
Hembusan angin sepoi-sepoi menyapu permukaan wajah Serena yang tengah melamun menatap gemerlap lampu perkotaan dari atas jembatan tempatnya berdiri sekarang.
Jam sudah menunjukkan pukul dua lewat lima belas, yang artinya matahari akan segera terbit dalam beberapa jam ke depan tetapi Serena sama sekali tidak punya niatan pergi dari tempat tinggi itu secepatnya.
Suasana di sana cukup sepi dan tenang, bahkan kendaraan yang berlalu lalang sudah mulai berkurang, namun Serena tidak takut menghabiskan waktunya di sana hanya sendirian.
Serena justru menikmati kesendiriannya di temani angin malam yang mulai menusuk kulit. Suara riak air sungai bagaikan melodi indah yang menjadi satu-satunya hiburan Serena di tempat itu.
Kadang terbesit rasa penasaran dalam benak Serena; apakah dirinya akan langsung mati begitu terjun dari atas jembatan? Atau justru dirinya hanya akan terbawa arus air yang deras lalu berakhir menyangkut di suatu tempat dan ditemukan seseorang?
Hm, membayangkan itu Serena jadi tertawa sendiri. Mungkin otaknya mulai terkontaminasi oleh alur cerita dalam drama-drama yang sering Helena ceritakan padanya.
Jelas saja manusia tak akan bisa bertahan hidup sekalinya jatuh ke dalam sungai yang luas dan dalam itu. Ada banyak kemungkinan yang bisa menyebabkan nyawa manusia melayang, khususnya bagi orang yang tidak ahli dalam berenang seperti dirinya.
'Apa kita coba aja?' Setan dalam diri Serena berbisik pelan, mencoba memberi pengaruh buruk pada gadis yang sedang putus asa.
Apa lagi situasi di sana sepi tak ada orang, pasti tak akan ada yang menolong dirinya andaikata Serena benar-benar nekat menerjunkan dirinya ke sungai.
Jujur, Serena sudah lelah dengan hidupnya. Nasibnya hanya berputar kembali ke lubang kegelapan, sampai Serena bingung bagaimana caranya keluar dari kesialan yang selalu menempelinya layaknya sebuah kutukan.
Apa mungkin hidupnya ini memang sebuah kutukan?
Lalu mengapa hanya dirinya saja, sementara kembarannya justru menjadi sosok gadis yang dipuja-puja banyak orang layaknya seorang saintess atau orang paling suci di muka bumi ini?
Semua terasa begitu melelahkan, Serena tak tahu berapa banyak energi dalam dirinya yang masih tersisa sedangkan api semangatnya sudah benar-benar padam sekarang.
Bahkan dukungan orang-orang terdekatnya pun tak berarti apa-apa lagi bagi Serena.
"Oi, mau apa kau berdiri di sana?"
Suara seorang laki-laki membuyarkan lamunan Serena.
Serena menengok, mendapati seorang pemuda berdiri dengan ekspresi yang kelihatan seperti sedang marah.
Ahhh..sekilas pemuda itu mengingatkan Serena pada sepupunya yang jauh di sana.
"Kau bertanya padaku?" Serena justru balik bertanya.
Lelaki itu menatap heran Serena. "Kau pikir aku bertanya pada angin? Hanya ada kau yang berdiri di depanku sekarang." Jawaban yang tidak ramah sama sekali, tapi Serena sudah cukup kebal menghadapi tipe orang arogan seperti itu.
"Maaf kalau aku menghalangi jalanmu. Ini, silahkan lewat," Merasa dirinya berbuat salah, Serena menyingkir dari tengah jalan memberi ruang supaya lelaki asing itu bisa lewat.
Serena tidak menangkap maksud pertanyaan lelaki itu dengan baik. Lelaki bersurai kemerahan itu menghela nafas panjang, merasa harinya semakin berat setelah berpapasan dengan seorang gadis yang mungkin memiliki niatan mengakhiri hidupnya di jembatan itu.
"Menyingkir dari jembatan ini dan segera pulanglah ke orang tuamu, gadis kecil!" suruh lelaki itu tiba-tiba.
Serena menatap sengit lelaki yang baru saja menyebutnya gadis kecil. Hei, dia bahkan hampir mencapai seperempat abad, tapi lelaki itu justru memanggilnya anak kecil hanya karena melihat tinggi tubuhnya yang tergolong mungil.
"Aku ini sudah dewasa. Kau saja yang pulang, mau aku di sini atau ke mana kek, itu bukan urusanmu, dasar laki-laki galak!" balas Serena kemudian.
Lantas keduanya saling bertatapan sengit, seolah ada sambaran petir dari sorot mata mereka.
Huh, bahkan di hari yang panjang ini, Serena masih belum mendapatkan waktu tenangnya seorang diri. Kenapa ada saja orang yang suka mengusik ketenangannya sih?
Serena membuang pandangannya ke lain arah, dia tak mau membuang energi hanya untuk meladeni orang asing yang ingin mencari masalah dengannya.
"Kalau kau sudah dewasa, mestinya kau tau seberapa bahayanya berdiri terlalu dekat dengan pembatas jembatan." Tapi lelaki itu tidak memiliki niat untuk mengalah pada Serena.
Serena melirik tajam lelaki asing yang masih saja melanjutkan perdebatan tak berfaedah mereka. Baiklah, kalau lelaki itu tidak mau mengalah, Serena yang akan mundur dengan senang hati daripada memperpanjang masalah tak penting ini.
Tanpa sepatah kata lagi, Serena beranjak pergi dari hadapan lelaki itu. Serena memilih berjalan ke lain arah supaya tidak berpapasan lagi dengannya.
