Mine

Mine
Chapter 52



Ainsley merasakan sesuatu yang kenyal dan basah menempel di bibirnya. Detik itu juga tubuhnya bagaikan terkena sengatan listrik, otaknya seakan berhenti bekerja, hingga seluruh tubuhnya mematung di tempat. Tanpa sadar ia membiarkan Austin bergerak menguasai dirinya.


Berawal dengan kecupan ringan dan pada akhirnya menjadi ciuman dalam yang membuat Ainsley ikut menikmati sensasi yang sampai sekarang masih coba ia pelajari itu. Austin yang memimpin, namun pada akhirnya Ainsley mencoba untuk mengimbanginya. Mungkin dirinya sudah gila, tapi ia benar-benar sudah terbuai dengan ciuman Austin yang makin liar.


Bahkan tanpa sadar kini tangan Ainsley sudah melingkar pada leher Austin. Menarik pria itu semakin dekat hingga Austin memperdalam ciumannya. Austin memeluk Ainsley kemudian tangannya mulai bergerak mengelus punggung gadis itu dan menarik Ainsley semakin menempel dengan dirinya. Pria itu menghentikan ciumannya sesaat dan bertanya.


"Kau menikmatinya?"


Ainsley tentu saja memerah saat mendengar pertanyaan itu. Ia terlalu terlarut dalam ciuman itu sehingga tidak sadar dengan apa yang sudah terjadi. Austin tersenyum lembut. Ia tahu Ainsley merasa malu. Ia menyelipkan helain rambut Ainsley dibelakang telinga gadis itu sembari berkata,


"Aku juga menikmatinya, jadi kau tidak perlu malu, Ainsley." gumamnya  pelan.


Ainsley mencoba memberanikan diri menatap pria itu. Berbeda dengan sebelumnya, ia merasa hari ini Austin terlihat begitu menggoda dan menawan, seakan menantangnya untuk melakukan hal lebih. Dan benar saja, tangan Austin kini bergerak masuk menyentuh perut ratanya, bermain di situ sebentar kemudian naik membuka pengait branya dan menyentuh ***********, memijitnya pelan. Ainsley mengerang pelan,


"Mmph.."


"Ukuran punyamu ini sangat pas di tanganku. Tapi tidak lama lagi akan bertambah besar, karena aku akan rajin memijitnya." gumam Austin tersenyum nakal lalu bersiap-siap mengangkat kaos Ainsley perlahan, ingin memberikan sentuhan pada bagian itu dengan lidahnya sendiri, namun tangan Ainsley menghentikannya.


"Kenapa?" Austin bertanya dengan nada keberatan. Baru juga mau mulai.


Ia mengikuti Ainsley yang mengedarkan pandangannya ke luar sana. Banyak orang yang mondar-mandir berjalan di jalan raya.


"Banyak orang di luar sana, bagaimana kalau mereka melihat kita? tunjuk Ainsley ke orang-orang itu.


Refleks, Ainsley menutupi dadanya karena malu. Austin seolah ingin memakannya hidup-hidup. Lalu tanpa ijin Austin menggapai tangan Ainsley, menahannya agar tidak menutupi dadanya lalu mulai menghisapnya dengan rakus.


"Mmph, A.. Austin.. kau tidak boleh melakukannya di sini. Ahh.."


Ainsley terus mendorong kepala Austin agar menjauh tapi pria itu terus melahapnya membuat dirinya sampai mengeluarkan suara-suara mesum itu. Kalau begini terus Ainsley bisa gila.


"Aus..tin, berhenti dulu! Kita bisa melakukannya di rumah nanti malam." lalu tanpa sadar Ainsley malah mengatakan kalimat itu. Jelaslah Austin menghentikan kegiatannya dari mencicipi dadanya. Ainsley merutuk dalam hati, kenapa dia bisa bilang itu sih? Astaga. Yah sudahlah. Sudah terlanjur juga. Gadis itu menarik nafas pasrah.


"Berarti kau sudah siap? Nanti malam, aku tidak hanya akan menyentuhmu. Milikku juga akan masuk ke dalammu. Setelah itu kau adalah milikku seutuhnya." ucap Austin.


"Mm," sahut Ainsley pelan, tak mampu menatap Austin. Pria itu tersenyum lebar lalu membelai wajahnya.


"Dengar, jangan sekali-kali kau menipuku Ain. Aku akan menunggumu malam ini. Malam pertama kita, aku pasti akan membuatmu tak berhenti menjerit-jerit memanggil namaku." bisik Austin nakal. Ainsley bergidik ngeri lalu cepat-cepat mengambil kaos dan branya yang sudah jatuh dibawah, memakainya, lalu buru- buru keluar dari mobil itu. Meninggalkan Austin yang tersenyum puas. Pria itu mulai memikirkan apa yang akan dia siapkan nanti malam. Apa mereka melakukannya di hotel saja? Tidak-tidak, di rumah saja. Ia akan bertanya pada Narrel yang jauh lebih berpengalaman dalam hal itu. Pokoknya ia akan membuat malam ini jadi malam yang tidak pernah Ainsley lupakan.


Sementara itu, Ainsley sama sekali tidak sadar kalau dia sedang di potret oleh seseorang ketika dirinya keluar dari mobil mewah milik Austin. Dalam foto itu, gadis itu tampak merapikan pakaiannya dan pergi dengan tergesa-gesa.


Orang yang memotretnya adalah Rumi. Yap! Tadi tanpa sengaja Rumi melihat Ainsley masuk ke dalam mobil mewah milik yang ternyata itu adalah mobil Austin, ia jelas melihat bagaimana Austin menarik Ainsley masuk kedalam mobil. Ia juga sempat tidak percaya bagaimana seorang gadis yang biasa-biasa seperti Ainsley bisa mengenal Austin, sih pebisnis besar itu.


Rumi menunggu cukup lama sampai Ainsley keluar dari mobil hitam itu. Bahkan gadis itu keluar dengan tergesa-gesa sambil merapikan pakaiannya yang berantakan. Rumi langsung berpikir kalau Ainsley dan pebisnis itu pasti habis melakukan hal yang tidak senonoh didalam mobil itu. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan memotret Ainsley. Itu bisa dia jadikan bukti untuk mempermalukan gadis itu. Pasti Alfa juga akan jadi ilfeel kalau melihat itu. Rumi tertawa puas.


"Ainsley, wanita simpanannya orang kaya!" Rumi tertawa sinis. Julukan itu sangat cocok untuk gadis miskin itu. Pasti berita ini akan heboh. Ia lalu berjalan dengan wajah penuh kemenangan meninggalkan kampus.