
"Ughh...badanku...gila, sakit semua!!!"
Serena hanya bisa menggigit gemas selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya.
Matahari bahkan sudah berada di puncak tetapi Serena belum beranjak sama sekali dari atas ranjang.
Semalam menjadi hari yang paling melelahkan sekaligus mendebarkan di sepanjang umur Serena. Sensasi panas ketika permukaan kulitnya menyatu dengan sang suami, saling bertukar sal!va, dan melakukan kegiatan !ntim bersama suami tampannya, Serena masih mengingatnya dengan amat jelas.
Wajah Serena tak berhenti memerah setiap kali mengingat pergulatan panas mereka semalam suntuk. Tenggorokannya sampai terasa kering dan serak. Parahnya lagi Serena tidak berani ke luar kamar karena takut di goda oleh orang-orang rumah lainnya.
Apa lagi kalau mereka melihat bercak kemerahan yang menghiasi kulit lehernya. Dih, Serena makin ogah keluar kalau tidak ada baju yang bisa menutupi seluruh tubuhnya.
Ceklek
"Oh? Kamu udah bangun, sayang. Kebetulan, nih aku bawakan makan siang buat kita."
Si pelaku yang meninggalkan tanda kemerahan akhirnya muncul juga. Serena tak bisa berhenti memelototi suaminya yang pura-pura tidak melihat ke arahnya, sambil membawa baki berisi makan siang mereka berdua.
"Kamu mau mandi dulu, hm? Aku bantu ke kamar mandinya ya? Badanmu pasti masih sakit semua 'kan?"
Senyum lebar terpancar dari wajah tampan Julian yang entah kenapa terlihat berkali-kali lebih segar ketimbang biasanya. Ketampanan Julian berhasil menyilaukan mata dan hati Serena. Lagi-lagi dia lemah hanya karena wajah tampan suaminya itu! Kesal sekali rasanya!!
"Ughh!! Kenapa aku nggak bisa marah sih sama kamu?!" Serena jadi frustasi sendiri.
Julian tertawa lepas melihat tingkah istri mungilnya yang uring-uringan sendiri. Julian gemas sekali, apalagi melihat kondisi Serena pasca malam pertama mereka yang panas. Lihatlah rambut panjang Serena yang berantakan, di tambah dengan tanda-tanda kemerahan yang tercetak jelas di beberapa titik pada tubuh putih mulus istrinya, entah mengapa menambah kesan hot yang sulit diuraikan dengan kata-kata.
Julian berlari kecil menghampiri sang istri lalu memeluk tubuh yang lebih pendek dengan sangat erat.
"Sayang~ Aku sulit bernafas ini~" Serena menepuk bahu Julian beberapa kali agar pelukan mereka sedikit dilonggarkan. Bukannya menurut, Julian justru menindihi tubuh Serena sampai keduanya kembali berbaring di atas ranjang yang masih berantakan.
"Rasanya masih kayak mimpi aja..." ucap Julian, tanpa melepaskan pelukannya dengan Serena.
Serena pun juga demikian, dia masih merasa seperti di alam mimpi dan tidak ingin dibangunkan bila ini memang mimpi semata.
"Aku juga. Rasanya nggak mau keluar dari ruangan ini.." timpal Serena, seraya memandangi langit-langit kamar mereka.
Sayangnya, sejauh apa mimpi indah mereka bergulir, tetap akan menemui titik akhir. Begitu pula dengan saat ini, mereka harus kembali dihadapkan dengan realita kehidupan yang berat dan keras. Rasanya tak rela beranjak dari ranjang dan ingin berpelukan satu sama lain selama yang mereka bisa.
"Aku juga pengennya kita mengurung diri di kamar aja sampai cuti kita selesai. Tapi kayaknya mustahil, karena Papa mau kasih hadiah buat kita di bawah," ujar Julian, lalu menarik tubuhnya dari atas Serena.
"Hadiah apa?" Perasaan Serena sudah menerima banyak hadiah dari banyak orang, khususnya Tuan Joseph itu sendiri. Tapi masih ada lagi?
Serena rasa dia harus membangun satu ruangan lagi, khusus untuk menampung barang-barang pemberian orang untuknya.
