
"Julian, makan dulu. Dari kemarin kau nggak makan, bisa-bisa tubuhmu sakit kalau gini terus," Elliot berupaya membujuk Julian yang mogok makan.
Julian kehilangan nafsu makannya sejak kemarin, bahkan sulit tidur di malam hari karena takut bermimpi tentang Serena, yang hanya akan menaburkan garam di atas luka hatinya yang menganga.
Julian nyaris putus asa, dia ingin mencari Serena dengan usahanya sendiri tetapi kakak beserta ayahnya melarangnya pergi. Bahkan kunci mobil miliknya disita sementara waktu oleh Elliot.
"Kak, apa belum ada perkembangan soal pencarian Serena?" Suara Julian sampai serak akibat jarang meneguk air putih, padahal Elliot selalu menyediakan minuman beserta makanan ringan di meja belajar Julian.
Elliot menghembuskan nafas panjang, "Ada yang lihat satu orang laki-laki dan seorang perempuan berjalan menuju ke distrik xx dini hari pada waktu yang sama. Tapi kita belum bisa memastikan apakah mereka orang yang sama dengan yang di jembatan atau enggak. Anak buahku masih melakukan penyelidikan di sekitar sana." Rekaman CCTV yang Julian dapatkan dari sekitar lokasi itu juga menunjukkan siluet dari dua orang yang kemungkinan besar bergender laki-laki dan perempuan tengah berjalan bersama menuju ke pusat kota.
Melalui gambar yang anak buahnya dapatkan, semoga dapat membantu pencarian mereka lebih lanjut. Apalagi jika kedua orang itu pergi ke pusat kota yang ramai, pasti akan sedikit sulit melacak mereka karena telah membaur dengan banyaknya orang.
Julian memijit pelipisnya guna meredakan pening yang mulai menyerang. "Kirimkan aja semua anak buah yang kita punya. Jangan ragu-ragu menurunkan mereka, daripada kita kehilangan jejak Serena!" titahnya kemudian.
Elliot tahu Julian tidak bisa menunggu terlalu lama, atau adiknya akan meledak oleh emosi yang terlalu lama dipendam. Akan tetapi, mereka tidak bisa menerjunkan semua anak buah yang bekerja di bawah kuasa keluarga Collin karena itu akan menyedot perhatian media massa. Nanti akan muncul skandal baru yang akan menyeret nama Serena lagi, jelas itu bukan opsi terbaik yang dapat mereka pilih.
"Kita turunkan personil satu per satu, nggak bisa langsung atau itu bisa menarik perhatian media. Ini adalah misi rahasia, jangan sampai publik mengetahuinya atau nyawa Serena akan semakin terancam," Elliot menyadarkan Julian betapa pentingnya bekerja secara diam-diam untuk menghindari sorot media massa yang bisa saja memutarbalikkan fakta ataupun memuat berita hoax yang tidak benar.
Julian mengusak rambutnya ke belakang, frustasi lantaran tak tahu cara apa lagi yang bisa dia lakukan untuk menemukan sang kekasih secara cepat dan aman.
"F*uck! Aku bener-bener kehabisan cara!" Kaki panjang Julian menendang meja kayu yang ada di depannya.
Elliot hanya mampu mengusap dadanya gara-gara terkejut dengan tindakan barbar sang adik. Julian yang sekarang ini, mengingatkan Elliot pada masa lalu mereka yang buruk. Julian juga sama temperamen dan kasarnya ketika baru putus cinta dari Denise, ditambah dengan kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya dan Julian.
Lalu sekarang, Julian kembali frustasi juga disebabkan oleh seorang perempuan. Beruntungnya masalah kali ini bukan karena adanya pihak ketiga atau kesalahpahaman di antara sepasang kekasih itu. Setidaknya Julian masih mempertahankan hubungannya dengan Serena walau harus terpisahkan sementara waktu.
"Julian..kalau nanti Serena sudah ketemu, apa yang mau kamu lakukan?" Elliot menyuarakan rasa penasarannya.
Elliot tidak ingin adiknya hilang kendali dan habis kesabarannya ketika berhadapan kembali dengan Serena. Elliot tidak ingin terjadi cekcok di antara keduanya, yang bisa berimbas pada hubungan mereka.
Untuk soal itu, Julian sendiri belum tahu. Namun yang pasti, Julian ingin mendengarkan kronologi perkelahian Serena langsung dari mulut yang bersangkutan secara jujur.
