Mine

Mine
Belum Tenang



"Maaf, tuan muda. Tapi kami sulit menemukan data terkait pria bernama Dion seperti yang tuan jabarkan."


Dahi Jevano mengerut menerima laporan dari salah satu anak buahnya yang dia beri tugas secara khusus untuk mencari informasi detail mengenai Dion.


"Aneh..yakin udah nyari ke mana-mana. Nggak masalah kalau harus turun ke lapangan. Pokoknya cari semua informasi terkait orang itu. Aku rasa dia bukan orang sembarangan," Jevano mengusap dagunya seraya berpikir.


"Baik, tuan. Saya akan mengerahkan orang untuk turun langsung mencari informasi. Satu yang kami temukan, bahwa orang bernama Dion itu sering mengunjungi salah satu klub malam di distrik xx."


Tuh 'kan. Firasat Jevano sudah tidak tenang sejak melihat penampilan Dion yang mirip dengan seorang gangster.


"Taruh mata-mata di klub itu dan terus awasi pengunjung yang datang ke tempat itu. Kalau Dion muncul di sana, segera buntuti dan intai dia."


Anak buah Jevano membungkuk mengiyakan perintah sang atasan.


'Klub? Udah kuduga kalau orang itu berbahaya, auranya aja terasa mengintimidasi. Serena nggak boleh dekat-dekat sama orang modelan gitu!'


Tapi yang menjadi permasalahannya adalah, bagaimana caranya agar Jevano dapat memperingati Serena?


Bisa saja Dion membohongi Serena dengan menggunakan nama Caesar dan berlagak sok dekat dengan sepupu Serena itu. Jika memang Dion memiliki akses atau hubungan dengan Caesar, berarti benar Dion bukan orang sembarangan yang bisa dianggap sebelah mata.


Jevano ingin menyelam lebih dalam agar bisa mengetahui lebih banyak hal tentang Serena yang sudah banyak dia lewatkan sampai detik ini.


...🦋...


...🦋...


"Harus banget ya kamu datang ke sana?" Serena mengerucutkan bibirnya sambil memandangi Dion yang tengah bersiap hendak pergi ke suatu tempat yang biasa dia kunjungi setiap akhir pekan.


Ya, mana lagi kalau bukan tempat berkumpulnya Dion dan kawan-kawan.


Sebuah jaket kulit hitam sudah melapisi tubuh atletis Dion yang berbalut kaos hitam tipis yang dipadukan dengan jeans berwarna senada yang semakin menunjang penampilannya malam ini.


Serena tidak rela ditinggal Dion pergi sementara Julian masih sibuk di ruangan kerja mengurusi tumpukan berkas yang baru datang sore tadi.


"Iya. Kalau aku nggak menampakkan diri, mereka bakal makin ribut. Ada beberapa hal yang harus aku urus juga. Gapapa 'kan aku tinggal dulu?"


Dion sedikit tak enak meninggalkan Serena yang sudah mengundangnya menginap di kediaman Collin sejak dua hari yang lalu. Padahal Dion sudah mempunyai hunian baru yang lebih dekat dengan mansion Collin, tapi Serena tetap memaksanya menginap di rumah Julian untuk menemani gadis yang kesepian itu.


"Hmpph...kalian sama aja! Suka banget ninggalin aku sendirian di sini! Mana aku nggak bisa keluar-keluar lagi!" Serena tak berhenti menggerutu lantaran dirinya tidak diperbolehkan pergi ke mana-mana selama cuaca masih buruk.


Kemarin Serena mengalami sedikit demam lagi, jadi Tuan Joseph serta Elliot melarang gadis itu pergi ke mana-man sekalipun keluar sebentar sekedar pergi ke minimarket depan perumahan.


Alhasil Serena terkurung di dalam kamar karena di ruang tamu atau tempat lainnya tak ada hal yang menarik.


"Akan kuusahain pulang cepat. Kamu jangan begadang, nanti badanmu drop lagi," Dion mengusap lembut permukaan pipi Serena yang mulai terasa dingin.


