Mine

Mine
Percobaan Pertama: Gagal



Jeng jeng!


Mata Julian mendelik begitu melihat kehadiran Caesar dan Dion di tempat yang sama dengannya.


"Ka-kak Caesar? Kalian kok ada di sini juga?"


Julian heran mengapa kedua sepupu Serena itu bisa-bisanya berdiri di depan pintu kamar inapnya dengan Serena, sambil memasang ekspresi galak pula, khususnya si Caesar.


Kedua tangan Caesar di lipat di depan d*ada. Sudah seharian ini mereka berusaha mencari Serena dan Julian, namun entah mengapa keduanya tidak bisa menemukan sepasang kekasih itu. Caesar yang tidak sabar dan kesal nekat mendatangi Serena langsung di kamar inap sepupunya.


Kebetulan mereka menginap di hotel yang sama, hanya berbeda lantai saja.


"Mana Serena? Dan apa-apaan penampilanmu itu?! Segera pakai pakaian tertutup biar mata Serena nggak tercemar!" Caesar menunjuk ke bathrobe yang membalut tubuh proposional Julian.


Di lihat dari penampilan Julian, ada dua kemungkinan yang dapat Caesar simpulkan: Julian habis selesai mandi atau laki-laki itu hendak pergi tidur.


Apa lagi ini sudah memasuki jam istirahat malam, mungkin opsi ke-2 terdengar lebih masuk akal.


Julian mengusak rambutnya kesal, lantaran pening memikirkan caranya Caesar datang ke tempat yang sama dengannya, "Kalian-Argh! Kalian pasti udah tau 'kan kalau aku sama Serena ke sini itu mau liburan?! Tolong kasih kami waktu buat bersenang-senang berdua, please!" Pada akhirnya Julian harus memohon supaya kedua sepupu Serena itu mau meninggalkan mereka berdua untuk sementara waktu.


"No!" Caesar menolak tegas. "Sebelum kalian resmi menikah, aku nggak akan biarin kalian liburan berdua aja, apalagi tinggal di kamar yang sama. Kau pikir aku nggak tau pikiran terpendam seorang laki-laki normal sepertimu?" Mata Caesar melotot garang memperingati Julian.


Akh! Tahu begini Julian memilih tempat yang terpencil saja biar Caesar tak bisa membuntuti dirinya dan Serena!


"Terus kalian datang malam-malam gini, juga mau gangguin kita?!" tuding Julian kemudian.


Dion sih angkat tangan, dia ke sini juga karena di paksa Caesar.


Caesar mendengus lelah, "Siapa yang mengganggu? Aku cuma mau melihat Serena kok. Mana dia? Apa dia udah tidur?" Insting laki-laki Caesar bekerja cukup akurat, Caesar bisa menebak apa yang akan terjadi pada sepupu cantiknya bila dirinya tidak mengintrupsi kegiatan kedua orang itu lebih cepat.


Julian menggerutu gemas, "Apa lagi kalau nggak tidur?! Toh kalian udah gangguin kita. Kalau nggak percaya, silahkan lihat aja sendiri."


Ketimbang adu bacot di lorong hotel dan mengganggu istirahat tamu-tamu lainnya, lebih baik Julian mempersilahkan Caesar dan Dion masuk untuk mengecek Serena dengan mata kepala mereka sendiri.


Setelah mendapat izin dari si penghuni kamar, Caesar bergegas masuk memeriksa kondisi Serena.


"Sorry, aku nggak tau kalau kak Caesar bakal senekat ini menyusul Serena," Dion berbisik meminta maaf pada Julian karena telah mengganggu liburan berharga sepasang kekasih tersebut.


Julian menghela nafas panjang, berusaha sabar. "Mau gimana lagi? Sulit menghentikan kak Caesar, tapi mungkin ini bukan pilihan buruk juga," dengusnya di akhir.


Kalau sudah begini, gagal sudah rencananya dan Serena.


"Masuk aja dulu. Aku mau ngerapiin barang belanjaanku dan Serena dulu biar lebih rapi," Julian mempersilahkan Dion masuk dan duduk terlebih dahulu sembari menunggu Caesar yang menghampiri Serena.


Lalu tak lama kemudian, terdengar suara dari dalam kamar tidur, itu adalah suara Serena yang sedang beradu mulut dengan Caesar. Bisa di tebak, Serena melayangkan protes dan mengeluh karena kedatangan Caesar yahg tak terduga.


"Kenapa kakak ke sini?! Jangan deketin aku sama Julian selama kami liburan di sini!" Serena memperingati Caesar supaya memberikan ruang untuknya menikmati sisa liburan yang tinggal berapa hari.


