Mine

Mine
Selesai Liburan



Liburan Serena telah berakhir. Sedikit tak rela sih, tapi Serena dan rombongan harus kembali ke negara mereka untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing. Khususnya Caesar yang berulang kali di hubungi oleh sekertarisnya untuk segera pulang karena ada meeting penting yang tak bisa di tunda.


Serena pasti akan merindukan keindahan dan ketenangan yang dia dapatkan selama liburan ini.


Julian bisa melihat ketidakrelaan Serena sebelum mereka pulang, meski kekasihnya tidak mengutarakan perasaannya secara jujur.


"Tenang...kita bisa kembali ke sini kapan-kapan. Tunggu aku dapat cuti lagi ya?" bisik Julian pada Serena.


Ini rahasia, biar Caesar tidak menyusul mereka lagi ke depannya nanti. Pokoknya liburan mereka yang lain harus di rahasiakan dari Caesar.


Serena mengangguk dengan semangat. Tak apa liburan kali ini berakhir dengan gangguan dari kedua sepupunya, yang penting keseruan yang di dapatkan tidak hilang.


Lalu tercetus ide baru dalam otak Julian, "Kalau bulan madu kita diadain di tempat gimana? Kamu mau?" bisiknya lagi.


Serena syok mendengarnya. "Du-dua tempat? Kamu mau pergi ke dua tempat gitu?"


Julian mengangguk membenarkan, senyumannya tampak misterius. "Dua tempat....apa nggak bikin capek? Aku sih senang-senang aja, tapi aku khawatir kamu kecapekan nanti.." ucapnya lirih.


Beruntung Caesar dan Dion sibuk sendiri-sendiri mengecek barang bawaan mereka yang masih berantakan padahal jadwal penerbangan mereka kurang dari dua jam lagi.


Julian menggeleng kecil. Serena masih memikirkan orang lain, ketimbang mementingkan dirinya sendiri. "Jangan khawatir. Karena itu adalah bulan madu pertama kita, jadi nggak ada salahnya kita keliling dunia untuk beberapa waktu. Dulu katanya papa juga berkeliling dunia merayakan bulan madunya," terangnya, menyampaikan cerita masa lalu dari sang ayah.


Istri Tuan Joseph, berarti ibu kandung Julian dan Elliot. Serena hanya dapat melihat potret mendiang dari foto-foto yang di pajang di dalam kediaman Collin. Tuan Joseph tampak sangat mencintai istrinya meski harus terpisahkan oleh maut.


Siapa saja dapat merasakan tatapan penuh kasih yang terpancar dari sorot mata Tuan Joseph. Tuan Joseph juga selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi makam mendiang istrinya hampir setiap hari, katanya ingin melepas rindu sekalian curhat akan kesehariannya bersama kedua anak serta calon menantunya.


Serena sangat senang karena Tuan Joseph selalu menyertakan dirinya di berbagai kesempatan, apalagi sampai diperkenalkan pada ibu dari kekasih tercintanya meski tak bisa bertemu secara langsung.


Serena berharap, dia dan Julian bisa terus saling mencintai sampai maut memisahkan mereka. Serena juga yakin sekali, ibu Julian dapat melihat ketulusan hati Tuan Joseph dari atas sana.


"Serena, barang-barangmu udah selesai aku cek lagi. Nggak ada yang ketinggalan 'kan?" Caesar datang memberitahu Serena.


Padahal Serena dan Julian sudah memeriksa semua barangnya sebanyak dua kali, tapi Caesar masih saja mengeceknya lagi. Memang benar-benar si protektif itu, perhatiannya terhadap Serena sudah menembus langit.


"Udah semua. Sisanya aku masukkan ke dalam tas selempangku ini."


"Oke. Karena aku langsung pulang dari sini, kita akan berpisah di bandara nanti. Sini, peluk dulu sebelum kita berpisah." Caesar maju sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Sedikit tidak rela berpisah dengan Serena dan Dion, hari-harinya pasti akan terasa sepi dan membosankan lagi tanpa kehadiran mereka.