"Akan kusuruh orang nyalain api di perapian. Kamu cepat ambil selimut sana!" Dion memaksa Serena untuk segera menyelimuti tubuh gadis itu menggunakan selimut tebal supaya hangat.


Serena berdecak kesal, tapi tetap melakukan apa yang Dion suruh. Entah mengapa Serena ingin Dion tetap bersama dengannya di rumah.


"Jangan pulang lebih dari jam 11 ya?" Satu-satunya cara untuk mengurangi kegelisahan di hatinya adalah dengan memberi batas waktu pada Dion.


"Kalau enggak, aku bakal kirim orang buat geret paksa kamu pulang! Aku serius!" imbuh Serena, yang sepertinya tidak main-main. Lihat saja kedua alisnya yang mengerut, Dion bisa menilai bahwa Serena sedang serius.


Dion menghela nafas panjang seraya tersenyum tipis. Dia tidak merasa dikekang oleh Serena kok, justru Dion merasa senang sebab ada seseorang yang mengkhawatirkan serta peduli kepada setiap kegiatannya.


"Oke. Kamu bisa ngirim orang kalau aku nggak menepati janjiku. Sekarang kamu istirahat dulu, nggak boleh begadang!" Dion benar-benar tegas soal itu, sebab salah satu penyebab lemahnya imun Serena karena sering begadang sehingga waktu tidurnya kurang.


"Iya, oke. Aku mau kasih tau Gerald dulu. Nanti kalau aku ketiduran tapi kamu belum pulang, dia bisa gantiin aku buat kirim orang menjemputmu." Serena menjelma bak kekasih posesif pada Dion.


Dion hanya bisa mengangguk mengiyakan, asal Serena senang, dia tidak masalah. Toh Dion sudah berjanji akan menjaga sikap dan perbuatannya di luar sana supaya tidak mencoreng nama baik Serena, keluarga Collin dan Caesar.


Dion masih harus menyelesaikan 'hutang' yang masih mengikatnya dengan organisasi rahasia yang selama ini telah menghidupinya.


"Aku pergi dulu. Cepat istirahat dan tunggu Julian seperti anak baik, oke?"


Serena mengangguk pelan, masih dengan bibir mengerucut lucu seperti anak kecil. Yah, jarang-jarang Serena merajuk seperti sekarang. Ini momen yang tak biasa dan harus diabadikan keimutannya.


Sepeninggalan Dion, Serena bergegas mencari Gerald yang sepertinya sedang istirahat di meja makan.


"Gerald, aku mau minta tolong sama kamu." Benar 'kan prediksi Serena, Gerald sedang duduk-duduk santai menikmati segelas teh hangat dan sepiring kecil berisi kudapan bersama salah seorang pekerja dapur yang Serena kenal bernama Caroline.


"Selamat malam, nona!" Caroline bangkit dari duduknya sebagai bentuk penghormatan pada kekasih dari majikannya.


"Malam, Carol. Gerald, aku punya tugas buatmu," Fokus Serena kini hanya tertuju pada Gerald.


Gerald bangkit dari duduknya lalu membungkuk hormat. "Baik, nona. Saya akan melaksanakannya sebaik mungkin."


Serena benar-benar merasa menjadi tuan puteri sungguhan selama tinggal di kediaman Collin. Sikap para pekerja yang ada di sana tak usah diragukan lagi keloyalannya, maka tak heran bila semua orang begitu menghormati dan melayani dengan baik setiap anggota dalam keluarga Collin, termasuk Serena dan Dion.


"Dion pergi ke tempat biasanya. Kirim beberapa orang mengawasi anak itu dari kejauhan dan pastikan dia pulang nggak lebih dari pukul 11. Kalau dia belum juga beranjak pergi, segera jemput paksa dia dengan baik-baik. Dia udah janji sama aku kok," jelas Serena panjang lebar. Sudah seperti ibu-ibu yang mencemaskan anaknya.


"Baik, nona. Akan saya kirim orang sekarang juga. Anda bisa serahkan sisanya pada saya, agar anda bisa beristirahat lebih awal." Gerald tahu kondisi Serena masih belum stabil, jadi pikiran yang berat sangat tidak baik untuk pemulihan gadis itu.


