
Austin menarik tangan Ainsley pergi setelah selesai memberikan klarifikasi pada media. Ia sangat tahu Ainsley tidak begitu suka berada di keramaian begitu, apalagi sampai di foto-foto oleh wartawan. Namun ia tetap harus memberikan klarifikasi pada orang-orang supaya mereka tidak bergosip sembarangan tentang istrinya.
Di kejauhan berdiri Alfa dengan raut wajah patah hatinya. Ternyata benar. Ainsley benar-benar sudah menikah. Dirinya tidak memiliki kesempatan lagi. Ia sudah sangat terlambat. Sesaat ia terpikir apa Ainsley menyukai suaminya atau tidak. Suaminya memperlakukannya dengan baik atau tidak, tapi kebersamaan mereka didepan sana jelas terlihat mereka saling menyukai. Alfa tersenyum kecut. Ternyata perasaan suka Ainsley padanya tidak sedalam yang dia pikirkan. Buktinya, gadis itu bisa melupakannya dan berpaling pada pria lain dengan begitu cepat.
Ada juga Rumi. Ia tidak senang melihat apa yang terjadi. Orang-orang tidak lagi menghujat Ainsley. Sekarang gadis itu malah menghebohkan banyak orang karena menjadi istri seorang Austin. Tentu saja Rumi tidak bahagia. Ia merasa tersaingi. Semua pikiran bahwa ia akan menang dengan menjatuhkan harga diri Ainsley, pupus sudah. Kebanyakan perempuan sekarang pasti sedang merasa iri dengan keberuntungan yang Ainsley dapatkan. Pandangan Rumi berpindah ke Alfa yang berdiri tak jauh. Ia menggeram kesal melihat tunangannya itu yang tampak patah hati.
Masih ada Pingkan dan Nadine yang menonton dari koridor. Jelas Pingkan tidak menyukai berita itu. Ia merasa kesal bagaimana gadis seperti Ainsley yang hidupnya biasa-biasa itu mendapatkan keberuntungan sebesar ini. Bisa menikahi Austin adalah idaman semua wanita. Ia tidak menyangka saja Ainsley adalah wanita beruntung itu.
"Bagaimana bisa Ainsley dan Austin saling kenal? Status sosial mereka kan sangat jauh." Nadine berkata dengan nada sirik.
"Kalian mau tahu? Mereka itu sudah tunangan dari kecil, orangtua mereka sendiri yang menjodohkan. Kalau Ainsley mau, bisa saja ia menyombongkan diri sebagai istri Austin pada banyak, tapi dia tidak sama dengan seseorang yang sok kenal dekat namun kenyataannya tidak." sindir Dara yang berdiri tak jauh dari mereka. Pingkan langsung menatapnya tak suka. Ia merasa dirinyalah yang di maksud oleh Dara.
"Kenapa, situ merasa?" ledek Dara lagi, ia tersenyum puas lalu meninggalkan mereka yang kesal setengah mati. Pingkan mengepal kedua tangannya kuat-kuat.
\*\*\*
"Kau mau membawaku kemana? Aku masih ada jadwal kuliah." ujar Ainsley pada Austin yang menyetir mobil sendiri. Mereka berada di mobil sekarang.
"Kau yakin bisa masuk kelas dengan keadaan begini?" balas Austin. Mendengar itu Ainsley menghembuskan nafas. Austin benar. Lebih baik absen dulu karena keadaan di kampus masih hangat dengan berita tentang mereka. Gadis itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Austin sesekali mengamati gadis itu.
"Kenapa? Kamu tidak senang karena semua orang tahu tentang hubungan kita sekarang?" tanyanya. Ia memang melihat raut wajah Ainsley yang terlihat tidak puas. Ainsley menggeleng.
"Aku hanya lelah." sahut Ainsley lemah. Tangan Austin terangkat memegang kepala gadis itu.
"Aku akan mengantarmu pulang untuk beristirahat." gumamnya pelan. Ainsley setuju saja.
"Oh ya, siapa pria tadi?" tanya Austin lagi. Ia ingat tadi Ainsley berdiri di sebelah Alfa. Pria itu juga sering memperhatikan istrinya dengan ekspresi berbeda. Ia tahu jelas ekspresi apa itu. Mata seorang pria tidak bisa berbohong kalau sedang menyukai perempuan. Dan Austin bisa menyimpulkan kalau pria tadi menyukai istrinya. Jelas ia tidak suka.
"Yang berdiri di sampingmu dalam ruangan yang aku masuki."
Ainsley mencoba mengingat-ingat pria yang berdiri disampingnya.
"Ah, Alfa? Dia adalah seniorku di kampus." serunya saat teringat Alfa. Hanya laki-laki itu yang cukup dekat dengannya di kampus.
"Kau akrab dengannya?" tanya Austin lagi terus menatap kedepan. Fokus menyetir.
"Dulu. Sekarang tidak begitu akrab lagi." jawab Ainsley seadanya. Ia sama sekali tidak melihat Austin yang sudah menekan stir kuat-kuat. Austin tidak ingin istrinya dekat pria lain. Ia adalah pria yang posesif, Ainsley hanya miliknya.
"Dia mantan pacarmu?" tanyanya lagi. Membuat Ainsley hampir tersedak mendengarnya. Gadis itu menatapnya.
"Kami tidak pernah pacaran. Bagaimana dia bisa jadi mantan pacarku? Apalagi Alfa sudah punya tunangan." kata Ainsley sedikit kesal karena mendapatkan pertanyaan itu.
"Oh," gumam Austin.
"Ingat Ainsley, kau hanya milikku seorang." pria itu melanjutkan dengan penuh penekanan. Ainsley yang mendengar memutar bola matanya malas. Terserah pria itu saja. Ia belum ada mood untuk meladeninya. Sekarang dirinya hanya butuh istirahat.
Gadis itu cepat-cepat turun dari mobil ketika sampai. Tidak ada siapa-siapa di rumah besar itu. Ia mendesah berat dan membanting dirinya di sofa ruang tamu. Ia harus merefresh otaknya dengan tidur. Tapi gadis itu sama sekali tidak mengantuk. Pandangannya berpindah pada Austin yang sudah duduk di sebelahnya sambil mengusap-usap kepalanya. Kening Ainsley berkerut.
"Kau tidak balik kantor?" tanyanya.
Austin tersenyum singkat.
"Aku akan menemanimu sebentar." ucapnya lalu mengangkat kepala Ainsley bersandar dipahanya.