
"Orang itu mulai menunjukkan taringnya, enaknya apa yang akan kita lakukan ya?"
Caesar sedang melakukan video call bersama Serena, Julian dan Dion. Ketiga orang itu sedang bersantai di kediaman Collin, sambil duduk beralaskan karpet berbulu tebal di depan perapian yang menyala.
Sore hari waktu yang tepat untuk beristirahat sambil berkumpul bersama keluarga. Sayangnya Elliot dan Tuan Joseph belum bisa bergabung karena masih beerada di kantor.
Dion yang tidak paham lalu bertanya, "Orang itu? Siapa yang kak Caesar maksud?"
"James," Caesar menjawab cepat, "Kita lagi ngomongin orang itu. Dia mendesakku untuk menjadikan anak-anaknya sebagai kaki tanganku. Cih, bocah ingusan kayak mereka nggak ada apa-apa di banding asistenku," cibirnya remeh.
Ya, intinya sih Caesar tak suka saja pada James dan keluarga pria itu.
"..." Dion langsung diam tak berkomentar apa-apa. Dia hanya memiliki kenangan buruk dengan orang yang bahkan tak pantas di sebut sebagai ayah itu. Jadi buat apa peduli dengan b@j!ngan itu.
Lantas Serena menempelkan kepalanya di pundak kiri Dion. Mengusap lembut lengan sang sepupu agar tidak terlalu memikirkan James.
"Haha, aku sama sekali nggak peduli sama si b@jingan itu kok. Malah kalau bisa, lebih baik dimusnahkan aja sekalian." Dion tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya, berharap Serena tak lagi berpikir kalau dirinya kembali terluka karena pria itu.
"Aku dan dia adalah orang asing. Kalau aku punya kesempatan, aku ingin membalas perbuatan dan perkataan kejam yang dia lontarkan pada ibuku.." gumam Dion dengan suara lirih.
Julian tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, tapi dia bisa memahami seberapa terlukanya Dion ketika seseorang mencaci dan bersikap kasar terhadap wanita yang sudah melahirkannya.
"Tapi itu sebelum aku bertemu kalian. Alasanku bertahan di organisasi juga sebagian kecil karena dendam yang ingin kubalaskan itu," ungkap Dion tiba-tiba. "Tapi sekarang, setelah bertemu kalian perlahan perasaan dendam itu tersamarkan. Aku lebih suka menikmati waktu berhargaku bersama kalian ketimbang bergelut dengan rencana pembalasan dendam. "
Dion tersenyum lembut menatap Serena dan Dion. Caesar yang memperhatikan dari balik kamera juga bisa melihat ketulusan dari sorot mata sang sepupu.
"Kalian seperti perkumpulan anak-anak kurang kasih sayang," celetuk Caesar tiba-tiba. "Tapi tak apa, aku bisa mencurahkan kasih sayangku pada kalian sebanyak yang kalian mau! Kakak tertua ini akan melakukan apapun untuk kalian!!" Entah dari mana datangnya deklarasi memalukan itu.
Caesar tampak begitu bangga sampai menepuk dádánya dan tersenyum percaya diri. Tingkah konyolnya itu sontak menimbulkan gelak tawa bagi ketiga pemuda-pemudi yang Caesar anggap sebagai adik sendiri.
'Aku lebih suka melihat kalian tertawa lepas seperti ini...' Caesar tak bisa menutupi kebahagiaannya melihat orang-orang terdekatnya juga bahagia.
"Anyway, kalau James masih keras kepala, aku nggak punya pilihan lain selain menyebutkan nama Serena dan Dion sebagai kaki tanganku yang baru," ujar Caesar, yang seketika menghilangkan tawa kedua sepupunya.
"What?/ Apa?!" Dion dan Serena berseru serempak.
"Tenang...meskipun aku mengumumkan kalian sebagai kaki tanganku, aku nggak akan memberikan tugas atau pekerjaan pada kalian kok. Tenang saja. Kau nggak perlu khawatir, Mr. Collin, matamu cukup mengintimidasi rupanya." Caesar dapat merasakan tekanan kuat dari sorot mata Julian yang seolah memberi peringatan padanya.
"Hanya dengan begitu James akan berhenti merecokiku lagi. Tenang~ aku akan menyamarkan nama Dion untuk sementara waktu~" Caesar menjelaskan rencananya lebih mendetail.
