Mine

Mine
Putar Balik



"Serena? Kenapa bengong aja? Makanannya nggak cocok di lidahmu?" Nyonya Beatrice menanyai Serena yang sedari tadi diam, tenggelam dalam dunianya sendiri.


Rombongan telah mendarat dengan selamat pagi tadi setelah menempuh perjalanan hampir 24 jam lamanya. Kini Serena sedang menikmati makan siangnya yang telah disediakan oleh pihak hotel atas permintaan Nyonya Beatrice.


Begitu turun dari pesawat, Serena sama sekali tidak tersenyum. Gadis itu berulang kali memeriksa ponselnya, seolah sedang menunggu pesan atau telpon masuk tapi yang didapati Serena hanyalah harapan semu.


Julian belum mengiriminya pesan, padahal Serena sudah mengingatkan kekasihnya untuk terus bertukar kabar meski jarak memisahkan mereka.


Entah mengapa firasat Serena mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada kekasihnya. Julian tidak pernah absen menghubunginya walau hanya sekedar pesan pendek yang amat singkat.


Apalagi Serena juga tak bisa menjangkau Leonard, ini semakin menguatkan kekhawatiran Serena yang tidak akan bisa tenang sebelum dia menerima kabar dari salah satu orang itu. Serena bahkan sudah bertanya pada Hendery maupun Helena, sayangnya tak ada di antara mereka yang mengetahui keberadaan Julian dan Leonard.


Bagaimana Serena bisa tenang dan menikmati liburannya di saat pikirannya tetap tertuju pada orang-orang di negaranya sana?!


'Aku nggak bisa diam terus! Hatiku semakin nggak tenang kalau aku cuma duduk diam menunggu kabar mereka!' Serena tiba-tiba bangkit dari duduknya, nyaris membanting sendok dan garpu yang semula dia pegang di atas meja.


Tindakan barbar Serena mengejutkan banyak orang, khususnya tamu-tamu yang juga sedang menikmati makan siang di tempat yang sama. Nyonya Beatrice memandang heran Serena yang tampak mengeraskan rahang, seolah tengah diselimuti emosi.


Jevano yang baru kembali sehabis mengambil makanan buru-buru menghampiri Serena, takut Serena jatuh atau kenapa-kenapa.


"Rena, kamu kenapa? Makanannya nggak cocok sama seleramu??" Raut muka Jevano menunjukkan kecemasan yang kentara.


Serena merasa serba salah, sudah membuat banyak orang mengkhawatirkan dirinya, namun perasaan kalut yang menyelimuti hatinya tak bisa diacuhkan begitu saja.


"Aku...ke kamar dulu ya? Ada sesuatu yang mau aku urus sebentar," Terpaksa Serena berbohong agar diizinkan kembali ke kamar inapnya lebih dulu.


Beatrice mengangguk mengiyakan, ekspresi Serena tampak serius dan sedikit tak bersahabat. Diam-diam Beatrice penasaran, apakah ada sesuatu yang buruk sampai membuat gadis itu kesal?


Dilihat dari ekspresi Jevano, jelas sekali putera sulungnya itu juga tidak tahu menahu soal masalah Serena. Beatrice menghela nafas lelah, sepertinya liburan ini akan berakhir kacau. Fokus Serena jelas tidak tertuju pada liburan ini, itu kelihatan sekali tapi Jevano memilih menutup matanya dan pura-pura tidak menyadarinya.


'Aku tidak tau kapan Jevano jadi sebucin ini sama Serena,' Beatrice heran dengan Jevano yang terus saja mendesak Serena untuk pergi liburan bersama, padahal tahu jelas yang ada dalam pikiran Serena hanyalah Julian.


Lalu sekarang setelah menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, Serena makin kehilangan minatnya. Tidak terlalu mengherankan sih, mau sesenang apa Serena menerima ajakan Jevano, tetap saja ada perasaan bersalah dan menyesal yang dipendam Serena namun gadis itu berusaha untuk terlihat ceria dan senang sebab tak ingin mengecewakan Jevano.


"Duduk. Mama mau ngobrol sama kamu!" Sebelum Jevano pergi menyusul Serena, Nyonya Beatrice lebih dulu menahan lengan puteranya.


"Kita bicara di sini, ini soal Serena dan Jasmine."


Jevano tak bisa berkutik ketika sang ibu dalam mode seriusnya. Mengacak rambutnya sekali, mau tak mau Jevano harus tetap tinggal di sana untuk mendengarkan ceramah dari sang ibu.


"Apa yang mau Mama omongin?"


Beatrice menarik nafas dalam, sebagai seorang ibu, tentu beliau tidak ingin puteranya tidak bahagia, namun dalam kasus ini, Jevano harus disadarkan atas kesalahannya sebelum semua semakin ruyam.


"Berhenti mengejar Serena. Dia sudah menjadi kekasih orang lain, jangan lewati batasanmu sebagai sahabat, Jevano. Tidakkah kamu lihat raut khawatir Serena sejak kemarin? Ada seseorang yang harus Serena perhatikan dan utamakan, kamu sudah bukan prioritasnya lagi, jadi liburan ini biar menjadi liburan terakhir kalian sebelum kalian fokus pada pasangan kalian masing-masing.."


