DARKNESS TO ENLIGHTMENT

DARKNESS TO ENLIGHTMENT
SS 67 - Ujian Babak Penyisihan Bagian 4



"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Kuzo yang tak bisa bergerak memberontak, tapi kristal yang mengurungnya sangat kuat. "Baiklah, aku menyerah."


"Gadis manis yang cukup kuat. Bahkan ten no juin: Jotai ni saja tak mampu berkutik melawannya. Chakraku terkuras habis sewaktu menggunakan raikoha, jutsu ciptaanku memang hebat, chakranya lebih padat dari rasengan, pantas saja elemen kristal yang sangat kuat saja hancur, hahahaha. Kalau saja chakraku melimpah, aku bisa mengalahkannya dengan ten no juin: Jotai yon. Dia kunoichi spesialis penyerang jarak jauh dan area, hebat! Sungguh hebat!"


"Kai!" Reina melepaskan semua jutsunya, kubah labirin, dinding kristal dan permukaan arena yang mengkristal serta mengunji Kuzo hilang dari pandangan.


Boof!


Boof!


Boof!


"Pemenangnya Akiara Reina!" teriak Aichi berapi-api mengumkan hasil pertandingan kelima.


Kuzo juga tubuhnya kembali seperti semula, segel kutukan 4 magataman di keningnya juga lenyap. Kuzo menghampiri Reina dan menyodorkan tangan, "Terima kasih atas pertarungannya. Aku harap di masa depan kita bisa berteman," kata Kuzo tersenyum ramah.


Reina melirik ke arah Akira, lalu menyambut tangan Kuzo. Tapi tiba-tiba Akira muncul di tengah-tengah mereka, "Jangan sentuh Reina!" bentak Akira dengan sorot mata yang tajam.


"Hei, hei, santai kawan. Aku hanya ingin berjabat tangan dan mengucapkan terima kasih padanya, apa aku salah?" tanya Kuzo mengernyitkan dahi pada Akira. "Apa kamu cemburu?"


"Itu bukan urusanmu," kata Akira menyeringai geram, raut mukanya sudah semerah tomat. Tangan Reina di genggam erat lalu ditariknya ke arah tangga yang menuju tempat duduk peserta.


"Ya, ya, ya, seorang pengecut akan lari jika ditanya tentang perasaannya. Begitulah seorang pengecut akan selalu lari dari kenyataan," ejek Kozu pada Akira dengan tatapan sinis.


Cwuszh!


Swush!


"Raikoha!" tubuh Akira berkedip, lalu muncul tepat di depan Kozu yang sudah siap menghantamkan jutsu milik Kozu. "Aku bisa membunuhmu saat ini juga, dengan jutsu rendahanmu ini. Kalau tak punya chakra melimpah, tak usah bermimpi belajar ten no juin sampai tahap empat. Kau hanya akan menggali lubang kuburumu sendiri."


"Tidak mungkin?! Bagaimana dia bisa meniru jurusku hanya dalam sekali lihat?! Padahal jutsu ini, aku sendiri yang mengembangkannya dan belum ada pembukuan informasi atas jutsu ini," batin Kozu membulatkan mata.


Orochimaru yang sedang duduk santai pun, ikut membulatkan mata, "Anak itu sangat cepat, bahkan lebih cepat dari jutsu hiraishin milik Nindaime hokage ataupun Yondaime hokage. Jenius Kozu pun kalah oleh kejeniusan anak itu, leluhur Ryutsuki memang sangat hebat," gumam Orochimaru sambil tertunduk wajahnya, lidahnya yang panjang keluar menyapu seluruh bibirnya dan tatapanya penuh minat pada Akira.


"Jabrig! Jangan buat masalah! Kembali ke tempat dudukmu!" teriak Hiyoshi lalu menarik kerah belakang Akira seperti menarik karung kosong.


"Ampun sensei! Ampun! Jangan permalukan aku seperti ini, masa pahlawan desa disamakan karung beras. Ampun, sensei! Ampun!" Akira meronta-ronta seperti anak kecil.


Mizukage Kagura hanya menepuk jidatnya sendiri, melihat kelakuan konyol Hiyoshi dan Akira. "Dasar guru dan murid sama-sama konyol, selalu saja mereka berdua melakukn hal-hal yang membuat malu di depan umum, hadeeeuh ...," gumam Mizukage Kagura.


Tringtingting!


Tringtingting!


Tringtingting!


Layar monitor mulai mengacak lagi nama peserta, "Senju Maru melawan Shunsui!" teriak Aichi mengumumkan hasil undian acak layar monitor. "Mulai!"


