
"Jadi? Julian benar-benar mau menikahi Serena?"
Suara Philip terkesan datar dan dingin, seakan pertanyaan itu hanya ditujukan untuk dirinya sendiri, bukan orang lain.
Sosok lain yang juga berada di dalam ruangan remang itu sampai bingung harus menjawab apa, sebab Boss besarnya tampak melamun sambil memandang kosong ke arah langit yang sudah gelap melalui jendela yang ada di sana.
"I-itu masih simpang siur, Tuan. Ki-kita hanya perlu menunggu sampai Nona Serena sendiri yang mengumumkan rencananya," Hanya itu jawaban yang dapat dilontarkan Hilden, sekertaris Philip yang baru menginjak kepala 3.
Bukan tanpa sebab mengapa Boss besarnya mendadak membicarakan perihal masa depan puteri sulungnya yang dikabarkan akan dipinang oleh anak dari keluarga Collin.
Semua ini berawal dari surat yang datang ke kantor Philip dan diantarkan oleh sekertarisnya itu langsung ke tangan si Boss. Philip mengira itu mungkin surat undangan khusus yang dikirimkan oleh rekan-rekan bisnisnya seperti biasa, tapi alangkah terkejutnya Philip setelah melihat lambang serta nama Julian Collin tercetak rapi di bagian pengirim surat.
Sejak bertemu dan berkenalan dengan Julian di kediamannya waktu itu, Philip tak pernah sekalipun berkomunikasi secara khusus dengan Julian maupun Serena, puterinya sendiri. Entah sekedar memberi selamat atau nasehat layaknya orang tua pada umumnya, Philip justru tenggelam dalam kesibukannya sendiri sampai melupakan soal Serena dan Julian yang baru saja mengumumkan hubungan mereka.
Philip baru mengingat kembali obrolannya dengan Julian pada waktu itu, tepat setelah membaca surat yang dikirimkan oleh si bungsu Collin.
Isinya kurang lebih sama seperti yang Philip prediksi, pasti membahas soal rencana pernikahan Julian dengan Serena. Pemuda itu mengundang Philip datang ke jamuan makan malam yang secara khusus diadakan di kediaman Collin untuk membahas lebih lanjut soal rencana pernikahannya dengan Serena.
Entah mengapa, Philip tidak merasa senang menerima undangan tersebut. Serena bahkan tak mengatakan sepatah katapun kepadanya setelah perdebatan yang terjadi di pertemuan pertamanya dengan Julian waktu itu.
Hilden yang menunggu dengan setia jadi sedikit salah paham melihat ekspresi tak suka yang ditunjukkan oleh atasannya. Pria itu mengira, mungkin si Boss belum rela ditinggal nikah anaknya, apalagi Serena 'kan puteri sulung di keluarga Reinhart.
"Apa anda akan datang? Saya bisa mengosongkan jadwal anda khusus untuk hari itu," Hilden bertanya sekedar memastikan. Dia tahu harus segera memberikan respon atas surat yang dikirimkan oleh Julian Collin.
Philip berpikir keras, perasaannya jadi bercampur aduk sekarang. Tak senang tapi juga tak sedih. Philip tahu dirinya tak punya hak menentang keputusan Serena bila memang gadis itu yang menginginkannya. Tapi mengingat pesan yang diberikan sang istri, Philip jadi harus memikirkan jawabannya secara matang.
Tak boleh salah mengambil pilihan, bagaimanapun juga nanti reputasi keluarga mereka akan ikut terimbas bila semisal terjadi kesalahan dalam hubungan Serena dengan Julian. Permasalahan di sini adalah, lawan Philip bukanlah orang sembarangan yang dapat dipandang sebelah mata. Sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal dan akan merugikan keluarganya, Philip tidak ingin mengambil resiko yang terlalu besar.
"Aku harus mendiskusikan hal ini dengan istriku terlebih dulu. Kita bisa meminta waktu sampai aku dan istriku mengambil keputusan yang tepat," jawab Philip kemudian. Ya, ini adalah jawaban Philip untuk sekarang.
Lalu Hilden pergi guna menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, sekaligus mengirimkan surat balasan yang ditujukan untuk Julian sesuai dengan yang diucapkan oleh Boss besarnya.