"...mama harap kamu sadar posisi dan statusmu. Orang yang harusnya berada di sini itu adalah Jasmine, bukan Serena. Buka matamu lebar-lebar dan lihat bagaimana dilemmanya Serena ketika harus memilihmu daripada Julian, hanya karena dia menghargai hubungan persahabatan kalian berdua. Mama tau maksud kamu baik, tapi caramu keliru. Tanpa sadar kamu sudah melukai hati orang lain, sepulangnya dari sini, kamu harus meminta maaf dengan tulus dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahanmu lagi. Mengerti?"


...🐺...


...🐺...


Drrrt


Drrtt


"Serena telpon lagi...aku angkat nggak ya?"


Leonard dilanda dilemma yang luar biasa. Dia bahkan tak berani menyentuh ponselnya lantaran takut salah pencet dan berakhir menerima panggilan Serena tanpa sengaja.


Diliriknya Julian yang tengah tertidur di sofa panjang warna hitam kesukaan lelaki itu. Mereka baru saja pulang sehabis konsultasi sebentar dengan psikiater yang menangani Julian guna memastikan kondisi mental Julian apakah baik atau sedikit terganggu lagi gara-gara Jasmine.


Syukur tak ada yang memburuk jadi Julian hanya perlu beristirahat dan menenangkan mental serta fisiknya tanpa gangguan dari pihak lain.


"Hah...aku gatau kenapa jadi begini keadaannya.." Leonard sungguh bingung dengan situasi yang mereka hadapi.


Julian yang sedang dilanda kegalauan gara-gara ditinggal Serena liburan, Jasmine yang mulai menggila karena merasa dikhianati, si Jevano yang sudah gila karena berani mengajak kekasih orang pergi liburan bersama, di tambah Serena yang mendadak bodoh karena mau-maunya mengiyakan ajakan laki-laki lain. Ke empat orang itu sungguh membuat Leonard pening sendiri.


Ini seperti cerita cinta segi-empat yang sangat rumit dan membingungkan.


Naasnya, sahabatnya juga terseret masuk ke dalam lingkaran setan itu. Miris sekali, Leonard kasihan pada Julian yang harus bersaing dengan sahabat dari kekasihnya sendiri.


Aslinya Leonard marah atas kebodohan Serena, tapi Serena terus menerus menghubunginya dan juga Julian, entah merasa bersalah atau murni khawatir.


Leonard tidak berani mengangkat telpon Serena karena dilarang Julian. Julian tidak ingin Serena cemas dan panik, lalu nekat terbang pulang seorang diri meninggalkan Jevano dan ibu lelaki itu. Hal itu tidak mustahil terjadi bila ini Serena yang mereka maksud.


Drrtt


Drttt


"Argh! Sialan! Kalian yang pacaran kok aku yang ribet sih!?" Leonard memekik frustasi. Tanpa pikir panjang dia meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja kaca di depan Julian tidur.


Menggeser tombol hijau pada layar lalu menempelkan benda pipih tersebut ke telinga kanannya.


"Ekhem-Ya, Serena? Ada apa kamu hubungi aku?" Leonard berusaha tenang meski jantungnya sedang dagdigdug lantaran menahan gemas.


Ada jeda sebelum Serena menjawab dari seberang sana, "...Leo..apa terjadi sesuatu? Julian nggak bisa aku hubungi.." Suara Serena terdengar agak serak dan lirih.


"Kamu gapapa?? Apa udah sampai di Bangkok?" Leonard justru bertanya balik pada Serena.


Serena mengangguk di tempatnya duduk, walau Leonard tak dapat melihatnya sekarang. "..ya, aku baik. Jangan pikirin aku, aku telpon kamu karena Julian nggak ngerespon dari kemarin. Kamu tau dia di mana? Tolong cari dia, hatiku nggak tenang sebelum dia tau keadaannya.."


Serena kedengaran frustasi, Leonard salah menilai Serena. Leonard pikir Serena pergi sesuka hati tanpa memikirkan perasaan Julian dan lebih mementingkan kesenangannya sendiri, ternyata dia keliru, Serena masih terus memikirkan Julian meski jarak terbentang jauh.


Hufft...Leonard sedikit lega mengetahui hal ini. Meski tak mengutarakannya secara langsung, Leonard tahu bahwa Julian menyimpan kekalutannya dalam hati.


"Sebenernya ada hal buruk yang menimpa Julian," Leonard ingin lihat, seberapa pedulinya Serena terhadap sahabatnya, atau kekhawatiran Serena ini hanya sebuah pencitraan semata.


"Apa?! Kok kalian nggak beritahu aku secepetnya sih?!"


Tiba-tiba Serena berteriak kencang melalui telpon, sampai membuat kuping Leonard berdengung.


"Terus Julian gimana?! Di mana dia?! Kamu udah jagain dia'kan?!"


