Mine

Mine
Chapter 55



Ainsley terus menatap Austin dengan wajah gugup sekaligus takut. Ini adalah pengalaman pertamanya, tentu saja ia takut. Namun perkataan Austin seolah menenangkannya. Membuatnya merasa aman.


"Tenang saja. Aku tidak akan terlalu agresif. Aku akan melakukannya dengan perlahan, mengingat ini adalah pengalaman pertamamu." ucap Austin.


Ainsley tidak bicara sama sekali. Ia masih diam dengan posisi menatap Austin. Sesaat kemudian ia merasakan sesuatu yang asing memasuki dirinya dengan perlahan. Membuatnya tanpa sadar segera mencengkeram tangan Austin kuat-kuat. Austin sendiri segera mencium kening Ainsley dengan lembut.


"Rileks, atur nafasmu. Ini memang akan terasa sakit, tapi diawal saja. Percayalah padaku."


Ainsley meringis, merasakan penyatuan yang belum sempurna itu. Rasanya benar-benar sakit. Ia bahkan mulai merengek dan mengeluarkan airmata. Austin yang melihatnya merasa cemas. Ia takut menyakiti gadis itu. Namun ia tidak bisa menahannya. Ini sudah setengah jalan. Tidak mungkin ia menghentikannya karena tidak tega pada istrinya bukan? Lagipula miliknya sudah masuk ke pusat inti Ainsley, meskipun belum sempurna.


Austin memberikan waktu bagi Ainsley untuk beradaptasi sebelum benar-benar membuat penyatuan mereka sempurna. Ia membantu Ainsley dengan membangun gairah yang lebih kuat, memberikan sentuhan-sentuhan yang terasa luar biasa pada istrinya. Lidahnya bermain di payudara Ainsley kemudian setelah Ainsley mulai terbuai dengan permainannya itu, Austin menyempurnakan penyatuan mereka punggung Ainsley melenting.


Ternyata selain merasa sakit karena penyatuan sempurna yang membuatnya merasa penuh dan sesak, ia juga merasakan kenikmatan dalam waktu bersamaan. Kenikmatan yang membuatnya merasakan ******* yang kedua kalinya yang da datang menghampirinya malam ini.


"Ahh, hhh... Astaga, Austin!" Ainsley mengerang kuat memanggil nama Austin. Ternyata benar kata Austin. Saat ini ia tidak merasakan rasa sakit lagi. Ia malah merasakan nikmat yang luar biasa saat pinggul Austin bergerak dengan perlahan dan berubah menjadi sangat intens.


Rasa sesak di tambah dengan sentuhan yang mencapai titik terdalam dalam diri Ainsley, membuat sekujur tubuh Ainsley bergetar hebat karena rasa nikmat yang ia rasakan. Ini benar-benar adalah pengalaman baru dalam hidupnya. Pengalaman yang sungguh membuatnya ingin merasakannya lagi dan lagi. Ia hanya tidak menyangka, Austin adalah pria yang akhirnya mengambil keperawanannya. Lelaki yang bahkan ia belum yakin mencintainya atau tidak. Tapi mulai malam ini, Ainsley berjanji untuk belajar mencintai Austin sepenuh hati. Meski ia masih ragu Austin juga mencintainya atau tidak. Karena pernikahan mereka yang begitu terburu-buru, ia masih berpikir bahwa Austin hanya membutuhkan tubuhnya. Tidak seratus persen mencintainya.


"Ugh, kau sangat luar biasa sayang."  Austin mengerang kuat dan tampak sangat frustasi dengan kenikmatan yang dia dapatkan. Entah berapa kali cairannya keluar didalam rahim Ainsley. Namun ia sungguh berharap, akan ada kehadiran bayi kecil didalam perut gadis itu setelah percintaan panas mereka. Kalaupun belum, ia akan terus melakukannya lagi dan lagi sampai mereka memiliki bayi.


Ainsley melingkarkan tangannya pada leher Austin, menarik pria itu melekat padanya dengan erat. Membuat kulit mereka yang basah oleh keringat bersentuhan secara langsung. Austin sendiri semakin cepat bergerak. Membuat ruangan tersebut dipenuhi oleh erangan khas dari percintaan suami istri tersebut.


"Aku boleh bergerak lebih kasar sekarang?" bisik Austin meminta persetujuan Ainsley. Setelah mendapatkan persetujuan itu, tensi percintaan mereka semakin panas dan menyenangkan. Austin membuat kenangan yang sangat menyenangkan bagi Ainsley pada pengalaman pertama gadis itu, juga dirinya sendiri. Ainsley yang awalnya ragu membuat keputusan ini, akhirnya tidak bisa menyesalinya. Ia bahkan masih menginginkan lebih. Setiap sentuhan-sentuhan Austin membuatnya gila. Ia senang menghabiskan malam yang penuh gairah dengan suami kayanya ini.


Pagi hari, hubungan Ainsley dan Austin seperti berubah drastis dari hari sebelum-sebelumnya. Mereka bahkan terlihat begitu akur dan sangat dekat sampai-sampai bi Ranti dan Marla sih pelayan yang lebih muda itu keheranan. Padahal kalau mereka menyiapkan makanan tiap pagi, majikan mereka itu selalu saja terlibat aduh mulut. Austin yang selalu mengatur, dan Ainsley yang terus melawan. Hari ini berbeda. Keduanya bahkan terlihat mesra. Sampai-sampai Marla hampir tersedak karena Austin yang menyuapi istrinya itu.


"Kau ingin aku mengantarmu ke kampus?" tanya Austin sambil mengunyah rotinya. Ainsley cepat-cepat menggeleng.


"Jangan, kau ingin semua orang tahu hubungan kita?" ucap gadis itu. Marla yang berada tak jauh merasa istri majikannya ini aneh. Kalau dia yang berada diposisi itu, pasti dirinya sudah pamer ke sana-sini. Siapa coba yang tidak senang menikah dengan seorang Austin.


"Kenapa kau tidak ingin orang-orang tahu tentang kita?" ada rasa tidak senang dalam nada bicara Austin.


Ainsley menarik nafas panjang. Ia menghadap Austin.


"Bukannya tidak ingin, tapi aku butuh mempersiapkan diri. Kau tahu dirimu bukan orang biasa. Banyak orang di luar sana yang akan membanding-bandingkan kita berdua. Kau pasti paham maksudku bukan?" ujar Ainsley. Austin diam saja. Benar kata Ainsley. Sepertinya ia memang harus memberi waktu pada istrinya.


"Baiklah, jangan lupa mengabariku saat sudah di kampus nanti." kata pria itu lagi lalu bangkit dari kursi, mengecup lembut kening Ainsley dan melangkah keluar rumah. Ia harus segera ke kantor pagi ini.


Pandangan Ainsley beralih ke bi Ratih dan Marla yang terus menatapnya dengan pandangan menggoda. Ia merasa aneh.


"Kenapa menatapku begitu?" tanyanya heran.


"Sepertinya tuan Austin sangat mencintai nona." ucap bi Ratih. Marla disampingnya mengangguk.


"Aku belum pernah lihat wanita lain yang diperlakukan selembut itu sama tuan, baru anda nona." ia menambahkan. Mendengar itu Ainsley tersenyum malu. Benarkah? Dia merasa senang mendengar itu.