Mine

Mine
Hati Yang Panas



"Selamat datang di kediaman Collin, Tuan Maddox Caesar."


Kedatangan Caesar di sambut hangat oleh seorang kepala pelayan yang bekerja di kediaman Collin.


Secara khusus Caesar terbang menuju kediaman Collin sesuai undangan dari Julian si pengirim surat.


Perjalanan yang cukup melelahkan, menghabiskan hampir satu hari di dalam pesawat. Jika bukan karena hal mendesak, Caesar tak mau repot-repot terbang ke mari kalau tidak ada urusannya dengan Serena.


"Kami sudah menyiapkan kamar tamu untuk anda, Tuan Caesar. Selagi menunggu Tuan muda Julian pulang, anda bisa beristirahat lebih dulu," ujar pelayan tua itu.


Caesar mengangguk mengiyakan. Kepalanya sedikit pusing karena jetlag, tapi dia masih harus tetap sadar untuk mengurus masalah yang ada di sana.


"Tolong buatkan aku teh Jasmine saja selagi menunggu Julian datang," pinta Caesar, yang langsung dilayani oleh pelayan lainnya.


Oliver kembali setelah memeriksa keamanan kamar tamu yang akan di tempati oleh Caesar. Ini merupakan prosedur khusus yang harus dilakukan oleh anak buah Caesar untuk menjamin keselamatan serta kenyaman Boss mudanya.


"Ya sudah, bawa koperku ke atas. Sebentar lagi aku akan naik," suruh Caesar pada Oliver.


"Oh, anda sudah datang rupanya! Maaf, saya tidak sempat menyambut anda secara pribadi. Selamat datang di rumah kami, Tuan muda Reinhart," Tuan Joseph buru-buru turun dari ruang kerjanya untuk menyambut Caesar secepat yang dia bisa.


Caesar tersenyum lebar membalas sapaan Tuan Joseph yang sudah menyiapkan semua fasilitas untuknya selama tinggal di sana.


"Apa kabar anda, Tuan Joseph? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Anda masih kelihatan sehat bugar seperti beberapa tahun silam," puji Caesar dengan sedikit bumbu basa basi.


Tuan Joseph tertawa renyah mendengar pujian Caesar. Mereka pernah bertemu dulu, sewaktu Caesar masih remaja dan kebetulan menghadiri sebuah acara besar di Italia bersama dengan ayahnya.


Disitulah Tuan Joseph mengenal Caesar, yang memang didapuk sebagai candidat unggul penerus keluarga Reinhart. Berhubung keluarga Reinhart memiliki banyak keturunan, sedikit sulit menentukan siapa penerus utama perusahaan induk, dan untuk memperebutkan posisi tertinggi itu Caesar harus bersaing ketat dengan sanak saudaranya.


Tuan Joseph sangat kagum terhadap usaha keras Caesar yang terus maju dan pantang menyerah melawan saudara-saudarinya yang lain. Memperebutkan kekuasaan itu amatlah sulit dan butuh kecerdasan yang luar biasa. Rasanya seperti terjun ke medan perang yang dingin dan berbahaya. Joseph tahu seberapa sulitnya berada di posisi Caesar, sebab dia sendiri juga pernah mengalami dan menghadapi situasi yang serupa.


Karena itu, mumpung Caesar berkunjung ke rumahnya, Joseph ingin memberi saran serta masukkan untuk Caesar agar pemuda itu tidak salah mengambil tindakan.


Selagi menunggu kepulangan Julian beserta Elliot, Joseph akan menemani Caesar sambil menikmati kudapan ringan yang telah disediakan untuk tamu istimewanya itu.


...🐺...


...🐺...


"Eh? Ca-Caesar ada di rumahmu?!" Serena berseru kaget.


Julian baru saja memberitahunya bahwa sang sepupu sudah tiba di kediaman Collin beberapa saat yang lalu.


Julian mengangguk pelan mengiyakan, sementara kedua matanya masih fokus menatap layar ponsel yang menampilkan pesan kiriman dari Gerald.


Kedatangan Caesar yang tiba-tiba jelas mengejutkan Serena. Belum lagi, Serena benar-benar lupa memberitahu Caesar tentang pertengkaran yang terjadi di rumahnya.


Bayangkan seberapa besar marahnya Caesar begitu mengetahui persoalan yang menimpa dirinya? Serena makin tidak berani mengangkat topik itu di depan Caesar.


Serena yang tiba-tiba terdiam, menarik perhatian Julian. Kini fokus Julian beralih pada Serena yang duduk gelisah di kursinya seraya menggigiti kuku ibu jarinya.


"Hei..it's okay. Caesar nggak akan marah sama kamu, dia udah tau sebagian kecil dari masalah yang menimpa kamu," Julian menarik pelan jari Serena dari mulut gadis itu.


Kejutan lain yang tak terduga. Serena makin gelisah bila harus menjelaskan duduk persoalannya secara menyeluruh. Perkelahian pecah karena diawali dengan kesalahpahaman dan berakhir kacau juga karena pengendalian diri Serena yang buruk.


Julian meletakkan ponselnya secara sembarang lalu buru-buru menahan kedua tangan Serena yang makin bergerak liar memukuli kepalanya sendiri.