Banyak pertanyaan dilemparkan Serena. Leonard sampai bingung harus menjawab yang mana dulu, respon Serena melebihi ekspektasinya.


"Tenang, tenang. Semua udah teratasi, Julian udah kuperiksain ke dokter dan kondisinya udah lebih stabil. Dia cuma butuh istirahat buat nenangin diri dan ngelupain kejadian itu.." Leonard menjelaskan secara ringkas, dan Serena mendengarkan secara seksama.


Tapi untuk memberitahukan penyebabnya, Leonard masih cukup ragu. Bisa terjadi perang dunia kalau Serena mengetahui penyebab di balik kambuhnya traumanya Julian.


Di satu sisi, menyembunyikan kebenarannya hanya akan menunda pertengkaran dan bisa berakibat lebih buruk.


"Serena, tenangin dulu emosimu dan siapin hatimu," Leonard memperingati Serena di awal. Atmostif di antara mereka mendadak berubah menegangkan.


Serena diam, menunggu Leonard melanjutkan perkataannya. Terdengar tarikan nafas panjang di seberang telpon.


"Julian...dia dicium paksa sama Jasmine di tangga darurat kampus. Julian langsung jauhin Jasmine sih, tapi efeknya tetep dirasain Julian.." terang Leonard kemudian.


Serena nyaris menjatuhkan ponselnya ke lantai. Syok mendengar kabar buruk yang disebabkan oleh saudari kembarnya sendiri.


"Be-beneran?"


Tangan Serena sampai gemetar saking syoknya dia. Perasaan yang bercampur aduk membuat emosi Serena semakin sulit dikontrol.


Ahhh..apa ini juga yang dirasakan Julian ketika dirinya memilih pergi bersama Jevano?


Serena dapat merasakan kekecewaan yang teramat besar menumpuk dalam hati.


"Hahaha...jadi dia mau balas dendam sama aku ya?" Serena tertawa sinis. Ya, itu bisa saja terjadi. Jasmine sengaja melakukan itu untuk membalas sakit hatinya.


Tapi sampai menyentuh Julian bahkan mencium paksa kekasihnya, itu sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Raut muka Serena seketika menggelap.


"Makasi udah beritahu aku, tolong jagain Julian dulu ya?" ujar Serena pada Leonard.


"Ya-ya, aku bakal jagain dia sampai dia baikan, kamu tenang aja. Jangan terlalu dipikirin dulu ya? Nikmatin aja liburanmu, Julian bakal sedih kalau kamu pulang dengan wajah murung."


Serena benar-benar ingin memukul wajahnya sendiri. Dia sudah keterlaluan terhadap Julian dan Jasmine karena keegoisannya.


Serena akan meminta maaf pada Jasmine nanti, tapi dia juga tak akan tinggal diam atas apa yang dilakukan oleh kembarannya kepada Julian.


Setelah mengakhiri telponnya dengan Leonard, Serena bergegas menghubungi Caesar yang paling bisa dia andalkan di situasi genting seperti sekarang.


Tuuutt


"Serena?! Tumben kamu hubungi aku? Ada apa??" Nada Caesar terdengar antusias di seberang.


Sayangnya ini bukan waktu yang tepat untuk melepas rindu satu sama lain.


"Aku butuh bantuanmu, kak...tolong bantu aku, ini urgent sekali!" ucap Serena kemudian.


Sedikit takut sih, tapi mau bagaimana lagi? Serena benar-benar terdesak sekarang.


Caesar tahu ada yang salah, sikapnya juga langsung berubah serius. "Ada apa? Kamu gapapa? Kamu di mana sekarang?"


Lalu Serena menceritakan kronologi masalahnya secara ringkas dan jelas. Serena mengakui kesalahannya, dia tidak mau Caesar salah paham terhadap Julian.


Marah? Jelas saja. Caesar berkoar marah layaknya seekor naga menyemburkan api melalui mulutnya. Caesar tak habis pikir bagaimana bisa Jasmine melakukan hal bodoh yang merendahkan harga dirinya sendiri.


Tanpa memohon pun, Caesar tentu akan mengulurkan tangannya untuk membantu Serena. Hanya dalam waktu singkat, Caesar berhasil menyewakan satu unit jet pribadi sebagai kendaraan pulang Serena.


Ya, Serena harus segera kembali untuk mengecek kondisi Julian dengan mata kepalanya sendiri.


"Makasi banyak, kak...aku janji akan membalas kebaikan kakak suatu hari nanti," Serena berterima kasih atas bantuan Caesar yang melebihi ekspektasinya.


"Hati-hati di jalan, jangan lupa hubungi aku begitu mendarat, oke?"


Serena mengusap air matanya yang hendak menetes. "Iya, kak..makasi banyak, aku menyayangimu.." balasnya, sebelum mengakhiri sambungan mereka.


Serena sudah bertekad akan pulang seorang diri. Hatinya tidak akan tenang sebelum memastikan keadaan Julian benar-benar baik.


'Maaf...maaf aku udah ninggalin kamu di sana...aku janji aku nggak akan pergi jauh lagi tanpamu...maafin aku, Julian...'