Dion saling berpandangan dengan Serena. Bukankah ini terlalu cepat? Meski menggunakan nama samaran, cepat atau lambat James pasti akan mencari tahu.
Jadi Serena ingin menjadi kekuatan bagi Dion. "Jangan khawatir. Aku akan selalu melindungimu," Serena menggenggam satu tangan Dion dengan erat. "Darah nggak akan bisa dibohongi atau di manipulasi. Selama dalam nadimu mengalir darah keturunan Reinhart, mereka nggak akan berani memusnahkanmu, atau aku dan kak Caesar yang akan menjadi saksi!" ujar Serena.
"Mau paman James atau siapapun datang kepadamu, kau nggak sendiri lagi! Ingat, kau punya orang-orang terdekat yang akan selalu mendukungmu!" Sebenarnya Serena mengatakan hal ini bukan untuk Dion seorang, tetapi juga untuk dirinya sendiri.
Serena juga harus selalu ingat bahwa masih ada banyak orang yang peduli dan selalu mendukungnya, Serena tidak boleh takut dan menyerah pada keadaan lagi seperti dulu.
"Iya...makasi banyak. Aku nggak takut kok, mungkin trauma itu masih sedikit membekas tapi aku akan mencoba bangkit dan memeranginya. Kamu juga ya, kita harus sama-sama berjuang," Dion mengusak puncak kepala Serena.
Meski mereka terlahir dalam kondisi keluarga yang kacau dan rumit, bukan berarti mereka berdua harus menyerah pada keadaan atau menuruti kehendak orang lain yang bisa menahan diri mereka yang ingin berkembang.
Andai Serena tidak pergi dari rumahnya, andai Dion tidak merantau pasca kematian ibunya, mungkin keduanya tak akan pernah bertemu seperti sekarang.
Takdir itu sangat sulit di tebak.
.
.
"Kamu masih kepikiran soal Dion?"
Julian bertanya pada Serena yang duduk melamun memandang ke luar jendela kamar. Memperhatikan bagaimana butiran salju yang putih dan halus turun bagaikan air hujan.
"Sedikit, tapi nggak sebanyak sebelumnya. Aku cuma merasa kalau semua ini kayak mimpi belaka," ungkap Serena pada sang kekasih.
Julian menghampiri Serena, mengusap pelan bahu kekasihnya yang tidak tertutupi sweater dengan benar. "Tenang, dia bisa masuk ke perusahaan kak Caesar sebagai asisten pribadi kak Elliot nanti. Poin utamanya adalah biar Dion bisa mendapatkan pekerjaan yang layak supaya hidupnya terjamin dengan usaha sendiri. Dia nggak bisa selamanya bergantung pada orang lain, terutama kak Caesar. Dia harus bisa menghadapi segala tantangan dan rintangan dengan kekuatannya sendiri pula."
Serena mengerti maksud Julian. Tapi sebagai seorang saudara yang tahu bagaimana sulitnya menjalani kehidupan yang jauh dari keluarga dan kasih sayang, Serena ingin terus mendukung dan berjalan bersama Dion.
"Apa aku bisa sekuat dia juga ya?" Serena sedikit meragukan dirinya. Dia sudah berusaha sejauh ini, Serena berpikir dirinya sudah mencoba melakukan sebaik yang dia bisa.
Julian tahu Serena juga sama insecurenya dengan Dion, tapi dia juga tahu bahwa Serena sudah berusaha dengan baik. Julian ingin memberikan apresiasi yang setimpal untuk menyemangati Serena.
"Kamu juga sama hebatnya dengan Dion. Kalian berdua hebat, aku bangga dengan kalian. Kalian berdua satu-satunya pejuang keras yang pernah kutemui.." Julian memuji Serena.
Usakan kasar pada puncak kepalanya membuat Serena kesal sendiri. Namun pujian yang Julian berikan, cukup menyenangkan hatinya.
'Aku senang aku masih di beri kesempatan hidup untuk bisa bertemu dengan banyak orang-orang berharga di hidupku. Aku nggak akan berniat mengakhiri hidupku lagi kayak dulu, ada orang yang membutuhkan dukunganku juga. Aku harus bisa jadi kuat demi Dion dan semua orang.'