
Libur musim dingin telah tiba, tak ada banyak hal yang bisa Serena kerjakan di cuaca yang sedang buruk seperti sekarang. Julian, Elliot dan Tuan Joseph masih sering berpergian ke kantor meski intensitasnya berkurang akibat pengaruh cuaca yang tak menentu.
Jalanan menjadi sangat licin ditambah dengan udara yang begitu dingin bahkan sering di bawah 0°. Serena yang notabenenya tidak terlalu kuat hawa dingin hanya sanggup bergulung di bawah selimut dan menghangatkan diri di depan perapian.
Kesehatan Serena juga lebih rapuh dibandingkan musim-musim sebelumnya. Julian jadi mengkhawatirkan kondisi kekasihnya. Pekerjaannya sampai di limpahkan sebagian pada sang ayah dan juga kakak pertamanya agar bisa menjaga dan merawat Serena di rumah.
Caesar bilang Serena memang tidak tahan dingin, bahkan dulu sering di rawat di rumah sakit karena sakit. Tetapi yang membuat Julian kecewa dan marah bukan karena cuaca dingin ini, tetapi alasan di balik lemahnya kondisi Serena.
Dulu, saat masih kecil Serena selalu diabaikan oleh kedua orang tuanya yang sibuk merawat dan memperhatikan kondisi kesehatan Jasmine. Seperti yang diketahui, fisik Jasmine lebih lemah dibandingkan Serena, jadi perubahan cuaca yang ekstrim juga dapat mempengaruhi kekebalan tubuh Jasmine pada waktu itu.
Bagian terburuknya adalah ketika Serena tak sengaja lupa memberikan obat untuk Jasmine yang sedang sakit. Jasmine bahkan sampai kejang akibat panas yang sangat tinggi. Beruntung pengasuh yang merawat Jasmine datang tak lama kemudian lalu segera menghubungi rumah sakit untuk mengirimkan pertolongan pertama. Tuan Philip dan Nyonya Esther yang menerima kabar itu tentu saja marah besar bahkan mereka tak ragu mengunci Serena di gudang lama yang ada di belakang mansion Reinhart.
Mereka sengaja mengunci Serena di sana sebagai hukuman atas kelalaian Serena yang ditugaskan untuk menjaga serta merawat Jasmine saat kedua orang tua mereka pergi ke kantor.
Suami istri itu bahkan tidak memberi Serena makanan ataupun minuman, sekedar selimut untuk menghangatkan tubuh di tengah-tengah hujan salju pun juga tidak. Mereka seolah melupakan Serena dan tidak berusaha mencari keberadaan gadis kecil itu.
Serena baru ditemukan keesokan harinya oleh salah seorang tukang kebun yang hendak mengambil sekop untuk menggali tumpukan salju yang sudah menutupi jalanan.
Kondisi Serena sudah mengkhawatirkan sekali, tubuhnya sangat dingin dan nyaris membiru sempurna andai pekerja itu terlambat sedikit saja. Serena jadi di rawat di rumah sakit yang sama dengan Jasmine dan di diagnosa terkena hipotermia berat akibat suhu tubuh yang menurun drastis.
Singkatnya, nyawa Serena sudah di ambang kematian pada waktu itu. Beruntung mujizat terjadi atas Serena, sehingga nyawanya masih dapat terselamatkan meski harus di rawat di rumah sakit hampir sebulan lamanya.
Semenjak hari itu, tubuh Serena tidak kuat merasakan hawa dingin. Mendengar cerita itu dari Caesar sungguh membuat Julian luar biasa syok dan takut. Andaikata waktu itu Serena terlambat tertolong, mungkin dirinya tak akan pernah bertemu dengan Serena sampai selamanya.
Sungguh hal yang tragis yang tak pernah Julian bayangkan seumur hidupnya.
Oleh sebab itu, Julian selalu berusaha menemani Serena di setiap waktu luangnya. Memberikan pelukan erat sebagai cara untuk membagi kehangatan melalui suhu tubuh mereka.
Beruntung sekarang fisik Serena sudah lebih kuat dibanding semasa kecilnya. Paling hanya sakit flu dan demam ringan saja, sejauh ini belum muncul gejala lain yang sekiranya mengkhawatirkan, jadi Julian bisa agak tenang sedikit.
Di sisi lain, Jevano semakin pusing karena tak bisa bergerak bebas ke mana-mana. Kondisi Jasmine kembali drop karena demam dan flu. Dokter keluarga Reinhart bilang ini biasa terjadi ketika memasuki musim dingin karena fisik Jasmine yang dasarnya lemah.
Jevano bahkan tidak diperbolehkan ke mana-mana dan hanya boleh menemani Jasmine selama liburan musim dingin ini.
Siapa yang tidak muak dan jenuh di kurung dalam rumah orang yang sepi itu?
Jevano sampai terpaksa membatalkan liburannya bersama teman-teman sepergengannya ke luar negeri hanya demi Jasmine. Bahkan kepada Serena maupun kedua orang tuanya sendiri, Jevano tidak pernah dikekang dan diperintah dengan tegas seperti ini.
