
Iren ingin memekik saat melihat Narrel yang tiba-tiba nongol dalam toilet wanita tersebut. Namun mulutnya cepat-cepat dibekap oleh lelaki itu hingga dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Narrel bahkan dengan paksa menariknya ke bilik dalam toilet tersebut dan mengukungnya ditembok sempit tersebut.
"Diam." kata pria itu kemudian sambil menatap Iren lurus. Terpaksa wanita itu menurut saja. Apalagi mereka sekarang berada dalam bilik itu berduaan. Bisa bahaya kalau sampai mereka tertangkap basah. Astaga, apa yang dilakukan laki-laki gila ini sih. Kenapa mengikutinya sampai ke toilet. Gadis itu menepuk-nepuk lengan Narrel bermaksud agar pria itu melepaskan bekapannya dari mulutnya. Ia merasa kesulitan bernafas. Narrel yang menyadari hal itu, menurunkan tangannya dari mulut Iren, tapi tetap mengukung perempuan itu. Tidak membiarkan wanita itu kabur. Tapi harusnya sih, Iren tidak bisa kabur, karena tempat ini sempit. Akan susah bagi wanita itu kabur dengan keadaan begini.
Narrel terus menatap lekat-lekat mata gadis itu.
"Tatap aku." gumam Narrel setengah berbisik. Tapi Iren terus membuang mukanya ke arah lain. Ia terlalu malu menatap Narrel. Jantungnya sangat tidak bersahabat dan terus berdetak begitu kencang. Ia takut Narrel mendengarnya. Sejak peristiwa malam itu, Iren sungguh tidak berani berada lama di dekat Narrel. Laki-laki selalu membuatnya berdebar-debar seperti sekarang ini.
"Aku bilang tatap mataku, Iren." tekan Narrel sekali lagi. Iren menelan ludah. Mau tak mau ia menatap laki-laki itu. Mata mereka bertemu, dan tatapan Narrel begitu tajam dan dalam. Sampai-sampai Iren merasa lututnya tiba-tiba berubah lemah, tidak sanggup berdiri tegak.
"Kenapa menghindariku?" tanya Narrel, lalu ia menautkan jemari kedua tangannya pada jemari Iren dan diangkatnya tangan mereka berdua hingga Iren bisa merasakan kedua tangannya sudah menempel ke dinding belakangnya bertautan dengan jari-jari Narrel.
"A..aku..tidak menghindar. Kau tahu kan bagian marketing sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi aku berinisiatif membantu mereka." jawab perempuan itu beralasan. Narrel mendengus.
"Kau pikir aku bodoh? Kau jelas sedang menghindariku nona Iren." tekan pria itu lagi.
"Apa kau menghindariku karena kejadian malam itu?" Narrel bertanya lagi. Kalau seandainya Iren bilang dia lupa dengan kejadian yang terjadi malam itu, ia dengan senang hati akan membuat wanita itu ingat kembali. Meski ia yakin seratus persen kalau Iren pasti masih mengingatnya. Itu sebabnya wanita itu sengaja menghindarinya.
"A..aku tidak tahu apa maksudmu. Tolong lepaskan aku. Temanku mungkin sudah didepan." balas Iren berdalih. Ia berusaha menyingkirkan tubuh Narrel yang terus mengungkungnya namun pria itu terlalu kuat, ia tidak bisa bergerak sama sekali. Lalu dirasanya wajah pria itu mendekat ke telinganya.
"Kalau kau tetap bersikeras tidak ingat apa-apa, aku bisa mengingatkanmu lagi. Aku akan membuatmu ingat setiap detik yang kita berdua habiskan malam itu." bisik Narrel serak, tak lupa meniup pelan telinga Iren, menggodanya, hingga gadis itu menggeliat. Iren menelan ludahnya. Saat ini otaknya benar-benar kosong. Ia tidak bisa memikirkan apapun.
"A...apa maumu?" ujarnya menatap Narrel. Pria itu tersenyum menyeringai.
"Katakan dengan jujur, kau ingat malam itu atau tidak." Iren menghembuskan nafas lelah. Lebih baik dia jujur saja. Daripada di kejar-kejar terus menerus seperti ini.