"Aku tebak sih, tiket honeymoon kita. Karena seingatku, Papa yang keukeh mau ngasih kita hadiah itu 'kan sebelum menikah?" Julian mencoba menerka-nerka.
Serena ingat soal janji ayah mertuanya beberapa bulan yang lalu, tapi Serena tidak terlalu yakin, sebab khawatir tiket itu untuk liburan satu keluarga sekalian.
"Aku tau kamu pasti khawatir, soalnya aku sendiri juga merasa ada yang janggal. Tapi kamu tenang aja, nanti kalau Papa bener-bener ajakin liburan satu keluarga, biar aku yang maju nasehatin orang tua itu," Julian berusaha menghibur Serena yang kelihatannya ragu.
Apa boleh buat kalau Julian sendiri yang akan turun tangan. Untuk kali ini saja, mereka tak ingin ada yang mengganggu masa-masa indah sebagai pengantin baru.
🦋
"Jasmine, kamu mau pergi ke mana?"
Nyonya Esther menegur puterinya yang baru turun dari tangga.
Jasmine sudah berpakaian rapi seperti hendak mau pergi. "Eum, aku keluar sebentar, Ma. Cari angin." Hanya itu yang bisa Jasmine berikan sebagai jawaban.
Sebenarnya Nyonya Esther khawatir dengan kondisi Jasmine. Sedari kemarin puterinya menolak keluar dari kamar bahkan pelayan terpaksa mengantarkan makanan naik ke kamar gadis itu. Waktu Nyonya Esther hampiri juga Jasmine menolak berbicara empat mata, jadi Nyonya Esther merasa ada yang terjadi pada puterinya.
Bila di amati dari ekspresi Jasmine, firasat Nyonya Esther sepertinya tidak keliru. Pasti ada masalah sampai membuat Jasmine yang biasanya cerewet jadi pendiam begini.
"Di antar supir ya? Jangan pulang malam-malam, Mama mau makan malam sama kamu hari ini," pesan Nyonya Esther, pada puterinya yang bersiap hendak pergi.
Jasmine mencengkram erat tali selempang tasnya lalu mengangguk kecil. Bibirnya hanya menyunggingkan seulas senyum tipis, sebelum berpamitan pergi pada sang ibu.
Nyonya Esther menghela nafas panjang, satu masalah terselesaikan kini muncul masalah baru. Memang sulit menghadapi anak-anak muda apalagi jika sudah berurusan dengan asmara begini. Nyonya Esther tebak, sikap aneh puterinya ini ada kaitannya dengan Jevano.
Siapa pun dapat melihat bila hubungan Jasmine dan Jevano tengah direndung masalah. Buktinya ketika menghadiri upacara pemberkatan serta resepsi pernikahan Serena, sepasang kekasih itu tak nampak banyak berinteraksi manis seperti sedia kala.
Nyonya Esther hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak masalah bila pasangan yang di pilih bukan berasal dari kalangan atas, asalkan puterinya mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Belajar dari kesalahannya pada Serena, Nyonya Esther kini tak lagi terobsesi untuk mendorong Jasmine menjadi seperti apa yang beliau inginkan. Apalagi setelah melihat sikap Jasmine sewaktu bertengkar dengan Serena dulu, semua menjadi sangat kacau dan di luar kendali.
Nyonya Esther tak menginginkan hal buruk seperti itu kembali terulang dan memecah belah keluarganya menjadi sangat berantakan.
"Mama harap kamu bisa menentukan pilihan terbaikmu sendiri dari semuanya, Jasmine sayang. Mama janji nggak akan ikut campur dalam urusan hidupmu lagi, asalkan kamu bisa menemukan kebahagiaanmu seperti Serena.."
.......
.......
"Maaf, aku buat kamu nunggu lama ya?"
Jevano baru saja tiba di cafe tempat pertemuannya dengan Jasmine hari ini.
Jasmine tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. Entah mengapa dia merasa gugup berhadapan dengan Jevano. Hatinya sedari tadi tidak tenang, terlebih lagi dia penasaran dengan apa yang ingin Jevano bicarakan hari ini.
Tanpa basa basi, Jevano ingin mereka bicara langsung ke inti.
"Jasmine, maaf mengatakan ini, tapi aku udah berpikir matang-matang sebelumnya. Aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita, aku ingin kita selesai cukup sampai di sini."