Hanya karena statusnya sebagai kekasih Jasmine, lantas membuat Tuan Philip dan Nyonya Esther menggantungkan tanggung jawab mereka kepada Jevano. Jevano muak, dan lelah. Ini masih dalam tahap pacaran, nanti bagaimana kalau sudah menjadi pasangan suami istri resmi?
Jevano takut orang tua Jasmine akan benar-benar mengikat tali kekang pada lehernya dan memperlakukannya bak boneka sesuka hati. Kondisi ini tentu sangat merugikan Jevano, dia bahkan tidak sempat membuat janji temu dengan Serena karena terjebak di kediaman mewah Reinhart sejak beberapa hari belakangan.
Jelas saja Jevano akan menolak sekuat tenaga. Kalaupun suatu nanti mereka benar-benar jadi menikah, Jevano tak yakin semuanya akan berjalan mulus dan sesuai dengan gambaran kehidupan pernikahan yang sejak dulu Jevano idam-idamkan.
Sampai dirinya dan Jasmine berhasil memperbaiki segalanya, termasuk cinta yang sehat di antara mereka, Jevano mungkin tidak jadi menikahi Jasmine apapun kondisinya.
Lebih baik menjomblo seumur hidup bila memang belum dipertemukan dengan perempuan yang cocok.
Yah, karena mau berharap sebesar apa pun, Jevano tidak akan pernah bisa mengalahkan Julian dan merebut kembali Serena-nya.
"Kamu lagi mikirin apa sih?"
Suara Jasmine memecah lamunan Jevano. Sudah hampir sejam Jevano termenung sambil memandang koong ke luar jendela balkon kamar Jasmine dan itu sedikit membuat Jasmine risih.
Jevano tidak fokus kepadanya, dan dia sangat tidak menyukai itu. Jasmine hanya ingin perhatian Jevano tertuju kepada dirinya secara penuh, di saat kedua orang tuanya sibuk mengurusi bisnis sampai harus dinas ke luar negeri.
"Sayang~~" Jasmine turun dari ranjang, lalu melangkah mendekati Jevano yang berdiri di pintu kaca balkon.
Kedua tangan Jasmine memeluk erat pinggang Jevano sambil menyandarkan kepalanya pada d*ada bidang sang kekasih. Cuaca yang dingin seakan terasa hangat bila ada Jevano di sisinya. Jasmine tak ingin kehilangan kehangatan ini, dan berharap Jevano selalu ada di sisinya.
"Nanti kalau cuaca lebih baik, kita bisa jalan-jalan ke suatu tempat. Ke luar negeri juga gapapa, sampai saat itu tiba, kamu bersabar dulu ya sama aku di sini?" Jevano mungkin tidak menunjukkan kekecewaannya secara terang-terangan namun Jasmine dapat mengerti isi hati kekasihnya itu.
Jevano tidak mengangguk ataupun mengiyakan. Dia hanya tersenyum kecil sambil membalas genggaman tangan Jasmine.
"Yang penting kamu sehat dulu. Kalau kamu masih sakit, orang tuamu nggak bakal kasih izin pergi ke mana-mana," Jevano menegur dengan lembut.
Jika dia bisa memilih, Jasmine juga tak ingin memiliki tubuh yang imunnya lemah seperti ini. Aktivitasnya jadi terhambat dan dia tidak bisa bergerak terlalu bebas seperti yang dia harapkan. Jasmine selalu membenci kondisi tubuhnya, tapi tidak ada orang yang bisa dia salahkan.
"Maaf ya..gara-gara aku, kamu jadi ikut tersiksa gini. Aku janji, setelah aku pulih sepenuhnya dan kita bisa liburan sebentar, aku nggak akan larang-larang kamu lagi. Mau kamu pergi sama teman-temanmu atau mau ngerencanain apa, terserah kamu. Asalkan kamu beritahu aku juga ya?"
Jasmine sadar dia terlalu mengekang dan mengatur hidup Jevano sekarang, tapi hanya ini yang bisa dia lakukan untuk mempertahankan Jevano di sisinya. Bila dia membiarkan Jevano pergi, tak diragukan lagi laki-laki itu akan menjauh darinya dan sulit dijangkau.
Jevano menghela nafas panjang, Jasmine kelihatan bersalah sekali sudah menahannya di sini. Namun apa boleh buat, ini semua juga menjadi kesalahannya sedari awal mereka berhubungan.
"Gapapa. Aku udah pernah janji bakal jagain kamu. Kamu jangan mikirin hal-hal berat dan nggak penting, fokus aja sama sesuatu yang bikin hatimu senang," Tangan Jevano mengusak puncak kepala Jasmine. Berharap gadis itu tidak lagi menunjukkan ekspresi murungnya yang kelihatan menyesal.
"Makasi...kamu memang baik, sangat baik padaku. Aku nggak bisa bayangin gimana tersiksanya hatiku andai kamu nggak ada di sini nemenin aku..."
Jasmine menempelkan dahinya di depan d*ada Jevano. Telinganya dapat mendengar detakan jantung Jevano yang menenangkan. Irama detak jantung Jevano sudah tidak berdebar sekencang seperti awal mereka pacaran dulu, dan Jasmine merindukan saat-saat romantis mereka waktu itu.
"Iya, nggak masalah. Asalkan kamu sehat, semua ini akan terbayarkan."