Mine

Mine
Chapter 49



Walau berulang kali berusaha melupakan kejadian semalam, Ainsley tidak bisa. Otaknya selalu memikirkan sentuhan-sentuhan tangan Austin yang bergerak di dalam tubuhnya. Bahkan bukan hanya tangan, mulut pria itu juga ikut andil seperti sedang memakannya. Badan Ainsley jadi panas dingin tiap kali mengingat kejadian malam itu.


Ia menggeleng-geleng kepala berusaha menyadarkan diri. Astaga, kenapa ini? Apa otaknya sudah ikut diracuni oleh otak mesum Austin sehingga dirinya jadi orang mesum juga? Ia merasa sangat berdosa karena memikirkan hal yang tidak pantas itu.


"Apa yang kau pikirkan?" Ainsley terlonjak kaget saat Fika menepuk punggungnya dari belakang. Lihat? Ia bahkan merasa seperti sedang tertangkap basah melakukan sesuatu. Padahal dia itu hanya dalam pikirannya.


"T..tidak," sahutnya was-was. Jangan sampai Fika menemukan ia sedang berpikir sesuatu yang tidak senonoh.


"Oh ya, campus kita bakalan ada event beberapa hari lagi. Kau tidak sedang sibuk kerjakan? Soalnya kita semua di tunjuk jadi panitia sama ketua BEM."


Ainsley bernafas lega. Fika tidak bertanya-tanya lagi padanya tentang apa yang dia pikirkan tadi, artinya dia sudah selamat. Tidak perlu berbohong dan tidak perlu gugup. Tapi, alisnya terangkat menatap Fika.


"Panitia, kita semua? Semua mahasiswa kampus?" ia bertanya karena ia tidak mengerti apa arti kata 'kita semua' yang di maksud oleh Fika. Fika sendiri malah tertawa.


"Bukan Ain, mana ada panitia event sampai ribuan orang gitu. Nanti yang jadi penonton siapa coba. Maksud aku kita berempat. Aku, kamu, Dara sama Mira." jelasnya. Giliran Ainsley yang tertawa. Masuk akal juga sih kata Fika. Masa semua penghuni kampus jadi panitia. Ya ampun, ia merasa dirinya sangat polos dalam hal ini. Padahal biasanya dia sangat fokus dan langsung tanggap. Tapi pikiran kotornya tentang semalam bersama Austin sudah membuat dirinya jadi gagal fokus.


"Kau tahu siapa ketua panitianya?" Fika terus menatap Ainsley. Ainsley sendiri menggeleng. Mana dia tahu. Kampus ngadain event saja dia baru tahu. Jadi panitia event pun dirinya tidak akan tahu kalau Fika tidak bilang.


"Alfa!"


satu nama itu membuat Ainsley cukup terkejut. Ia memang sudah beberapa kali jadi panitia saat ada event-event di kampus. Karena dirinya termasuk dalam anggota BEM.  Sama dengan Alfa. Dirinya masuk dalam BEM pun karena rekomendasi seniornya itu. Dia mau terlibat pun karena dulu ia menyukai Alfa. Berada dekat dengan pria itu membuat hatinya merasa senang. Ainsley tidak bisa memungkiri kalau dulu dia dan Alfa cukup dekat.


Sekarang Ainsley tidak antusias lagi mendengar nama pria itu. Apalagi memikirkan mereka akan sering bertemu nantinya. Akan sangat canggung rasanya. Ia tidak mau dirinya goyah lagi karena semua perlakuan manis Alfa. Apalagi sekarang ia sudah punya suami. Tidak ada yang tahu memang selain ke empat sahabat baiknya dan Alfa sendiri. Tapi Alfa tetap saja adalah sosok pria yang pernah ia sukai. Lebih baik menghindar daripada bermasalah nanti.


"Apa aku bisa mengundurkan diri dari panitia?" pertanyaan itu sontak membuat Fika menatap Ainsley heran.


"Kenapa? Memangnya kau tidak tahu kalau kita bantu-bantu jadi panitia di event yang ini, kelak kita tidak perlu ikut KKN. Admin kampusnya bilang KKN kita bisa dihitung dengan berpartisipasi di event ini. Kau yakin mau menolak?"  