Sepeninggalan Hilden, Philip kembali merenung di tempat duduknya. Serena sudah selangkah lebih maju menuju pelaminan mendahului Jasmine yang bahkan tak pernah lagi mengungkit soal perjodohan gadis itu dengan Jevano.
'Apa tujuan Serena memilih nikah muda? Kenapa kesannya ini terlalu mendadak ya?' Philip jelas bertanya-tanya tentang hal seserius ini.
'Tapi kalaupun aku menanyakan soal ini pada Serena langsung, aku tidak yakin anak itu mau menjawab yang sejujurnya. Ha....kenapa aku jadi dipusingkan soal ini?' Philip jadi pusing sendiri. Dia pribadi merasa heran kepada dirinya sendiri, lantaran baru kali ini dirinya begitu kepikiran soal anak sulungnya, Serena.
Selama ini Philip hanya memperdulikan Jasmine dan selalu mendapat laporan rutin tentang keseharian puteri bungsunya, tapi di lain sisi, Philip tak pernah sekalipun penasaran ataupun mencoba mencari tahu soal keseharian Serena sejak gadis itu masih kecil. Fokusnya hanya tertuju pada Jasmine seorang sampai-sampai eksistensi Serena tak kasat mata baginya.
Philip tahu perbuatannya selama ini salah, namun dia sama sekali tak berusaha memperbaiki hubungannya dengan Serena. Lalu kini, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba puterinya itu membawa seorang laki-laki ke rumah dan bahkan akan dilamar secepatnya. Philip sungguh tak menyangka akan tiba waktunya di mana dia harus melepaskan anak-anaknya yang akan membangun keluarga mereka masing-masing.
Tapi alih-alih memikirkan perpisahannya dengan kedua anaknya di masa depan, Philip lebih takut membayangkan reaksi sang istri bila wanita itu mengetahui soal lamaran yang akan Julian bicarakan secara empat mata bersama dengan mereka berdua.
'Padahal Esther sudah memintaku untuk menentang lamaran Julian. Tapi aku tidak bisa setega itu menghancurkan kebahagiaan dua anak manusia yang tidak bersalah itu.' Philip menjadi dilemma sekali.
Masih teringat jelas dalam ingatan Philip tentang seberapa kerasnya Esther menentang hubungan Serena dengan Julian. Padahal kalau dipikir-pikir secara matang, hubungan Serena dengan salah satu calon penerus Collin itu tidaklah buruk, bahkan sangat menguntungkan dalam berbagai aspek.
Philip bisa melihat itu sebagai peluang untuk menarik minat Joseph Collin supaya mau berinvestasi dengannya. Bukankah ini kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan? Ya, Philip akan menjelaskan itu pada istrinya agar Esther mau menyetujui hubungan Serena dengan Julian terlebih dulu.
...🐺...
...🐺...
"Selamat malam, Tuan Collin! Senang dapat kembali berjumpa dengan Anda!"
Joseph tersenyum tipis menyapa kenalan bisnisnya yang turut menghadiri acara yang diadakan di hotel bintang lima ini.
Kehadiran Joseph di acara itu sangatlah berpengaruh. Banyak pengusaha, pejabat sekaligus politikus datang berbondong-bondong ingin mendekatkan diri pada Joseph dengan tujuan yang beraneka ragam. Joseph sudah terbiasa menghadapi orang-orang semacam itu, bahkan ketika dirinya menghadiri sebuah pesta yang semestinya dinikmati dengan santai dan sukacita, harus terusik oleh keserakahan orang-orang yang haus akan kekuasaan dan kekayaan.
Terutama, banyaknya orang yang ingin mengenalkan puteri-puteri mereka dengan harapan bisa dikenalkan langsung kepada kedua putera Joseph yang terkenal tampan dan mapan, siapa lagi kalau bukan Elliot dan Julian.
Walaupun banyak yang sudah tahu bahwa Julian telah memiliki kekasih, tapi orang-orang itu tetap optimis dan pantang menyerah mendekatkan puteri mereka pada keluarga Collin.
Hal ini sedikit membuat Joseph risih dan juga kesal di waktu bersamaan. Orang-orang seperti itu hanya mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang lain, dan Joseph sangat menentang keegoisan yang menunjukkan keserakahan seseorang secara terang-terangan. Jadi, saat Joseph tahu bahwa anak bungsunya telah memiliki kekasih dan kekasihnya adalah sosok gadis yang baik dan rendah hati, Joseph tak berpikir dua kali untuk merestui hubungan mereka.