"Kakak datang ke sini sekalian pengen liburan juga bareng kamu. Kapan lagi kita bisa ketemu di tempat yang sama kayak gini 'kan? Memangnya kamu nggak mau liburan bareng sama kakak juga?" Muka Caesar di buat semelas mungkin agar Serena iba terhadapnya.


Serena yang duduk di pinggir ranjang sontak menepuk jidatnya cukup keras, lelah sendiri menghadapi kakaknya yang menjadi super posesif begini kepadanya. "Aku janji nggak akan ngelakuin sesuatu sebelum resmi menjadi sepasang suami istri. Kakak bisa pegang janjiku ini."


Serena bertatapan intense dengan Caesar, seakan memperlihatkan kesungguhan tekadnya yang bulat.


"Aku janji...aku nggak akan ingkar janji...kakak bisa pegang ucapanku," Serena tahu Caesar hanya terlalu mengkhawatirkan dirinya, dan Serena bisa melihatnya secara jelas melalui sorot mata sepupunya yang tampan itu.


"Kakak cuma nggak mau kamu kecewa kalau semisal suatu saat nanti, semuanya nggak berjalan sesuai harapanmu. Kamu itu berharga, kakak nggak mau kamu salah mengambil keputusan, apalagi bila ini menyangkut satu-satunya kehormatanmu.."


Caesar benar-benar mengutarakan kegelisahannya secara terus terang di hadapan Serena.


'Ahhh..karena kak Caesar tau seberapa besar luka yang kuterima dari cinta pertamaku, wajar kalau dia begitu mencemaskanku...kak Caesar nggak mau aku terluka lagi, dan menjadi pihak yang paling dirugikan andai aku benar-benar ngelakuin 'itu' lebih dulu sama Julian..'


Ini cukup menampar kerasionalan Serena dan menyadarkan gadis itu betapa berharga dan pentingnya menjaga kehormatan sebelum resmi menjadi seorang istri.


"Iya...makasi banyak. Kakak selalu mikirin aku, maaf aku selalu berpikiran sempit, tanpa mikirin konsekuensinya di masa depan.."


Caesar menghela nafas panjang seraya tersenyum tipis. "Gapapa. Aku mengerti kamu udah sepenuhnya percaya sama Julian, tapi seberapa besar kepercayaanmu itu, kamu nggak boleh serahin semuanya yang kamu punya cuma buat orang lain, sebelum kamu berdua terikat dalam status hubungan yang jelas dan sah secara hukum. Karena itu bisa melindungimu saat dibutuhkan."


Ucapan Caesar tak sepenuhnya salah. Serena nyaris menyerahkan sesuatu yang paling berharga dan satu-satunya dia miliki untuk Julian seorang. Andaikata terjadi suatu masalah di masa depan, Serena bisa saja kehilangan segala-galanya dan akan berada di posisi yang paling dirugikan bukan secara finansial tetapi secara batin dan mentalnya.


"Ya, kakak benar. Maaf aku nggak berpikiran sampai sejauh itu..." Ada baiknya Serena dan Julian bisa menahan diri sedikit lagi.


"Makasi udah mengingatkanku. Kakak benar-benar yang terbaik!" Serena tak dapat menahan keinginannya memeluk sang kakak dengan erat.


Rasa kesal yang sempat menyelimuti perasaan Serena seketika sirna, tergantikan oleh perasaan bersyukur dan berterima kasih atas kedatangan Caesar yang banyak membantu dirinya yang masih kekanak-kanakan ini.


Caesar membalas pelukan Serena pada pinggangnya sambil mengusap-usap puncak kepala sang adik. "Kamu itu adalah matahariku, kakak cuma ingin kamu tersenyum lebar dan bahagia selalu. Kamu adalah adik yang sangat kusayangi dan paling berharga di hidupku..walau kita sering beradu argumen, itu karena kakak ingin kamu mendapatkan yang terbaik.."


"Sampai tiba saatnya kakak menyerahkan genggaman tanganmu pada orang lain, kakak nggak akan berhenti menjaga dan melarangmu seperti ini. Jadi tolong, biarkan pria egois ini memonopoli dirimu sebelum kamu resmi menjadi milik orang lain."


Serena tertawa renyah mendengar ucapan Caesar yang terkesan menggelikan. Namun anehnya, perkataan Caesar seakan sanggup menghipnotis dirinya dan menariknya dari kebodohan yang bisa merugikan dirinya sendiri.


Serena bersyukur mempunyai Caesar di sisinya. Sama halnya seperti Caesar, Serena juga selalu mendoakan yang terbaik untuk kakak sepupunya itu dan berharap agar suatu saat nanti Caesar dipertemukan dengan wanita cantik nan baik hati.