
Serena memandang dingin sosok Jevano yang berjalan melintasi halaman depan mansion Collin. Pertemuan mereka telah berakhir dan mobil jemputan Jevano juga sudah tiba di depan sana.
Jevano melarang Serena untuk menemaninya turun ke bawah dan memberikan salam perpisahan di sana karena cuaca yang masih dingin. Alhasil, Serena hanya bisa melihat kepulangan Jevano dari jendela kamarnya.
"Orang itu udah pulang?"
Dion muncul dari belakang Serena, ikut mengintip kepulangan Jevano dari balik jendela yang sama dengan Serena.
"Ya. Toh nggak ada hal penting yang kami bicarakan tadi." Serena senang pertemuannya dengan Jevano berakhir dengan cepat. Dan menurut penilaiannya, Jevano sedikit berubah.
Maksudnya jelas berubah ke arah yang baik.
"Dia kembali jadi Jevano yang dulu.." Itu yang terbesit dalam benak Serena setelah mengobrol singkat dengan Jevano hari ini.
"Memangnya kenapa sama dia? Dia berubah sikap?" Dion yang tak tahu apa-apa jelas tidak mengerti maksud dari gumaman Serena barusan.
Serena cuma menggidikkan bahunya, acuh. Begitu mobil yang membawa Jevano sudah ke luar dari halaman mansion, Serena baru menyingkir dari jendela.
"Jadi gimana? Udah dapat jawaban belum?" Kini fokus Serena tertuju pada sepupunya.
Dion menjawab dengan helaan nafas berat. Tak perlu dijelaskan lagi, ekspresi Dion sudah cukup menjelaskan segalanya.
'Kemungkinan besar pasti gagal. Kalau gini terus, Dion nggak bisa lepas dari cengkraman mereka,' pikir Serena.
'Nggak mudah ke luar dari organisasi kayak gitu, resikonya sangat besar. Apa nggak ada cara lain ya?' Dion harus segera ke luar dari semua pekerjaan berbahayanya itu, agar dia bisa membersihkan namanya dengan sesegera mungkin.
"Skenario terburuk, kamu bikin identitas baru aja," usul Serena tiba-tiba.
Dion menggeleng dengan cepat. "Nggak. Namaku ini peninggalan satu-satunya dari ibuku. Aku nggak mau menggantinya gitu aja!" Nama adalah satu-satunya hal terpenting bagi Dion, sebab ibu yang telah memberinya nama setelah memilihnya dengan sangat hati-hati.
Tapi bukan itu maksud Serena, "Bukan gitu, maksudku kita tambahkan nama depanmu, kita kasih nama panjang tapi nama lamamu tetap masuk di dalamnya. Dion hanya menjadi nama alias atau panggilan khusus untuk kita-kita aja," jelas Serena.
"Namaku nggak akan hilang 'kan?!"
Serena menggeleng penuh. "Nggak. Karena sesuai yang kamu bilang, orang-orang di organisasi itu cuma tau nama panggilanmu aja 'kan? Dengan kucuran dana yang cukup kita bisa membeli identitas baru lalu mengubah sedikit penampilanmu. Ini mungkin akan dibutuhkan suatu saat nanti. Aku yakin meskipun mereka membiarkanmu ke luar, nyawamu tetap akan diincar oleh mereka.." Serena harap, dengan membuat identitas baru akan sedikit mengecoh orang-orang dari organisasi yang mencari Dion.
Apa yang Serena katakan ada benarnya juga. Identitas baru, penampilan baru. Dion harus pintar-pintar menjaga dirinya agar tidak terendus dan ditemukan oleh orang-orang kiriman dari organisasi.
"Sayang sekali ya.." celetuk Serena, "Kalau tau kamu punya kemampuan istimewa kayak gini, lebih baik kamu daftar jadi anggota khusus FB*I aja! Pasti keren~"
Toh resiko yang dihadapi juga sama-sama berbahaya. Bedanya 'kan nama FB*I terkesan lebih elite gitu ketimbang 'prajurit' bayaran dari organisasi gelap.
Dion tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jelas aku nggak bakal di terima, aku sering berhadapan dengan mereka di beberapa kesempatan. Wajahku pasti cukup terkenal di kalangan mereka," akunya dengan bangga.
Tuh 'kan, feeling Serena tak pernah salah. Dion sudah terlibat terlalu dalam sampai pada titik yang sangat berbahaya. Jika wajah Dion dipublikasikan secara terang-terang ke publik, bukan tak mungkin musuh akan langsung mengenali Dion.
"Kayaknya lebih baik kalau kamu bekerja di balik layar. Terlalu beresiko kalau kamu menampakkan wajahmu pada publik," putus Serena pada akhirnya. Dia akan membicarakan hal ini pada Caesar nanti.
Dion sih tak peduli dengan cara mana saja yang akan dilakukan, asalkan dia bisa berkumpul bersama Serena dan Caesar, baginya tak ada yang harus dipusingkan lagi.