"Selamat malam, Tuan Collin. Akhirnya kita bertemu di acara spesial ini," Dan orang yang ingin Joseph temui akhirnya muncul juga.
Philip baru saja datang di dampingi oleh sang istri, Esther. Pasangan suami istri itu tampak serasi dengan setelan tuxedo dan gaun mewah berwarna senada.
Kedatangan Philip dan sang istri selalu menjadi pusat perhatian, selain karena penampilan keduanya yang serasi dan mewah, juga selalu menunjukkan hubungan suami istri yang harmonis.
Namun semua itu tampak seperti pencitraan belaka di mata Joseph. Apa yang suami-istri itu tunjukkan di depan khalayak, sungguh berbeda dengan realita yang ada di belakang layar.
Bagaimana bisa kedua orang itu bersikap layaknya pasangan yang harmonis dan kompak bila kenyataannya mereka tega menelantarkan salah satu puteri mereka sendiri, yakni Serena.
Mengingat cerita Serena kapan hari, Joseph tidak bisa untuk tidak marah dan kecewa terhadap Philip dan Esther.
Lalu sekarang, kedua orang itu berani menampakkan diri di hadapan Joseph dengan senyuman tanpa dosa. Bahkan sebelum ini, tak ada satu pun di antara mereka yang menanyakan kabar pada Serena walau hanya melalui pesan singkat.
"Ya, selamat malam juga, Tuan Reinhart yang terhormat dan juga Madam Esther," sapa Joseph balik.
Esther sedikit tersinggung kala Joseph tidak menyebut dirinya sebagai Nyonya Reinhart, melainkan nama panggilannya.
Esther melirik suaminya ketika nama Serena terucap dari mulut Joseph. Tak menyangka bila pria itu mengungkit soal puteri mereka lebih dulu.
"Suatu kehormatan bagi kami. Serena bahkan tidak memberitahu kami lebih dulu bila dirinya akan datang mengunjungi anda. Mohon dimaklumi bila ada salah kata atau sikap kurang menyenangkan yang dilakukan puteri kami di depan anda, Tuan Joseph," Esther maju lebih dulu untuk menyelamatkan harga dirinya. Wanita itu khawatir kalau-kalau Serena melakukan kesalahan di depan Joseph karena kurangnya pelajaran etika yang di terima gadis itu.
Senyum Joseph perlahan memudar. Bukan itu yang ingin Joseph dengar dari mulut Esther. Sebagai seorang ibu yang melahirkan Serena, Joseph berharap wanita itu menunjukkan sedikit rasa penasarannya pada kehidupan Serena. Nyatanya Joseph mengharapkan hal yang sia-sia, Esther bahkan berpikir bila puteri sulungnya tidak bisa bersikap baik di depan orang lain dan bisa saja mempermalukan nama keluarganya.
Sungguh miris sekali.
"Jangan menilai rendah Serena, Serena adalah gadis yang baik dan rendah hati. Meski di luar tampak lemah lembut dan sabar, tapi sebenarnya dia anak yang kuat dan tegar. Sosok perempuan yang sudah kupercayai menjadi pendamping hidup Julian, puteraku. Sebagai seorang ibu, bukankah anda seharusnya bangga dan percaya pada kemampuan Serena, Madam?" Perkataan sarkas Joseph menohok hati Esther.
Suasana di antara ketiga orang dewasa itu perlahan berubah canggung dan menegangkan. Orang-orang yang semula berkerumun di sekitar Joseph perlahan undur diri untuk menghindari perang dingin yang tercipta di antara Joseph dan pasutri Reinhart.
Joseph masih mempertahankan senyuman ramahnya menghadapi Philip dan Esther, sambil menggenggam segelas minuman di tangan kanannya.
"Ya, kami tahu akan hal itu. Serena memang anak yang kuat dan pantang menyerah, sebagai orang tua kami bangga memiliki puteri seperti dia," Philip membalas dengan tenang. Intinya jangan terpancing emosi dan menanggapi segalanya dengan kepala dingin.
