DARKNESS TO ENLIGHTMENT

DARKNESS TO ENLIGHTMENT
New Chapter 124 Sandiwara Menebar Teror



Boof!


Kawat tajam hanya memotong sebongkah kayu, Kishima sudah berubah menjadi bongkahan kayu menggunakan kawarimi no jutsu.


Akira yang melihat melalui mata byakugannya terkekeh, "Hehehe, jutsu yang menipu." Badannya ia tengadahkan di dahan pohon besar dengan tubuh sangat rileks.


Kishima sudah berada di udara mengangkat senjata Hachiryuu berbentuk naginata, tatapan matanya lurus ke depan dengan sorot tajam.


Boom!


Bilah Hachiryuu menyentuh permukaan tanah, 10 jounin elite Namigakure terpental dan menabrak pepohonan.


Brak!


Kelabang tanah liat langsung keluar dari balik pohon dan melilit kesepuluh jounin elit yang sudah tak berdaya, sudut mulutnya penuh cairan merah.


"Le-lepaskan!"


Teriakan itu hanya seperti suara semut tak mampu didengar oleh Mishima yang menggerakan bom C2 berbentuk 10 kelabang tanah liat. Tangan kirinya membentuk segel pelepasan, Kishima melompat dan menjauh lusinan meter.


"Katsu!"


Boom!


10 jounin elite Namigakure tubuhnya hancur menjadi bubur darah, kepulan asap berwarna merah terbuat dari 10 tubuh jounin elite Namigakure menghalangi pandangan.


Boof!


Kishima kembali menyimpan hachiryuu ke dalam gulungan kyuri no akuma, Hachiryuu menjadi kepulan asap. 87 jounin elite Namigakure yang melingkar dalam radius 500 meter, berlari ke arah ledakan untuk mempersempit gerak-gerik Mishima dan Kishima.


Namikage Ouja terus menatap cemas, sudah 15 jounin elite Namigakure, Mishima dan Kishima tumbangkan dengan mudah. Hati dan pikirannya bercampur aduk, jangan-jangan ia memang menjerumuskan 102 jounin elite Namigakure untuk bunuh diri.


Mishima terbang agak meninggi, dari 100 meter dari permukaan tanah menjadi 150 meter. Nampak 87 jounin elite Namigakure sedang bergerak ke arah Kishima untuk mengepungnya, suara 'srak' terdengar dari telingan Mishima yang sangat sensitif bisa mendengar suara hingga radius 200 meter.


Ribuan bom tanah liat berbentuk laba-laba kecil dijatuhkan, naga tanah liat Kishima tuntun untuk menjatuhkan dalam radius area 100 meter.


Boom!


Suara ledakan, kepulan asap, dan siluet bola menyala terang, terlihat di berbagai belahan hutan perbatasan yang dijatuhi bom tanah liat oleh Mishima.


Suara pekikan jounin elite Namigakure terdengar sangat keras dalam radius 100 meter, 60 jounin elite terluka parah, dengan tangan dan kaki hancur terkena ledakan.


Kishima berdiri di puncak salah satu pohon besar, kakinya hanya menginjak salah satu daun berbentuk lima jari selebar 10 cm, daun itu pun tak bergeming ketika mendapatkan tekanan dari kedua kaki Kishima yang seperti kapas.


Kishima dirasuki sadistic, kedua bibirnya disapu oleh lidahnya yang menjulur panjang, tatapan matanya bagai tatapan mata pembunuh yang sadis. Kedua belati ganda rokuryuu sudah ia pegang di tangan kanan dan kirinya. Tubuhnya ia jatuhkan ke permukaan tanah, begitu mau menyentuh permukaan tanah, jutsu raiton no yoroi ia aktifkan dan melesat sangat cepat seperti memijak angin.


Slash!


60 kepala jounin elite Namigakure yang terluka parah beterbangan satu persatu, cairan merah menyembur deras dari leher mereka membasahi dedaunan, batang pohon dan juga tubuh tanpa kepala.


Mental 27 jounin elite Namigakure dan Namikage Ouja langsung jatuh, seperti tertimpa dua gunung kembar yang sangat besar. Kaki mereka bergetar hebat, keringat dingin membasahi setiap tengkuk mereka, rona wajah yang pucat pasi dengan manik mata yang membulat.


"Ampuni kami!"