Serena mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke kamarnya. Toh Julian belum bisa diganggu sampai kerjaannya selesai, jadi percuma juga mampir ke ruangan kerja kekasihnya. Mungkin tidur lebih awal adalah pilihan yang bagus.


.


.


Kedatangan Dion seperti biasa di sambut dengan meriah oleh rekan-rekannya yang lain. Khususnya Samuel yang memang akrab dengan Dion sejak lama.


"Gimana hari ini? Semua misi berjalan lancar?" Dion saling bertukar toss dengan Samuel dan yang lainnya.


Dalam organisasi mereka, Dion dan Samuel berada di rank paling atas sehingga kedua pria itu cukup disegani dan dihormati oleh rekan-rekan seorganisasi tersebut.


"Lancar dong! Jangan remehin kecerdikanku ya!" Samuel menyikut pelan lengan Dion sambil menyombongkan diri.


Samuel orang paling cerdik dalam kelompok mereka, kepintarannya sangat berguna dalam menentukan strategi dan keputusan yang tepat. Wajar peran Samuel sangat penting dalam kelompok mereka.


"Mau minum apa? Boss traktir kita sepuasnya hari ini, karena kita dapat 'mangsa' yang besar berkat aku!" Samuel tertawa puas melihat reaksi Dion yang datar. Senang sekali rasanya bisa mengalahkan si 'gila' berambut merah itu.


Ya, Dion memiliki julukan aneh yang dinamakan 'Si Gila Berambut Merah' dalam organisasi itu. Julukan itu diberikan pada Dion bukan tanpa alasan. Dion itu bisa menjelma bak predator berdarah dingin yang tak segan-segan 'menghabisi' musuh-musuhnya dengan kekuatan serta kepiawaiannya dalam menggunakan berbagai senjata.


Jadi tak perlu dipertanyakan lagi dari mana datangnya banyak musuh yang setiap saat menginginkan nyawa Dion habis ditangan mereka.


"Nggak, aku pesanin jus aja. Aku nggak bisa lama-lama di sini," Dion menolak secara halus. Serena akan memarahinya habis-habisan kalau sampai tahu dia minum.


Dahi Samuel berkerut. Dion yang sekarang terasa berbeda dan jauh lebih lembut ketimbang biasanya. Hal ini tentu menimbulkan kecurigaan di benak Samuel.


"Ngomong-ngomong, gimana kabar pacarmu itu? Udah lama kalian nggak kelihatan bersama. Apa jangan-jangan kalian putus?" Samuel sengaja memancing Dion.


Sontak cerita tentang hubungan asmara Dion menjadi topik hangat yang ingin mereka bahas kali ini. Yang sebenarnya ini cuma akal-akalan Samuel saja untuk menahan Dion lebih lama di sana.


Dion melirik malas Samuel yang pura-pura melihat ke arah lain. "...ya, kami putus. Udah agak lama sih, tapi aku nggak mau bahas hal ini lagi," Terpaksa Dion mengarang cerita baru, yang kali ini temanya tentang putus cinta.


Lalu rekan-rekan Dion lainnya mulai membuat spekulasi sendiri-sendiri, mereka beranggapan bahwa perempuan yang putus dengan pemimpin mereka itu benar-benar bodoh karena sudah menyia-nyiakan laki-laki sesempurna Dion.


Sedikit berlebihan memang, tapi reputasi Dion cukup bagus di antara rekan-rekannya, wajar kalau mereka berpihak pada Dion dan mendukung semua keputusan dari sang pemimpin.


Dion hanya menanggapi ocehan para rekannya dengan senyuman kosong. 'Ini kalau Serena tau, bisa ketawa sampai guling-guling dia,' sambil membayangkan bagaimana reaksi Serena bila dia menceritakan respon dari para rekannya ini.


Drtt drrtt


Ponsel Dion bergetar di dalam kantong. Karena berpikir itu dari Serena, Dion segera mengecek notifikasi yang masuk.


Dan ternyata orang yang mengganggunya adalah Samuel.


