Mine

Mine
Chapter 65



Ainsley terus bergerak gelisah diatas ranjang. Ia tidak berani tidur karena ancaman Austin dalam pesan what's upnya. Yah, Austin memberinya perintah jangan tidur. Karena malam ini pria itu akan...


Ainsley malu membayangkannya. mengingat sentuhan-sentuhan Austin ditubuhnya, membuat jantungnya  kembali berdebar-debar. Dan malam ini, mereka akan melakukannya lagi. Ainsley sendiri tidak bisa menolak karena ia sudah memutuskan untuk memberi dirinya sepenuhnya pada laki-laki yang telah menjadi suaminya itu. Terlebih lagi, Ainsley tidak munafik ia juga merindukan sentuhan kenikmatan itu, tapi...


Gadis itu memutuskan bangkit dari ranjang dan duduk dimeja belajar untuk membaca buku. Ia butuh bacaan yang menarik untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang membuatnya gelisah bukan main itu. Ia bahkan tidak sadar sudah lebih dari setengah jam dirinya membaca buku. Bahkan ketika pintu kamar itu terbuka, ia tidak sadar sama sekali.


"Apa yang kau baca?" suara Austin yang amat mendominasi terdengar berbisik pelan ditelinganya. Ainsley kaget, tapi dibandingkan kaget ia lebih merasa harus bernafas dengan baik menghadapi pria itu. Bulu kuduknya berdiri, bukan karena ketakutan, namun ia gugup.


Ia merasakan dagu Austin sudah bersandar dibahunya dengan mata yang tertuju pada buku yang dibacanya tadi. Ainsley cepat-cepat menutup buku itu. Buku yang sedang ia baca dengan sangat serius itu sebenarnya adalah sebuah tulisan tentang bagaimana membuat pasangan kita bahagia. Jelaslah ia malu jika ketahuan oleh Austin ia membaca buku seperti itu. Salahkan Dara yang meminjamkan buku itu padanya. Salahkan dirinya sendiri yang juga tertarik untuk membaca buku tersebut. Ainsley berharap Austin tidak melihatnya. Sayangnya sudah terlambat, ternyata pria itu sudah tahu buku apa yang sedang dibacanya.


"Jadi, kau sudah menemukan bagaimana cara membuat suamimu bahagia?" Ainsley menutup mata dan merutuk dalam hati. Bodoh, bodoh, bodoh. Ia merasa sangat malu. Apa yang harus dia lakukan? Dia harus menjawab apa?


"A..aku belum sempat membacanya." astaga Ainsley, alasanmu terlalu jelas. Gadis itu bisa mendengar Austin tertawa kecil dibahunya.


"Kau pembohong yang buruk, sangat buruk." ucap pria itu. Ainsley menggigit bibirnya menahan malu.


"Kau tidak mandi dulu?" Ainsley sengaja mau mengulur waktu agar dia bisa benar-benar mempersiapkan diri saat laki-laki itu mandi. Sayang sekali jawaban yang ingin Ainsley dengar sama sekali tidak keluar dari mulut suaminya.


"Aku masih wangi, kau tidak bisa menciumnya?" sahut Austin percaya diri. Memang benar dia masih wangi. Ainsley jelas dapat mencium aroma wangi yang menyegarkan dari tubuh pria itu.


"Kenapa, kau gugup karena kita akan melakukannya lagi?" bisik Austin dengan nada menggoda. Ainsley tidak menjawab. Pakai ditanya lagi, tentu saja dia malu. Austin yang tadinya membungkuk dengan dagu bersandar dibahunya, kini berdiri tegak dan menarik pelan dirinya agar berdiri dari kursi.


Lengan kekar pria itu melingkari pinggang Ainsley. Menarik paksa tubuh gadis itu mendekat. Austin menatap intens istrinya yang telah berada dalam pelukannya itu.


Salah satu tangannya merambat naik, menekan punggung Ainsley sehingga jarak diantara mereka semakin menipis. Austin menundukkan kepala, menghirup aroma tubuh istrinya dengan rakus. Baju tidur yang dipakai gadis itu memang terkesan tidak ada menarik-menariknya, tapi tetap saja Austin tergoda.


