
"Kamu yakin kamu nggak mau aku temeni masuk?"
Serena mengangguk ragu. Sekarang dia sudah berada di halaman depan kampus, bersama dengan Julian yang bersikeukeuh ingin mengantarkan gadis itu sampai ke dalam kelas.
Serena masih sedikit takut, tapi dia harus mulai membiasakan diri lagi dan melawan rasa takut itu. Lagipula di lingkungan kampus tidak ada preman-preman jahat yang akan mengejarnya, toh di sana juga ada Hendery di gedung yang sama walau beda kelas.
"Iya, gapapa. Nanti kalau ada apa-apa, aku bisa hubungi Hendery. Kamu jangan terlalu khawatir," Serena bisa melihat raut cemas pada ekspresi Julian saat ini.
Julian tak pernah meninggalkan diri Serena sendiri, mereka bahkan ke mana-mana selalu berdua sebab Julian selalu mengekori Serena ke mana pun gadis itu melangkah.
Awalnya sedikit risih, tapi lama kelamaan Serena sudah terbiasa, malah gadis itu merasa aman karena Julian tidak akan menyakitinya.
Julian menghela panjang, hatinya tidak rela berjauhan dengan Serena, tapi keadaan mengharuskan mereka terpisah untuk sementara waktu. Hanya sampai siang, Julian harus menahan diri untuk tidak melihat Serena sampai siang nanti.
"Bener ya? Jangan lupa balas chatku nanti. Pokoknya hubungi aku kalau kamu udah keluar kelas," Julian memegangi kedua pundak Serena dan tak berhenti memberi gadis itu pesan panjang yang tak berkesudahan. Sudah seperti seorang ibu yang mengomeli anaknya.
Pemandangan langka ini menjadi hiburan tersendiri bagi setiap mahasiswa/i yang melintas di dekat pasangan kekasih itu.
Julian yang sudah lama tak kelihatan begitu juga dengan Serena yang tak ada kabarnya sama sekali, hari ini secara mengejutkan datang ke kampus dengan penampilan baru dan berbeda dari Serena.
Banyak yang semakin terpesona pada kecantikan Serena dengan rambut pirangnya yang terurai lurus.
Serena tampak lebih dewasa dan auranya terkesan lebih berani dan seksi.
Perubahan Serena ini sedikit mengusik ketenangan hati Julian. Julian sadar banyak mata yang terpusat pada Serena dan itu membuatnya kesal.
"Grrr..rasanya pengen pindah fakultas aja," gerutu Julian dengan alis ditekuk tajam.
Serena terkekeh gemas. Julian sedang cemburu. Lelaki itu makin tak malu menunjukkan rasa cemburunya secara terang-terangan di depan orang. Serena justru senang dengan hal ini, sebab dia merasa Julian benar-benar sayang padanya.
Tanpa banyak bicara, Serene memeluk pinggang Julian. Menempelkan tubuh mereka secara rapat dan mengeratkan pelukannya. Julian yang tak siap mendadak kaku begitu dipeluk oleh Serena.
"S-sayang?" Jantung Julian nyaris meledak gara-gara terlalu gembira.
Serena menengadahkan wajahnya lalu memberikan senyuman semanis mungkin untuk sang kekasih. "Hehehe~ Aku bakal kangen kamu," ucapnya tiba-tiba.
Julian benar-benar tidak kuat menerima perlakuan manja Serena yang sama sekali tak terduga. Ini serangan dadakan namanya. Padahal biasanya Julianlah yang akan bersikap clingey dan manja bila hanya berdua dengan Serena.
Lalu Julian balas memeluk Serena yang jauh lebih mungil darinya. Tubuh Serena sangat pas dan nyaman untuk dipeluk, maka dari itu Julian suka sekali memeluk kekasihnya di berbagai kesempatan.
"Jangan lupa di makan ya bekalnya. Kamu harus makan banyak!" pesan Julian sebelum mereka berpisah.
"Pasti kumakan dong. Kamu udah repot-repot masakin buat aku, masa nggak aku makan?"
Satu lagi yang membuat Serena makin bahagia hari ini. Secara tak terduga, Julian memasakkan bekal untuk dirinya tanpa diminta. Serena tahu kalau Julian pintar memasak, tapi dia tak menyangka Julian akan bersusah payah memasakkan sesuatu untuk dirinya di pagi-pagi buta.
Julian bilang ingin merawat Serena dengan kedua tangannya sendiri, termasuk mengontrol menu makanan Serena sesuai dengan saran dari ahli gizi.
Seharusnya Serena lah yang mengurus Julian sebagai kekasih, tapi justru Julian yang berperan aktif lebih darinya. Sedikit memalukan sih, karena itu juga Serena akan membenahi dirinya terlebih dahulu.