"Apa-apaan? Lepasin tanganku sekarang juga!" Sinyal bahaya Serena menyala, dia harus waspada terhadap lelaki itu meski tampangnya terlihat cukup menawan.
Seolah tuli, lelaki itu diam tidak menanggapi protesan yang Serena lontarkan, dia justru menarik tangan Serena untuk ikut pergi bersamanya ke suatu tempat.
Serena luar biasa panik. Dia tahu akan sangat berbahaya keluyuran seorang diri di malam hari seperti ini, tapi dirinya tak menyangka bakal menghadapi situasi menyeramkan ini begitu cepat.
Otak Serena mulai berpikir cepat, mencoba memikirkan segala hal yang bisa dia lakukan sebagai bentuk perlindungan diri. Cengkraman lelaki itu cukup kuat sampai membuat Serena meringis menahan sakit. Tulangnya seakan hendak dihancurkan detik itu juga.
"Sa-sakit.."
Sadar akan kekuatannya yang terlalu besar, lelaki itu mengendurkan cengkramannya agar tidak melukai pergelangan tangan gadis mungil yang tak dia ketahui namanya itu.
"Ikut saja denganku dan jangan banyak protes, atau kulaporkan kau ke kantor polisi sekarang juga!"
Ancaman yang sanggup membungkam mulut Serena rapat-rapat. Tak ada pilihan lain, Serena memilih mengikuti lelaki itu dalam diam sambil mengamati situasi yang ada. Bila ada keganjalan yang mencurigakan, Serena akan lari sekencang yang dia bisa dan bersembunyi di suatu tempat.
.
.
"Te-tempat ini..." Serena memandang horor sekelilingnya yang ramai dipenuhi orang.
Setelah berjalan cukup jauh bahkan tembus ke pusat kota, mereka baru berhenti berjalan begitu sampai di sebuah lokasi yang menjadi pusat klub-klub malam serta bar berjejeran.
Serena tak pernah mendatangi tempat ini sebelumnya, selain karena lokasinya yang berada di tengah kota, juga keamanannya kurang ketat sehingga paparazzi atau pencari berita bisa dengan mudah menemukannya di tempat ini lalu menerbitkan skandal lagi.
Serena masih harus menjaga nama baik keluarganya waktu itu, tetapi sekarang? Sepertinya hal itu tak perlu dia khawatirkan lagi. Lagipula wajahnya tidak seterkenal Jasmine, Serena tak yakin ada orang yang mengenali wajahnya di tempat ini. Bahkan lelaki asing yang membawanya ke mari sama sekali tak menanyakan soal namanya.
Padahal Serena sudah mempersiapkan beberapa nama samaran untuk menyembunyikan identias aslinya.
"Kita masuk," Lelaki itu menghampiri Serena setelah berbincang sebentar dengan salah seorang penjaga keamanan klub malam yang paling besar di kawasan tersebut.
Serena awalnya ragu dan takut, tapi lelaki itu tetap menariknya mesti tidak menggunakan tenaga besar seperti sebelumnya. Akhirnya mereka berdua masuk dengan mudah ke dalam klub yang cukup elite itu meski tampak luarnya sedikit suram.
Dentuman musik langsung menyambut gendang telinga Serena. Banyak orang memenuhi lantai tengah, ada yang menari, melihat para penari tiang di atas panggung, ada yang duduk santai menikmati berbotol-botol alkohol yang tersedia di atas meja. Bau rokok bercampur jadi satu di sana, membuat Serena sedikit sesak sampai harus menutupi hidungnya yang agak sensitif.
"Kita naik aja, di sana lebih aman daripada di sini," ujar lelaki bersurai kemerahan itu, tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Serena.
Serena bahkan tidak menyadari sejak kapan lelaki itu menggenggam tangannya dengan erat.
"Wah! Lihat siapa yang datang ini!! Kami udah menunggumu dari sebulan yang lalu, bung!!"
Lelaki bersurai merah itu membawa Serena masuk ke dalam satu ruangan cukup besar yang terletak di paling ujung lantai dua, kemudian menyapa satu per satu orang-orang yang sudah menempati ruangan itu terlebih dulu layaknya teman akrab.
Serena yang canggung dan takut berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menutupi kepalanya menggunakan tudung hoodie yang dia kenakan. Beruntung Serena sudah mengganti pakaiannya dengan setelan hoodie dan celana training oversize agar tidak kelihatan mencolok. Rambutnya sudah digulung setinggi mungkin dan disembunyikan dalam beanie hitam di kepalanya. Setidaknya penampilan Serena yang kelihatan tomboy ini tak terlalu menyedot perhatian banyak orang.
"Kau bawa siapa? Cewe barumu?" Salah seorang laki-laki bertanya sambil menunjuk ke arah Serena yang berdiri kaku di belakang lelaki bersurai merah.
Pandangan semua orang kini tertuju pada Serena. Mendadak kegugupan menyelimuti Serena sampai membuatnya berkeringat dingin.
Menyadari raut tegang dari satu-satunya gadis yang ada di sana, lelaki yang akrab dipanggil Dion itu justru menyeringai tengil, "Yup, aku 'kan udah bilang aku punya pacar, kalian percaya 'kan sekarang?" Gayanya yang sombong itu membuat emosi Serena mulai meradang.
Tanpa ampun Serena menarik kuat rambut laki-laki itu dari belakang sampai membuat Dion mengaduh kesakitan.
"Sakit, sayang!! Jangan ditarik rambutku!!" pekiknya, sambil berupaya melepaskan tarikan tangan Serena.
"SI-SIAPA YANG KAU PANGGIL SAYANG ITU?!!!!!"