
Ainsley membuka matanya perlahan. Sinar matahari yang menerobos masuk ke dalam kamar membuat matanya silau. Ia menoleh dan mendapati Austin tidak ada di sisinya.
Jam berapa ini? Dan bagaimana caranya ia bisa berada di kamar? Bukannya tadi dirinya tidur di sofa? Ia ingat sekali waktu pulang dari kampus ia beristirahat di sofa sambil tidur-tiduran di paha Austin. Ainsley mencoba duduk dengan wajah yang masih bingung lalu menatap jam beker di atas nakas. Matanya sukses melebar saat melihat jam berapa sekarang. Ini sudah pagi? Kalau begitu dia sudah tidur seharian sampai pagi? Hebat Ainsley, hebat sekali. Bagaimana bisa dirimu ketiduran seperti orang tidak tahu diri?
Pandangan Ainsley turun ke baju yang dipakainya. Ia tidak mengenakan pakaian kemarin lagi. Astaga, pasti Austin yang mengganti bajunya. Meski mereka suami istri dan sudah melakukan hubungan itu, tapi kan Ainsley tetap merasa malu. Mereka juga baru melakukannya sekali. Tentu saja wajar kalau gadis itu malu. Apa Austin mengambil-ngambil kesempatan saat dia lagi tidur? Awas saja kalau iya.
Ainsley menghela nafas kemudian berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Ia sudah absen sehari dan tidak masuk kelas karena insiden kemarin. Hari ini dia harus masuk.
Tidak sampai lima belas menit ia sudah selesai. Kemudian ia memakai cincin pernikahannya dengan Austin. Biasanya sih dia akan melepas cincin itu kalau mau ke kampus, tapi karena semua orang di kampus sudah tahu tentang statusnya, tidak mungkinkan dia tidak memakai apa-apa. Ainsley menatap cincin itu cukup lama dan tersenyum kecil.
Ia kemudian keluar dari kamar menuju dapur. Seperti biasa, bi Ratih dan Milka sudah setia mengerjakan pekerjaan mereka di sana. Biasanya sih pagi-pagi begini Austin masih ada tapi hari ini Ainsley tidak melihat pria itu saat membuka matanya.
"Selamat pagi, nona." sapa bi Ratih.
"Pagi bi, Milka." balas Ainsley menyapa.
"Di mana Austin?" Tanyanya.
"Tuan Austin bilang dia ada rapat penting pagi ini, jadi tidak sempat membangunkan anda." sahut Milka.
Ainsley mengerutkan dahinya bingung. Tak lama sesudah itu ia memutuskan untuk tidak peduli.
"Nona, kau ingin sarapan sekarang? Aku akan segera siapkan." ucap Milka lagi. Ainsley tersenyum sopan dan mengangguk. Milka lalu segera menyiapkan sarapan buat majikan mereka itu.
Pandangan Ainsley berpindah-pindah pada makanan didepannya,. Ada pancake, roti, sereal dan masakan lain yang Ainsley tidak tahu namanya. Namun dia menyukai semuanya. Gadis itu akhirnya memutuskan memakan sereal lebih dulu. Setelah makan sereal ia makan pancake. Ia menikmati pancake itu sambil memikirkan apa yang akan terjadi dengan dirinya di kampus nanti. Orang-orang sudah mengenalnya, dan masalah yang dia lewati itu baru kemarin. Tentulah ia akan merasa risih kalau orang-orang itu pasti menatapnya dengan bebas di kampus nanti. Tapi ya sudahlah. Itu adalah resiko menjadi istri dari laki-laki terkenal seperti Austin. Dia bisa apa coba.
"Ainsley," panggilan itu menghentikan langkah Ainsley. Ia menoleh ke arah suara dan mendapati Alfa sedang berdiri sambil bersandar di salah satu yang berdiri kokoh di ujung sana dengan sebelah tangan dimasukkan ke saku celananya. Kening Ainsley berkerut. Alfa tampak kacau. Mungkin karena ia tidak mencukur kumisnya pagi ini jadi masih terlihat sedikit bulu-bulu tipis antara kumis dan bawa bibirnya.
Ainsley melirik ke kanan-kiri. Melihat-lihat kalau-kalau ada yang sedang memperhatikannya atau tidak. Setelah dipastikan tidak ada, ia berjalan mendekat ke Alfa. Berhenti didepan lelaki itu.
"Ada apa denganmu? Kau tampak kacau. Ada masalah?" tanya Ainsley menatap Alfa lurus. Alfa tertawa hambar. Benar, dia ada masalah. Ia jadi kacau begini karena putus cinta bahkan sebelum memulai hubungan itu. Dia patah hati. Hatinya sakit karena tahu gadis yang disukainya itu sudah menikah. Sudah menjadi milik orang lain. Padahal ia sudah berencana untuk memutuskan pertunangannya dengan Rumi dan memulai hubungan dengan gadis itu. Tekatnya sudah sangat kuat. Ia bahkan sudah menyiapkan tempat tinggal sendiri untuk dirinya dan Ainsley. Tapi... Seperti sebuah mimpi buruk baginya, Ainsley benar-benar sudah menikah. Apa yang pernah dia dengar tentang pernikahan gadis itu ternyata memang bukanlah sebuah kebohongan, itu sungguh-sungguh nyatanya.
"Bisa bicara sebentar?" pinta Alfa dengan nada rendah lalu berbalik pergi tanpa menunggu persetujuan Ainsley. Mau tak mau gadis itu mengikutinya.
Alfa membawa Ainsley ke rooftop. Tempat itu biasanya menjadi tempat untuk dirinya menyendiri karena jarang sekali ada orang lain yang datang ke situ. Pria itu berdiri sambil menatap ke bawah sana. Ekspresinya seperti seseorang yang sudah tidak punya semangat hidup. Ainsley berdiri disebelahnya.
"Aku pikir kau bohong tentang pernikahan itu." ucap Alfa tanpa menatap lawan bicaranya. Pandangannya terus menatap ke bawah yang langsung berhadapan dengan jalan taman kampus dibawah sana. Ainsley tidak bicara sama sekali.
"Aku kira kau sengaja membuat cerita pernikahanmu untuk menghindariku," ucap Alfa lagi.
"Tapi aku salah. Pernikahanmu memang nyata." ia melanjutkan.
"Kau bertanya kenapa aku kacau begini kan?" kali ini pandangan Alfa berpindah menatap Ainsley. Pria itu merasa tidak tahan lagi lalu tanpa permisi menarik gadis didepannya itu dan memeluknya kuat-kuat. Tentu saja Ainsley kaget dan mencoba melepaskan diri namun pelukan Alfa terlalu kuat, ia tidak sanggup melepaskan diri.
"Aku patah hati mendengar kau sudah menikah. Karena aku menyukaimu." gumam Alfa pelan. Tentu saja Ainsley yang dengar merasa kaget bukan main. Alfa menyukainya? Sejak kapan? Kenapa harus di saat dirinya sudah menikah dan sudah mulai membuka hatinya pada orang lain? Ainsley serasa tidak percaya mendengarnya. Ia berdiri mematung, lalu tanpa aba-aba sebuah ciuman melayang dibibirnya. Ainsley kaget bukan main, ia langsung mendorong Alfa menjauh dan berlari pergi meninggalkan tempat itu.
Alfa meringis kesal. Astaga, apa yang sudah dia lakukan? Dia memanggil Ainsley untuk bicara bukan untuk merendahkannya seperti itu. Dia harus bilang kalau ada yang mau berbuat jahat padanya dan gadis itu harus berhati-hati. Alfa mengusap wajahnya kasar. Sial!