Mine

Mine
Chapter 50



"Kau diundang jadi salah satu pembicara di acara talkshow bisnis kampus."


Austin tidak tertarik mendengar perkataan Narrel. Sudah bosan dirinya menjadi pembicara. Memangnya tidak ada yang lain apa? Sekalian saja undang dia jadi dosen yang mengajar di kampus itu.


"Tolak saja." perintahnya langsung. Narrel menatapnya lama.


"Kau sungguh ingin menolaknya?" tanya pria itu. Austin berdecak, mengangkat wajahnya melirik Narrel.


"Memangnya kau pernah lihat aku membatalkan ucapanku?" katanya.


Narrel mengangkat bahu.


"Padahal itu kampus istrimu. Tapi kalau kau memang mau membatalkannya, aku akan langsung menolak pihak mereka." ucap Narrel santai dan bersiap-siap pergi dari ruangan itu, sontak Austin menghentikannya.


"Tunggu!"


Narrel tersenyum. Ia tahu kelemahan Austin sekarang. Sebut saja nama Ainsley, dan pria itu akan langsung terpengaruh.


"Bagaimana, masih ingin menolak?" Narrel sengaja bertanya padahal ia tahu Austin pasti akan menyuruhnya menerima tawaran itu.


"Kau yakin itu kampus Ainsley?" tanya Austin memicingkan mata. Bisa sajakan Narrel hanya mau menipunya. Dia harus memastikan.


"Kau bisa periksa sendiri." balas Narrel. Austin mengetuk-ngetuk jari di meja.


"Kalau begitu terima saja tawaran mereka." ujar Austin membuat keputusan. Narrel tersenyum puas lalu lanjut keluar. Benarkan, Austin pasti akan menerima tawaran itu karena Ainsley.


Austin sendiri tersenyum senang. Sudah hampir dua hari ini istrinya itu menghindarinya. Tiap kali Austin pulang kantor, Ainsley pura-pura sudah tertidur, padahal Austin tahu gadis itu hanya pura-pura. Tapi Austin tidak marah dan malah membiarkan, karena ia tahu Ainsley pasti masih malu padanya karena kejadian beberapa hari lalu. Tadi pagi juga Ainsley sudah keluar rumah pagi-pagi sekali. Mereka belum pernah bicara beberapa hari ini, bahkan hampir seminggu.


"Kau tidak bisa menghindariku terus," gumam Austin menatap foto Ainsley yang terpampang di sebuah bingkai kecil di atas meja kerjanya. Apalagi kini hari untuk menagih jatahnya sebagai suami pada gadis itu makin dekat. Memikirkan itu, Austin makin merasa senang.


                                    ***


Besoknya banyak sekali mahasiswa yang sudah berkumpul di aula kampus. Tak ketinggalan dosen-dosen kampus yang ikut hadir. Setelah mendengar bahwa Austin Hugo yang akan menjadi pembicara di talkshow bisnis, mereka semua sangat antusias. Tak dipungkiri banyak orang yang ingin belajar bisnis dari seorang Austin. Apalagi para anak muda. Selain menjadi idaman banyak wanita, Austin juga menjadi seorang pebisnis yang ingin di contohi banyak kalangan muda.


Ainsley tidak berhenti-berhenti merasa heran dengan kehadiran orang-orang dalam aula itu. Apakah hanya dia yang tidak tahu kalau suaminya seterkenal ini? Gadis itu menggeleng-geleng kepala dan bertepuk tangan dalam hati. Tidak sanggup berkata-kata.


"Mereka tidak tahu saja, salah satu perempuan dalam aula ini adalah istrinya Austin Hugo." bisik Dara pelan di telinga Ainsley. Keduanya berada di tengah aula, sedang mengatur-atur posisi kamera yang pas untuk merekam saat Austin membawakan talkshow nanti.


"Ssst.. jangan kuat-kuat. Nanti ada yang dengar." tegur Ainsley pelan. Mereka tidak menyadari Alfa yang berdiri di ujung sana tengah mengamati mereka. Lebih khusus Ainsley. Di sebelah Alfa, berdiri Rumi yang terlihat sangat bete karena sejak tadi dicuekin Alfa terus. Rumi kesal dan cemburu karena Alfa hanya mempedulikan Ainsley sejak tadi. Padahal tunangannya itu ada disampingnya.