Maru dan Shunsui turun dari tangga bersamaan menuju arena yang berada di bawah. Mereka berdua meninju telapak tanganya, lalu masing-masing menunduk hormat.


Keduanya melesat dan menghantamkan pukulan, mereka beradu pukulan hingga keduanya terpundur. Telapak kaki mereka bergesekan dengan permukaan arena hingga mengeluarkan asap dan debu.


Bam!


Sraaaak!


Shunsui melemparkan 10 kunai secara beruntun yang sudah dialiri chakra petir, dan menarik kedua kodachi dibagian belakang pinggangnya.


Zrrt!


Shua!


Shua!


"Hachimon tonkou: Kaimon kai!" tubuh Maru diselimuti aura hijau terang, lalu melesat menghindari 10 kunai beruntun yang sudah dialiri chakra petir dengan mudah.


"Sial!" Shunsui menyeringai kesal lalu merapal segel tangan, "Raiton no yoroi!"


Zrrts!


Shua!


Trang!


Shunsui mengaliri seluruh tubuhnya dengan chakra petir, lalu melesat cepar menebaskan kedua kodachinya secara vertikal dari atas ke bawah, targetnya adalah kepala Maru. Namun Maru berhasil menangkisnya dengan gelang besi baja yang diikatkan pada kedua lengannya.


Bam!


Shunsui backflip sambil menendang kedua lengan Maru dan membuatnya terdorong dua meter dari posisinya semula. Dalam keadaan melayang kaki di atas dan kepala di bawah, Shunsui merapal segel tangan, "Raiton: Chidorigatana!" kedua kodachi milik Shunsui di aliri chakra petir dan memanjangkan bilahnya sepanjang 1.5 meter dengan warna biru.


"Benar-benar menjengkelkan. Dia sangat cepat sekali, tapi sejauh mana dia bertahan dengan penggunaan chakra sebanyak itu," gumam Maru yang sudah melesat cepat dan tak mau kalah dengan Shunshui. "Suiton: Mizzu rappa!"


Syat!


Swush!


Bam!


Shua!


Brak!


Begitu Maru menebaskan kedua kodachinya, tangan kiri Maru menembakan air yang sangat kuat ke kiri untuk menghindari tebasan Shunsui. "Konoha senpu!" disaat itulah Maru melakukan tendangan memutar sangat cepat di udara hingga membentuk pusaran tornado dan menghantamkannya pada dada Shunsui hingga terpental lalu menabrak dinding pembatas.


"Cuih!" Shunsui meludahkan darah segar di sudut mulutnya. "Untuk saja baju chakra petir ini melindungi tubuhku, kalau tidak tulang rusukku sudah pasti patah."


"Akan aku akhiri, hachimon tonko: kyumon, kai! Haa!" tubuh Maru menegang urat ototnya menonjol dan aura hijau terangnya berganti aura hijau pekat. "Konoha daisenpu!"


Shua!


Shua!


Bam!


Maru dan Shunsui yang sudah menyimpan kembali kedua kodachinya di belakang pinggang melesat sangat cepat. "Girochin Doroppu!" keduanya beradu tendangan di udara. Gelombang kejutnya menghempaskan kursi-kursi para peserta, batu-batu kerikil beterbangan.


"Klan Senju selalu punya cara untuk kuat. Terbukti Senju Maru membuktikannya, jika saja ibu Sakura masih hidup. Tentu Maru akan berlatih taijutsu yang sangat kuat dari warisan neneknya Tsunade," puji Hokage Sarada sambil bergumam.


Zrrrt!


Zrrt!


Swush!


Bam!


Bam!


Keduanya masih terus saling menendang si udara sambil melayang. "Tak kusangka, Shunsui sudah sampai di tahap itu. Aku pikir dia hanya laki-laki yang malas, ternyata dia jauh melampaiku," puji Unui dengan mata yang berkaca-kaca.


Selama ini Shunsui selalu malas di ajak berlatih bersama, bahkan sering membolos dan beralasan jika hari ini selalu malas, itu yang Shunsui selalu katakan. Kenyatannya Shunsui selalu berlatih di malam hari di gunung tempat dimana Killer Bee pernah berlatih.


"Huff ... huff ... huff ... stamina dan chakraku hampir habis, lebih baik aku menyerah daripada chakra petir ini merusak sel-sel dalam tubuhku," gumam Shunsui dengan nafas terengah-engah, kondisinya masih beradu tendangan dengan Maru di udara.