"Jaga dirimu dan Dion ya. Kakak akan selalu memantau kalian dari sana. Jangan ragu hubungi kakak kalau terjadi sesuatu. Dan kamu harus memberitahu aku lebih awal kalau udah menentukan tanggal pasti pernikahanmu." Caesar tak berhenti menepuk-nepuk punggung Serena dan mengeratkan pelukan mereka.


"Iya, orang pertama yang akan aku beritahu adalah kakak terus Dion. Tolong nantikan kabar bahagia itu ya."


Caesar tersenyum bangga, Serena jauh lebih percaya diri dan terbuka daripada dulu. Ini merupakan perkembangan pesat yang tak pernah terbayangkan oleh Caesar.


Lalu atensi Caesar beralih pada Julian yang memperhatikan dirinya dan Serena dengan senyuman haru.


"Sini, aku juga harus berikan restuku untuk kalian!" Caesar menarik tangan Julian untuk ikut berpelukan dengannya dan Serena.


Julian sedikit terkejut, tapi kemudian dia jadi tertawa lepas karena terlalu bahagia.


"Aku memang bukan orang yang religius, tapi aku yakin Tuhan akan selalu menyertai dan memberkati kalian. Aku harap jalan yang kalian pilih akan selalu bertaburan bunga. Aku akan selalu mendoakan kalian di mana pun kalian berada.."


...✨...


...✨...


"Sedih, hm?"


Sejak berpisah dengan Caesar, air mata Serena belum berhenti menetes.


Bohong jika Serena berkata tidak, "Semakin aku sering menghabiskan waktuku sama kak Caesar, aku jadi nggak rela berpisah apalagi kami berdua nggak bisa ketemu dalam waktu yang cukup lama..."


Julian bisa mengerti perasaan itu. Ikatan antara Serena dengan Caesar jauh lebih kuat ketimbang dengan keluarga Serena sendiri, jadi wajar apa bila Serena tidak ingin berjauhan dengan Caesar dan selalu merindukan kakak laki-lakinya itu.


"Nanti kalau ada waktu lagi, kita yang akan pergi mengunjungi kak Caesar bersama Dion juga. Dia pasti akan sangat senang, jadi jangan bersedih terus." Hanya ini yang bisa Julian lakukan untuk menyemangati Serena.


Dion yang duduk di belakang sepasang kekasih itu diam-diam mengabadikan setiap momen manis yang kedua orang itu tunjukkan.


'Kak Caesar pasti senang melihat Serena yang sedih ketika dia tinggal,' batin Dion dalam hati.


Tanpa Caesar, Dion tak akan pernah merasakan semua fasilitas eksklusif yang diberikan secara cuma-cuma untuk dirinya. Sebenarnya Dion malu kepada dirinya sendiri, dia tidak berkontribusi apa-apa dalam liburan ini, tapi justru dibiayai secara penuh oleh kakak sepupunya itu.


'Kayaknya aku harus kembali mencari uang, biar aku juga bisa memberikan sesuatu untuk kak Caesar dan yang lainnya..tapi kalau aku kembali ke organisasi, akan sulit mencari celah untuk menyelinap pergi atau sekedar mengunjungi Serena...huh...aku nggak nyangka bakal seribet ini buat ninggalin keluarga,' Dion jadi pusing sendiri.


Apalagi Serena akan segera menikah dalam hitungan bulan, Dion harus memberikan sesuatu yang bernilai dan mewah khusus untuk Serena.


'Aku bicarain dulu deh sama Julian. Kalau aku kasih tau Serena, udah pasti dia akan melarangku.' Pilihan terbaik untuk mendiskusikan soal ini adalah dengan Julian atau Elliot.


'Organisasi...sampai kapan ya aku terus bergabung dengan organisasi itu? Aku dulu ikut juga karena terpaksa agar bisa mencari uang. Dan sekarang aku harus menjaga jarak, kalau perlu sekalian mengundurkan diri juga? Aku harus menjaga reputasi Serena dan Julian, kalau engga mau melibatkan mereka..'