
Keesokan pagi harinya.
Uzumaki Aruto dan Uchiha Arashi sedang berada di dalam kantor Hokage Sarada. "Bodoh!" Hokage Sarada menggebrak mejanya, setelah mereka berdua memberitahukan jika Uchiha Ryuki telah kembali dan membunuh Senju Maru yang telah menghabisi Uchiha Saito serta Uchiha Liu. Kemudian melanjutkan masih dengan menyeringai geram, "Kenapa kalian tidak membawanya padaku? Hah!"
'Maaf Kyudaime hime sama. Ka-kami ...." Aruto berkata dengan nada terbata-bata karena ketakutan dan pernyataannya disergah oleh Hokage Sarada.
"Cepat pergi, cari anakku!" bentak Hokage Sarada menyeringai geram. Kemudian melanjutkan masih dengan menyeringai geram, "Jangan pulang sebelum kalian menemukannya! Huff ... huff ... huff ...."
"Siap, Kyudaime Hime!" Aruto dan Arashi menunduk hormat dengan raut muka pucat pasi, mereka berdua sangat ketakutan dan keluar dari ruangannya dengan lari tunggang langgang.
"Cwuszh ...!" Tiba-tiba Akira muncul di samping Hokage Sarada, memakai kaos berwarna nila dengan kerah menutupi lehernya, di punggungnya dengan motif kipas, dan memakai celana putih selutut, serta memakai topeng putih motif rubah.
"Siapa kamu?!" Hokage Sarada mengepalkan tangan dan mengarahkannya ke arah Akira yang berjarak tiga langkah darinya.
Akira membuka topengnya dan tersenyum lebar, "Aku cucumu nenek. Masa tidak kenal? Aku pulang!" Akira merentangkan tangannya membentuk gerakan siap mendekap. Kemudian melanjutkan, "Yakin? nenek tak mau memelukku?"
"Ryuki?" Itukah kamu?!" Hokage Sarada menaikan alisnya, dengan cairan bening yang siap meluncur, namun di tahan agar tak mengalir deras dari sudut kelopak matanya. Wajah Akira memang sangat mirip Ryuki dewasa tapi berbeda warna rambut saja, jika Ryuki berambut harajuku style dengan warna jingga, maka Akira warna rambutnya merah terang.
"Aku Akira nenek, bukan ayah, hehehe ...." Akira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian melanjutkan dengan raut bibir datar, "Ayah Ryuki dan ibu Ryuna sudah lama meninggal. Hanya paman Chojuro dan paman Kagura yang mengetahui tempat pemakaman mereka berdua."
"Aku juga yang menyamar menjadi ayah dan membunuh Senju Maru. Untuk membalaskan dendam klan Uchiha dan klan Uzumaki pada Senju Maru. Aku mengambil keputusan ini, demi keberlangsungan Konohagakure dan mencegah perang saudara," tambah Ryuga menyeringai tajam.
"Akira?!" Hokage Sarada menaikan alisnya, matanya mengamati dari ujung kaki hingga ujung kepala. Akira yang ia tahu saat itu tingginya 125 cm dan umur 5 tahun, sekarang yang ia lihat remaja tampan seperti berumur 17 tahun. "Tindakanmu tepat Akira, jika tidak dieksekusi klan Uzumaki dan Klan Uchiha akan muncul ketidak puasan akhirnya bisa memicu balas dendam berkelanjutan seperti dahulu, bahkan perang saudara."
"Aku hanya melakukan sesuai kata hatiku," kata Akira menundukan wajahnya. "Aku juga sudah berhenti dari satuan ANBU Kirigakure dan ingin membuka praktek dokter saja di Konohagakure."
Hokage Sarada langsung memeluk erat Akira, "Maafkan nenek, Akira. Ini semua salah nenek dan nenek senpai yang termakan kata-kata pria berjubah hitam waktu itu. Dengan mengatakan jika keturunan klan Uchiha tidak bisa menikah dengan keturunan klan Hyuga. Jika itu terjadi maka akan mengundang petaka besar," jelas Hokage Sarada sambil melepaskan pelukannya, cairan bening di sudut kelopak matanya tak terasa mengalir.