"Asalkan aku bisa terus bersama-sama kalian, itu udah lebih dari cukup. Aku udah nyaman kayak sekarang, bekerja di luar atau di balik layar, asalkan buat kamu dan kak Caesar, akan kulakukan." Dion mengutarakan perasaannya dengan tulus.
Senyuman tampan yang ditunjukkan pada Serena membuat hati sang lawan bicara tersentuh bukan main.
"Awww~ manisnya...kenapa kita nggak dipertemukan lebih cepat ya? Kalau aku punya kamu, hidupku juga pasti terasa lebih berwarna dan menyenangkan!" Serena tak tahan untuk tidak memeluk saudara laki-lakinya dengan erat.
Brak
Namun kegembiraan itu berakhir sangat cepat gara-gara kedatangan satu serigala besar yang diselimuti aura membunuh yang menyeramkan.
"Lepasin tanganmu dari Serena.." Mata Julian melotot horor melihat tangan Dion memeluk pinggang Serena dengan posesif.
"Mulai lagi deh.." Dion menghela nafas jengah, lalu perlahan membenarkan posisi duduk Serena agar tidak jatuh.
Kedatangan Julian di sambut dengan ceria oleh Serena yang sama sekali tak gemetar melihat ekspresi sangar yang ditunjukkan Julian. "Sayangku~ udah selesai pekerjaannya? Duduk sini, sama kita. Minum teh dulu sambil istirahat sejenak!"
Julian berjalan menghampiri Serena, tanpa mengalihkan lirikan tajam nan penuh peringatannya dari Dion.
'Jaga.jarakmu.dengannya.' Sekiranya itulah pesan yang diberikan melalui sorotan tajam mata Julian.
Lama-lama Dion sudah kebal menghadapi keposesifan kakak beradik Collin ini. Bukankah ini bagus? Itu tandanya Julian maupun Elliot begitu menyayangi Serena sampai tidak memperbolehkan lelaki lain menyentuh Serena secara sembarangan.
Yah..sedikit tidak terima sih Dion, Elliot 'kan termasuk ipar semata sedangkan dirinya adalah sepupu yang masih sedarah dengan Serena justru tidak diperbolehkan memeluk atau sekedar merangkul Serena dalam waktu lama. Sementara itu Elliot dengan bebas memeluk bahkan memangku Serena sewaktu-waktu, layaknya seorang anak kecil yang masih disuapi ibunya.
"Good job. Kamu pasti belum makan 'kan? Yuk, kita makan camilan ini dulu biar tubuh kita tetap hangat," Serena memberikan satu piring kecil berisi beberapa cookies serta secangkir teh hangat untuk kekasihnya.
Masih ada banyak sisa camilan yang disuguhkan untuk Jevano tadi, jadi Serena akan menghabiskannya terlebih dulu. 'Kan sayang kalau di buang begitu saja, mendingan langsung di makan daripada buang-buang uang.
"Apa yang kamu bicarain sama Jevano?" Julian tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.
"Eum...intinya sih dia cuma mau lihat kondisiku..dia juga cerita soal keadaan rumah dan Jasmine. Tapi aku yakin sih, tujuannya datang ke sini soalnya dia mau pastiin apa aku nyaman atau engga. Dan kalau aku kelihatan loyo atau sedih, dia pasti bakal cari alasan buat bawa aku pergi dari sini."
Serena sudah cukup mengenal Jevano, jadi dia bisa menebak jalan pikiran sahabatnya itu. Tapi kali ini, Jevano melakukan perannya sebagai seorang sahabat, tanpa maksud terselubung lainnya.
"Dia belajar menerima hubungan kita dan bersikap sebagai seorang sahabat baik lagi kayak dulu. Mungkin hubungannya sama Jasmine udah mulai membaik lagi, aku turut senang kalau gitu," Serena tersenyum puas memikirkan itu.
Kalau memang benar itu tujuan Jevano datang berkunjung, Julian tak memiliki masalah.
"Aku dengar rumor dari perkumpulan anak-anak kenalan papa, katanya nggak lama lagi Nyonya Esther segera melangsungkan pertunangan Jasmine dengan Jevano. Tapi itu masih rumor yang nggak berdasar aja sih. Aku harap, apapun pilihan mereka, itu sesuai dengan kata hati masing-masing dari mereka. Bukan sekedar untuk kepentingan kerja sama semata," ujar Julian yang sedikit kasihan pada Jasmine dan Jevano.
Karena menikah atas dasar bisnis tentu bukan sesuatu yang bagus. Mungkin Nyonya Esther takut puterinya dicampakkan oleh Jevano dan kehilangan support paling besar di sisi Jasmine. Namun kembali lagi, memaksakan segala sesuatu yang tidak sesuai kehendak kita tentu bukan hal yang membahagiakan.
Julian harap semua orang bisa mendapatkan kebahagiaan masing-masing agar hal buruk tidak muncul di masa mendatang.