"Yang terpenting daripada hal itu adalah Serena kembali dengan selamat," Julian menjawab dengan suara lirih, sementara matanya menerawang, menatap ke arah layar televisi yang gelap dan terlihat dingin, sama seperti perasaannya saat ini.
"I miss her...aku pengen meluk Serena...aku tau Serena mencoba menghadapi masalah yang menimpanya seorang diri. Aku tau dia kesepian...aku takut banget terjadi sesuatu dengannya.." Julian memejamkan kelopak matanya secara erat, sambil menempelkan tautan kedua tangannya di depan kening.
Berharap dirinya dapat segera menemukan Serena dan tidak terlambat sedetikpun. Julian ingin memeluk tubuh hangat Serena, bukan tubuh yang kaku dan dingin.
Bayangan akan kehilangan satu-satunya sumber kebahagiaannya semakin menggerogoti hati Julian. Seolah kegelapan berusaha menjangkau dirinya dan menelannya ke dalam lubang kegelapan yang dalam dan menakutkan.
Bagi Julian, Serena adalah cahayanya, cahaya yang menyinari hati serta perasaannya. Bila cahayanya redup dan sirna, hati Julian akan kembali diselimuti oleh kabut kegelapan yang menyesatkan.
Elliot prihatin sekali dengan nasib Julian yang kembali mendapat ujian. Mungkin benar kata orang, hidup ini tak selamanya indah dan manis, tapi akan selalu dibumbui dengan cobaan dan rintangan. Tergantung seberapa kuat dan pintar seseorang mengupayakan berbagai cara untuk bisa menembus semua cobaan yang tak diharapkan.
Kini, Julian sedang berada di tahap berjuang. Selagi adiknya tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah, Elliot akan terus membantu Julian sampai menemukan titik terang dari keberadaan Serena. Elliot hanya tak ingin adiknya menerima kekecewaan terus menerus dan membuat semangatnya patah.
Dan jika memang Serena tak ingin dirinya ditemukan oleh siapapun atau berencana kembali pada mereka, maka Elliot tak punya pilihan lain selain membiarkan gadis itu melakukan apa yang dia kehendaki.
Walau mungkin kenyataan yang akan di terima Julian tak seperti yang di harapkan, Elliot ingin adiknya menghargai pilihan Serena, apapun itu. Mau kembali kepada mereka atau memilih pergi.
Sebab memaksakan kehendak kita pada orang lain juga tak akan berbuah baik, justru bisa menjadi racun yang mematikan dan merusak segalanya.
"Mungkin perkataanku ini akan sedikit melukai hatimu, tapi aku ingin kau mengerti, Julian. Apapun pilihan Serena nanti, mau dia kembali kepada kita atau enggak, kita harus bisa menghargainya. Kebahagiaan Serena juga harus kita perhitungkan. Kalau dia sudah menemukan kebahagiaannya di luar sana, kita nggak boleh merampasnya. Itu hanya akan membuat kita buruk di mata Serena dan dianggap sama seperti orang-orang yang sudah membuat hidupnya menderita," Elliot berusaha memberi nasehat bijak pada Julian.
Julian belum berpikir sampai sejauh itu. Di tinggal Serena saja, Julian sudah luar biasa frustasi, apalagi kalau di suruh merelakan Serena pergi ke tempat yang tak bisa dia jangkau atau parahnya lagi Serena menemukan laki-laki lain, itu bagaikan mimpi buruk yang bisa membunuhnya secara perlahan.
Tidak, mau apapun pilihan Serena, Julian harus tetap berada dalam rencana itu juga. Meski itu berarti Julian harus melepaskan semua fasilitas mewah dan gaya hidupnya yang hedon, baginya itu bukan masalah besar. Uang dan kekayaan masih bisa dicari, tetapi seorang pendamping hidup yang benar-benar cocok dengannya amatlah sulit dicari dan ditemukan.
Tak masalah meskipun mereka akan jatuh miskin dalam sekejap, asalkan bisa bersama dengan Serena selamanya, Julian akan terus bersemangat menjalani kehidupannya, berdua bersama sang belahan jiwa.
Ya, Julian rela melakukan apapun, asalkan bersama Serena untuk selama-lamanya.
'You're mine....only mine....aku nggak akan melepaskanmu gitu aja, sayang...jangan pernah berharap kamu bisa hidup bersama cowo lain selain aku, karena aku nggak akan pernah sanggup menerima itu. Tunggu aku, sayangku. Aku pasti akan menemukanmu secepatnya lalu kita akan segera menikah..'