
Keiko melucuti semua pakiannya, hingga tampak badannya tanpa sehelai benang pun tersangkut di badannya. Akira mencoba bangun, tapi elemen kegelapan dari tubuh Keiko keluar seperti jaring-jaring menjerat tubuh Akira.
"Sudahlah Akira sama, nikmatilah kesenangan ini bersamaku. Tubuh ini aku serahkan padamu." Keiko tersenyum jahat berjalan perlahan ke arah Akira dan melepas topengnya.
"Jangan lakukan hal yang bodoh, Keiko! Aku tak mau mengkhianati Reina! Aaargh!" teriak Akira lalu mengerang keras melepaskan jeratan jaring bayang-bayang Keiko dan berteleportasi, "Hiraishin no jutsu!"
Cwuszh!
Akira hilang dari pandangan, Keiko pun terduduk lemas dalam keadaan tanpa sehelai benang di tubuhnya.Wajahnya menunduk, dan cairan bening di sudut kelopak matanya mengalir deras, "A-aku sungguh bodoh! Apa yang telah aku lakukan? Maafkan Aku Akira sama!" teriak Keiko sambil menengadahkan wajahnya ke langit.
Akira sudah kembali ke kamarnya, Reina masih meringkuk dalam keadaan tanpa sehelai benang di tempat tidur Akira, sedang tertidur pulas.
Di wilayah Hoshigakure, tepatnya wilayah jurang lembah iblis. Suzaku menembakan bola api beruntun ke arah 10 jounin elit Hoshigakure dan dibantu oleh Azura yang menembakan jutsu katon: Goenka no jutsu.
"Boom ...!" Ledakan beruntun terdengar terus menerus dalam jangka waktu 1 menit, Azura menyerang dengan membabi buta karena mengira Keiko telah tewas dibunuh oleh 10 jounin elit Hoshigakure.
6 dari 10 jounin elit Hoshigakure tewas terpanggang karena tak bisa menghindar diserbu ratusan bola berdiameter 5 meter dan puluhan api berbentuk kepala naga.
"Kuchiyose no jutsu!" Kapten jounin elit menggigit jempolnya dan meragal tangan, lalu kedua telapak tangannya di hentakan ke permukaan tanah.
Boof!
Muncul formasi segel pemanggilan di permukaan yang dipijak oleh kapten jounin elit dan dari kepulan asap nampak cacing yang sangat besar dengan mulut penuh taring hingga ke rongga tenggorokannya. Cacing itu berwarna hitam legam di bagian punggungnya memiliki kulit dengan retakan lava, panjang tubuhnya 20 meter dan diameter tubuhnya 5 meter.
Azura kembali menyerang 4 jounin elit Hoshigakure, dengan menembakan jutsu katon: Gouka meshitsu yaitu semburan api yang sangat besar dan bertekanan tinggi. Cacing itu melingkari 4 jounin elit Hoshigakure, untuk menghalau serangan Azura ditambah badai api Suzaku.
Punggung cacing dengan kulit retakan lava tak mampu ditebus, serangan semburan api Azura dan badai api Suzaku berhasil diredam olehnya.
4 jounin elit Hoshigakure ditelan ke dalam mulut cacing besar yang sangat berlendir, cacing itu masuk ke dalam permukaan tanah dan hilang dari pandangan.
Dengan terpaksa Azura mengaktifkan sharingan 4 tomoe untuk mengantisipasi gerakan cacing besar itu. Mata Azura berkeliling untuk memindai cacing besar yang menelan 4 jounin elit Hoshigakure di sebelah mana ia akan keluar dari tanah.
"Cih, hanya gerakan manipulatif seperti itu takan mempan padaku." Azura merapal segel tangan pemanggilan untuk memanggil Genbu dan Seiryu, setelah mereka berdua muncul langsung melakukan serangan kombinasi ke arah lubang yang telah dibuat cacing besar tersebut
Genbu menembakan minyak dari mulutnya, Seiryu menembakan angin bertekanan tinggi, Suzaku melepaskan badai api dan Azura menembakan jutsu katon: Gouka Mekakkyu.
Swush!
Lubang berdiameter 5 meter itu dipenuhi api yang membara dan bertekanan tinggi karena kombinasi serangan minyak, angin, api bertekanan tinggi juga badai api.