"Lihat itu, ternyata mereka udah mulai masuk lagi!" Jevano yang kebetulan menemani Mike pergi ke gedung itu untuk menemui Evan sontak membeku melihat Serena bermesraan di pagi hari bersama dengan Julian.
'Nggak. Nggak mungkin mereka nikah secepat itu. Lagipula Serena lagi ada masalah sama orang tuanya, mana mungkin dia bisa menikah tanpa restu dan saksi dari pihak keluarganya 'kan,' Jevano berpikir keras, mencoba menepis prasangka buruk dalam otaknya.
Terlepas dari itu, ada yang lebih menarik rasa penasaran Mike dan juga Jevano kali ini. Yaitu warna serta gaya rambut Serena yang berubah walau panjangnya masih tetap sama seperti sebelumnya.
"Ck, beruntung banget si Julian. Dia tau mana cewe yang bener-bener cantik sama yang sok cantik. Pantes dia jomblo lama, sekalinya dapet cewe, cantiknya nggak main-main. Serena itu levelnya tinggi banget," Antara memuji sekaligus iri, Mike tak berhenti berdecak kagum atas paras cantik Serena yang kelihatan semakin matang dan dewasa.
Hati Jevano rasanya campur aduk. Pemandangan di depan sana sungguh membuatnya tak nyaman dan risih. Tanpa banyak bicara, Jevano menarik kerah baju Mike dari belakang lalu memaksa temannya untuk segera pergi dari tempat itu.
Padahal tinggal sedikit lagi Jevano bisa terlepas dari Jasmine, tapi harapannya pupus begitu Jasmine menolak keras dan bahkan mengancamnya dengan 'senjata' rahasia yang berada dalam genggaman gadis itu. Tahu begini, Jevano tidak akan menyetujui ide gila Jasmine kala itu.
...✨...
...✨...
Tok tok tok
"Tuan Caesar, saya datang membawa surat penting untuk anda," Oliver mengetuk pintu ruang kerja Caesar yang tertutup rapat.
Setelah menerima sahutan dari dalam, barulah Oliver berani masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna hitam dan abu-abu itu.
Caesar duduk di kursi kebesarannya, sedang sibuk membaca satu per satu berkas yang menumpuk di sudut mejanya.
"Tuan, saya membawa surat penting yang baru tiba di rumah pagi ini," Oliver menyampaikan maksud kedatangannya ke kantor Caesar. Sebenarnya hari ini Oliver tidak mempunyai jadwal di kantor Caesar, namun terpaksa pergi ke sana untuk menyerahkan surat yang ditujukan khusus untuk Boss mudanya itu.
Caesar menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menerima surat pemberian Oliver dan membacanya secara seksama.
Surat itu terdiri atas dua lembar dan beberapa lampiran foto yang sama sekali tak terduga isinya oleh Caesar.
Aku punya kejutan untukmu. Tidak tau apa yang harus kuperbuat pada anak ini, maka dari itu aku akan menyerahkannya padamu.
Begitulah kalimat yang tertulis pada bagian pembuka surat.
Setelah Caesar membaca keseluruhan isi dari surat tersebut, kepalanya jadi semakin pusing tidak karuan.
"WHAT THE HELL?! INI BENERAN?!" Caesar sampai menggebrak meja kayu kokoh di depannya gara-gara terlalu syok.
"A-ada yang salah, Tuan?" Oliver sedikit terjingkat kaget, dia pikir surat yang di kirim oleh Julian adalah kabar gembira yang menyangkut soal Serena. Tapi sepertinya kali ini dia keliru.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu di sana, Tuan?" Otak encer Oliver bekerja secara cepat menangkap gambaran situasi yang terjadi.
Caesar memijit pelipisnya menggunakan jari. Semua informasi yang tertuang dalam surat Julian benar-benar mengejutkan dirinya, untung Caesar tidak memiliki riwayat penyakit jantung, jadi hidupnya masih aman-aman saja sekarang.
"Ini, baca sendiri." Caesar terlalu pusing untuk menjelaskan. Toh Oliver adalah anak buah kepercayaan sekaligus kaki tangan andalannya.
"Siapkan pesawat secepatnya. Masalah ini nggak bisa diluruskan hanya dengan melalui surat atau telpon saja," titah Caesar pada akhirnya.
Dia harus melihat situasi di sana dengan matanya sendiri. Lalu, soal laki-laki yang dibahas oleh Julian di dalam surat tadi, Caesar juga harus membuktikan kebenarannya secara langsung.
'Siapa sebenernya anak laki-laki itu? Kalau memang terbukti dia memiliki darah Reinhart, berarti salah satu di antara saudara ayah lah yang menjadi tersangkanya. Aku harus menyelidiki soal ini sampai ke akar-akarnya!'