Ingin hati memaki Samuel, tapi pesan baru yang dikirim oleh temannya itu mengurungkan niatan Dion.


'Aku melihat ada beberapa orang mencurigakan yang terus mengawasi kita dari sudut-sudut ruangan dan lantai atas. Apa kau kenal mereka?' Begitu bunyi pesan Samuel.


'Ah, orang kiriman Serena udah datang? Cepat juga?' pikir Dion.


Tapi begitu Dion meneliti satu per satu dari beberapa orang yang dimaksud oleh Samuel barusan, hanya ada dua orang yang dapat Dion pastikan dari mana datangnya. Sisanya, Dion tidak mengenal orang-orang itu.


'Suruh yang lainnya tetap waspada. Kalau terjadi penyerangan tiba-tiba, kita gunakan taktik no.2,' Dion segera memberi sinyal pada Samuel.


Suasana riang dan santai yang semula menyelimuti ruangan itu, perlahan menjadi sunyi dan tegang.


"Kalau gitu, aku pamit pulang dulu ya? Kabari aku kalau ada misi baru. Aku siap membantu kalian," Dion bangkit dari duduknya. Dia akan berpura-pura pergi dari sana untuk melihat apakah para pengintai itu datang mencarinya atau orang lain.


"Oke. Hati-hati, segera hubungi aku kalau terjadi apa-apa!" balas Samuel, melepas kepulangan Dion. S!al sekali, padahal Samuel pikir hari ini mereka bisa bersenang-senang sampai dini hari.


Dion berjalan menuju pintu keluar. Dua orang anak buah Collin juga ikut membuntuti dari jarak aman, tetapi yang membuat Dion curiga adalah kehadiran 3 pria yang tak dia kenal.


'Benar dugaanku. Mereka mengincarku. Siapa lagi orang-orang itu?' Dion mendesah jengah. Hidupnya masih jauh dari kata damai dan tenang.


Buru-buru Dion berjalan cepat keluar melalui pintu belakang. Orang-orang yang mengawasi Dion sontak berlari mengejar Dion agar tidak lihat dari pantauan mereka.


Dhuaakk


Brukkk


Dion menyerang dari belakang. Dengan sebongkah tongkat bisbol yang disimpannya secara sembunyi-sembunyi di balik pintu tersebut. Berhubung klub tersebut merupakan salah satu markas berkumpul para anggota organisasinya, jadi Dion dapat menyimpan alat-alat 'perangnya' dengan rapi di dalam sana.


"ARGHH!"


Total ada 3 pria yang berhasil Dion lumpuhkan. Tenang, hanya melukai sedikit kok supaya mereka tidak bisa bergerak bebas.


"Oi, sekarang kalian jujur padaku. Siapa yang mengirim kalian buat mengawasiku?" Dion jongkok, lalu mencengkram dagu salah seorang pria di dekat kakinya.


"Kh! Kami tidak akan memberitahumu!"


Hm, kalau sudah begini bakal panjang urusannya.


"Karena aku lagi terburu-buru, aku lepaskan kali untuk kali ini aja. Tapi ingat!" Dion kembali mencengkram kuat rahang pria itu dengan sorot mata tajamnya yang mengintimidasi.


"Beritahu bossmu untuk berhenti mengurusi hidup orang, atau aku yang akan datang langsung menyapa bossmu secara empat mata. Aku nggak main-main soal ini." Senyuman selebar lima jari terukir di wajah Dion.


Setelah memberikan peringatan kecil pada ketiga pria malang di sana, Dion memutuskan untuk segera pulang sebelum kawanan dari para pengintai itu datang lalu mencegatnya.


'Siapa lagi yang mengirim mereka? Untuk orang luar berhasil masuk ke klub itu, berarti mereka mendapatkan akses istimewa. Apa ada lagi orang yang berkhianat di antara kita?'


Dion harus lebih berhati-hati dan waspada sekarang. Makin banyak pihak yang memburunya, posisi ini dapat menyulitkan Caesar dan juga Serena ke depannya nanti. Dion harus segera menyelesaikannya secara cepat dan aman.