"I miss you," Austin semakin menenggelamkan wajahnya pada leher Ainsley. Tangan lelaki itu membelai leher Ainsley lembut dan mengangangkat dagu istrinya agar mendongak menatap wajahnya.


"Mmpph..." Ainsley bergumam tertahan.


Tanpa aba-aba Austin membungkam mulutnya dengan bibirnya. Menciumnya dengan agresif hingga membuat Ainsley merasa kewalahan.


"Eumhh..." Austin mengerang pelan ketika ia menekan tengkuk leher istrinya untuk memperdalam ciuman mereka. Setelah puas bermain dengan  bibir Ainsley, Austin melepaskan ciuman itu.


Tanpa aba-aba ia lalu menggendong Ainsley ke ranjang. Ia mendudukkan istrinya pada tepian ranjang dan mulai membuka seluruh pakaiannya dihadapan Ainsley. Refleks Ainsley menutup mata.


"Jangan ditutup," perintah Austin cepat.


"Aku ingin kau melihatku, dan mengingat semua bagian yang ada pada seluruh tubuh suamimu ini. Buka matamu Ainsley," dengan perlahan Ainsley membuka matanya yang terpejam. Wajahnya sudah berubah merah seperti tomat, ia merasa seperti sedang menonton film porno saat melihat suaminya melepaskan seluruh pakaiannya dan sudah telanjang didepannya.


Sesuatu yang besar dibawah sana, yang sudah pernah masuk dalam dirinya telah berdiri tegak dan tegang.  Membuat Ainsley menelan ludah. Austin maju selangkah dan membantu Ainsley membuka bajunya.


"Kau tidak pakai bra," Ainsley menggigit bibirnya lirih. Ia sengaja memang tidak memakai bra karena menurutnya akan percuma saja jika dia pakai. Tetap akan dibuka juga. Jadi akan lebih gampang kalau dia tidak memakainya. Ainsley menjerit tak tertahan ketika Austin mencubit pelan pucuk ***********. Apalagi mulut pria itu sudah berada di sana, mencicipinya dengan semangat berapi-api. Rasanya benar-benar...


Ainsley terkesiap, merasakan jemari Austin menyelusup ke dalam celana tidur yang belum dilucuti dan menyentuh bagian tubuhnya yang paling sensitif. Pria itu menyelipkan satu jari dan mencumbu Ainsley, berusaha sepelan mungkin meski hasratnya sudah hampir menggelegak, Ainsley terpekik dan mencengkram pundak Austin dengan erat.


Entah kapan mereka sudah berbaring diatas ranjang itu dengan posisi Austin berada diatasnya Ainsley sudah tidak sadar lagi. Yang ia tahu dirinya sangat menikmati perlakuan lembut suaminya malam ini.


Austin turun dari atas tubuh Ainsley dan memilih berbaring disamping istrinya. Ainsley sendiri masih lemas setelah orga*me yang mereka lalui. Austin tersenyum penuh kebahagiaan. Ia mengetatkan pelukannya ke punggung Ainsley yang setengah tertidur.


"Setelah ini apakah kau akan mendengarkan suamimu ini? Maksudku, kau akan benar-benar menganggapku sebagai suami dan melakukan tanggung jawab sebagai seorang istri." gumamnya.


Ainsley membuka mata penuh. Menatap pria yang menghadapnya dan tengah menatapnya dengan penuh pengharapan. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk pelan. Austin begitu senang mengetahui gadis itu sudah bisa menerimanya tanpa perlu dipaksa lagi. Ia mengecup dahi Ainsley penuh kasih sayang. Sekarang ia tahu, rasa cintanya pada gadis itu amat besar. Sampai-sampai ia takut kehilangan gadis itu.


"Austin,"


"Mm?" 


"Aku sudah memutuskan untuk belajar mencintaimu. Karena itu,  semua yang ingin aku lakukan aku ingin meminta pendapatmu terlebih dahulu, karena kau adalah kepala keluarga." Austin merasa senang dengan dua kata terakhir dalam kalimat istrinya.


"Sore tadi, aku mendapat undangan dari Sol agency."