"Boom ...!" Suara ledakan sangat keras, tanah dalam radius 500 meter bergetar hebat. Cacing besar berkulit lava terpental dari dalam tanah dalam keadaan gosong, lama-kelamaan menjadi debu. 4 jounin elit Hoshigakure yang berada di dalam mulut cacing berkulit batu lava juga ikut tewas.
"Huff ... huff ... huff ...." Nafas Azura tak beraturan, tubuhnya terduduk lemas di atas punggung Suzaku bersama Genbu dan Seiryu. "jutsu katon rank S dan rank SS ini, terlalu banyak menguras tenagaku, tapi kenapa aku tidak menemukan mayat Keiko?" gumamnya.
Langit wilayah kediaman klan Renbu.
"Senpai, sudah langsung jatuhkan saja bom C3 milikmu ke kediaman klan Renbu. Biar karya senimu itu bisa berkilau!" Byakuya mengatakannya dengan nada malas, tubuhnya ia terlentang di atas sabaku fuyu atau awan pasir miliknya.
"Terlalu ekstrim." Kishima menyebikan bibirnya. Kemudian melanjutkan, "Bukannya Kediaman klan Renbu yang akan hancur tapi seluruh Namigakure ikut hancur."
"Woy ...! Kamu itu tak pernah paham dengan segel kutukan Ryuko no juin ya? Sekarang segel kutukan itu telah berevoluso menjadi segel karma. Jutsuku ini 10 kali lipat daya ledaknya lebih kuat dari anggota Akatsuki Deidara, bocah pasir!" teriak Mishima yang mendekatkan naga tanah liatnya di samping awan pasir Byakuya.
"Terlalu lama." Byakuya bangkit dengan menyeringai kesal. Lalu merapal segel tangan, "Satetsu: Kurogane no Tsubasa!"
Sarung tangan Bunsi Horuda yang sudah level 3, di sebelah kiri mengeluarkan pasir besi. Lama-kelamaan pasir besi itu membentuk sayap yang sangat besar menutupi semua kediaman klan Renbu.
30 genin klan Renbu yang sudah menjadi budak Yosep segera keluar dari kediaman klan. Mereka juga sudah memasang jebakan di seluruh dinding pembatas yang mengitari kediaman klan Renbu, setelah Akira menghubungi mereka melalui telepati.
Warga Namigakure dan anggota klan Renbu panik, mereka berlari tak menentuh arah serta histeris, setelah melihat sayap hitam yang sangat besar.
"Bocah pasir! Kau ini terlalu mencolok." Mishima menepuk jidatnya sendiri, Kishima kembali masuk ke dalam tubuh Mishima dengan tersenyum puas. Kemudian melanjutkan dengan wajah menyeringai kesal, "Hai bro! Kau mau kemana? Sial! Kau juga malah cuci tangan!"
Byakuya mengarahkan tangannya ke depan, "Senpai kita kombinasi saja serangannya. Alirkan chakra elemen ledak ke tubuhku, cepat!" pinta Byakuya.
Mishima melompat ke atas awan pasir Byakuya dan beradu pukulan dengannya. Mishima mengalirkan chakra elemen ledak ke dalam sarung tangan Bunshi Horuda di tangan sebelah Kiri.
"Kai!"
"Katsu!"
Byakuya dan Mishima membentuk segel tangan pelepasan serentak. Sayap besar hitam yang menutupi kediaman klan Renbu menjatuhkan puluhan ribu bulu-bulu hitam.
Semua anggota klan Renbu menghunuskan kunai dan melemparkan shuriken untuk menghentikan laju bulu-bulu hitam. Begitu shuriken mengenai salah satu bulu hitam, ledakan pun terjadi. Suara ledakan beruntun terus terjadi, di atas awan cahaya berkilau bersinar terang dengan kepulan asap.
Bulu-bulu hitam pun mulai berjatuhan ke permukaan tanah kediaman klan Renbu, bulu-bulu hitam meledak dan menghancurkan permukaan tanah, rumah, atap rumah, dinding rumah kediaman klan Renbu.
"Semuanya lari! Ini serangan masal!"
"Cepat keluar dari kediaman klan!"
"Bulu-bulu hitam akan menghujani kita, cepat lari!"
Banyak teriakan terdengar dari mulut anggota klan Renbu, mereka berlarian kw arah pintu gerbang kedian klan. Tapi sayang sekali mereka semua sudah tak bisa kabur, karena begitu menginjakan kaki keluar dari pintu gerbang tubuh mereka luruh terkena jebakan cairan korosi.