"Untuk sementara aku akan mengumpulkan kekuatan dibalik bayangan Konohagakure. Sebelum memulai kembali pengumpulan bijuu yang tersisa 6 ekor lagi," batin Akira menyeringai licik. Kemudian melanjutkan, "Nampaknya aku harus menuntut balas dendam pada orang yang menyebarkan berita tersebut."
***
Akira sudah tiba di rumah Sarada dan merupakab warisan dari Sakura serta Sasuke. Rumah dua lantai dengan gaya modern minimalis, Akira berada di kamar Ryuki yang berada di lantai dua, Boruto sedang pergi bersama Mitsuki memberantas hewan buas di perbatasan Konohagakure dan Otogakure.
Akira sedang melakukan ekstraksi daun Puranasaouru menjadi pil chakra 99%. Akira sedang bereksperimen mengganti chakra Enenra dengan yoru tenshi bertipe level monster untuk membuat pil Samsara.
Setelah percobaan gagal selama 99 kali dan membuat wajahnya hitam legam, akibat terkena ledakan pencampuran yang berlebihan antara 99 gram pil chakra dan 2 gram yoru tenshi.
"Akhirnya, aku sudah menemukan formula yang tepat bisa membuat pil Samsara dengan efektifitas 100%, hahahaha ...." Akira tertawa terbahak-bahak mengangkat tinggi-tinggi pil Samsara berwarna merag kehitaman dengan berat 100 gram.
Untuk membuat satu pil Samsara, Akira membutuhkan waktu 10 menit. Setelah satu pil berhasil di selesaikan lalu menulisnya dalam gulungan berisi semua formula pembuatan pil dan cara meracik pil untuk berbagai penyakit. Akira terus membuat pil Samsara, tak terasa 6 jam sudah Akira membuat pil Samsara dan mendapatkan 37 pil Samsara.
Aktivitasnya terhenti setelah perutnya berdemo keras dan menatap jam sudah pukul 17.10 WK (waktu Konohagakure). "Rupanya perut ini tak bisa di ajak kompromi." Akira menepuk jidatmya sendiri dan menyimpan 37 butir pil Samsara pada rinnegan merah di tangan kanannya.
Akira membersihkan diri, dan berpakaian rapi. Lalu menuruni tangga untuk keluar dari rumah Sarada, suasana dirumah sangat sepi, Hokage Sarada kembali ke kantornya untuk mengurus beberapa dokumen penting. Akira ditinggal sendirian dirumah tanpa stok bahan makanan di kulkas, dengan berat hati Akira akhirnya pergi.
"Apakah kehidupan menjadi klan bangsawan itu seperti ini? Apalagi menjabat sebagai hokage sepertinya membosankan," gumam Akira menyeringai kesal. Langkah kakinya ia percepat ke arah pusat desa, karena perutnya sudah tak bisa ditoleransi lagi.
Selama Akira berjalan menyusuri jalanan desa yang selalu ramai, banyak tatapan penuh minat, suka dan decak kagum tertuju pada Akira. Apalagi Akira memakai baju klan Uchiha, tentu semakin terpesona para wanita-wanita Konohagakure. Mereka menganggap menikah dengan salah satu anggota klan Uchiha adalah keberuntungan yang sangat besar.
"Azura, kemarilah! Temani aku makan di restoran Subaru," panggil Akira dari komunikasi telepati pada Azura.
Azura yang sedang merasa bosan di markas bawah tanah, langsung bangkit dan tersenyum tipis. Kakinya ia langkahkan keluar dari markas bawah tanah klan Senju, menuju pusat desa, tepatnya restoran Subaru. "Akhirnya ada waktu juga, aku bisa bersama Akira sama," gumamnya.
5 menit kemudian, Azura tiba di depan restoran mewah Subaru berlantai 5. Restoran ini adalah restoran milik klan Uchiha, yang mempunyai menu makanan daging hewan buas. Walaupun makanan yang dijual agak aneh, tapi restoran Subaru ini tak pernah sepi pengunjung, setelah dibuka satu tahun lalu.
"Kamu mau makan apa?" tanya Akira yang sudah duduk berhadapan dengan Azura. Kemudian melanjutkan dengan tersenyum lebar, "Tenang aku yang traktir, kamu makanlah sepuasnya."
"I-iya, Akira." Azura agak berbicara canggung karena Akira memberitahunya, jika di depan umum, untuk memanggilnya dengan nama saja, tidak perlu memanggil tambahan sama atau tuan.