"Kalau aku mengingatnya, apa urusannya denganmu? Aku tahu aku sangat mabuk waktu itu. Kalau kau keberatan dengan kejadian itu, aku minta maaf. Tapi, pengalamanmu yang sudah bercinta dengan banyak wanita, aku rasa malam itu tidak ada apa-apanya bagimu kan? Jadi, lebih baik kita lupakan saja kejadian malam itu." kata Iren panjang lebar. Kali ini ia menatap mata Narrel dengan berani.
"Kau satu-satunya wanita perawan yang aku tiduri Iren, asal kau tahu." katanya penuh penekanan.
"Apa bedanya?" tanya Iren seakan menantang laki-laki didepannya itu. Narrel mendengus keras. Rahangnya mengeras.
"Jadi kau mau aku menyamakan dirimu dengan wanita-wanita lain yang pernah aku tiduri?" sentaknya tajam. Pria itu bahkan tidak sadar mereka berada di toilet wanita saat ini. Ia merasa begitu kesal. Baru kali ini ia merasa ditolak. Oleh asistennya sendiri.
"Pelankan suaramu." gumam Iren dengan suara pelan. Amat pelan. Ia sangat takut kalau mereka sampai ketahuan. Bisa-bisa viral lagi di tiktok. "Seorang karyawan kantor berbuat mesum dengan atasannya sendiri di dalam toilet." kan bukan malu. Iren menggeleng-geleng ngeri memikirkan hal itu. Ia menatap Narrel lagi, ikut merasa kesal.
"Kenapa denganmu? Apa yang membuatmu mar, mmph..." Narrel tiba-tiba ******* kasar bibir Iren. Wanita itu melotot saking terkejutnya dengan serangan tiba-tiba tersebut. Ia memukul-mukul lengan Narrel, mencoba menghentikan lelaki itu. Namun Narrel terus menciumnya dengan membabi buta. Ciuman panas itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya Narrel melepaskan ciuman tersebut. Keduanya sama-sama terengah-engah.
Iren menatap Narrel tajam. Bibirnya terasa tebal akibat hisapan kasar laki-laki itu. Sementara Narrel sendiri malah merasa puas. Ia bahkan ingin berbuat lebih jauh, tapi ia menghormati wanita itu. Dirinya memang brengsek, tapi ia ingin terlihat sedikit lebih baik dimata Iren. Ia sadar dirinya sudah tertarik pada wanita ini.
"Kau gila! Kenapa kau..."
"Aku rasa aku menyukaimu." potong Narrel to the point, hingga Iren melotot tidak percaya.
"Kau tahu, setelah malam itu... aku tidak pernah lagi meniduri perempuan manapun. Minatku pada mereka tidak ada lagi karena aku terus memikirkan dirimu. Saat kau sengaja menghindariku, entah kenapa aku sangat marah. Saat kau menyuruhku melupakan apa yang kita lakukan malam itu, hatiku sakit rasanya. Akhirnya aku sadar... Aku sudah menyukai dirimu Iren." tutur Narrel panjang lebar. Iren terdiam. Ia tidak percaya akan mendengar kalimat seperti itu dari mulut seorang Narrel. Laki-laki yang tidak pernah mempercayai cinta. Sesaat Iren berpikir apakah itu hanyalah salah satu trik Narrel untuk membuatnya bertekuk lutut? Tapi ungkapan pria itu terlihat begitu tulus, matanya tidak berbohong dan hatinya ikut percaya. Tapi untuk sekarang, dirinya tidak berani berkomitmen. Ia masih trauma dengan masa lalu.
"Tapi aku..."
"Aku tahu." potong Narrel langsung.
"Aku tidak akan memaksamu menerimaku sekarang. Aku hanya ingin, kau tetap berada dalam pandangan mataku. Jangan menghindariku lagi, kamu mau kan?"
Iren berpikir sebentar. Menurutnya tidak ada salahnya menerima permintaan atasan tersebut. Lalu tanpa pikir panjang lagi ia mengangguk mengiyakan, lalu dirasakannya Narrel tiba-tiba memeluknya sangat erat.