Ainsley berpikir menimbang-nimbang. Benar kata Fika. Kesempatan ini sangat bagus. Akan sia-sia kalau ia buang begitu saja. Lagian mungkin dia yang terlalu geer akan bertemu terus dengan Alfa. Belum tentu juga kan. Dia yang terlalu percaya diri.


"Ya sudah kalau begitu. Tidak mungkin juga kan aku mundur sendiri." ucapnya mengambil keputusan. Fika bersorak senang.


"Dara sama Mira kemana?" tanya Ainsley. Ia tidak melihat mereka sejak tadi.


"Mereka lagi di ruang BEM, bentar ada rapat perdana. Aku disuruh manggilin kamu. Tapi kita bisa kesana kelar mata kuliah nanti." setelah berkata seperti itu dosen yang akan memberi kuliah hari ini muncul. Fika sampai-sampai menganggap dirinya seperti cenayang karena sih dosen yang muncul bersamaan dengan kata-katanya yang menyebut dosen tua itu.


                                      ***


Keduanya tidak perlu lagi susah-susah mencari bangku karena Dara Mira sudah menyiapkan bangku kosong dekat mereka. Namun berhadapan langsung dengan Alfa. Ainsley membiasakan dirinya agar  tidak terlihat canggung. Ia harus profesional.


"Sampai di mana tadi?" tanya Alfa. Perhatiannya sedikit teralihkan karena kedatangan Ainsley. Dalam hatinya ia senang melihat gadis itu. Padahal Alfa sempat ragu kalau Ainsley akan mau bergabung jadi panitia lagi. Tapi ternyata pikirannya salah. Sesekali ia melirik Ainsley yang kini sibuk dengan dirinya sendiri, menunduk sambil memain-mainkan kuku.


"Cari pebisnis yang mau jadi pembicara talkshow." kata Pingkan salah satu satu anggota BEM berambut pendek kecoklatan. Gadis yang suka mencari muka di kampus karena pintar.


"Kau ada masukan siapa?" tanya Alfa. Pandangannya lurus ke gadis itu.


"Austin Hugo!"


Nama yang disebut Pingkan itu sukses membuat Ainsley terbatuk-batuk. Sementara para sahabatnya hanya menahan senyum ketika semua menatapnya. Alfa langsung menyodorkan Aqua miliknya yang belum di minum.


"Minum dulu Ainsley," kata Alfa. Ia tidak berpikir sama sekali kalau batuk Ainsley berhubungan dengan ucapan Pingkan tadi. Terpaksa gadis itu mengambil botol minuman Alfa dan meminumnya. Beberapa cewek didalam situ merasa iri melihat Ainsley yang tampaknya cukup dekat dengan Alfa. Sampai dikasih minumannya segala. Alfa melirik Pingkan lagi.


"Jelaskan kenapa harus pria yang kau maksudkan tadi."


Semua kembali melirik Pingkan.


Mereka kenal Austin, tapi menurut mereka susah sekali mengundang pria itu.


"Kalian pasti tahu Austin Hugo kan? Dia sangat terkenal di dunia bisnis dan hampir semua bisnisnya berhasil. Kita bisa belajar banyak darinya. Para kalangan muda pun banyak yang mengidolakannya. Menurutku sih dia yang paling cocok." ucap Pingkan antusias.


"Tapi bagaimana caranya kita mengundangnya. Acara di tv-tv besar saja sangat sulit mengundangnya. Apalagi kita. Dan waktunya hanya beberapa hari lagi. Jangankan di tolak, bertemu langsung dengannya saja belum tentu bisa." kata Santo. Yang lain mengangguk setuju.


"Om ku bekerja di kantornya. Posisinya tinggi dan mereka cukup dekat. Aku bisa meminta bantuan padanya," tutur Pingkan menyombongkan diri.


"Jadi kau yakin bisa mengundangnya?" tanya Alfa. Pingkan langsung mengangguk penuh percaya diri.


"Kalau begitu, Austin Hugo kau saja yang mengurusnya. Sekarang kita bicarakan tentang yang lain,"


Ingin rasanya Ainsley memberi masukan untuk tidak mengundang Austin. Tapi mereka pasti akan bertanya apa alasannya. Tidak mungkinkan dia bilang Austin adalah suaminya. Gadis itu akhirnya mendesah pasrah.