"Sayang, tenang ya? Jangan panik gini. Caesar datang ke mari bukan murni karena persoalanmu dan keluargamu aja sih, tapi karena ada urusan penting lainnya juga," Julian berusaha menjelaskan semasuk akal mungkin.


Kalau sampai Serena mengetahui rencana rahasia yang Julian dan Caesar sembunyikan, pasti akan semakin runyam atau bahkan membuat gadis itu marah.


"Ka-kalau gitu aku ikut ke rumahmu ya?" Mana mungkin Serena membiarkan Caesar bertamu di rumah orang tanpa pendamping seperti dirinya.


Yah, setidaknya Serena ingin membelikan bingkisan atas kebaikan hati Tuan Joseph beserta Elliot karena sudah bersedia menampung sang sepupu.


Berkat itu, ide brilian muncul dalam otak Julian.


Tanpa malu Julian menarik pinggang Serena supaya lebih dekat dengannya. Padahal posisi mereka masih berada di kantin fakultasnya Julian, jelas interaksi sepasang kekasih itu menjadi bahan cuci mata untuk orang-orang yang ada di sana.


Tak terkecuali Jevano dan Jasmine.


Sepasang kekasih yang baru rujuk itu kebetulan mampir ke kantin untuk membeli beberapa snack buat Jasmine. Eh tak tahunya mata mereka justru dimanjakan dengan interaksi manis dan tak terpisahkan dari Serena dan Julian.


Lihat saja, sekarang Julian tak segan-segan lagi menunjukkan kemesraan serta skinship lebih intense pada Serena.


"Cih, dasar cewe murahan! Gagal gaet cowo orang, sekarang berusaha ngerayu cowonya sendiri," Jasmine mendesis kesal dan penuh dendam.


Namun moment ini bisa Jasmine gunakan sebagai senjata untuk menyerang kepercayaan diri Jevano.


"Kamu lihat sendiri, 'kan? Cewe yang kamu bela-belain justru asyik mesra-mesraan sama cowo. Gatau malu banget itu anak." Jasmine mencibir lagi.


"Serena itu bermuka dua! Dia sengaja bersikap sok lemah di depan orang biar semua kasihan sama dia. Gatau aja, Serena itu kayak serigala berbulu domba tau!" lanjut Jasmine, seakan tak ingin berhenti mengompori Jevano.


Tidak, Jevano tidak boleh mempercayai ucapan Jasmine mentah-mentah. Dia sudah mengenal Serena cukup lama, jelas semua yang Jasmine katakan sekedar omong kosong belaka. Tapi sialnya, emosi Jevano sedikit terpancing.


"Stop. Nggak usah banyak bicara lagi. Rasanya kayak kamu lagi ngomongin dirimu sendiri, tau nggak?" sarkas Jevano, yang seketika membungkam mulut pedas Jasmine.


Tanpa banyak bicara lagi, Jevano berjalan meninggalkan Jasmine. Sikap acuh Jevano benar-benar telah menginjak harga diri Jasmine. Tak ada lelaki yang pernah mengacuhkan dirinya seperti Jevano, Jasmine sangat kesal bukan main. Kalau begini terus, orang-orang akan melihat dirinya seakan mengemis cinta dan perhatian dari Jevano.


"Jevi~ Tungguin aku dong!" Sialnya, perasaan cinta Jasmine pada Jevano terlalu besar, hingga dia merelakan imagenya sedikit tercoreng demi mengejar sang kekasih.


Serena yang mendengar suara Jasmine, melirik ke sumber suara tersebut berasal. Dia melihat Jasmine berlari menyusul Jevano yang berjalan lebih dulu dengan ekspresi datar dan cuek.


Ahh, Serena tahu ekspresi itu. Itu ekspresi cuek Jevano terhadap seseorang yang tak disukainya. 'Apa terjadi sesuatu sama mereka?' Serena membatin penasaran. Dilihat dari segi manapun, tampak jelas bahwa Jasmine berusaha menempeli Jevano padahal lelaki itu kelihatan tak ingin diganggu.


"Hei..jangan fokus ke orang lain. Fokus aja sama aku," Tiba-tiba Julian menghadapkan wajah Serena ke arahnya secara paksa.


Dengan cepat Julian mencuri satu kecupan dari bibir kemerahan Serena yang begitu dekat dengan wajahnya.


Banyak saksi mata yang mencoba menahan rasa gemas mereka melihat serangan maut yang Julian berikan pada Serena. Sungguh momen yang amat langka, dapat menyaksikan secara langsung interaksi spesial antara si Pangeran kampus dengan salah satu anak kembar Reinhart.


Sarah yang memperhatikan Serena dan Julian dari kejauhan diam-diam meremas botol minuman yang berada dalam genggamannya.


'Nggak akan kubiarin kamu bahagia sama Julian. Lihat aja, cepat atau lambat, kalian pasti akan putus!' Sarah menyeringai tipis. Dia benci melihat wajah sok cantik Serena tersenyum seolah mengejeknya.


'Julian itu calon suamiku, nggak boleh ada orang yang mengambil dia dari tanganku!'