"Jangan gangguin aku, bisakan? Kau tidak lihat aku sedang sibuk?" kata Alfa tegas. Ia jadi malu pada panitia yang lain, yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Lebih baik kau cari tempat untuk duduk, jangan membuatku pusing di sini." tambahnya. Rumi akhirnya berbalik pergi dari tempat itu dengan wajah kesal. Ia sempat melihat ke arah Ainsley dan Dara. Dirinya makin kesal karena Dara seperti menertawainya. Sial.


"Bagaimana, sudah beres?" Ainsley dan Dara menatap Alfa yang kini sudah berdiri didepan mereka.


"Mm, Austin bagaimana? Sudah datang?" Daralah yang menjawab sekaligus bertanya. Alfa mengangguk.


"Dia sedang bersama Pingkan dan yang lain. Kalau semuanya sudah siap, kita akan segera mulai." Alfa memfokuskan pandangannya ke Ainsley.


"Ain, minum dulu." pria itu menyodorkan botol Aqua kedepan Ainsley. Ia melihat gadis itu sudah kecapean sejak tadi. Sebenarnya Ainsley tidak enak mengambilnya, tapi ia juga sudah haus. Biar deh, lagipula Alfa sudah berniat baik. Tidak baik menolakkan?


"Thanks," ucap Ainsley mengambil air minum itu dari Alfa. Mereka tidak sadar Rumi sedang menatap mereka dari jauh dengan tangan terkepal.


Suasana aula makin riuh. Alfa, Ainsley dan Dara menatap ke depan. Pingkan, dua teman mereka yang lain muncul bersama Austin yang berjalan tegap didepan mereka.


Ainsley mendengus pelan. Entah kenapa ia merasa Austin sedang menebarkan pesona pada orang-orang. Ia melirik Dara yang tiba-tiba menyikutnya dan menatapnya dengan tatapan menggoda. Ainsley langsung memberikannya peringatan dengan matanya. Ada Alfa di dekat mereka. Ia tentu tidak mau pria itu curiga ia ada hubungan dengan Austin.


Terdengar suara Pingkan di mic. Gadis itu membuka dengan perkenalan setelah itu langsung memberikan kesempatan pada Austin untuk bicara.


Ketika pria itu membuka suara, suasana tiba-tiba sepi. Mereka semua serius mendengar. Cara bicara Austin memang sangat berpengalaman dan penuh wawasan. Ainsley jadi berpikir kalau lelaki itu cocok jadi dosen juga. Bahasanya sangat mudah dipahami. Mungkin kalau Ainsley memiliki dosen pembimbing seperti Austin, ia akan semangat sekali menyusun skripsinya.


Mata Ainsley melebar ketika pandangannya bertemu dengan pandangan Austin. Sedetik kemudian, semua orang ikut menatapnya.


"Kau yang di sana,"


Ainsley masih berdiri linglung. Ia tidak tahu kalau dirinya yang di maksud Austin sampai akhirnya Alfa menepuk bahunya.


"Dia bertanya padamu." gumam Alfa pelan. Ainsley menatap Austin lagi.


"Apa pendapatmu tentang perkataanku tadi?" tanya Austin lagi dari depan. Ainsley bingung. Ia kan tidak tahu apa yang pria itu bilang, pikirannya ada di tempat lain tadi.


"A.. aku akan giat mengerjakan skripsi kalau kau adalah dosen pembimbingku." kata Ainsley tanpa sadar. Di otaknya hanya terpikir itu.


Gelak tawa semua orang langsung memenuhi aula. Termasuk Austin yang berusaha menahan senyum dan Narrel di belakang panggung yang hanya menggeleng-geleng kepala. Sungguh jawaban yang sangat di luar dugaan.


Ainsley malu sekali dengan jawaban bodohnya. Astaga, kenapa dengannya? Bikin malu saja. Ia lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu saking malunya.