Joseph menyeringai kecil, "Benar sekali, Tuan Philip! Saya sangat ingin mengobrol banyak hal tentang Serena, tentang masa kecil gadis itu dan sebagainya! Saya berharap anda dapat meluangkan waktu sejenak bersama dengan saya sekaligus membahas masa depan anak-anak kita. Anggap saja ini sebagai langkah pendekatan kita sebagai calon besan nantinya, hahaha!" Joseph menepuk-nepuk punggung Philip sambil tertawa jenaka layaknya teman akrab.
Philip yang dasarnya kaku dan sedikit pemalu hanya menanggapi dengan senyuman kikuk lantaran bingung harus bersikap bagaimana. Kepribadian Joseph selalu tak terduga dan terkesan misterius, Philip tidak boleh lengah dan meremehkan pria itu meski Joseph kelihatan lebih ramah dan aktif lebih dari biasanya.
Esther hanya berdiam diri dengan tenang sambil memperhatikan gerak-gerik Joseph dan menjaga sikap serta emosinya agar tidak mudah terpancing oleh perkataan Joseph. Esther sangat yakin kalau Serena sudah menceritakan banyak hal pada pria itu, jadi tak mengherankan lagi kalau sekarang Joseph menyinggung soal Serena di hadapan banyak orang seperti sekarang.
'Serena!! Anak itu selalu saja membuat kepalaku pusing!!' Esther membatin kesal. Sekarang dia mengkhawatirkan banyak hal dan tentunya itu berkaitan dengan Serena.
'Awas saja kalau anak itu sampai bercerita yang tidak-tidak pada Tuan Joseph, akan kuberi dia hukuman berat sampai membuatnya jera karena sudah berani mengumbar rahasia keluarga kita pada orang lain secara sembarangan!' Esther mulai merencanakan banyak hal yang akan dijadikan sebagai hukuman untuk siapapun orang yang berusaha mencemari nama baik keluarga Reinhart.
Sekalipun itu anggota keluarganya sendiri, Esther tak akan memberi keringanan ataupun ampun. Bagi Esther, menjaga reputasi serta martabat Reinhart adalah suatu kebanggaan yang harus dijaga sebaik mungkin. Bila ada sedikit celah yang dapat berpotensi menghancurkan nama baik keluarganya, Esther harus lebih dulu mengatasinya.
"Wah, jadi rumor itu benar? Puteri pertama anda, Serena, benar-benar akan menikah dengan Julian?" Tiba-tiba segerombolan ibu-ibu dengan gaun yang glamour mendekati Esther yang sedikit menjauh dari suami serta Joseph.
Esther tertegun selama sepersekian detik, melihat siapa gerangan yang datang menghampirinya. Segera Esther membungkuk hormat menyapa Nyonya Besar Nollan yang datang bersama dengan geng sosialitanya.
Ya, wanita berambut coklat panjang dengan gaya curly itu adalah Nyonya Beatrice Nollan, yang tak lain merupakan ibu dari Jevano.
"Selamat malam, nyonya-nyonya yang terhormat. Bagaimana kabar anda sekalian? Saya harap selalu sehat dan diberkati Tuhan," sapa Esther, tak lupa memasang senyum semanis mungkin agar terlihat baik di mata para wanita di depannya sekarang.
Mereka adalah sekumpulan wanita sosialita yang circle-nya susah ditembus. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bergabung dengan perkumpulan mereka. Selain menonjolkan kekayaan, mereka juga memegang kuasa yang cukup berpengaruh dan sangat menjunjung tinggi etika serta wibawa layaknya seorang puteri kerajaan.
"Fufufu~ Alangkah bangganya anda mempunyai dua orang puteri yang cantik-cantik dan disukai oleh anak-anak setampan Jevano dan Julian," ucap Nyonya Lilian, salah satu anggota geng Beatrice.
Geng yang beranggotakan 8 orang namun hanya ada 4 saja yang bisa hadir di Charity Event malam ini.
Esther masih mempertahankan senyuman manisnya, ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi wanita seperti Esther yang selalu melihat penampilan seseorang dari luar terlebih dahulu.
Beruntung kedua puterinya dapat memilih pasangan setampan dan semapan Jevano serta Julian, jika tidak, mau ditaruh mana muka Esther? Dia pasti akan menjadi bahan ledekan serta hinaan orang-orang di lingkungannya.
"Hm...aku tidak menyangka Serena akan memilih laki-laki lain, kukira dia akan berakhir bersama anakku, yang namanya jodoh memang tak bisa diprediksi ya," celetuk Beatrice sambil menatap lurus mata Esther.