Itulah kata terakhir yang terdengar sebelum bilah belati ganda Kishima menyentuh leher mereka satu persatu dan menerbangkan kepalanya hingga lepas dari badan. Hanya menyisakan satu orang yaitu Namikage Ouja.


"Waktunya beraksi," bibir Akira melengkung membentuk senyum sumringah. Tubuhnya berkedip dan muncul di depan Namikage Ouja untuk melakukan sandiwaranya. "Jangan sakiti dia!"


Buk!


Mishima yang sudah turun dan berada di belakang Namikage Ouja memukul tengkuknya, pandangan matanya kabur lalu menjadi gelap gulita. Penglihatan terakhir Namikage Ouja adalah jubah merah yang dipakai oleh Akira, ia pingsan dalam keadaan terlentang.


Akira mengacungkan jempol pada Mishima dan Kishima, sandiwara yang mereka buat sukses besar.


Reputasi organisasi Senso no Haijo akan naik drastis sebagai organisasi pembantai. Tujuan Akira di Namigakure berhasil dengan menakut-nakuti petinggi Namigakure, dengan begini tidak ada lagi yang bisa mengusik markas cabang Senso no haijo di Namigakure.


Akira menggendong tubuh Namigake Ouja yang cukup besar dengan sangat mudah, padahal tingginya 185 cm dan berat 112 kg.


Tubuh itu ia taruh di bahu kanannya seperti menaruh karung beras. Tak ada raut tekanan di wajah Akira, setelah mengangkat tubuh Namigake Ouja yang sudah seperti kapas baginya.


"Paman Mishima dan paman Kishima, maaf merepotkan kalian lagi," Akira tersenyum puas karena rencananya sukses besar berkat kerjasama Mishima dan Kishima. "Persiapkan diri untuk melakukan pembantaian klan Renbu. Aku sudah menempatkan mata-mata di dalam klan," sambungnya.


"Baik, Akira sama. Kami siap menunggu perintah," Mishima dan Kishima menunduk hormat bagi mereka perintah Akira adalah perintah mutlak dan tak bisa ditawar.


Cwuszh!


Tubuh Akira berkedip dan sampai di depan pintu gerbang kediaman klan Renbu, badannya ia penuhi dengan cairan merah dari tubuh salah satu jounin elite Namigakure.


"Tolong ...! Tolong ...! Huff ... huff ... huff ...," teriak Akira dengan nafas memburu dan tak beraturan, aktingnya benar-benar memukau untuk menipu semua orang.


Kedua penjaga kediaman klan Renbu bergegas membukakan pintu mendengar suara teriakan Akira. Nampak pria super tampan dan super besar dipenuhi cairan merah tersandar di dinding pembatas sebelah pintu gerbang kediaman klan Renbu.


"Akihiko sama?! Namikage Ouja sama?!" kedua mata para penjaga membulat, salah satu penjaga segera menekan bel darurat yang terpasang di bagian kanan dalam pintu gerbang kediaman klan Renbu.


Tototetetet!


Suara bel darurat itu berbunyi tiga kali, satuan penjaga wilayah kediaman klan Renbu yang sedang berpatroli dan meningkatkan keamanan segera berlari ke arah pintu gerbang kediaman klan Renbu.


Keiko yang mendengarnya di aula kediaman klan Renbu juga segera menarik tangan Reina. "Masayuki sama, kita harus melihatnya. Semoga saja itu Akihiko sama dan pulang dalam keadaan selamat," katanya dengan raut muka panik.


Animisa pun ikut berlari di belakang Reina dan Keiko, karena ikut-ikutan panik, dalam hatinya ia sangat khawatir dengan adik kesayangannya itu Namikage Ouja.


"Sayang!" Reina berpura-pura khawatir dan memeluk Akira, "Syukurlah kamu kembali dalam keadaan selamat dan tak ada satu pun yang hilang dari badanmu," sambungnya.


"Lalu bagaimana keadaan Namigake sama?" imbuh Reina melepaskan pelukannya, bajunya yang putih dipenuhi cairan merah yang membanjiri jubah merah Akira.


"Selamat, tapi ...," Akira menundukan wajahnya cairan bening palsu mengalir di sudut kelopak matanya. Dengan air mata pura-pura berhasil meyakinkan Animisa.


"Tapi apa? Katakan Akihiko sama!" tanya Animisa berapi-api, rasanya ia tak ingin mendengar kata-kata buruk terlontar dari mulut Akira.