akira tersenyum hangat dengan tatapan tajam, menimbulkan sopan tapi serius.
"Apapun aku akan berikan pada tuan dokter, katakan saja!" Raut wajah Rouja sumringah, karena Shiina sudah sembuh total dan pasrah dengan apapun permintaan Akira, karena ia sudah berjanji.
"Aku ingin membeli semua tanaman dan sayur-sayuran paman. Tapi paman bisakah membantu temanku, untuk menjualkan ikan? Aku juga ingin menyewa ruko tuan Rouja yang berada di tengah kota, untuk jualan ikan dan membuka praktek dokter disana," pinta Akira serius.