Jujur saja, Beatrice tak begitu menyukai Jasmine. Kepribadian gadis itu berbeda jauh dengan Serena, sampai di titik di mana Beatrice selalu melupakan fakta bahwa Jasmine merupakan saudari kembar Serena.
Sungguh sangat disayangkan. Padahal Beatrice mengharapkan Serenalah yang akan menjadi pendamping hidup puteranya kelak. Namun yang sudah terjadi, tak bisa diubah lagi.
"Bagaimana kabar Serena? Sudah cukup lama kami tidak bertemu. Apakah dia sehat dan semakin cantik?" Beatrice tak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan kabar Serena, sahabat puteranya yang sudah dia sayangi.
Esther sedikit kikuk dan bingung hendak menjawab bagaimana. Bahkan dirinya saja tak mengetahui keberadaan puterinya sekarang, apalagi tahu soal kesehatan anak gadisnya di luar sana.
Akan tetapi Esther tetap bersikap santai dan tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan, "Baik~ Serena dan Jasmine sangat baik. Apa anda sudah pernah bertemu dengan Jasmine? Jasmine sangat ingin sekali menemui Anda, tapi waktunya belum tepat ya~" Tak lupa Esther menyinggung soal Jasmine, yang mana statusnya masih sebagai kekasih Jevano saat ini.
Esther tidak bodoh untuk tidak menyadari bahwa Beatrice sengaja menyungkit nama Serena ketimbang Jasmine karena ada makna dibalik itu.
Beatrice belum mengakui Jasmine sebagai kekasih dari Jevano.
Apa bila Esther membiarkan Beatrice, maka orang-orang bisa beranggapan bahwa Beatrice tidak merestui hubungan Jevano dengan Jasmine, tetapi lebih memilih Serena yang sudah menjadi favorite wanita itu sejak lama.
Beatrice menyeringai tipis, Esther memahami maksud ucapannya. Rupanya wanita itu cukup peka bila menyangkut soal Serena. Tapi mau bagaimana lagi? Beatrice memang lebih menyukai Serena ketimbang Jasmine.
"Anda keliru, saya sudah pernah bertemu dengan Jasmine sebelumnya. Tapi mungkin Jasmine tidak tahu kalau itu adalah saya," balas Beatrice seraya melebarkan kipas tangannya di depan mulut.
Esther tertawa kaku, Jasmine bahkan belum bercerita soal pertemuan itu. Lalu kapan Beatrice bertemu dengan anaknya?!
Menyadari kebingungan yang tercetak jelas di wajah Esther, Beatrice tersenyum penuh makna, "Kami bertemu secara tidak sengaja, sewaktu berjalan-jalan di sekitar kawasan A. Pertemuan pertama yang tak terduga dan tanpa persiapan sekali, tapi berkat itu, aku jadi mengenal Jasmine sedikit demi sedikit," terangnya, dengan wajah ceria yang sedikit ganjal di mata Esther.
Lalu Beatrice kembali melanjutkan perkataannya, "Siapa sangka bila puteri yang Anda banggakan itu menyenggol punggung saya secara tidak sengaja dan langsung pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Hmm..mungkin saat itu Jasmine sedang terburu-buru ya? Jadi saya mencoba memakluminya, padahal saya ingin bertegur sapa dengannya bahkan sampai memanggil namanya, tapi dia terus jalan tanpa menengok sekalipun. Sangat disayangkan sekali~" Beatrice berlagak sedih mengingat perjumpaan pertamanya dengan Jasmine yang tak mengenakan.
Mendengar cerita Beatrice, semua yang ada di sana sontak berbisik-bisik membicarakan sikap tak sopan Jasmine.
Raut muka Esther seketika pucat, kehilangan senyumannya. Jasmine, puterinya bahkan tak meminta maaf pada orang yang dia senggol. Hal ini tentu mencoreng muka Esther tepat di muka!
Ekspresi gelisah bercampur amarah yang tergambar jelas di wajah Esther merupakan kepuasan tersendiri bagi Beatrice. Dia bukannya dendam terhadap sikap tak sopan Jasmine, Beatrice hanya ingin menguak watak Jasmine yang sesungguhnya di depan muka Esther.
'Huh...anggap saja ini balasan dariku karena sudah memandang rendah Serena-ku!' batin Beatrice sambil menahan senyum kemenangannya.